Misi Pemurtadan yang Makin Berani
Publikasi: 23/09/2004 10:46 WIB
eramuslim - Beberapa waktu lalu, kota Tilatang Kamang Kabupaten Agam,
Sumatera Barat, dikejutkan dengan penemuan 'Al-Quran Beryesus'. Forum Aksi
Bersama Anti Pemurtadan Sumatera Barat bekerja sama dengan tiga perguruan
tinggi Islam yaitu STAIPIQ Padang, STAIN M. Djamil Djambek, Bukit Tinggi dan
STAIN Muhammad Yunus, Batu Sangkar, melakukan penelitian dan menemukan
sejumlah kejanggalan dalam 'Al-Quran Beryesus' itu.

Di sampul bagian dalam 'Al-Quran' terdapat tulisan Yesus dan panduan misa,
berupa bait-bait lagu gereja. Sedangkan isinya, setelah diteliti, terdapat
36 kesalahan dalam kitab suci tersebut. Al-Quran tersebut tidak ditulis
sesuai dengan standarisasi penulisan yang benar. Kesalahan-kesalahan
tersebut, berpotensi menyesatkan dan menimbulkan keraguan di kalangan umat
Islam.

Kasus semacam ini, sebenarnya sudah yang kedua kalinya. Menurut Ketua Forum
Aksi Bersama Anti Pemurtadan di Jakarta Abu Dedaat, kasus pertama pernah
terjadi di Padang Sidempuan. Oleh sebab itu Abu Dedaat menyatakan kasus ini
harus segera dituntaskan supaya tidak terulang lagi. Aparat berwenang
seharusnya tidak lagi melihatnya semata-mata sebagai kasus yang bernuansa
SARA, tapi ada unsur kesengajaan. "Bukan tidak mungkin ini adalah cara dari
kelompok misionari dalam menyebarluaskan gerakan pemurtadan di Ranah Minang
yang kabarnya sedang gencar dilakukan," kata Abu Dedaat.

Abu Dedaat punya alasan kuat dengan dugaannya itu. Wilayah Sumatera Barat,
menurut Abu Dedaat, menjadi salah satu target misi pemurtadan di Indonesia.
Wilayah Sumatera Barat, bersama wilayah Jawa Barat dan Aceh, dianggap
menjadi wilayah yang paling sulit ditembus oleh misi Kristenisasi, karena
mayoritas penduduknya menganut Islam yang taat. Di kalangan misionaris, kata
Abu Dedaat, ketiga wilayah tersebut menjadi tantangan tersendiri. Kalau
salah satunya, utamanya wilayah Jawa Barat, bisa ditembus, maka misi
Kristenisasi di wilayah lain dianggap akan lebih mudah dilakukan.

Targetnya 160 Juta Rakyat Indonesia Menjadi Pengikut Kristus

Misi Kristenisasi atau gerakan pemurtadan, sebenarnya sudah menjadi rahasia
umum di negeri ini. Ini, menurut Abu Dedaat tidak lepas dari misi global
Kristenisasi yang menargetkan 50 persen penduduk dunia menjadi pengikut
Kristus, seperti yang tercantum dalam buku Sejarah Gereja. "Mereka melihat
Indonesia sebagai lahan yang subur, karena mayoritas penduduknya beraga
Islam dan merupakan negara Islam terbesar kedua di dunia. Misi Kristenisasi
di Indonesia menargetkan 160 juta rakyat Indonesia atau sekitar 80 persen
dari total penduduk Indonesia yang berjumlah lebih dari 200 juta orang,
harus menjadi penganut agama Kristen," papar Abu Dedaat.

Soal misi pemurtadan ini sendiri diakui oleh Pendeta Dr. Martin Sinaga,
dosen Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta. Dalam artikel di majalah Pantau,
dia menyatakan bahwa Kristenisasi bukan ilusi dan itu sungguh-sungguh
terjadi. "Pada awalnya misi Kristenisasi dibebani oleh pemerintah kolonial
yang didukung Belanda, tapi kurang berhasil. Selanjutnya, misi ini dibebani
oleh negara-negara terutama Amerika Serikat, yang sulit dipungkiri punya
media dan uang untuk melancarkan misionari itu," ujar Pendeta Martin Sinaga
dalam wawancara dengan majalah Pantau.

Media Dakwah No.192 yang terbit pada bulan Juni 1990, pernah memuat sebuah
dokumen rahasia Program Jangka Panjang Kristenisasi di Indonesia, yang
dimuat majalah Crescent Internasional terbitan Toronto, Canada, edisi 16-30,
November 1988, termasuk keputusan Dewan Gereja Indonesia di Jakarta, tanggal
31 September 1979 yang isinya, 'Program Kristenisasi diatur hampir di
seluruh dunia terutama di negara-negara Muslim. Dunia ini hanya akan damai
apabila seluruh dunia berhasil dikristenkan. Inilah yang menjadi tujuan dari
kita kaum Kristen. Untuk tujuan tersebut kita kaum Kristen Indonesia harus
bersatu. Usaha untuk mengkristenkan orang muslim di Indonesia didukung oleh
negara-negara yang kuat seperti Amerika, Inggris, dan lain-lain. Kita kaum
Kristen akan dengan amat mudah mendapatkan dana, setiap saat dari Amerika.
Program Kristenisasi ini adalah tugas kita yang suci dan kita harus berhasil
dlm melaksanakannya. Dan lagi, penting untuk diketahui dan disadari bahwa
agar mencapai sukses dlm usaha kristenisasi, yang terpenting bagi kaum
Kristen adalah bersatu dahulu. Kita kaum Kristen di Indonesia selalu
dicintai, diberkati, dan dilindungi oleh Yesus.' Target mereka, dalam jangka
50 tahun jumlah umat Kristen di Indonesia sama dengan populasi umat Islam.

Untuk mencapai tujuan tersebut, mereka membuat konsep dengan tujuan
mengurangi umat Islam di Indonesia, antara lain dengan cara propaganda
membatasi kelahiran lewat program KB di kalangan umat Islam, sementara di
kalangan Kristen, justru ada kewajiban untuk membantu mereka yang ingin
punya anak banyak, dan jika orang bersangkutan miskin harus diberi fasilitas
secara materil maupun moril, dan banyak cara lainnya yang mencakup hampir
semua aspek kehidupan mulai dari ekonomi, pendidikan, sosial dan budaya.

Catatan lainnya soal gerakan pemurtadan, dan ini mungkin ini bisa dikaitkan
dengan 'Al-Quran Beryesus' di atas, sejak akhir April 2002 lalu muncul
selebaran di kantong-kantong Muslim seperti Jombang, Bangil, dan Madura yang
isinya berupa tiruan surat dalam al-Quran. Tulisan itu sebenarnya merupakan
turunan atau terjemahan dari Furq�nul Haqq alias The True Furqan (Quran
Asli) yang dirilis pertama kali pada April 1999 oleh Komite Eksekutif Proyek
Omega2001 .

Proyek ini merupakan satu dari sekian mega proyek misi Kristiani dengan
tugas khusus antara lain membuat tiruan al-Quran sebagai alat penyebaran
agama Nasrani/Kristen Dalam versi komersialnya, buku tersebut ditulis oleh
seorang pastor evangelis Amerika, Dr. Anis Shorrosh dengan menggunakan nama
Al-Safee dan Al-Mahdi. Menurut Shorrosh, lebih dari 1 miliar Muslim di 69
negara merupakan kekuatan yang harus diwaspadai. Mereka sedang menegakkan
syariat Islam di Nigeria, Indonesia, Somalia, Iran, dan Pakistan. Untuk
mencegah hal tersebut, salah satu caranya adalah dengan menyebarluaskan The
True Furqan ini ke tengah-tengah masyarakat Muslim hingga al-Quran milik
Islam dipandang sudah menyimpang oleh umatnya, seperti dikutip Republika
(7/5/2002).

Dari sini jelas bahwa maksud dibuatnya tiruan al-Quran itu adalah untuk
menghadang penegakkan syariat Islam dan mata rantai yang saling berhubungan
untuk mencegah tegaknya Islam.

Ketua Forum Bersama Aksi Pemurtadan Jakarta, Abu Dedaat mengungkapkan,
setidaknya ada dua pola yang dilakukan para misionaris di Indonesia saat ini
dalam melakukan aktivitas pemurtadan. "Yang pertama, pola pembinaan dengan
menciptakan kondisi 'utang budi' terhadap orang yang dimurtadkan. Misalnya
dengan memberi bantuan sosial dan sejenisnya. Pola kedua adalah penghancuran
aqidah agar umat Islam tidak percaya dengan ajaran agamanya sendiri," jelas
Abu Dedaat.

Selain itu kata Abu Dedaat, kaum misionaris ini juga berupaya mempromosikan
konsep teologi pluralis yang menganggap semua agama sama. Kalau masyarakat
sudah menganggap agama Islam dan Kristen sama, maka mau pindah agama pun
tidak jadi masalah. Konsep ini disebarkan melalui kelompok-kelompok kecil.

Cara pendangkalan Aqidah ini juga dilakukan melalui istilah. Ketua Lembaga
Dakwah Ulil Albab, Kodiran, yang juga giat melawan gerakan pemurtadan
mengungkapkan, istilah-istilah Islam dipakai oleh orang Kristen kemudian
didangkalkan pengertiannya. "Misalnya istilah iman, kalau ditanya ke
anak-anak sekolah iman artinya percaya, iman percaya itu istilah Kristen.
Iman menurut Islam, taat kepada Allah dan taat pada rasul. Istilah Agama
juga sama, masyarakat mengatakan agama adalah kepercayaan atau keyakinan.
Itu istilah Kristen. Sementara istilah agama Islam, berasal dari Dinul
Islam, petunjuk tata cara kehidupan manusia dari Allah," papar Kodiran pada
Eramuslim.

Mengapa Umat Islam Mudah Terpengaruh?

Masalah Kristenisasi, menurut ketua Fakta Abu Dedaat, satu dari 3 persoalan
besar yang dihadapi dunia Islam sekarang ini. Persoalan lainnya antara lain,
gerakan zionis Israel dan imperialisme barat yang diistilahkan sebagai
segitiga imperialisme.

Kondisi ekonomi dan kualitas keIslaman masyarakat kita, tidak bisa
dipungkiri sebagai salah satu faktor seseorang mudah terpengaruh untuk
pindah ke agama lain. Hal serupa juga diungkapkan oleh Kodiran dari Lembaga
Dakwah Ulil Albab. Ia berpendapat, salah satunya adalah keengganan untuk
mempelajari Al-Quran. "Banyak umat Islam masih beranggapan Al-Quran hanya
sebagai bahan bacaan saja, bukan sebagai pelajaran atau sebagai pedoman
hidup. Karena jauh dari Al-Quran, umat Islam banyak yang tidak tahu,
perintah apa yang ada di Al-Quran dan tidak tahu apa tujuan hidupnya, apakah
sudah sesuai dengan Al-Quran," kata Kodiran.

Selain itu, tambah Kodiran, umat Islam cepat terpengaruh karena mereka tidak
tahu apa itu Kristen. "Saya sudah uji coba, orang yang sebodoh apapun,
semiskin apapun, kalau dia dikasih tahu apa itu Kristen, dia tidak mau
pindah agama. Karena Kristen beda dengan Islam. Islam itu mengabdi pada
Allah, sehingga manusia selamat dunia akhiat. Tapi Kristen itu sebenarnya
kepercayaan terhadap Yesus dan Tuhan sebagai juru selamat," ujar Kodiran
yang sering memberikan pengajaran di bidang Kristologi.

Oleh sebab itu ia memberi solusi, agar umat Islam tidak mudah terpengaruh
pindah ke agama lain dengan membentengi terlebih mereka terlebih dahulu,
dengan memperbaiki metode pengajaran Al-Quran misalnya dan memberi informasi
dengan jelas apa bagaimana sebenarnya Kristen itu.

Sementara itu, Ketua Fakta Abu Dedaat cenderung menekankan pada pentingnya
umat Islam menyamakan misi dan visinya bahwa Islam adalah agama Rahmatan
'Alamiin. Agama Dakwah. "Perlu mensinergikan elemen-elemen umat Islam dan
lembaga-lembaga Islam yang ada. Dakwah yang selama ini terkesan parsial,
harus disinergikan dan bekerjasama untuk membendung pemurtadan," ujar Abu
Dedaat.

Fakta Kegiatan Pemurtadan di Indonesia

Seperti yang sudah disinggung di atas, bahwa tujuan pemurtadan di Indonesia
tidak lain untuk memperbesar populasi penganut kristus. Ketua Fakta Abu
Dedaat maupun Ketua Lembaga Dakwah Ulil Albab, Kodiran mengakui bahwa jumlah
umat Islam saat ini makin menurun, sementara jumlah umat nasrani menunjukkan
kecenderungan meningkat.

Sayangnya, sulit untuk mencari akurasi data ini, karena memang tidak ada
lembaga yang khusus mengani masalah ini. Tapi perbandingan angka dari BPS
mungkin bisa menjadi acuan. Beradasarkan survey BPS tahun 1990, dari 200
juta jiwa rakyat Indonesia, 87,3 persennya beragama Islam. Sementara umat
Kristen Protestan 6 persen, Katolik 3,6 persen, dan selebihnya penganut
agama lain.

Dalam rentang waktu 9 tahun, ternyata terjadi penurunan jumlah umat Islam
yang cukup signifikan, seperti dimuat dalam tabloid SIAR edisi No.43,
November, 1999. Tabloid itu menuliskan, jumlah umat Islam yang pada survey
BPS tahun 1990 prosentasenya mencapai 87 persen lebih, turun drastis menjadi
75 persen.

Terlepas dari apa saja penyebab penurunan itu, hasil temuan Litbang
Departemen Agama bisa dicermati. Menurut hasil temuan itu, ada 2 hal
penyebab penurunan populasi umat Islam, yaitu keberhasilan program KB yang
gencar dilakukan pada kaum Muslimin, tapi tidak pada kaum non Muslim.
Sehingga pertumbuhan populasi umat Kristen jauh lebih cepat.

Penyebab kedua adalah, keberhasilan program Kristenisasi, yang makin hari
makin berani dan canggih serta mengabaikan kode etik penyiaran agama. Fakta
di lapangan menunjukkan para misionaris seringkali melakukan penyimpangan
dalam menyebarkan injil dan kekristenan di Indonesia. Penyimpangan yang
mereka lakukan antara lain, pembangunan gereja di tengah masyarakat yang
mayoritas Muslim.Dengan Gereja yang megah dan kebaktian-kebaktian yang
mereka lakukan, kaum nasrani pelan-pelan menarik simpati warga sekitar.
Kasus pembangunan gereja yang membuahkan kemarahan warga sekitar misalnya
kasus pendirian gereja GPIB Shalom di kawasan Depok yang akhirnya dirusak
dan dibakar massa pada tanggal 2 Nopember 1999.

Selain menggunakan cara yang halus, pemurtadan yang dilakukan kaum
misionaris juga dilakukan dengan cara yang keji. Kita tentu masih ingat
kasus-kasus pemurtadan dengan cara pemerkosaan gadis-gadis muslimah. Kasus
seperti ini pernah terungkap di kota Padang, Sumatera Barat.

Siswi MAN Padang Khairiyah Anniswah, diculik dan dijebak oleh aktivis
Kristen dengan diberi minuman perangsang lalu diperkosa. Setelah tidak
berdaya, dia dibaptis dan dikristenkan. Kasus serupa menimpa Linda, siswi
SPK Aisyah Padang. Ia diculik dan disekap oleh komplotan aktivis Kristen dan
diperlakukan secara tidak manusiawi supaya masuk Kristen dan menyembah Yesus
Kristus.

Itu sebagian modus yang dilakukan untuk memurtadkan umat Islam. Harian
Republika edisi April,1999 pernah memuat berita modus pemurtadan dengan cara
penyebaran narkoba yang dilakukan oleh misionaris dari Yayasan Sekolah
Tinggi Theologi (STT) Doulos, di Lembang, Bandung. Para pemuda diwilayah itu
diberi minuman keras dan obat terlarang sampai kecanduan, setelah itu mereka
disembuhkan di panti rehabilitasi Doulos sambil dicekoki dengan
ajaran-ajaran Kristen dan Injil.

Masih banyak lagi, tipu daya yang dilakukan kaum misionaris untuk
memurtadkan umat Islam. Cara mereka pun makin berani, misalnya dengan
memberikan kesaksian palsu atau melalui selebaran dan buku-buku yang
berkedok Islam. (ln)



____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke