Senin, 20 September 2004

Evolusi Budaya Minang, Dari Bisnis Sampai Sapi

Laporan : khairul jasmi
Republika OnLine

Perantau Minang dari Jabotabek dan Bandung menanamkan investasinya sekitar
Rp16 miliar untuk ternak sapi potong di sejumlah daerah di Sumatera Barat
(Sumbar). Sapi-sapi tersebut kemudian diasuransikan, guna memberikan
ketenangan kepada pemilik modal. Inilah langkah inovatif yang diambil Kepala
Dinas Peternakan Sumbar Ir Surya Dharma Sabirin. Dengan cara itu, orang
kampung tertolong, roda pembangunan bergulir, uang perantau tidak sia-sia,
bahkan dijamin aman. Untung pun didapat baik oleh petani maupun oleh
perantau sendiri, karena uangnya akan kembali melebihi modal yang ia
tanamkan.

Hitung-hitung ketimbang deposito, lebih baik berinvetasi, sebab dikelola
dengan manajemen moderen. Sesungguhnya asuransi itu bukan poin paling
menentukan bagi perantau. Bagi mereka, yang perlu, bantuan mereka sampai ke
sasaran dan produktif. Gerakan orang rantau dalam membangun kampungnya di
Sumbar pertama telah diwujudkan dalam pembentukan Bank Perkreditan Rakyat
(BPR) oleh Gerakan Seribu Minang yang kemudian berganti menjadi gerakan
Ekonomi dan Kebudayaan Minang (Gebu Minang).
Gerekan kedua yang fantastis adalah ternak sapi tadi yang awal Agustus 2004
lalu telah digulirkan pula ke perantau Minang di Jawa Timur dan Bali.
Menurur Surya, hasil pertemuan dengan perantau di Surabaya itu, baru akan
terlihat tiga bulan mendatang. Ketika menjabat Kadinas Peternakan Sumbar,
Surya berpikir keras bagaimana caranya menggenjot petani sehingga Sumbar
bisa menjadi lumbung ternak. Ia kemudian memunculkan sebuah gagasan: Lumbung
Ternak Nagari.

Data yang diberikan Surya Dharma menunjukkan, tahun 2003 saja, populasi
ternak sapi di Sumbar tercatat sebanyak 583.850 ekor, dengan laju
pertumbuhan 9,98 persen. Sapi sebanyak ini dipelihara oleh 179.118 KK. Pada
tahun yang sama, produksi sapi potong 12.142.088 kg. Ini belum termasuk
seribu ekor sapi bantuan Departemen Koperasi. Menurut data dinas itu, untuk
kosumsi sendiri Sumbar memerlukan 57.247 ekor sapi setiap tahunnya,
sementara untuk kebutuhan luar provinsi yang dipasok dari Sumbar sebanyak
23.458 ekor/tahun.

Meyakinkan perantau

Selama ini, miliran rupiah dana setiap bulan mengalir dari rantau ke Sumbar
terpakai untuk kebutuhan konsumtif. Jumlah dana yang masuk akan meningkat
tajam menjelang lebaran. Hal semacam itu sudah berlangsung lama. Oleh Gebu
Minang, dalam tadi berusaha 'diambil' dengan cara mendirikan BPR. Hasilnya
sejumlah BPR sudah berdiri di beberapa tempat di provinsi itu.

Namun, hal itu belum cukup. Maka Dinas Peternakan kemudian menawarkan pola
baru, yaitu invetasi lewat sapi potong. Keuntungan yang diperoleh paling
tidak ada dua. Pertama orang kampung bisa tertolong, kedua dana yang
ditanamkan akan menghasilkan laba, lebih besar dari bunga deposito. Sejak
tahun 2002 dinas ini berhasil menghimpun dana perantau dari Jabotabek dan
Bandung sebanyak Rp 16 miliar. Dana ini digunakan untuk membangun proyek
Lumbung Ternak Nagari.

Menurut dia, dari Jabotabek saja didapat dana perantau Rp 12,4 miliar dan
dari Bandung Rp 3,52 miliar dari komitmen sekitar Rp 6 miliar. "Dari Bandung
akan terus mengalir hingga komitmen itu tercapai," katanya. Dana dari
perantau di Jabotabek dibelikan pada enam ribu ekor sapi, seekor sapi dibeli
dengan harga berkisar Rp 5 juta. Satu orang petani diserahi empat ekor sapi.
Sementara dana dari Bandung dibelikan pada 600 ekor sapi.
Dana perantau itu, diserahkan ke kampung halaman melalui tiga pintu, yaitu
lewat BPD, BPR dan diserahkan langsung. Namun dalam kenyataannya perantau
lebih suka menyerahkan langsung pada petani di kampung halamannya. "Hanya 20
persen yang lewat bank," kata Surya. Lewat mana pun, Dinas Peternakan Sumbar
berperan aktif bersama jajarannya dan pemkab/ko. Caranya, petani yang
mendapat bantuan sapi adalah mereka yang sudah memiliki paling tidak empat
ekor sapi, punya kandang dan punya lahan rumput. "Mereka yang tidak terbiasa
beternak sapi, jangan diserahi sapi, akan sia-sia," katanya.

Nama-nama petani yang akan menerima sapi tersebut, telah dibagikan kepada
perantau waktu Dinas Peternakan mendatangi mereka ke Jabotabek dan Bandung.
"Jadi kita datang lengkap dengan nama dan alamat penerima," kata dia. Karena
memelihara sapi penuh risiko, maka sapi-sapi tersebut diasuransikan. Ini
dinilai penting, agar petani tidak dirugikan dan agar pemilik modal tidak
rugi dan kecewa. "Sumber dana kita dari perantau Minang sendiri, jangan
sampai mereka investasi di kampung halaman sendiri, malah kecewa," kata
Surya.
Pemilik modal, diminta menyetorkan modal masing-masingnya Rp 60 juta setara
dengan 10 ekor sapi bibit atau bakalan. Sementara pola pembagian
keuntungannya, 30 persen untuk pemilik modal, 60 persen peternak, 5 persen
jasa perbankan dan 5 persen untuk pembinaan. Pembayaran pokok pinjaman
dilakukan pada akhir tahun ke-3, atau setelah enam kali periode penggemukan.

Jika perantau ingin investasi untuk sapi potong, maka pola pembagiannya
pemilik modal 40 persen, peternak 50 persen, jasa perbankan 5 persen dan
pembinaan 5 persen. Semuanya dihitung dalam jangka 3 tahun mulai akta
perjanjian ditanda-tangani. Sementara pemerintah kota/kabupaten bertindak
sebagai avalis (penjamin). Apapun yang terjadi, dana perantau dijamin aman,
jika sapi mati misalnya, perantau tidak akan dirugikan, sebab dananya
diganti oleh pemerintah Sumbar. Ternyata dengan pola ini, perantau Minang
bisa diyakinkan. Dan mereka kemudian sepakat untuk inves di kampung halaman.
Apalagi, siapa petani yang akan mengelola dana mereka, juga sudah diketahui,
nama, alamat dan kemampuannya dalam mengelola ternak sapi.
Pola yang sama juga dilakukan Surya waktu ia datang ke Surabaya awal Agustus
2004 lalu. Di sana ia bertemu dengan 200 pengusaha Minang. Kepada mereka
disampaikan program Dinas Peternakan Sumbar, termasuk nama-nama petani yang
bakal menerima bantuan sebanyak 185 orang tersebar di berbagai daerah di
Sumbar. Perantau dipersilahkan memilih siapa yang akan dibantunya sesuai
kampung atau daerah asal perantau sendiri. Satu hal, kata dia, sapi-sapi itu
diasuransikan. Sejak 2002 saja, pihaknya sudah mengeluarkan Rp 3 sampai Rp 4
miliar untuk asuransi sapi-sapi perantau tersebut. "Semua ternak sapi yang
dananya dari perantau kita asuransikan," kata Surya pula.




____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke