Assalamualaikum Wr. Wb., Aku mencintai negeriku yang orang bilang payah, terkorup, kotor, tidak disiplin, dan lain2 cap yang tidak enak bagi negeriku ini, dengan harapan suatu saat, walaupun tidak bisa sekarang akan berubah menjadi negeri yang baik.
Tapi disamping itu aku lebih cinta lagi dan respect sama Nabiku Muhammad SAW, sekalipun ia seorang yang bisa hidup berlebihan tapi beliau cukup tidur beralaskan tikar yang berbekas dikulit wajahnya. Aku lebih cinta beliau karena, beliau sangat penyayang, sederhana, dan menjadi manusia terpilih. Dan banyak hal yang membuat beliau menjadi tauladan bagiku/kita. Aku tidak begitu respect sama orang yang bisa hidup bermewah-mewah ditengah banyaknya orang yang tidak makan dan hidup layak dinegeri ini. Sakian, karano indak pandai basenandung mohon diteruskan oleh dunsanak yang ahli dalam mencintai tauladan kita ini. Wassalam, syahril. > -----Original Message----- > From: Rinalvi [SMTP:[EMAIL PROTECTED] > Sent: Thursday, September 23, 2004 5:13 AM > To: Milist Rantaunet > Subject: [EMAIL PROTECTED] Di Persimpangan Jalan Jakarta dan Fukuoka > > > Sesekali aku pun bergumam menirukan, sementara mata tetap awas menatap jalanan. > > Tampak begitu banyak orang berdesakan di dalam bis kota, dan rakyat kecil yang > berdiri di pinggir jalan sambil menanti angkutan. Peluh bercucuran di sekujur tubuh, > membasahi baju-bajunya. Bibirku lalu tersungging sebuah senyuman, alhamduliLlah, aku > lebih beruntung dari mereka. > > Di sebuah persimpangan jalan, tak ayal beberapa kali traffic light menahan laju > kendaraan. Udara luar yang terlihat semakin bergolak, membuat banyak orang marah dan > kehilangan kesabaran. Suasana jalan yang semakin hiruk-pikuk tak urung membuatku > terganggu, sehingga membesarkan volume lagu yang didengar. > > Dari balik jendela mobil, kulihat polisi pun sibuk mengatur lalu lintas kendaraan > dengan peluit dan mengayun-ayunkan tangan. Namun sekilas kemudian bola mata beralih > pandangan. > > Di kolong jembatan beton dan besar itu terlihat banyak sekat-sekat yang terbuat dari > kardus dan triplek bekas. Seadanya, hanya sekedar membatasi wilayah kekuasaan. > Beberapa pakaian, kutang dan kolor juga tampak berkibar-kibar pada beberapa utas > tali rapia. Terlihat pula bocah-bocah kecil bermain-main dengan bertelanjang dada, > sehingga tulang rusuknya jelas terlihat. Mereka lusuh dan dekil. Berulang kali, sisa > ingus yang meleleh diseka dengan punggung tangan atau ujung lidah. > > Ah, aku jijik melihatnya. > > Cepat kualihkan pandangan, namun mata tertumbuk pada pemandangan yang tak kalah > menjijikkan. Seorang laki-laki tua kudisan menuntun wanita setengah baya yang > mengenakan kebaya usang dan penuh tambalan, seraya tangannya menggendong seorang > bayi dengan sebuah kain selendang. Mereka pasti pemalas, pikirku. Mungkin juga bayi > itu adalah bayi sewaan. Berdusta, agar mereka mendapat belas kasihan pengguna jalan. > > Di sisi trotoar lainnya, seorang pemuda berambut gimbal dengan tubuh telanjang > terkekeh-kekeh sendirian. Kumis dan jenggotnya jarang-jarang. Kadang ia berteriak, > menangis atau tertawa sambil mengibas-ngibaskan gembolan. Terlihat pengguna jalan > menghindar, namun beberapa pengemis acuh tak acuh melihatnya. Mungkin pemandangan > biasa bagi mereka. > > Pengemis itu ada yang cacat sambil duduk di pinggir trotoar. Menengadahkan tangan > seraya meminta-minta. Kedua kakinya sudah tak ada, tampak dari perban yang melilit > sebatas paha. Tubuh dan pakaiannya pun terlihat kotor. Giginya hitam serta bekas > borok, panu dan kurap terlihat di bagian tubuhnya yang terbuka. > > Seorang pengemis yang lain kulihat terbaring di atas tikar, berbantal buntalan > bulukan. Air liur tak henti-henti menetes dari tepi mulutnya. Tubuhnya kurus, > tinggal tulang. Mirip tengkorak hidup. Sementara kaki sebelah kanan menyilang di > paha sebelahnya, sambil jari-jari kaki itu menjepit kecrekan yang terbuat dari tutup > botol bekas. Lalat-lalat berseliweran, mengerubungi koreng-koreng bernanah dan bekas > kotoran manusia di sekitarnya. > > > Hoek...!!! > Hampir saja aku akan muntah. Tapi untunglah masih dapat kutahan hingga tak mengotori > t-shirt Calvin Klein yang dikenakan. > > Uups...!!! > Klakson mobil di belakang membuatku tersentak, lalu menjauh dari pemandangan yang > benar-benar membuatku mual. Dari balik kacamata hitam Versace, tak kupedulikan > kilasan tatapan mata mereka. > > Apa peduliku? Kenal saja tidak, saudara juga bukan. > > Cuih...!!! > Dasar mereka saja pemalas. Hanya tahu meminta-minta. > > ____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ------------------------------------------------------------ Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib ____________________________________________________

