Di Persimpangan Jalan Jakarta dan Fukuoka
Publikasi: 23/09/2004 07:44 WIB
eramuslim, Jakarta - Mentari baru saja menyapa, namun panasnya mulai menyengat. Di 
jalanan, pekik dan bising kendaraan roda dua hingga empat, campur aduk 
bersahut-sahutan. Semua orang berteriak dengan klakson, meraung dengan suara mesin, 
dan memaki dengan semprotan knalpot kendaraan. 

Selamat siang Jakarta! 

Kota yang setiap saat menyuguhkan hidangan udara bertuba yang menyesakkan dada. Panas 
membuat gerah, layaknya pergulatan hidup di kota metropolitan. Atau seperti panasnya 
persaingan politikus yang saling sikut-sikutan, berebut untuk menjilat kekuasaan. 

Hari ini, Jakarta memang panas sekali. Namun bagiku itu sama sekali tak berarti. Udara 
sejuk dari air conditioner di dalam mobil membuatku terasa nyaman. Dihibur dengan 
lagu-lagu Bimbo, semakin membuat nikmat perjalanan. Terdengar suara khas penyanyinya 
bersenandung tentang nasehat dari RasuluLlah Sallallaahu Alayhi Wasallam, 

Rasul menyuruh kita mencintai anak yatim / 
Rasul menyuruh kita mengasihi orang miskin / 
Dunia penuh dengan orang yang malang / 
Dunia penuh dengan orang yang malang / 
Mari dengan rata / 
Kita bagi cahaya matahari / 
Mari dengan rata / 
Kita bagi cahaya bulan /

Sesekali aku pun bergumam menirukan, sementara mata tetap awas menatap jalanan. 

Tampak begitu banyak orang berdesakan di dalam bis kota, dan rakyat kecil yang berdiri 
di pinggir jalan sambil menanti angkutan. Peluh bercucuran di sekujur tubuh, membasahi 
baju-bajunya. Bibirku lalu tersungging sebuah senyuman, alhamduliLlah, aku lebih 
beruntung dari mereka. 

Di sebuah persimpangan jalan, tak ayal beberapa kali traffic light menahan laju 
kendaraan. Udara luar yang terlihat semakin bergolak, membuat banyak orang marah dan 
kehilangan kesabaran. Suasana jalan yang semakin hiruk-pikuk tak urung membuatku 
terganggu, sehingga membesarkan volume lagu yang didengar. 

Dari balik jendela mobil, kulihat polisi pun sibuk mengatur lalu lintas kendaraan 
dengan peluit dan mengayun-ayunkan tangan. Namun sekilas kemudian bola mata beralih 
pandangan. 

Di kolong jembatan beton dan besar itu terlihat banyak sekat-sekat yang terbuat dari 
kardus dan triplek bekas. Seadanya, hanya sekedar membatasi wilayah kekuasaan. 
Beberapa pakaian, kutang dan kolor juga tampak berkibar-kibar pada beberapa utas tali 
rapia. Terlihat pula bocah-bocah kecil bermain-main dengan bertelanjang dada, sehingga 
tulang rusuknya jelas terlihat. Mereka lusuh dan dekil. Berulang kali, sisa ingus yang 
meleleh diseka dengan punggung tangan atau ujung lidah. 

Ah, aku jijik melihatnya. 

Cepat kualihkan pandangan, namun mata tertumbuk pada pemandangan yang tak kalah 
menjijikkan. Seorang laki-laki tua kudisan menuntun wanita setengah baya yang 
mengenakan kebaya usang dan penuh tambalan, seraya tangannya menggendong seorang bayi 
dengan sebuah kain selendang. Mereka pasti pemalas, pikirku. Mungkin juga bayi itu 
adalah bayi sewaan. Berdusta, agar mereka mendapat belas kasihan pengguna jalan. 

Di sisi trotoar lainnya, seorang pemuda berambut gimbal dengan tubuh telanjang 
terkekeh-kekeh sendirian. Kumis dan jenggotnya jarang-jarang. Kadang ia berteriak, 
menangis atau tertawa sambil mengibas-ngibaskan gembolan. Terlihat pengguna jalan 
menghindar, namun beberapa pengemis acuh tak acuh melihatnya. Mungkin pemandangan 
biasa bagi mereka. 

Pengemis itu ada yang cacat sambil duduk di pinggir trotoar. Menengadahkan tangan 
seraya meminta-minta. Kedua kakinya sudah tak ada, tampak dari perban yang melilit 
sebatas paha. Tubuh dan pakaiannya pun terlihat kotor. Giginya hitam serta bekas 
borok, panu dan kurap terlihat di bagian tubuhnya yang terbuka. 

Seorang pengemis yang lain kulihat terbaring di atas tikar, berbantal buntalan 
bulukan. Air liur tak henti-henti menetes dari tepi mulutnya. Tubuhnya kurus, tinggal 
tulang. Mirip tengkorak hidup. Sementara kaki sebelah kanan menyilang di paha 
sebelahnya, sambil jari-jari kaki itu menjepit kecrekan yang terbuat dari tutup botol 
bekas. Lalat-lalat berseliweran, mengerubungi koreng-koreng bernanah dan bekas kotoran 
manusia di sekitarnya. 

Hoek...!!! 
Hampir saja aku akan muntah. Tapi untunglah masih dapat kutahan hingga tak mengotori 
t-shirt Calvin Klein yang dikenakan. 

Uups...!!! 
Klakson mobil di belakang membuatku tersentak, lalu menjauh dari pemandangan yang 
benar-benar membuatku mual. Dari balik kacamata hitam Versace, tak kupedulikan kilasan 
tatapan mata mereka. 

Apa peduliku? Kenal saja tidak, saudara juga bukan. 

Cuih...!!! 
Dasar mereka saja pemalas. Hanya tahu meminta-minta. 

Lagu-lagu bernuansa Islam terus mengalun selama perjalanan. Selesai sebuah lagu, 
langsung disambung dengan lagu-lagu lainnya. Begitu sejuk terdengar. 

Mobil akhirnya berhenti di sebuah pelataran parkir mall termegah. Ada banyak barang 
yang harus kubeli sebagai oleh-oleh saat nanti pulang ke Negeri Sakura. Lalu sibuk 
shopping hingga kedua tangan rasanya tak cukup untuk menenteng beberapa plastik 
berukuran besar. Akhirnya, dua buah trolley terpaksa digunakan. 

Fuiiih... 
Hari yang panas dan melelahkan. Namun sungguh menyenangkan melihat mobil yang penuh 
timbunan bumbu-bumbu, makanan instant, souvenir untuk profesor dan teman-teman serta 
barang-barang kebutuhan lainnya. Puas, terpancar dari wajah. 

Kembali lagu-lagu bernuansa Islam menemani sepanjang perjalanan pulang. Kini terdengar 
nasyid dari Snada, mengalun lirih, mengajakku kembali bergumam menirukan, 

Ketika malam datang mencekam / 
Kulihat si Alif kecil yang malang / 
Duduk tengadah ke langit yang kelam / 
Meratapi nasib diri / 

Kilat menyambar hujanpun turun / 
Semakin basah hatinya yang resah / 
Kapankah semua ini kan berakhir / 
Di jalanan penuh duri / 

*** 

Sholat subuh baru saja kutunaikan, lalu pandangan lepas dari balik jendela. Semburat 
jingga cahaya mentari meretas dari awan putih yang bergumpal-gumpal begitu indah. 
SubhanaLlah, bagaikan kasur yang terbuat dari tenunan kapas. Seolah-olah mengajakku 
berbaring dan terbuai di atasnya. Sekejap aku merenungkan ciptaan-Nya. 

Tak berapa lama, terdengar pemberitahuan bahwa pesawat akan segera mendarat di Fukuoka 
International Airport. Sejurus kemudian, aku telah berada di mobil seorang teman. 
Walaupun sekarang di Jepang sudah menjelang akhir musim panas, namun dengan air 
conditioner tentu akan membuat lebih nyaman perjalanan. Udara pun sejuk dan melenakan. 

Selamat siang Fukuoka! 

Sepanjang perjalanan, tak ada kemacetan. Semuanya berjalan teratur mengikuti 
peraturan. Di setiap persimpangan, trotoar bersih dari gelandangan. Lalu pikiranku 
seketika menerawang, membelah angkasa dan samudera. Kembali bersua dengan suasana di 
tanah air tercinta. 

Pertanyaan demi pertanyaan beruntun menyentak, mengapa banyak sekali laki-laki dan 
wanita tua bahkan anak-anak kecil yang menjadi pengemis liar? Mengapa pula pemerintah 
seolah-olah membiarkan mereka begitu saja? Bukankah itu tugas mereka? Atau, para 
gelandangan itu yang pemalas? Bla... bla... bla... 

Tak habis-habis aku merutuk. Hidup mereka hanya bagaikan sampah, dan membuatku malu 
sebagai orang Indonesia. 

Namun, rentetan pertanyaan hanya sebentar menggantung di benak, lalu hilang tak 
berbekas. Perjalananan yang menyenangkan dan suasana nyaman ini lebih menarik 
perhatian daripada memikirkannya. Biarlah, bukankah nanti juga ada orang-orang yang 
akan memikirkan nasib mereka. 

*** 

Tanpa terasa telah tiba di rumah, dan sibuk mengemaskan barang-barang yang begitu 
banyak jumlahnya. Rumah di Jepang yang sudah sempit, semakin terasa sesak. Kulkas 
telah penuh, lemari apa lagi. Nyaris tak tersisa celah-celah untuk menyimpan makanan 
serta oleh-oleh yang beraneka ragam jenisnya. 

Lelah, tapi sungguh menyenangkan. Hampir semua jenis kue, makanan-makanan instant 
telah siap untuk menyambut bulan suci Ramadhan. Hati puas karena membayangkan sebulan 
mendatang, saat sahur dan berbuka puasa, akan menikmati hidangan lezat serta tentu 
saja halal untuk dimakan. 

Lalu segera ke kamar mandi, karena lelehan keringat ini sungguh membuat gerah. 

Aah... 
Enaknya istirahat setelah mandi. Sambil makan cemilan, duduk santai di depan komputer 
untuk membaca beberapa berita online. 

Mata tertumbuk pada sebuah berita, hasil wawancara sebuah media dengan seorang 
ustadzah tentang pola pemurtadan. 

.... Ya, macam-macam. Tengok sendiri di jalan Pramuka (Jakarta Pusat) di lampu merah 
sana, kurang lebih satu bulan sebelum Ramadhan sudah ada orang yang menjual salib dan 
gambar Yesus tapi pakai baju koko. Ketika ditanya, "Agamamu apa?" Dia bilang, "Islam." 
Lho, kenapa jual seperti ini. Mereka bilang daripada tidak makan, daripada mencuri? 

Ternyata apa yang terjadi, setelah dikorek, mereka bilang, dagangan laku atau tidak, 
oleh gereja mereka digaji perhari Rp 25.000. Lihat pula pengamen, apa yang mereka 
nyanyikan. 

Di Priok ada gereja yang setiap malam menjaring gelandangan. Jadi gelandangan itu 
diajak masuk gereja. Sampai timbul calo, calo gelandangan. Karena dari satu orang 
gelandangan, calonya dapat Rp 30.000. 

Belum lagi... 

Aku tersedak. Tak dapat kutuntaskan bacaan, dan tergamam seketika itu juga. 

AstaghfiruLlah... 
WaLlahua'lam bi shawab. 

Catatan: 
Fukuoka: sebuah kota yang terletak di Pulau Kyushu, Jepang
____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke