Assalamualaikum.Wr.Wb..
Kisah dari milist di Kairo, mudah-mudahan bermanfaat
buat kita semua.
Moga-moga kita semua sangat..sangat menghindari untuk
mendzalimi hak manusia lainnya, menyakiti manusia
lainnya, jangan memakan harta yang bukan milik kita,
apalagi memakan harta manusia lainnya.Ingat-ingatlah
selalu, " Di harta kita ada milik faqir miskin
didalamnya, jangan sampai lupa, keluarkan zakat,
sedeqahkan sebahagian harta milik kita.
Bila kita berjanji pada manusia, tunaikan janji itu
seberat apapun halangan dan rintangannya, mungkin itu
sebagai batu ujian keimanan kita.
Bila kita berkata, usahakan jauhi sikap " buruk sangka
", sekecil apapun " buruk sangka itu ".
Ada perkataan hikmah: " Apabila kamu terasa temanmu
menyalahi janji, atau amanahnya, cobalah dirimu cari
beribu alasan, : " Oh mungkin ia lagi sakit..mungkin
ia lagi ke rumah ortunya, mungkin ia ada kerjaan,
mungkin hujan lagi turun..dan sebagainya..dan
sebagainya..".Jangan sekali-kali dirimu langsung
memvonis pada seseorang akan vonis yang tak layak ia
terima.
Ataupun layak ia terima, namun tetap yang menghukum
itu hanyalah Allah SWT belaka.Ingatlah, dirimu
hanyalah sekedar hamba yang tercipta dari air mani,
tanah yang selalu engkau pijak setiap hari, betapa
hinanya diri kita, kalau kita mau menyadari.
Sekali lagi dosa terhadap manusia, hutang terhadap
sesama manusia sangat tergantung dari manusia yang
didzalimi itu.
Rasulullah SAW bersabda,kira-kira artinya begini : "
Takutilah do'a orang-orang yang didzalimi, sekecil
apapun orang tersebut, sehina, dan semiskin apapun
orang tersebut, karena do'a orang yang didzalimi,
tidak ada perantara antara dirinya dan tuhanNya ".
Dan betapa banyaknya manusia yang dikhabarkan
Rasulullah SAW masuk syorga, padahal amal ibadahnya
sedikit, atau boleh dikatakan biasa-biasa saja, tetapi
ia baik sesama manusia, suka menolong makhluk lain,
tidak punya sikap iri,atau hasad terhadap manusia
lainnya.
Wassalam.Rahima.
* seri ibroh
Assalamualaikum....
Kisah Nyata...Tujuh kali naik Haji tidak bisa melihat
Ka'ba
Sebagai seorang anak yang berbakti kepada orang
tuanya, Hasan (bukan nama
sebenarnya), mengajak ibunya untuk menunaikan rukun
Islam yang kelima.
Sarah (juga bukan nama sebenarnya), sang Ibu, tentu
senang dengan ajakan
anaknya itu. Sebagai muslim yang mampu secara materi,
mereka memang
berkewajiban menunaikan ibadah Haji.
Segala perlengkapan sudah disiapkan. Singkatnya ibu
anak-anak ini akhirnya
berangkat ke tanah suci. Kondisi keduanya sehat wal
afiat, tak kurang satu
apapun. Tiba harinya mereka melakukan thawaf dengan
hati dan niat ikhlas
menyeru panggilan Allah, Tuhan Semesta Alam. "Labaik
allahuma labaik, aku
datang memenuhi seruanMu ya Allah".
Hasan menggandeng ibunya dan berbisik, "Ummi undzur
ila Ka'bah (Bu, lihatlah
Ka'bah)." Hasan menunjuk kepada bangunan empat persegi
berwarna hitam itu.
Ibunya yang berjalan di sisi anaknya tak beraksi, ia
terdiam. Perempuan itu
sama sekali tidak melihat apa yang ditunjukkan oleh
anaknya.
Hasan kembali membisiki ibunya. Ia tampak bingung
melihat raut wajah ibunya.
Di wajah ibunya tampak kebingungan. Ibunya sendiri tak
mengerti mengapa ia
tak bisa melihat apapun selain kegelapan. beberapakali
ia mengusap-usap
matanya, tetapi kembali yang tampak hanyalah
kegelapan.
Padahal, tak ada masalah dengan kesehatan matanya.
Beberapa menit yang lalu
ia masih melihat segalanya dengan jelas, tapi mengapa
memasuki Masjidil
Haram segalanya menjadi gelap gulita. Tujuh kali Haji
Anak yang sholeh itu
bersimpuh di hadapan Allah. Ia shalat memohon
ampunan-Nya. Hati Hasan begitu
sedih. Siapapun yang datang ke Baitulah, mengharap
rahmatNYA. Terasa hampa
menjadi tamu Allah, tanpa menyaksikan segala
kebesaran-Nya, tanpa merasakan
kuasa-Nya dan juga rahmat-Nya.
Hasan tidak berkecil hati, mungkin dengan ibadah dan
taubatnya yang
sungguh-sungguh, Ibundanya akan dapat merasakan
anugrah-Nya, dengan menatap
Ka'bah, kelak. Anak yang saleh itu berniat akan
kmebali membawa ibunya
berhaji tahun depan. Ternyata nasib baik belum
berpihak kepadanya.
Tahun berikutnya kejadian serupa terulang lagi. Ibunya
kembali dibutakan di
dekat Ka'bah, sehingga tak dapat menyaksikan bangunan
yang merupakan symbol
persatuan umat Islam itu. Wanita itu tidak bisa
melihat Ka'bah.
Hasan tidak patah arang. Ia kembali membawa ibunya ke
tanah suci tahun
berikutnya.
Anehnya, ibunya tetap saja tak dapat melihat Ka'bah.
Setiap berada di
Masjidil Haram, yang tampak di matanya hanyalah gelap
dan gelap. Begitulah
keganjilan yang terjadi pada diri Sarah. hingga
kejadian itu berulang sampai
tujuh kali menunaikan ibadah haji.
Hasan tak habis pikir, ia tak mengerti, apa yang
menyebabkan ibunya menjadi
buta di depan Ka'bah. Padahal, setiap berada jauh dari
Ka'bah,
penglihatannya selalu normal. Ia bertanya-tanya,
apakah ibunya punya
kesalahan sehingga mendapat azab dari Allah SWT ?. Apa
yang telah diperbuat
ibunya, sehingga mendapat musibah seperti itu ? Segala
pertanyaan berkecamuk
dalam dirinya. Akhirnya diputuskannya untuk mencari
seorang alim ulama, yang
dapat membantu permasalahannya.
Beberapa saat kemudian ia mendengar ada seorang ulama
yang terkenal karena
kesholehannya dan kebaikannya di Abu Dhabi (Uni
Emirat). Tanpa kesulitan
berarti, Hasan dapat bertemu dengan ulama yang
dimaksud.
Ia pun mengutarakan masalah kepada ulama yang saleh
ini. Ulama itu
mendengarkan dengan seksama, kemudian meminta agar Ibu
dari hasan mau
menelponnya. anak yang berbakti ini pun pulang.
Setibanya di tanah
kelahirannya, ia meminta ibunya untuk menghubungi
ulama di Abu Dhabi
tersebut. Beruntung, sang Ibu mau memenuhi permintaan
anaknya. Ia pun mau
menelpon ulama itu, dan menceritakan kembali peristiwa
yang dialaminya di
tanah suci. Ulama itu kemudian meminta Sarah
introspeksi, mengingat kembali,
mungkin ada perbuatan atau peristiwa yang terjadi
padanya di masa lalu,
sehingga ia tidak mendapat rahmat Allah. Sarah diminta
untuk bersikap
terbuka, mengatakan dengan jujur, apa yang telah
dilakukannya.
"Anda harus berterus terang kepada saya, karena
masalah Anda bukan masalah
sepele," kata ulama itu pada Sarah. Sarah terdiam
sejenak. Kemudian ia
meminta waktu untuk memikirkannya. Tujuh hari berlalu,
akan tetapi ulama itu
tidak mendapat kabar dari Sarah. Pada minggu kedua
setelah percakapan
pertama mereka, akhirnya Sarah menelpon. "Ustad, waktu
masih muda, saya
bekerja sebagai perawat di rumah sakit," cerita Sarah
akhirnya. "Oh,
bagus.....Pekerjaan perawat adalah pekerjaan mulia,"
potong ulama itu. "Tapi
saya mencari uang sebanyak-banyaknya dengan berbagai
cara, tidak peduli,
apakah cara saya itu halal atau haram," ungkapnya
terus terang. Ulama itu
terperangah. Ia tidak menyangka wanita itu akan
berkata demikian.
"Disana...." sambung Sarah, "Saya sering kali menukar
bayi, karena tidak
semua ibu senang dengan bayi yang telah dilahirkan.
Kalau ada yang
menginginkan anak laki-laki, padahal bayi yang
dilahirkannya perempuan,
dengan imbalan uang, saya tukar bayi-bayi itu sesuai
dengan keinginan
mereka."
Ulama tersebut amat terkejut mendengar penjelasan
Sarah.
"Astagfirullah......" betapa tega wanita itu menyakiti
hati para ibu yang
diberi amanah Allah untuk melahirkan anak. bayangkan,
betapa banyak keluarga
yang telah dirusaknya, sehingga tidak jelas nasabnya.
Apakah Sarah tidak tahu, bahwa dalam Islam menjaga
nasab atau keturunan
sangat penting.
Jika seorang bayi ditukar, tentu nasabnya menjadi
tidak jelas. Padahal,
nasab ini sangat menentukan dalam perkawinan, terutama
dalam masalah mahram
atau muhrim, yaitu orang-orang yang tidak boleh
dinikahi.
"Cuma itu yang saya lakukan," ucap Sarah. "Cuma itu ?"
tanya ulama
terperangah. "Tahukah anda bahwa perbuatan Anda itu
dosa yang luar biasa,
betapa banyak keluarga yang sudah Anda hancurkan !".
ucap ulama dengan nada
tinggi.
"Lalu apa lagi yang Anda kerjakan ?" tanya ulama itu
lagi sedikit kesal. "Di
rumah sakit, saya juga melakukan tugas memandikan
orang mati."
"Oh bagus, itu juga pekerjaan mulia," kata ulama. "Ya,
tapi saya memandikan
orang mati karena ada kerja sama dengan tukang sihir."
"Maksudnya ?". tanya ulama tidak mengerti. "Setiap
saya bermaksud
menyengsarakan orang, baik membuatnya mati atau sakit,
segala perkakas sihir
itu sesuai dengan syaratnya, harus dipendam di dalam
tanah. Akan tetapi saya
tidak menguburnya di dalam tanah, melainkan saya
masukkan benda-benda itu ke
dalam mulut orang yang mati."
"Suatu kali, pernah seorang alim meninggal dunia.
Seperti biasa, saya
memasukkan berbagai barang-barang tenung seperti
jarum, benang dan lain-lain
ke dalam mulutnya. Entah mengapa benda-benda itu
seperti terpental, tidak
mau masuk, walaupun saya sudah menekannya dalam-dalam.
Benda-benda itu
selalu kembali keluar. Saya coba lagi begitu
seterusnya berulang-ulang.
Akhirnya, emosi saya memuncak, saya masukkan benda itu
dan saya jahit
mulutnya. Cuma itu dosa yang saya lakukan." Mendengar
penuturan Sarah yang
datar dan tanpa rasa dosa, ulama itu berteriak marah.
"Cuma itu yang kamu lakukan ?". "Masya Allah....!!!
Saya tidak bisa bantu
anda. Saya angkat tangan".
Ulama itu amat sangat terkejutnya mengetahui perbuatan
Sarah. Tidak pernah
terbayang dalam hidupnya ada seorang manusia, apalagi
ia adalah wanita, yang
memiliki nurani begitu tega, begitu keji. Tidak pernah
terjadi dalam
hidupnya, ada wanita yang melakukan perbuatan sekeji
itu. Akhirnya ulama itu
berkata, "Anda harus memohon ampun kepada Allah,
karena hanya Dialah yang
bisa mengampuni dosa Anda."
Bumi menolaknya. Setelah beberapa lama, sekitar tujuh
hari kemudian ulama
tidak mendengar kabar selanjutnya dari Sarah. Akhirnya
ia mencari tahu
dengan menghubunginya melalui telepon. Ia berharap
Sarah telah bertobat atas
segala yang telah diperbuatnya. Ia berharap Allah akan
mengampuni dosa
Sarah, sehingga Rahmat Allah datang kepadanya. Karena
tak juga memperoleh
kabar, ulama itu menghubungi keluarga Hasan di mesir.
Kebetulan yang
menerima telepon adalah Hasan sendiri. Ulama
menanyakan kabar Sarah,
ternyata kabar duka yang diterima ulama itu.
"Ummi sudah meninggal dua hari setelah menelpon
ustad," ujar Hasan. Ulama
itu terkejut mendengar kabar tersebut. "Bagaimana
ibumu meninggal, Hasan ?".
tanya ulama itu.
Hasanpun akhirnya bercerita :
Setelah menelpon sang ulama, dua hari kemudian ibunya
jatuh sakit dan
meninggal dunia. Yang mengejutkan adalah peristiwa
penguburan Sarah. Ketika
tanah sudah digali, untuk kemudian dimasukkan jenazah
atas ijin Allah, tanah
itu rapat kembali, tertutup dan mengeras. Para
penggali mencari lokasi lain
untuk digali. Peristiwa itu terulang kembali. Tanah
yang sudah digali
kembali menyempit dan tertutup rapat. Peristiwa itu
berlangsung begitu
cepat, sehingga tidak seorangpun pengantar jenazah
yang menyadari bahwa
tanah itu kembali rapat. Peristiwa itu terjadi
berulang-ulang.
Para pengantar yang menyaksikan peristiwa itu merasa
ngeri dan merasakan
sesuatu yang aneh terjadi. Mereka yakin, kejadian
tersebut pastilah
berkaitan dengan perbuatan si mayit.
Waktu terus berlalu, para penggali kubur putus asa dan
kecapaian karena
pekerjaan mereka tak juga usai. Siangpun berlalu,
petang menjelang, bahkan
sampai hampir maghrib, tidak ada satupun lubang yang
berhasil digali. Mereka
akhirnya pasrah, dan beranjak pulang. Jenazah itu
dibiarkan saja tergeletak
di hamparan tanah kering kerontang.
Sebagai anak yang begitu sayang dan hormat kepada
ibunya, Hasan tidak tega
meninggalkan jenazah orang tuanya ditempat itu tanpa
dikubur. Kalaupun
dibawa pulang, rasanya tidak mungkin. Hasan termenung
di tanah perkuburan
seorang diri. Dengan ijin Allah, tiba-tiba berdiri
seorang laki-laki yang
berpakaian hitam panjang, seperti pakaian khusus orang
Mesir. Lelaki itu
tidak tampak wajahnya, karena terhalang tutup
kepalanya yang menjorok ke
depan. Laki-laki itu mendekati Hasan kemudian berkata
padanya," Biar aku
tangani jenazah ibumu, pulanglah!". kata orang itu.
Hasan lega mendengar bantuan orang tersebut, Ia
berharap laki-laki itu akan
menunggu jenazah ibunya. Syukur-syukur mau menggali
lubang untuk kemudian
mengebumikan ibunya. "Aku minta supaya kau jangan
menengok ke belekang,
sampai tiba di rumahmu, "pesan lelaki itu. Hasan
mengangguk, kemudian ia
meninggalkan pemakaman. Belum sempat ia di luar lokasi
pemakaman, terbersit
keinginannya untuk mengetahui apa yang terjadi dengan
kenazah ibunya.
Sedetik kemudian ia menengok ke belakang. Betapa pucat
wajah Hasan, melihat
jenazah ibunya sudah dililit api, kemudian api itu
menyelimuti seluruh tubuh
ibunya. Belum habis rasa herannya, sedetik kemudian
dari arah yang
berlawanan, api menerpa wajah Hasan. Hasan ketakutan.
Dengan langkah seribu,
ia pun bergegas meninggalkan tempat itu.
Demikian yang diceritakan Hasan kepada ulama itu.
Hasan juga mengaku, bahwa
separuh wajahnya yang tertampar api itu kini berbekas
kehitaman karena
terbakar. Ulama itu mendengarkan dengan seksama semua
cerita yang
diungkapkan Hasan. Ia menyarankan, agar Hasan segera
beribadah dengan
khusyuk dan meminta ampun atas segala perbuatan atau
dosa-dosa yang pernah
dilakukan oleh ibunya. Akan tetapi, ulama itu tidak
menceritakan kepada
Hasan, apa yang telah diceritakan oleh ibunya kepada
ulama itu.
Ulama itu meyakinkan Hasan, bahwa apabila anak yang
soleh itu memohon ampun
dengan sungguh-sungguh, maka bekas luka di pipinya
dengan ijin Allah akan
hilang. Benar saja, tak berapa lama kemudian Hasan
kembali mengabari ulama
itu, bahwa lukanya yang dulu amat terasa sakit dan
panas luar biasa, semakin
hari bekas kehitaman hilang. Tanpa tahu apa yang telah
dilakukan ibunya
selama hidup, Hasan tetap mendoakan ibunya. Ia
berharap, apapun perbuatan
dosa yang telah dilakukan oleh ibunya, akan diampuni
oleh Allah SWT.
Semoga kisah nyata dari Mesir ini bisa menjadi
pelajaran bagi kita semua.
Uang Rp 50.000 atau S$50 kelihatan begitu besar bila
dibawa ke kotak derma
masjid, tetapi begitu kecil bila kita bawa ke
supermarket. 45 menit terasa
terlalu lama untuk berzikir tapi betapa pendeknya
waktu itu untuk
pertandingan bola sepak. Semua insan ingin memasuki
syurga tetapi tidak
ramai yang berfikir dan berbicara tentang bagaimana
untuk memasukinya.
Kita mengirimkan ribuan 'jokes' dan 'suratberantai'
melalui e-mail tetapi
bila ! mengirimkan yang berkaitan dengan ibadah
seringkali berfikir 2 atau 3
kali.
OLEH ITU JANGAN BIARKAN DIRI KITA INI MENJADI
SEBAHAGIAN DARI KELUCUAN
TERSEBUT,
INSYA'ALLAH.
Wassalamualaikum
~ Ujian adalah tarbiyah dari Allah....apakah kita kan
sabar atau sebaliknya
_______________________________
Do you Yahoo!?
Declare Yourself - Register online to vote today!
http://vote.yahoo.com
____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________