Diambil dari http://wwwkpu.go.id dan kompas.co.id dan
http://www.kompas.co.id

KABUPATEN Kepulauan Mentawai
� Pagai Utara/Selatan
� Sipora
� Siberut Selatan
� Siberut Utara

Pagai Uatara/Selatan
1. Saumanganyak
2. Silabu
3. Batumonga

Sipora
1. Bosua
2. Nem-nem Leu
3. Beriuleu
4. Mara
5. Sioban
6. Beutomonga
7. Saurainuk
8. Matobe
9. Goissoinan
10. Sipora Jaya
11. UPT Tua Pejat II
12. Tuapejat

Siberut Selatan
1. Pasakiat Teleleu
2. Madobak Ugai
3. Katurai
4. Muara Siberut
5. Maileppet
6. Muntei (Siberut Ulu)
7. Tanga
8. Ulu/Matotonan
9. Sagalubek Taileu
10. Saibi Samukop

Siberut Utara
1. Simatuli Sipokak
2. Cimpungan
3. Sirilogui
4. Muara Sikabaluan
5. Mongan Poula
6. Bojakan
7. Simaligi Tangah
8. Malancan
9. Sigapokna

BAGAIKAN batu intan yang belum terasah. Demikian perumpamaan yang layak
disandang oleh Kabupaten Kepulauan Mentawai. Potensi kehutanan, keunikan
budaya seperti tato, dan keindahan alamnya membuat orang-orang dari dalam
negeri dan mancanegara berkunjung.

POTENSI kehutanan di Kepulauan Mentawai merupakan daya tarik yang sangat
menggiurkan bagi kalangan pengusaha dari Padang maupun Jakarta. Kabupaten
ini memiliki areal hutan paling luas di Sumatera Barat (Sumbar). Luas hutan
di Kepulauan Mentawai 22,5 persen luas hutan Sumbar. Dari luas itu hutan
produksi tetap 407.000 hektar atau 67 persen dari total luas hutan produksi
tetap di Sumbar. Lahan hutan ini tersebar di pulau-pulau besar seperti Pulau
Pagai, Sipora, dan paling luas di Siberut. Menurut penggunaannya, lahan
hutan merupakan 42 persen luas wilayah Kepulauan Mentawai.
Kayu bulat dari hutan Mentawai diproses melalui prosedur izin pengusahaan
kayu (IPK). Wilayah hutan yang sudah diambil kayunya dijadikan areal
perkebunan seperti kelapa hibrida, kelapa sawit, dan nilam. Penggunaan pola
IPK ini didasarkan kerja sama koperasi masyarakat dengan perusahaan sebagai
penyandang dana. Sampai tahun 2000 dikeluarkan 23 IPK, masing-masing 20 IPK
di Kecamatan Pagai Utara Selatan dan tiga di Kecamatan Siberut Selatan.
Konsep IPK ternyata tidak sepenuhnya menguntungkan masyarakat setempat.
Lahan yang digunakan untuk kelapa sawit ternyata merusak habitat tanaman
obat langka di hutan Mentawai. Tanaman tersebut jarang ditemui dan sekarang
hampir punah. Padahal, masyarakat asli banyak memanfaatkan untuk pengobatan
tradisional. Masyarakat belum dapat mengandalkan sarana kesehatan seperti
pusat kesehatan masyarakat atau rumah sakit karena terbatas.
Pemasukan kas daerah dari kehutanan juga belum sebanding. Keuntungan dari
hasil hutan dalam target APBD 2002 di antaranya masuk dalam retribusi izin
pengambilan hasil hutan ikutan Rp 200.000, bagi hasil kehutanan Rp 3,1
miliar dan dana alokasi khusus reboisasi Rp 2,9 miliar.
Padahal, kontribusi sektor kehutanan dalam membentuk struktur perekonomian
kabupaten paling besar. Pada tahun 2001 kehutanan menyumbang Rp 106,6 miliar
dari total nilai perekonomian Rp 393,6 miliar.
Penduduk Kepulauan Mentawai sebagian besar hidup dari bertani tanaman
pangan. Mereka lebih banyak bertanam talas, pisang dan sagu dibandingkan
dengan mengusahakan sawah. Makanan pokok suku asli Mentawai yang merupakan
87 persen penduduk Kabupaten Kepulauan Mentawai terbuat dari talas, pisang
atau sagu.
Talas dan sagu tumbuh liar di hutan-hutan Mentawai. Pemda merencanakan untuk
meningkatkan kualitas talas tersebut lewat budidaya talas jenis unggul di
areal 100 hektar. Tanaman pisang tahun 2001 mencapai 2.900 hektar dengan
produksi 1.870 ton. Selama ini diversifikasi makanan yang terbuat dari
talas, pisang, dan sagu belum dilirik oleh masyarakat. Padahal jenis tanaman
ini potensial untuk dikembangkan dan dapat dijadikan oleh-oleh bagi
wisatawan yang berkunjung.
Tanaman padi pun sebenarnya banyak dijumpai di Kepulauan Mentawai. Pada
mulanya padi diperkenalkan oleh transmigran dari Jawa. Pada tahun 2001 luas
panen 219 hektar dengan produksi 734 ton. Lahan sawah tersebar di seluruh
kecamatan terutama Kecamatan Pagai Utara Selatan.
Potensi pariwisata juga tidak kalah menarik. Perairan Mentawai dikenal
sebagai tempat paling menantang untuk pecinta olahraga selancar air atau
surfing. Potensi pantai yang terkenal untuk olah raga selancar ini menjadi
incaran wisatawan mancanegara. Lokasi selancar terdapat di Nyangnyang,
Karang Bajat, Karoniki, dan Pananggelat Mainuk di Kecamatan Siberut Selatan,
Katiet Bosua di Kecamatan Sipora, serta pantai selatan dan barat Kecamatan
Pagai Utara.
Kabupaten yang memiliki garis pantai 758 kilometer ini memiliki potensi
perikanan yang cukup besar. Di perairan sepanjang pantai itulah tersimpan
kekayaan laut yang cukup potensial seperti kerapu, kakap, tongkol, teripang,
dan rumput laut. Kerapu dari perairan Kepulauan Mentawai bahkan menjadi
komoditas ekspor. Tahun 1993-1999 Kepulauan Mentawai mengekspor kerapu
rata-rata 20 ton setiap berlayar selama 20 hari. Daerah penangkapan di
sepanjang pesisir Pagai Utara Selatan sampai Siberut. Sekarang produksinya
turun menjadi lima ton per tiga bulan. Kerapu hasil tangkapan dalam bentuk
beku segar dibawa ke Padang dan dikapalkan melalui pelabuhan Dumai, Riau
menuju Malaysia.
Masalah utama yang dihadapi pemerintah daerah adalah minimnya sarana
transportasi dan komunikasi. Jarak dari Kota Padang menuju Kepulauan
Mentawai 90-120 mil ditempuh 10-14 jam dengan kapal laut, dan 40-45 menit
dengan pesawat udara perintis. Kapal laut tidak setiap hari berkunjung ke
setiap pulau. Kapal berlabuh di Pelabuhan Tua Pejat hanya pada hari Senin,
Rabu, dan Sabtu. Itu pun kalau cuaca di laut cerah. Apabila gelombang besar
datang, kapal tidak berani berlayar sehingga pelayaran ditunda untuk jadwal
berikutnya.
Mengandalkan pelayaran saja sebagai sarana melepaskan diri dari
keterisolasian dengan wilayah lain di Sumbar sepertinya sangat sulit
diharapkan karena selalu terhambat cuaca. Kehadiran sarana perhubungan udara
bisa menjadi salah satu alternatif. Kepulauan Mentawai memiliki bandara
perintis di Rokot, Pulau Sipora. Sebelumnya, perusahaan penerbangan SMAC
(Sabang Merauke Air Charter) membuka rute dari Tabing ke Rokot. Namun, sejak
Maret 1999 perusahaan ini tidak menjalankan rutenya lagi.
Sarana jalan di setiap pulau masih terbatas pada jalan aspal beton sepanjang
39 kilometer atau lima persen dari panjang jalan di Kepulauan Mentawai. Ini
pun hanya ada di setiap ibu kota kecamatan, sedangkan 94 persen dari seluruh
jalan masih berupa jalan kerikil dan tanah.
Beranjak dari kesulitan tersebut dalam target APBD 2002 pemda mengalokasikan
belanja pembangunan pada sektor transportasi 42 persen dari total anggaran
pembangunan Rp 77,08 miliar. Sebagian besar dana tersebut digunakan untuk
program pembangunan jalan dan jembatan. Pemerintah pusat juga memberi
bantuan berupa dana alokasi khusus nonreboisasi Rp 5,9 miliar untuk
prasarana jalan dan jembatan.
Yuliana Rini DY/ Litbang Kompas
Banyak Peluang Terbentang
KETERKENALAN Mentawai di mancanegara hampir menyamai Bali. Bahkan, dalam
beberapa hal, lebih unggul dari Bali. Pernah suatu kali ketika Kompas berada
di Republik Afrika Selatan, terutama di daerah tujuan utama wisata dunia
Cape Town, wisatawan dari banyak negara di sana rupa-rupanya lebih kenal
Mentawai dibanding dengan Indonesia.
Sebabnya, tentu tak sebatas empasan gelombang Samudera Hindia yang berawal
dari kawasan Afrika Selatan menghasilkan ombak yang menarik dan terbaik di
dunia bagi penggemar olahraga selancar (surfing) dari mancanegara di
Mentawai. Dewasa ini terdapat 23 titik untuk bermain selancar dengan standar
internasional di daerah kepulauan Provinsi Sumatera Barat itu. Setiap tahun
sekitar 2.000 wisatawan berselancar di daerah yang memiliki garis pantai 758
km itu. Rata-rata setiap peselancar menghabiskan waktu 14 hari.
Mentawai lebih tersohor namanya, juga karena di daerah ini terdapat Taman
Nasional Siberut, luasnya 1.905 km persegi, yang menjadi paru-paru dunia.
Hutannya memiliki keunikan tertentu yang berbeda dengan hutan tropis
lainnya, sebagai akibat proses isolasi sekitar 500.000 tahun sehingga
menimbulkan sifat-sifat endemik bagi flora-faunanya. Ada sejumlah
satwa/primata endemik, seperti Bokoi (Beruk Mentawai), Jojo (Lutung
Mentawai), Simakobu (Simpai Mentawai), dan Bilou. Di hutan Mentawai juga
terdapat sedikitnya 150 jenis tanaman obat, dan sebagian besar tidak
ditemukan di kawasan hutan mana pun.
Lebih dari itu, kebudayaan tradisional Mentawai juga unik. Menurut Ady Rosa,
"Jenderal Tato Indonesia", budaya tato di Mentawai yang tertua di dunia
dengan ragam tato yang unik dan spesifik. Mentawai juga dikenal kalangan
ilmuwan karena daerah yang berada 85-135 km dari pantai barat Sumbar itu,
sering menjadi pusat gempa.
Sementara itu, daerah Mentawai dengan empat pulau utama (Pulau Siberut,
Sipora, Pagai Utara, dan Pulau Pagai Selatan) akhir-akhir ini mencuat di
Tanah Air karena TNI AL menangkap kapal pembawa kayu kualitas ekspor dan
mengiring ke Jakarta. Sementara pejabat di Sumbar mengklaim kayu legal dan
punya dokumen. Sebelumnya, banyak kayu tanpa dokumen asal Mentawai yang
(hendak) diselundupkan ke luar negeri. Sesekali ditangkap, tapi kasusnya tak
berlanjut. Dan ironinya, sejumlah pejabat di sana ditahan Kejaksaan Tinggi
Sumbar, terkait dugaan korupsi Rp 25 miliar.
MESKIPUN cukup terkenal, daerah Kepulauan Mentawai yang luasnya 6.011,35 km2
di antaranya kawasan hutan) dan berpenduduk 60.897 jiwa (2001) itu, tidak
semaju yang mungkin dibayangkan. Daerah kaya sumber daya alam ini semasa
Orde Baru hanya jadi sapi perahan dan terkesan sengaja diisolasi, serta
kurang mendapat perhatian Pemerintah Provinsi Sumbar.
Alasan pembangunan di Mentawai tertinggal dibanding dengan daerah lainnya di
Sumbar, menurut Pemerintah Provinsi Sumbar, letak geografis yang kurang
menguntungkan, minimnya sarana dan prasarana hubungan, terbatasnya dana,
rendahnya tingkat produktivitas dan produksi pangan, terbatasnya kemampuan
masyarakat atau penduduk, dan sebagainya. Banyak kalangan menilai, kondisi
dan situasi seperti itu sengaja dipelihara agar kekayaan Mentawai bisa
dimanfaatkan segelintir orang.
Berbagai metode pembangunan dilaksanakan mulai tahun 1970. Mulanya dibentuk
Otorita Proyek Khusus Pengembangan Kepulauan Mentawai. Kemudian, tahun 1979
menjadi Otorita Pengembangan Kepulauan Mentawai. Dua tahun kemudian, 1981,
Kepulauan Mentawai diserahkan ke Kabupaten Padangpariaman. Tahun 1995, untuk
percepatan pembangunan dibentuk Badan Koordinasi dan Pengembangan
Pembangunan Kabupaten Mentawai. Walau berbagai organisasi atau lembaga
dibentuk dan berbagai cara ditempuh, namun hasilnya jauh dari memuaskan.
Oktober empat tahun lalu, Kepulauan Mentawai menjadi daerah otonom.
Perjuangan belasan tahun masyarakat menuntut otonomi, baru kesampaian
setelah era reformasi bergulir. Putra asli daerah Mentawai pun diberi
kesempatan memajukan daerahnya sendiri.
Menghadapi kendala dan ketertinggalan dalam banyak hal selama enam Pelita,
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai pun kini tertatih-tatih, namun tetap
optimistis. "Ada delapan sektor yang mendapat penekanan pembangunan dalam
Rencana Strategis Pembangunan Kabupaten Kepulauan Mentawai 2002-2006, yakni
sektor pendidikan, sektor perdagangan, pengembangan usaha dan koperasi,
sektor pertanian dan perikanan, sektor industri dan kerajinan, sektor
transportasi, sektor sumber daya air dan irigasi, sektor perumahan dan
pemukiman, dan sektor penyempurnaan kelembagaan pemerintah," kata Bupati
Kepulauan Mentawai, Edison Saleleubaja.
Karena masih banyak kendala, peluang bagi yang ingin berinvestasi dalam
berbagai bidang terbentang luas. Dalam peningkatan ekonomi masyarakat, kata
Edison, tahap pertama ada empat bidang yang menjadi fokus, yaitu perikanan
laut, peternakan dan pertanian, industri kecil dan kerajinan rumah tangga,
perkebunan dan kehutanan, dan kepariwisataan.
Menurut Kepala Bappeda Sumbar Muchlis Muchtar, potensi perikanan Kepulauan
Mentawai cukup besar. Namun, karena keterbatasan dana dan daya serta
teknologi penangkapan yang kurang memadai, potensi itu belum termanfaatkan
dan terolah. "Sekitar 10.000 hektar lahan potensial untuk pengembangan
perikanan, namun belum dikelola dan dimanfaatkan," katanya.
Di bidang pertanian, penduduk yang mata pencariannya bertani menetap
menggunakan lahan tanaman padi sawah dan umbi-umbian, luas areal yang
diusahakan sekitar 2.656 hektar, produksi rata-rata 9,3 kuintal/hektar.
Produksi ini masih rendah dibanding dengan yang dihasilkan daerah lain di
Sumatera Barat. (YURNALDI)




____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke