Assalamualaikum Wr, Wb.

Mulai saat iko ko, kalau lai ado wakatu agak luang, ambo ingin mamposting
tentang Kabupaten/Kota nan ado di Sumatera Barat, disinan adi Kecamatan2
basarato Jorong2 (Pemerintahan Terkecil) sayang namo2 Nagari ndak ado.

Untuak Postingan partamo, ambo kirimkan Daerah Baru di Mekarkan, tapeknyo
Kampuang Ambo.

Wassalam,

Artikel ko diambil dari Otonomi Daerah Kompas On-Line:
http://www.kompas.co.id, dan data -data dari Data Tabulasi Nasional Pemilu
(Sumbar) di http://www.tnp.kpu.go.id

Kabupaten Solok Selatan
� Sangir
� Sangir Batanghari
� Sangir Jujuan
� Sungai Pagu
� Koto Parik Gadang Diateh

Sangir
1. Liki
2. Suoharjo
3. Sungai Lambai
4. Bangun Rejo
5. Letter W
6. Malus
7. Suka Bumi
8. Sungai Padi
9. Padang Aro
10. Duriang Taruang
11. Lubuak Gadang
12. Palabihan
13. Sungai Landeh
14. Sungai Aro
15. Bukit Putuih

Sangir Batanghari
1. Ranah Pantai Cermin
2. Tanjuang Bungo
3. Ranah Tanjuang Puan
4. Sitapus
5. Tanah Tanjuang Bungo
6. Talatam
7. Koto Lamo
8. Gunuang Barantai

Sangir Jujuan
1. Padang Aia Dingin
2. Lubuak Malako
3. Bidar Alam
4. Makarti Jaya
5. Talao
6. Mukti Tama
7. Sungai Kunyit
8. Talunan Baru
9. Kurnia Maju

Sungai Pagu
1. Sungai Duo
2. Pekonina
3. Ampalu
4. Taratak Bukareh
5. Pakan Salasa
6. Pulakek
7. Luak Kapau
8. Bulantiak
9. Lasuang Batu
10. Sungai Durian
11. Sako
12. Mato Aia
13. Bangko
14. Bariang Rao-rao
15. Lubuak Jaya
16. Kampuang Nan V
17. Pasa Muaro Labuah
18. Kampuang Palak
19. Mudiak Lolo
20. Banda Gadang Sipotu Mudiak Lawe
21. Barokiah
22. Batanglaweh
23. Lundang Sei. Janga Pasia Talang
24. Subarang Suliti
25. Pasia Talang

Koto Parik Gadang Diateh
1. Sungai Aro
2. Pakan Raba'a
3. Sungai Pangkua
4. Batang Lolo
5. Bancah
6. Batang Limpauang
7. Balun
8. Sungai Kalu I
9. Sungai Kalu II
10. Pinti Kayu Gadang
11. Pinti Kayu Ketek
12. Batang Pajampan
13. Ulu Suliti

DI Provinsi Sumatera Barat, selain Kota Bukittinggi yang terkenal dengan Jam
Gadang, obyek wisata lain yang ditawarkan adalah danau. Provinsi ini
memiliki beberapa danau indah yang pantas dijadikan tujuan rekreasi. Sebut
saja Danau Maninjau yang terkenal dengan kelok 40, yaitu jalan yang harus
dilewati menuju tempat tersebut yang terdiri dari 40 belokan. Selain itu ada
Danau Singkarak serta Danau Diatas dan Danau Dibawah yang lebih dikenal
dengan Danau Kembar.

PERJALANAN menuju Kabupaten Solok Selatan bisa melewati salah satu
danau-danau tersebut, yaitu Danau Diatas. Namun, bagi pengunjung yang sedang
tidak fit, belum terbiasa, atau suka mabuk perjalanan, sebaiknya
bersiap-siap untuk pusing dan mual sepanjang perjalanan. Seperti kelok 40,
jalan menuju daerah ini dari Kota Padang juga berbelok-belok dan mendaki.
Makin jauh jalannya semakin menyempit walau masih bisa dilalui dua mobil.
Pemandangan di kanan kiri yang hanya perbukitan, hutan, dan jurang yang
curam serta sesekali saja rumah-rumah yang jaraknya berjauhan, apabila tidak
dinikmati bisa menambah pelintas yang belum terbiasa mabuk di jalan. Jarak
dari Kota Padang ke Kabupaten Solok Selatan lebih kurang 170 kilometer dan
dapat ditempuh lewat darat sekitar empat jam.

Bagi yang sudah biasa tikungan-tikungan tajam tadi bukan halangan. Nikmati
saja pemandangan jurang-jurang, sawah, atau perbukitan hijau di kanan-kiri
jalan, maka rasa lelah dan mual setidaknya bisa dikurangi. Apalagi, letaknya
di dataran tinggi membuat daerah ini beriklim cukup sejuk dengan suhu siang
hari rata-rata 25-27 derajat Celsius, membuat pengendara tidak kepanasan di
dalam mobil. Selain itu, masih ada bonus aroma daun teh segar yang tercium
saat melewati hamparan kebun teh yang luas. Pendek kata, bagi yang suka
mabuk di jalan, pengalih perhatian sudah disiapkan agar perjalanan itu bisa
dinikmati.

Meski jalan menuju wilayah ini didominasi pemandangan kebun teh,
sesungguhnya Solok Selatan lebih dikenal sebagai daerah kelapa sawit dan
kayu manis. Di sentra-sentra perkebunan, lahan yang terhampar di kabupaten
yang bertetangga dengan Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, itu didominasi ta
naman kelapa sawit, juga kayu manis. Dulu, sempat juga ditemui tanaman
karet, namun karena iklim yang tidak cocok, tanaman tersebut banyak yang
mati. Lama-kelamaan lahannya telantar sehingga dialihfungsikan untuk
ditanami kelapa sawit. Pada tahun 1998, penanaman kelapa sawit besar-besaran
dimulai dan empat tahun kemudian mulai berproduksi.

Untuk menemukan areal perkebunan komoditas-komoditas utama tersebut cukup
sulit jika tidak menyusuri daerah pinggiran Solok Selatan. Dengan luas
wilayah lebih dari 3.000 kilometer persegi yang terbagi atas lima kecamatan,
kabupaten ini memiliki sentra-sentra perkebunan di kecamatan-kecamatan yang
letaknya cukup jauh dari ibu kota Padang Aro yang masuk Kecamatan Sangir.
Misalnya karet yang masih bisa dijumpai di Kecamatan Sangir Jujuan, Sangir
Batang Hari, dan Sungai Pagu. Atau kebun kopi yang diusahakan secara
tradisional oleh penduduk dan banyak ditemukan di Kecamatan Sangir Jujuan,
Sangir Batang Hari, dan Sungai Pagu. Selain itu juga kayu manis yang dominan
dibudidayakan di Kecamatan Sangir Jujuan dan Sangir. Sementara perkebunan
kelapa sawit mayoritas berada di Sungai Pagu dan Sangir Jujuan. Tiga
kecamatan yang mengusahakan komoditas perkebunan tersebut adalah Sangir
Batang Hari, Sangir Jujuan, dan Sungai Pagu, yang agak terisolasi karena
sulit dilalui kendaraan. Hal itu menjadi salah satu kendala pendistribusian
produk.

Transportasi menjadi hal yang cukup vital dalam kelancaran distribusi
produk. Padahal beberapa komoditas perkebunan Solok Selatan ada yang
merambah pasar asing, meski masih dalam bentuk produk mentah atau setengah
jadi. Seperti umumnya daerah lain di Indonesia, komoditas perkebunan
kabupaten ini pun belum diusahakan dengan sistem industri hulu sampai ke
hilir. Kelapa sawit misalnya, produk akhirnya minyak sawit mentah yang
selain diolah hingga jadi di Kota Padang juga sebagian diolah di Malaysia.
Sedangkan teh hitam dan teh hijau, banyak diekspor ke Sri Lanka, India, dan
Timur Tengah. Perusahaan pengolahan teh di Solok Selatan adalah PT
Perkebunan Nusantara VI yang bekerja sama dengan PT Mitra Kerinci.

Selain teh, kayu manis atau Cassiavera adalah tanaman yang juga diunggulkan.
Seperti teh, ia pun menghasilkan devisa karena produknya juga diekspor
antara lain ke negara-negara Eropa. Produksi kayu manis pada tahun 2002
mencapai 1.700 ton dari lahan lebih kurang 7.000 hektar. Lahan perkebunan
paling banyak di Nagari Sungai Kunyit yang masuk Kecamatan Sangir Jujuan.
Nagari Sungai Kunyit menjadi pusat keberadaan perusahaan-perusahaan besar
milik pemerintah maupun swasta. Seluruh perusahaan itu bergerak di bidang
pengolahan produk perkebunan. Sayangnya, salah satu wilayah paling potensial
kabupaten ini pun memiliki akses jalan yang buruk, hancur, dan
berlubang-lubang.

Masalah transportasi tidak hanya mengganggu kelancaran pemasaran produk,
tapi juga kegiatan ekonomi penduduk sehari-hari. Solok Selatan belum
memiliki transportasi yang cukup layak. Angkutan dalam kota sehari-hari
dilayani sejenis angkutan kota yang trayeknya hanya di ibu kota dan
sekitarnya. Sebagai tambahan, ada ojek yang cukup membantu mereka yang
tinggal agak jauh di pinggir kota. Bus sedang atau mobil travel yang
tersedia hanya antarprovinsi seperti trayek Padang-Sungai Penuh, Kabupaten
Kerinci, Provinsi Jambi. Trayek khusus dari dan ke Solok Selatan tidak ada.
Daerah ini hanya dijadikan perlintasan bus-bus dan mobil-mobil travel.

Selain transportasi, minimnya fasilitas umum menjadi hambatan bagi
pengembangan wilayah. Padahal, dari segi letak, Padang Aro, ibu kota Solok
Selatan, cukup strategis sebagai wilayah transit.

Letaknya yang berbatasan dengan Provinsi Jambi, selama ini kurang
diuntungkan karena provinsi tetangga itu dilihat dari sisi sarana dan
prasarananya lebih lengkap. Selama ini, para pekerja perusahaan-perusahaan
di Kabupaten Solok Selatan selalu menyeberang ke Muaro Bungo, ibu kota
Kabupaten Bungo, Jambi, untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Hal itu
disebabkan belum tersedianya barang yang mereka butuhkan di Padang Aro.
Palupi P Astuti/Litbang Kompas

Potensi yang Bisa Diraih Investor

KABUPATEN Solok Selatan ibarat mutiara terpendam. Potensinya semasa Orde
Lama dan Orde Baru tak memungkinkan untuk memisahkan diri dari kabupaten
induk, Kabupaten Solok. Baru di era otonomi daerah, berdasarkan
Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2003, tanggal 18 Desember 2003, Solok Selatan
resmi menjadi daerah otonom.

"Perjuangan menjadi daerah otonom dimulai sejak tahun 1950, dilanjutkan
tahun 1968, dan terakhir tahun 2000. Baru tahun 2003 mendapat persetujuan
dari pemerintah pusat," kata Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Solok Drs Aliman
Salim.

Sebagai daerah "agak terpencil" di Kabupaten Solok, karena rentang kendali
yang begitu jauh dari ibu kota Kabupaten Solok, infrastruktur Solok Selatan
terbatas. Kemudian sumber daya alam belum diberdayakan semaksimal mungkin.
Di sinilah peluang bagi investor untuk berpartisipasi membangun Solok
Selatan. Kalau infrastruktur secara bertahap dilengkapi dan dibenahi, bukan
tak mungkin potensi yang selama ini dinikmati daerah tetangga menjadi sumber
pendapatan investor.

"Karena infrastruktur yang minim, sedikitnya Rp 7 miliar per bulan potensi
pendapatan Kabupaten Solok Selatan dinikmati daerah tetangga. Angka itu
masih bisa bertambah karena masih tingginya kecenderungan masyarakat Solok
Selatan (dan juga Kabupaten Kerinci, Jambi) belanja ke Muarobungo atau ke
Solok, Padang, dan Bukittinggi," katanya.

Hilangnya peluang mendapatkan potensi itu disebabkan oleh buruknya sarana
dan prasarana transportasi, daya listrik yang terbatas, sarana
telekomunikasi yang belum menjangkau masyarakat, serta ketidakmampuan Solok
Selatan dalam pengadaan kebutuhan primer dan sekunder bagi sekitar 15.000
tenaga kerja pada tujuh perusahaan besar.

Kebutuhan primer dan sekunder itu antara lain lauk-pauk, telur, sayuran,
buah-buahan, sandang, obat-obatan, rumah sakit, bank, alat-alat rumah
tangga, peralatan kerja, makanan dan minuman ringan, alat elektronik,
perlengkapan sekolah, bengkel, telekomunikasi, dan hiburan.

Aliman Salim melukiskan, setiap minggu satu perusahaan menghabiskan
sedikitnya Rp 200 juta untuk belanja karyawannya atau sekitar Rp 1,5 miliar
sebulan. Kalau ada tujuh perusahaan, misalnya, ada potensi Rp 7 miliar
sampai Rp 10 miliar per bulan. Lagi pula di Solok Selatan terdapat 11
perkebunan dengan areal 73.331 hektar. Itu baru untuk kebutuhan karyawan,
belum masyarakat lain dan daerah tetangga seperti Kabupaten Kerinci.

SISI Solok Selatan yang luasnya 3.346,20 km persegi dan berpenduduk 119.080
jiwa sebenarnya sangat strategis. Di samping lokasi tujuh perusahaan besar
perkebunan kelapa sawit itu dekat dengan pusat pemerintahan Kabupaten Solok
di Padangaro, ia juga berada di pertigaan; Kabupaten Kerinci, Kota Padang,
dan Kabupaten Dharmasraya.

Artinya, kalau fasilitas dan sarana di Solok Selatan dilengkapi,
kecenderungan masyarakat Solok Selatan, Sungai Penuh, Kerinci, dan
Dharmasraya ke Padang atau ke Muarobungo bisa dialihkan ke Solok Selatan.
Lebih hemat waktu dan uang. Dengan cara ini, uang yang dibelanjakan
masyarakat bisa berputar dan dinikmati Solok Selatan.

"Kondisi Solok Selatan diuntungkan dengan beroperasinya lapangan terbang di
Kerinci, yang meskipun berkapasitas terbatas, tapi sangat besar artinya bagi
kelancaran transportasi. Jarak Solok Selatan-Jakarta makin singkat, begitu
juga kota lainnya seperti Jambi, Padang, dan sebagainya," ujar Aliman Salim.

Untuk memanfaatkan peluang dan potensi yang ada, Solok Selatan merancang
agenda seperti membangun sentra bisnis dan pemerintahan di kawasan Golden,
sekitar 8 km selatan Padangaro, serta mengembangkan wisata internasional di
sentra perkebunan teh Kayoearo, yang kualitasnya terkenal di dunia.

Sebagai daerah otonom yang baru, Solok Selatan masih terbatas dana, sejak
lepas dari kabupaten induk hanya dibekali dana Rp 4,8 miliar. "Di sinilah
partisipasi swasta atau investor kami perlukan, untuk bahu-membahu
membangun, mengembangkan, dan menggarap potensi yang lumayan banyak," ujar
Aliman.

Potensi sumber daya alam di Solok Selatan sampai saat ini belum semuanya
dieksplorasi dan dilakukan studi kelayakan, terutama bahan tambang dan bahan
baku industri. Meskipun demikian, terindikasi bahwa di Solok Selatan
tersedia bahan tambang dan bahan baku industri yang cukup potensial.

Aliman Salim mencontohkan, di Kecamatan Sungai Pagu dan Kecamatan Sangir
terdapat potensi tambang tembaga, besi, timah, minyak tanah, dan emas pada
15 lokasi.

Selain itu juga ada potensi pariwisata (15 obyek wisata alam, budaya, dan
sejarah) serta sektor kehutanan nonkayu seperti manau, rotan, dan sarang
burung walet

Menurut Aliman, Solok Selatan juga potensial untuk peternakan karena
didukung oleh lahan yang cukup luas guna menunjang populasi ternak. Saat ini
populasi ternak terbatas, seperti sapi dan kerbau 9.266 ekor, kuda 25 ekor,
dan kambing 1.673 ekor.

"Jadi, sungguh banyak peluang yang bisa digarap oleh investor. Pemerintah
Kabupaten Solok Selatan, tentunya, memberikan kemudahan-kemudahan dan
bersama masyarakat memberi jaminan keamanan. Yang penting dalam investasi,
bagaimana melibatkan masyarakat sebagai sumber tenaga kerja," katanya.

SEKADAR gambaran, pendapatan per kapita (produk domestik regional bruto)
Kabupaten Solok Selatan (atas harga yang berlaku tahun 2000) Rp
5.106.294,54, lebih tinggi dari kabupaten induk yang Rp 3.067.936,67.

Namun, pertumbuhan ekonomi 1,80 persen masih rendah dari kabupaten induk
2,90 persen. Sedang penerimaan daerah dari pendapatan asli daerah, bagian
daerah dari Pajak Bumi dan Bangunan, serta penerimaan sumber daya alam Rp
4,5 miliar. (YURNALDI)



____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke