Assalamu'alaikum wr wb., Alangkah sayangnya kalau berita sebaik ini yang disampaikan oleh angku Dewis luput dari perhatian kita. Korupsi sudah menjadi issue yang besar yang kita anggap sudah menjadi penyakit yang membudaya, yang membuat sikap skeptis terhadap upaya memperbaikinya. Sekarang kita saksikan setelah Sumbar memulai membongkar korupsi berjemaah di DPRD, Solok dengan mak Gamawan sebagai Bupatinya sudah berani memulai memberantas korupsi dilingkungannya dengan mempermudah perizinan, dengan meng-eliminate honor untuk para pejabat dan pimpro, dengan mengurangi keterlibatan pejabat Pemda (Bupati, WaBup, dan Sekda) dan anggota DPRD dalam proyek.
Korupsi - yang seingat saya saja, sudah dimulai terdengar dari sejak pemerintahan Orla, yang waktu saya kecil dulu dinikmati oleh kelompok kecil OKB (orang kaya baru), kemudian tumbuh subur dipemerintahan berikutnya, sehingga sekarang hampir setiap urusan dengan pemerintahan selalu dikaitkan korupsi dan sogokan. Di headline Kompas pagi tadi kita baca ada satu - dua orang anggota DPR yang menyatakan menolak sogokan untuk meloloskan sebuah Perpu. Kemudian masih dalam postingan ini, masih saja ada mark-up proyek yang lolos di Solok terkait dengan proyek pemasangan pipa PVC yang merugikan anggaran negara "500 juta rupiah saja" Diluar kekurang itu, kita bisa bangga bahwa Solok adalah satu-satunya Kabupaten menurut berita ini yang menandatangani Pakta Integritas. Kabupaten yang memiliki Perda Regional Government Regulation No. 5/2004 on Transparency in Government Coordination and Public Participation yang sejak diberlakukannya telah memberikan sanksi - mulai dari denda sampai turun pangkat bagi 38 pejabat Pemda. Bangga bahwa penghargaan ini diberikan oleh lemabaga yang punya nama yaitu "Bung Hatta Anti-corruption Award" yang diberikan oleh pimpinannya Betti Alisyahbana, yang saya tahu sangat dihargai sebagai seorang Dirut IBM. Akankah mak Gamawan yang bersih akan terus memimpin kearah perbaikan dinegara ini? Atau akankah menularkan perbaikan bagi pimpinan Pemda lainnya di Sumbar dan di daerah lainnya? Ada sepercik harapan, apalagi Pemimpin baru yang terpilih sudah menjanjikan perubahan. Wassalam, Ridwan ----- Original Message ----- From: "Dewis Natra" <[EMAIL PROTECTED]> To: "Palanta" <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Tuesday, September 28, 2004 3:10 PM Subject: [EMAIL PROTECTED] Gamawan Fauzi, pioneering regent > Gamawan's most advanced step was the signing of the Solok Regency > Integrity Pact (PIKS) on November 11, 2003, which was supported by > Transparency International Indonesia (TII) and Indonesian Procurement > Watch (IPW). > > Solok has become Indonesia's first regency to sign the integrity pact, > which controls the public and private sector in accordance with > principles of good governance, with the regional supervisory board as > the central control. > > The Muhammadiyah Islamic educational background of Gamawan's parents > considerably influenced his attitude toward life, he said. Dahlan > Saleh Dt. Bandaro Basa, his father, was head of the Ministry of > Education and Culture's education and public information inspectorate > in Mataram from 1956 to 1966, and Sofiah Amin, his mother, was a teacher. > > "My father strictly instilled in me the importance of religion and > worship so that religious values have become my daily guide," Gamawan > said, adding that a leader should be the first to account for his > deeds in the hereafter. > > "When I was nominated for the office of regent, I asked for my > mother's consent: She told me to ask myself whether I would benefit a > lot of people; otherwise I should just leave," he said. Gamawan said > his antigraft stance had been limited to only himself before he had > assumed the post. ____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ------------------------------------------------------------ Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib ____________________________________________________

