Dari http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=132089.
Ambo selalu menghindari cross posting dan forward berita ka Palanta kito ko. Tapi mambaco tentang Pak Gamawan Fauzi ... sangaik mambanggakan. Dan rasonyo paralu dibaco untuak sanak kasadonyo saketek profil Bp Gamawan Fauzi ini >MIKO -----Original Message----- Senin, 27 Sept 2004, Gamawan Fauzi, Bupati yang Terima Bung Hatta Anti Corruption Award: Satu-satunya yang Berlakukan Pakta Kejujuran Penampilan sederhana, murah senyum, dan komunikatif. Itulah sosok Bupati Kabupaten Solok Gamawan Fauzi Datuk Rajo Nan Sati, penerima Bung Hatta Anti Corruption Award, bersama Saldi Isra SH MPA, dosen Fakultas Hukum Universitas Andalas. Banyak terobosan sang bupati dalam good governance. Romeyzar-A. Khusairi, Padang SUMATERA Barat pernah malu berat. Justru di provinsi kelahiran Bung Hatta itu kali pertama diadili gerombolan anggota DPRD dalam kasus korupsi. Kasus di Sumbar dan Padang ini kemudian menjadi tren pemberantasan korupsi di DPRD di seluruh Indonesia. Namun, rasa malu itu boleh sedikit tertebus. Salah satu bupati di Sumatera Barat, yakni Bupati Solok Gamawan Fauzi Datuk Rajo Nan Sati, 46, dinobatkan sebagai penerima Bung Hatta Anti Corruption Award. Selain Gamawan, ahli tata negara dari Universitas Andalas, Padang, Saldi Isra SH MPA, 37, menerima penghargaan serupa. Sang akademikus itu dinilai bergaya hidup bersahaja serta gigih mengungkap kasus korupsi di DPRD Sumbar sejak 1999. Penghargaan terhadap kedua tokoh muda ini tidak main-main. Selain membawa nama Bung Hatta, lembaga pemberinya cukup kredibel. Beberapa individu dan lembaga, termasuk Indonesia Corruption Watch (ICW), membentuk perkumpulan Bung Hatta Anti Corruption Watch (BHACA). Jurinya juga cukup dikenal, yakni Betti Alisjahbana, dengan anggota Humajunbosha Somiadiredja, Atmakusumah Astraatmadja, dan Bambang Widjojanto. Dari 27 kandidat, Gamawan dan Saldi lantas terpilih. BHACA mengumumkan pemenang Bung Hatta Award tahun kedua itu pada 17 September lalu. Penghargaan itu akan diserahkan di Jakarta besok. Gamawan, putra kelahiran Alahan Panjang, Kecamatan Lembah Gumanti, 9 November 1957 ini mensyukuri penghargaan itu. Apalagi, Bung Hatta memang tokoh yang menjadi idolanya. Tetapi, dia menyadari bahwa perjuangan menuju pemerintahan yang bersih masih jauh. Masa pemerintahannya yang 9,5 tahun ini masih jauh dari cukup. "Masih panjang, tetapi beberapa hal sudah tampak hasilnya. Membangun sistem yang bersih cukup sulit, butuh waktu, dan proses," ujar bupati bergelar sarjana hukum dan magister manajemen ini merendah. Tokoh yang murah senyum ini menyadari penghargaan bukanlah tujuan. Karena itu, sederet penghargaan yang dia terima sebelumnya tidak pernah diekspos. "Itu bukan tujuan. Pemerintah yang bersih, sistem yang bersih, transparan, dan masyarakat yang sejahtera. Itulah tujuan," tambah mantan Humas Sumbar itu. Meski dia bersikap low profile, perkumpulan BHACA menilai, sepak terjangnya cukup meyakinkan. Gamawan memenuhi kualitas pribadi bebas korupsi, gigih melakukan pembersihan, dan hasilnya efektif. Selain gaya hidupnya sederhana dan merakyat, dia menolak dana taktis DPRD, memenuhi sumpah untuk tidak menerima atau memberi sesuatu, berani menindak staf korup, dan menyederhanakan birokrasi di satu pintu. Apa terobosannya dalam mengendalikan roda pemerintahan Kota Beras itu? Dia banyak melakukan kebijakan yang memfokuskan pada pelayanan publik yang prima. Pembenahan demi pembenahan dilakukan. Dari hal-hal kecil sampai sistem yang lebih besar. Inilah tindakan terkenalnya. Dia memotong semua bentuk honor yang ada di lingkungan pemkab. "Hal ini ruwet pertamanya. Tetapi, hal ini bisa dilakukan dalam tahun kedua hingga sekarang bisa berjalan," tegasnya ketika bertandang ke harian pagi Padang Ekspres (Jawa Pos Group), Rabu lalu. Luar biasa! Pemotongan itu menghasilkan dana Rp 14 miliar dan seterusnya dialokasi kepada penunjang bagi staf dan guru. "Prinsip keadilan harus ditegakkan. Untuk apa honor besar bagi pejabat, tetapi kerja tidak ada? Sedangkan segala bentuk kegiatan yang bisa menerima honor tersebut adalah bagian dari pekerjaan yang tak perlu ada honor. Jadi, terlalu berfoya-foya. Sementara guru dan staf tidak mendapat apa-apa," tegasnya. Uniknya lagi, pemotongan honorarium pejabat -yang gajinya sudah tinggi itu- bagian dari Pakta Kejujuran (Integrity Act). Ini adalah yang pertama di Indonesia. Pakta itu merupakan komitmen bersama seluruh jajaran pemerintahan Kabupaten Solok untuk mewujudkan good governance. Pakta Kejujuran merupakan penegasan dari sumpah jabatan. Di sana tak hanya slogan-slogan kosong, namun berisi sanksi dan penghargaan. "Dari berbagai fakta dan akibat yang ditimbulkan dalam memberantas KKN, diperlukan sebuah komitmen yang sungguh-sungguh, sistem yang sempurna, aturan-aturan yang komplet, serta sanksi yang tegas dan kebiasaan yang positif sebagai sebuah grand scenario," demikian pembukaan Pakta Kejujuran itu seperti tertulis di situs www.solok.go.id. Sebagai pelaksanaan Pakta Kejujuran, suami Vitanova itu memangkas birokrasi ruwet dalam pelayanan publik dan meringkasnya dalam kebijakan Pelayanan Umum Satu Pintu. Pungutan-pungutan yang menghambat kinerja daerah pun hilang dengan sistem tersebut. Sang bupati juga memacu kerja keras para pegawai dengan menerapkan standar kinerja individual. Pegawai yang tak memenuhi standar atau malas bakal kelihatan. Suasana korup pun dikoreksinya. Dia menerbitkan Perda Transparansi yang diberlakukan secara konsisten. Dia juga menghilangkan istilah "meja air mata dan meja mata air" (kering dan basah) dalam kepanitiaan proyek. Terobosan yang lain adalah penyusunan anggaran yang biasanya menjadi sumber petaka korupsi di daerah. Solok telah lebih dahulu menganut anggaran berbasis kinerja. Bupati menghimpun masukan seluruh elemen masyarakat lewat berbagai cara. Dengan begitu, antara uang yang masuk dan dikeluarkan oleh daerah bisa menghasilkan sesuatu yang konkret. Dia juga tak henti-hentinya mengingatkan agar jangan korup. Karena itu, dalam banyak kesempatan, dia kerap mengutip pidato Bung Hatta. Salah seorang stafnya, Drs Bustamar, mencontohkan saat penyusunan anggaran. Gamawan memasukkan wejangan Bung Hatta dalam isi sambutannya di dewan. Selain terus berbuat, Gamawan juga rajin meningkatkan pengetahuannya. Dia pernah diundang lembaga bantuan negara berkembang, GTZ, ke Jerman untuk memahami dan menguasai soal otonomi daerah. Dia juga banyak membaca. "Ada enam lemari koleksi buku. Saya terbiasa membudayakan membaca," tegasnya. Dia juga meminati soal lain, terutama pers. Saat pendidikan S-2, dirinya menulis tesis Pers Ditinjau dari Aspek Industri. Begitu pula waktu pendidikan di Lemhanas, dia menulis makalah tentang pers, Pers Ditinjau dari Aspek Idealisme. Kini, reputasinya terus melejit ke level nasional dan internasional menjadi penceramah lokakarya, seminar, diklat, dan seputar terobosan-terobosan membangun pemerintahan yang bersih. Bulan depan, dia harus ke Amerika untuk mempresentasikan sebuah makalah. Bulan sebelumnya, dia tampil di Jakarta di hadapan pejabat publik se-Asia Pasifik. Gamawan yang dikaruniai dua putri dan seorang putra tersebut yakin bisa berbuat sangat banyak dengan otonomi daerah. Dia mengkritik, sistem sentralisasi selama ini tak sekadar menguntungkan pusat, namun juga kurang memberdayakan daerah serta menyuburkan praktik KKN. Mata rantai birokrasi yang menyangkut berbagai urusan terlalu panjang. Sehingga, hal itu memberikan celah praktik merugikan keuangan negara. Dengan kelonggaran karena otonomi itu, putra H Dahlan Saleh Dt Bdr Basa (almarhum) dan Hj Syofiah Amin, 75, tersebut lantas berupaya mewujudkan tekatnya untuk membentuk pemerintahan yang bersih. Dia banyak terbentuk oleh keluarganya yang disiplin dan bersahaja. Ibunya adalah seorang guru yang selalu bertanya soal salat yang mendidiknya untuk selalu tepat waktu. Gaya hidup Gamawan tidak neka-neka. Tak banyak yang berubah pada penampilan Gamawan. Dia tetap seorang lelaki tampan, berwibawa, serta tangkas. Meski low profile dalam berpenampilan, termasuk saat menerima tamu di rumah, dia tetap terkesan rapi dan gagah. Mungkin bisa dimaklumi, dia termasuk salah seorang mantan peragawan Sumbar. Kamus hidupnya tak mengenal kasta untuk seseorang. Di hadapannya, siapa pun tak ada bedanya, kecuali latar belakang kepentingannya. Senyum tipis manis senantiasa menghiasi bibirnya saat menyapa. Dia tak bisa marah besar, apalagi sambil membentak, meski kepada bawahan. Gamawan menyebut menerapkan manajemen qolbu di samping manajemen umum pemerintahan. Dia juga betah berdiskusi panjang. Kebiasaan "ngerumpi" Gamawan senantiasa ditemani penghibur setianya, segelas kopi pahit dan kepulan rokok Ardath. Entah karena ikut latah atau tidak, sejumlah bawahannya pun menyesuaikan dan menyamakan merek rokoknya dengan atasannya tersebut. Kebetulan, Ardath adalah rokok yang relatif murah. Meski bekerja keras, Gamawan tetap memelihara kesukaannya menyanyi. Dia sudah menelurkan album Urang Bunian. Dia juga memelihara kebugarannya dengan banyak bermain sepak bola, berburu, dan ke ladang. Sesekali bermain tenis lapangan. Dia juga berusaha menularkan kehidupan bersahajanya kepada anak-anaknya. Meski anak pejabat, tiga anaknya tak mempunyai batasan bergaul. Ke sekolah pun, tak ada angkutan khusus. Kecuali, waktunya memang mendesak dan situasional. Dalam sebuah perjalanan mengunjungi salah satu panti asuhan beberapa tahun silam, sang anak merengek agar ayahnya memiliki mobil pribadi yang bagus. Namun, Gamawan menjelaskan bahwa hal itu tak mungkin bagi seorang PNS seperti dirinya. *** ____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ------------------------------------------------------------ Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib ____________________________________________________

