*Perjalanan dan Kiprah Pusat Pengkajian Islam Minangkabau, 2002-2004 Secara Fisik Gagal Bangun G Oleh Redaksi Kamis, 30-September-2004, 16:06:44 70 klik
Kehadiran Pusat Pengkajian Islam Minangkabau (PPIM) sejak tahun 2002 diiringi dengan kritikan. Lembaga yang pendiriannya menyedot dana miliaran rupiah ini, diprediksikan nasibnya tak berbeda jauh dengan lembaga-lembada spektakuler lainnya, penuh mimpi tapi belum menyentuh kebutuhan masyarakat. Sekarang, setelah dua tahun berjalan, bagaimana nasib? Secara fisik, PPIM gagal mendirikan bangunan sendiri meskipun pernah diusulkan saat berdirinya dua tahun silam, saat ini masih memanfaatkan eks kantor Deppen Jalan Veteran Padang. Dari pantauan koran ini, sehari-hari gedung ini nyaris tidak memperlihatkan aktivitas berarti. Di ruang administrasi kantor dengan struktur memanjang dan sedikit sempit itu terlihat komputer dan perangkat kantor lainnya tampak bersih, rapi dan bagus, sepertinya jarang dipergunakan. Untuk pegawai, tidak se sibuk para pegawai yang ada di berbagai lembaga dan instansi lainnya yang ada di daerah ini. Kemarin saja, yang terlihat hanya seorang wanita berjilbab datang 'ngantor di ruang administrasi itu. Sedangkan petugas lainnya menurut salah seorang petugas setempat yang tidak mau disebutkan namanya, lagi keluar karena memang tidak ada kerjaan. Dengan kondisi demikian, gedung yang bersebelahan dengan kantor Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Sumbar itu terasa hening dan sunyi. Untuk petinggi PPIM, koran ini mendapati Sekretaris Eksekutif PPIM, Drs Najmuddin Moh Rasul MPd yang lagi asyik berkutat dengan laptopnya, menyiapkan makalah untuk sebuah Joint Seminar di Johor Bahru, Malaysia menjelang Ramadhan mendatang. Najmuddin merupakan salah seorang pembicara dari empat orang yang diminta menjadi wakil dari Indonesia di antaranya dari Muhammadiyah dan ICMI Pusat. Seminar dalam membahas perbaikan kualitas ummat serantau ini juga diikuti perwakilan dari negara Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Korea, Ketika koran ini mengarahkan pembicaraan pada kiprah lembaga kajian Islam Minangkabau selama ini bagi masyarakat Sumbar, Najmuddin menghela napas sejenak dan langsung mengungkapkan secara pribadi dirinya mengakui bahwa sejak mulai berdirinya dua tahun lalu, hingga kini PPIM secara langsung belum bisa memberikan sesuatu yang terbaik sesuai harapan masyarakat Ranahminang. Terutama dalam merencanakan kegiatan nyata mengatasi pelbagai persoalan keummatan. PPIM, katanya, yang pada awalnya diharapkan mampu menjadi lembaga kajian strategis dengan action plan atau rencana besar gerakan bersama pihak lainnya mengatasi persoalan keummatan terutama sektor pemerintahan, pendidikan dan ekonomi nagari hingga kini belum bisa dilakukan secara serius. Meskipun telah ditunjang dengan dana besar setiap tahunnya. "Selama ini, dalam rentang waktu yang pendek kegiatan lebih banyak dilaksanakan dalam bentuk muzakkarah-muzakkarah dan seminar. Disamping terkendala belum disahkannya AD/ART, SDM dan manajemen internal organisasi ini pun masih belum banyak mengetahui sejarah berdiri dan untuk apa PPIM itu ada," katanya. Sebagian pengurus yang ada, lanjut Najmuddin masih mempertahankan egoisme pribadi dan belum mengerti bagaimana seharusnya organisasi tersebut dijalankan sesuai grand design awalnya. Begitu pun dengan persoalan AD/ART yang masih belum tuntas disahkan dewan kurator. "Selama belum terciptanya suasana kondusif di tubuh PPIM terkait dengan SDM dan manajemen yang ada di dalamnya, kita mengkhawatirkan organisasi ini akan terus berjalan tanpa hasil," jelasnya. Dari perbincangan koran ini, terungkap lembaga yang tahun ini kembali mendapat kucuran dana segar mencapai angka milyaran rupiah tersebut terancam bubar jika pihak yang pada awalnya concern terhadap tujuan mulia berdirinya organisasi itu tidak melakukan langkah konkret dan tepat termasuk restrukturisasi.(heri sugiarto) ____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ------------------------------------------------------------ Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib ____________________________________________________

