Teras Utama Minangkabau, Masih Ada Harapan Oleh Redaksi Jumat, 08-Oktober-2004, 05:32:57 95 klik
Rasanya semua mengalir begitu saja. Berawal dari dan berujung pada rangkaian keheranan yang tidak habis-habisnya. Bermula dari keheranan saya terhadap keluhan ayah saya, yang secara langsung mengatakan kepada saya, anak kandung tertua beliau, bahwa beliau adalah 'orang punah' karena jurai beliau tidak mempunyai keturunan perempuan. Berlanjut dengan pengamatan sehari-hari bahwa ada jarak yang begitu menyolok antara apa yang disanjung-sanjung dengan kenyataan riil, baik di dalam masyarakat Minangkabau maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Seluruhnya itu berhadapan dengan tugas saya sehari-hari, baik dahulu sebagai perwira staf teritorial TNI-Angkatan Darat, sebagai sekretaris pada Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) antara tahun 1966-1972, sebagai sekretaris pada Lembaga Gebu Minang, 1990-2000, sebagai dosen di beberapa perguruan tinggi, dan akhirnya sebagai komisioner pada Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Sungguh tidak nyaman untuk hidup di tengah-tengah demikian banyak cognitive dissonance- yaitu kesenjangan antara apa yang dilihat dengan keterangan tentang apa yang dilihat itu- padahal dalam karir saya yang demikian panjang saya harus menyampaikan saran kebijakan, memberikan ceramah, atau memberi kuliah, baik mengenai masalah Kemingkabauan maupun, atau terutama, tentang masalah kebangsaan dan kenegaraan. Adalah mustahil melakukan seluruhnya itu dengan baik tanpa mengadakan semacam 'penyisiran' konseptual dari keruwetan yang ada di sekeliling saya itu. Dan secara berkebetulan, dari Ayah saya 'mewarisi' kebiasaan membaca buku, mengarang, dan memiliki perpustakaan pribadi. Saya tidak menghadapi kesukaran apapun tentang bahan yang harus saya tulis, apalagi setelah sejak tahun 1982 saya mengenal potensi luar biasa dari internet. Secara pelahan-lahan, makin lama makin jelas, terlihat bahwa ada semacam paradigma tentang hubungan konseptual antara etnik, bangsa, dan negara, yang dapat menerangkan seluruh Minangkabau puzzles itu. Pemicu saya menulis buku Masih Ada Harapan; Posisi Sebuah Etnik Minoritas dalam Hidup Berbangsa dan Bernegara adalah suatu permintaan ceramah dari pengurus AMM Muhammadiyah Jakarta pada bulan Maret 2003, dengan teman yang amat menggelitik, yaitu bahwa Minangkabau di Tepi Jurang'. Batin saya menolak doomsday scenario tersebut. Sebagai seseorang yang selalu berusaha memandang kehidupan ini dari kacamata positive thinking, saya tidak bisa menerima tema tersebut, dan menyatakan bahwa walau demikian banyak masalah yang harus dikeluhkan, namun masih banyak peluang yang dapat dimanfaatkan dalam hidup berbangsa dan bernegara. Secara parsial dan intremental, saya sudah menghimpun dan mengembangkan berbagai kerangka konseptual yang dapat dimanfaatkan untuk menjawab demikian banyak masalah dan tantangan. Masalah saya selanjutnya adalah bagaimana mengkristalisasikan visi saya tersebut menjadi satu karangan yang utuh. Dan itu saya kerjakan di sela-sela kesibukan saya, dibantu oleh sebuah lap top Toshiba Satellite yang selalu saya bawa ke mana-mana. Menurut penglihatan saya, suatu kelemahan menyolok dari demikian banyak tulisan dari penulis-penulis Minangkabau kontemporer adalah menempatkan Minangkabau tersebut tergantung pada hubungan berlanjutnya dengan daerah Rantau. Lagi pula tidaklah dapat dibantah bahwa kekuasaan dan sumber daya nasional dewasa ini terletak di pulau Jawa, suatu daerah rantau terpenting di Indonesia. Anehnya, seperti saya tulis dalam buku saya tersebut, bersama dengan kaum perempuan dan generasi muda Minangkabau, pemuka masyarakat Minangkabau memperlakukan para perantau bagaikan memperlakukan 'mentimun bungkuk'. Mereka ada, tetapi tidak masuk hitungan. Implikasinya, Minangkabau membuang sebagian besar dari potensi sumber daya manusianya yang paling dinamis, dan terjun dalam rangkaian panjang sikap nostalgia yang sama sekali tidak produktif. Batin saya memberontak melihat keseluruhan hal itu. Dan hasilnya ? Ya buku Masih Ada Harapan, Posisi Sebuah Etnik Minoritas dalam Hidup Berbangsa dan Bernegara itu. Selanjutnya silahkan dibaca langsung buku tersebut. *Brigjen (Purn) Saafroedin Bahar, Anggota Komnas HAM ____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ------------------------------------------------------------ Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib ____________________________________________________

