*Jelang Launching Buku "Masih Ada Harapan"
Minang Jadi Sasaran Penelitian
Oleh Redaksi Jumat, 08-Oktober-2004, 05:10:14 40 klik

Di tengah berbagai pesimisme yang dibayang-bayangi idealisasi dan romantisme
kalangan Etnis Minang saat ini, masih banyak terdapat harapan.

Sebuah gugahan dan sikap optimis itu datang dari tokoh masayarakat Minang di
perarantauan, Dr Saafroedin Bahar, yang juga Komisioner Perlindungan Hak
Masyarakat Hukum Adat pada Komnas HAM melalui bukunya yang berjudul "Masih
Ada Harapan" yang akan diluncurkan sekaligus bedah buku tanggal 18 Oktober
di TVRI Padang.

Jika ada kelompok etnis yang paling banyak dikaji para peneliti dalam dan
luarnegeri-dan bahkan sering disebut exhaustive-maka itu agaknya adalah suku
Minangkabau. Berbagai aspek kehidupan etnis ini telah dijadikan sasaran
penelitian, mulai dari tradisi matrilinealnya yang dipandang unik, adat
istiadatnya, budaya merantau orang-orang Minang, sampai kepada Islam di
daerah ini, baik dalam perkembangan di masa lampau maupun kontemporer.

Dalam keterangan persnya di Padang kemarin, Saafroedin Bahar yang didampingi
Ketua Panitia Peluncuran Buku, H Basril Djabar, Kepala Stasiun TVRI Sumbar
Purnomo Suardi dan Ketua Komnas HAM Sumbar, H Baharuddin itu, mengungkapkan
kegundahan hatinya terhadap budaya paibo dan pesimisme masyarakat Minang
dewasa ini dalam mengarungi kehidupan modern saat ini.

Buku yang diberikan kata pengantar oleh Prof Dr Azyumardi Azara, tokoh
Minang yang juga Rektor IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta itu, mengulas
secara komprehensif latar belakang konseptual tentang sistem kekerabatan
matrilineal adat Minangkabau.

Salah satu penyebab keterpurukan masyarakat Minangkabau di tengah pergaulan
berbangsa dan bernegara saat ini, hemat sekretaris umum pertama LKAAM Sumbar
1966-1972 itu, adanya gejala psikologis kalangan masyarakat Minang yang
terbuai dengan romantisme berlarut-larut dengan nada tanpa semangat yang
meresapi sebagian besar wacana mengenai masyarakat Minangkabau selama ini.

Otokritik mantan perwira Kodam III ini menuturkan, orang-orang Minang
seolah-olah malu dengan identitasnya. Gejala psikologis "penyembunyian diri"
(self concealment) ini, kelihatannya terus menghinggapi orang-orang Minang,
ya di ranahnya, ya di rantau. Di ranahnya sendiri, semakin kuat
kecenderungan menerima sepenuhnya apa yang datang dari pusat.

Kritisisme orang Minang yang konon terkenal itu tidak muncul, karena
dibayang-bayangi pengalaman traumatik di masa dan pasca PRRI. Yang ada
hanyalah gerutuan, komplain di belakang, dan bahkan diikuti dengan semakin
menguatnya gejala "kalau didahuluan manyipak, dibalakangan mananduak".
Keadaan ini menjadikan semakin sulitnya memimpin orang-orang Minang.

Kerisauan lulusan Oxford University Amerika Serikat yang dituangkan dalam
bukunya itu, merupakan hasil renungannya selama ini terhadap masalah-masalah
mendasar yang dihadapi masyarakat Minangkabau pada khususnya dan Sumbar pada
umumnya. Di antara masalah itu, Saafroedin menelaah kontradiksi intern
sistem kekerabatan matrilineal, kegelisahan berlarut orang Minangkabau serta
gejala kemunduran masyarakat Minangkabau sejak dasawarsa 1980-an. Selain
itu, ia juga membahas berbagai masalah masa kini, seperti kasus tanah
ulayat, aksi kristenisasi terencana serta masalah spin off PT Semen Padang.

"Setelah menelaah seluruh akar masalahnya secara sungguh-sungguh, ia
berkesimpulan bahwa masih ada harapan, karena hak, wewenang, prakarsa,
keputusan dan kiprah untuk memperbaiki nasib masyarakat Minangkabau terletak
dalam tangan masyarakat Minangkabau itu sendiri.

Minangkabau mempunyai banyak potensi yang didayagunakannya kembali untuk
mambangkik batang tarandam. Wadahnya adalah otonomi daetah berdaar UU No
22/1999," mantan sekretaris umum pertama Lembaga Gebu Minang 1990-2000 itu.

Sistem kekerabatan matrilineal dan lembaga-lembaganya seperti jurai, kaum,
suku dan peranan ninik mamak, kata Saafroedin, sesungguhnya masih dapat
dianut, oleh karena sistem ini bertujuan untuk melindungi kepentingan kaum
perempuan. Namun menurutnya ada dua hal yang memerlukan perbaikan dalam
sistem ini, yakni mengurangi-kalau bisa melenyapkan-berbagai penyimpangan
yang terjadi dalam sistem kekerabatan matrilineal itu, dan melaksanakan
ajaran Islam serta hukum nasional dalam keluarga, yang meletakkan tanggung
jawab pimpinan keluarga batih di atas pundak seorang ayah.

"Realitasnya, saya menengarai hak perempuan Minangkabau tidaklah demikian
dihormati sebagaimana yang diisyaratkan dalam adat Matrilineal kita. Diajak
berunding pun mereka tidak. Begitu peran pemuda di adat Minang, saya melihat
posisi kedua kelompok tidak lebih mentimum bungkuk yang nyaris tidak
dilibatkan masyarakat Minang dalam struktur adat," keluhnya.

Saafroedin menilai, sistem Matrilineal dalam bentuknya yang asli secara
otomatis mengucilkan separuh dari potensi sumber daya manusia dari setiap
kerabat, yaitu seluruh urang sumando, pasumandan dan seluruh keturunan dari
anak laki-laki yang pada akhirnya masyarakat Minangkabau mengerut secara
terus menerus. Dalam bentuk aslinya, tambah Saafroedin, kekerabatan
Matrilineal bukan saja penuh dengan kontradiksi, tetapi juga menimbulkan
ketegangan serta kegelisahan jiwa berkepanjangan dari seluruh warga
Minangkabau, terutama yang berdiam di Ranahminang sendiri.

Ia juga menyatakan keoptimisannya bahwa masa depan Minangkabau yang lebih
cerah amat bergantung pada keberhasilan mengintgrasikan secara melembaga
seluruh potensi SDM Minangkabau pada tingkat jurai, kaum, suku dan nagari
baik yang di ranah maupun di rantau dalam wadah otonomi daerah.

"Karena itu, sekali lagi, judul Masih Ada Harapan adalah langkah awal yang
sangat baik untuk memulihkan harga diri, harkat, marwah dan martabat Etnis
Minang.Jika etnis Minang-sebagai etnis minoritas di Indonesia-ingin tetap
tidak survive, tetapi dapat kembalu memainkan peran penting dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara,maka psikologi pecundang,orang kalah dan fatalistis
mestilah diganti dengan psychology of the winners yang siap menghadapi
tantangan dan bersaing dengan kepala tegak," demikian pesannya. (nsr)



____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke