BILA ORANG LIBERAL MENCOMOT DALIL
Oleh : Dr. Din Syamsuddin
( 3 )
---------------------------
MencampurAduk Aneka Kerancuan

Ulil Abshar Abdalla dan orang-orang yang mengusung faham Liberal menyebarkan
faham pluralisme agama. Mereka itu tidak lain adalah orang-orang yang
mengaduk-aduk Aqidah Islam. Yang mereka pakai justru faham-faham di luar
Islam lalu dicampur aduk dengan faham tasawuf sesat yang merusak Islam. Ada
kerancuan faham dipertemukan dengan kerancuan faham yang lainnya sehingga
terbentuklah kerancuan yang baru yaitu pluralisme agama model JIL. Ini di
antaranya adalah kerancuan dari faham pluralisme (menyamakan semua agama)
yang dicanangkan oknum Nasrani, John Harwood Hich dalam bukunya God and the
Universe of Faiths (1973), dan kerancuan faham tokoh sufi/tasawuf Ibnu Arabi
(560-638 H/1165-1240 M) yang mencanangkan Wihdatul Adyan, penyatuan
agama-agama, di samping faham kemusyrikan bikinan Ibnu Arabi yang terkenal
dengan sebutan wihdatul wujud, satunya alam dengan Tuhan. Ibnu Arabi juga
menyebarkan faham, "Hamba adalah Tuhan" (Fushushul Hikam oleh Ibnu Arabi,
92-93). "Neraka adalah surga itu sendiri. " (Fushushul Hikam, 93-94).
Ad-dhal (orang yang sesat) adalah al-muhtadi (orang yang mendapat petunjuk),
al-kafir adalah al-mukmin" (Masra' at-Tasawuf, 108). Lalu Ulil Abshar
Abdalla dan para pengusung faham Liberal membuat reka-rekaan, bahwa
kedatangan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam selaku utusan Allah
Ta'ala tidak untuk menghapus agama-agama sebelumnya, namun hanya
menyempurnakan. Ujung-ujungnya hanyalah menjadi muqollid (pembebek) faham
rusak Ibnu Arabi yaitu Wihdatul Adyan, penyatuan semua agama, dianggapnya
semua agama adalah baik karena datangnya dari Allah, itulah agama Ulil dan
para pengusung faham pluralisme agama yang menyamakan semua agama.

Padahal, dalam Al-Qur'an ditegaskan :

"Sebahagian diberi-Nya petunjuk dan sebahagian lagi telah pasti kesesatan
bagi mereka. Sesungguhnya mereka menjadikan setan-setan pelindung (mereka)
selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk. "
(Al-A'raaf: 30)

Kita tanyakan kepada kaum pluralis. Kalau menurut pandangan pluralis: Bahwa
semua agama itu sama, sejajar, hanya beda teknis; Ini apakah artinya, semua
itu tidak ada yang mendapat petunjuk? Ataukah tidak ada yang sesat? Apakah
sernuanya tunduk kepada Allah, ataukah sernuanya tunduk kepada setan?

Jelas-jelas paradigma pluralis itu bertentangan dengan ayat dan juga
bertentangan dengan do'a kita setiap shalat:

"Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah
Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai
(Yahudi), dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (Nasrani) (Al-Fatihah:
6-7)
(bersambung)








____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke