Diambil dan diolah dari Otonomi Daerah Kompas On-Line:
http://www.kompas.co.id, dan data - data dari Data Tabulasi Nasional Pemilu
(Sumbar) di http://wwwtnp.kpu.go.id  Serta dari http://www.nagari.org

Kota Sawahlunto
. Silungkang
. Lembah Segar
. Barangin
. Talawi

Silungkang
1. Silungkang Oso
2. Taratak Bancah
3. Muaro Kalaban
4. Silungkang Tigo
5. Silungkang Duo

Lembah Segar
1. Lunto Barat
2. Lunto Timur
3. Pasar Kubang
4. Kubang Tangah
5. Kubang Utara Sikabu
6. Pasar
7. Kubang Sirakuk Utara
8. Kubang Sirakuk Selatan
9. Aurmulyo
10. Tanah Lapang
11. Aia Dingin

Barangin
1. Lumindai
2. Balai Batu Sdrn
3. Saringan
4. Lubang Panjang
5. Durian
6. Talago Gunung
7. Santur
8. Kolok Mudiak
9. Kolok Nan Tuo

Talawi
1. Sikalang
2. Rantih
3. Salak
4. Sijantang Koto
5. Talawi Hilia
6. Talawi Mudiak
7. Bukik Gadang
8. Batu Tanjuang
9. Kumbayau
10. Data Mansiang
11. Tampuak Tangah

Nagari-nagari di Kotamadya Sawahlunto
1.  Durian
2.  Kajai
3.  Kampuang Teleang
4.  Kubang
5.  Kubang Sirakuak
6.  Kolok
7.  Lumindai
8.  Lunto
9.  Saringan
10. Sijantang
11. Silungkang
12. Talago Gunuang
13. Tanah Lapang
15. Talawi

Kota Sawahlunto

SEJAK ditemukannya batu bara di sekitar Sungai Ombilin tahun 1868 dan
produksi pertamanya yang dimulai pada tahun 1892, geliat perekonomian Kota
Sawahlunto praktis bergantung pada sektor pertambangan. Areal penambangan
batu bara di Kota Tambang seluas lebih kurang 16.000 hektar, yang tersebar
di Kecamatan Talawi, memiliki tambang dalam satu-satunya di Indonesia.
Kegiatan penambangan selain dilakukan perusahaan milik negara, juga
perusahaan swasta dan masyarakat.Produksi batu bara yang mayoritas
dihasilkan oleh kuasa pertambangan PT Tambang Batubara Bukit Asam Unit
Produksi Ombilin (PT TBBA UPO) ini dikonsumsi pasar domestik untuk keperluan
beberapa industri semen, kegiatan listrik negara, dan perusahaan swasta
lokal lainnya. Sedangkan untuk pasar Asia, dinikmati oleh perusahaan
Ma-sefield AG (Malaysia), Sungmin (Korea), dan Jepang.
Untuk mendukung kegiatan produksi, kegiatan pendistribusiannya pun
menggiatkan sektor angkutan darat dan pelayaran. Distribusi batu bara dari
lokasi penambangan ke konsumen melalui jalur darat menggunakan truk dan
kereta api batu bara menuju pengapalan di Pela-buhan Teluk Bayur.
Penambangan batu bara Om-bilin telah beroperasi selama 109 tahun. Bila
melihat data cadangan batu bara tertambang (tahun 2001) dari tambang terbuka
yang besarnya 1,8 juta ton, dengan perhitungan volume produksi tambang
terbuka sekitar satu juta ton per tahun, cadangan ini hanya mampu bertahan
selama dua tahun (sampai 2003). Sedangkan cadangan tertambang dari tambang
dalam bisa bertahan lama.
Cadangan batu bara dari tambang dalam memang menjanji-kan. Namun,
penambangan dari tambang dalam ini tidak semudah penambangan dari tambang
terbuka. Di samping memperhitungkan tingkat keselamatan penambang,
penambangan di tambang dalam memerlukan peralatan yang lebih canggih yang
berarti memerlukan investasi besar. Sementara, mening-katnya jumlah
penambang tanpa izin oleh masyarakat yang merasa berhak karena batu bara
berada di tanah ulayat, menjadi kendala utama dalam mengundang investor.
Di luar kendala tersebut, karena batu bara adalah non renewable resources,
orientasi kemampuan ekonomi daerah pascabatu bara perlu dikembangkan. Memang
tidak dapat dipungkiri, usaha pertambangan batu bara menjadikan kemampuan
ekonomi per kapita (PDRB per kapita) Kota Sawahlunto meningkat setiap tahun.
Sampai tahun 1999 angka PDRB per ka-pita mencapai Rp 9,1 juta. Angka ini
melebihi angka PDRB per kapita Provinsi Sumatera Barat dan nasional yang
masing-masing Rp 4,5 juta dan Rp 5,5 juta.
Namun, jika ditinjau tanpa memasukkan unsur batu bara, PDRB per kapita turun
menjadi Rp 5,1 juta. Angka yang masih tergolong tinggi, dengan kontribusi
terbesar berasal dari sektor jasa dan industri pengolahan.
Bersama sektor pertambangan, sektor pertanian yang juga termasuk dalam
kegiatan yang hasilnya menjadi input bagi kegiatan ekonomi lainnya,
sebenarnya menjadi sumber mata pencarian utama penduduk. Sektor pertanian
menyerap 4.952 tenaga kerja (21,49 persen dari total tenaga kerja yang
terdata), sementara sektor pertambangan menyerap 5.049 tenaga kerja (21,91
persen).
Akan tetapi, soal kontribusi terhadap total kegiatan ekonomi, sektor
pertanian tiap tahun menyumbang tidak lebih dari lima persen. Tahun 1999,
misalnya, sektor pertanian hanya me-nyumbang empat persen atau senilai Rp
19,2 milyar. Sedangkan sektor pertambangan setiap tahun memberi kontribusi
hampir 50 persen. Pada tahun 1999 saja kontribusinya 45,92 persen atau
senilai Rp 220,9 milyar. Ini menunjukkan penduduk yang banyak bekerja di
sektor pertanian adalah tenaga kerja yang kurang produktif.
Adapun potensi unggulan yang sedang dikembangkan pemkot (pemerintah kota)
untuk menghadapi era pascatambang adalah industri yang berbasis kerakyatan,
seperti kerupuk ubi kubang di Kenagarian Kubang. Serta usaha ayam buras di
Desa Kumbayau, ikan air tawar di Desa Rantih, dan batu bata di Desa
Sijantang.
Dengan visi menjadikan Sa-wahlunto sebagai kota wisata tambang yang
berbudaya, pemkot juga mempersiapkan kegiatan wisata yang memanfaatkan aset
dan kegiatan pertambangan sebagai obyek dan daya tarik wisata. (Gianie/
Litbang Kompas)
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0105/11/nasional/sawa08.htm




____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke