Coba baca lagi tulisan dari Nurmahmudi Isma'il, penulis adalah mantan
Menteri Kehutanan dan Presiden Pertama Partai Keadilan.
Saya akan carikan saja paragraph yang sangat bermafaat bagi kita semua dari
tulisan Nurmahmudi Ismail, tapi kalau mau membaca lengkap dapat dibaca
artikelnya secara lengkap di bawah.

Wasalam
MII

Apa yang menarik dari kata Islam dan Al-Islam dalam Qur'an? Kalau kita
telusuri lebih jauh, kata Islam dalam Qur'an sifatnya sangat umum, tidak
hanya dipakai untuk menyebut nama "umat Muhammad"-tapi juga umat Musa
(Yahudi) dan umat Kristen (Nashrani).
Nabi Ya'kub, misalnya, sebelum meninggal bertanya kepada anak-anaknya, apa
yang akan kamu sembah sepeninggalku (QS2:133)? Anak-anaknya menjawab: Kami
akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Isma'il, dan
Ishak, yaitu Tuhan Yang Maha Esa dan kami semua adalah muslimun (tunduk dan
patuh pada Tuhan).
Dalam ayat-ayat lain juga disebutkan, kaum hawariyyun (murid-murid dan
sahabat Isa) adalah muslim (QS3:52). Begitu pula Musa-Rasul orang
Yahudi-menyatakan dirinya sebagai seorang muslim. Dalam surah Yunus ayat 84
dikisahkan tentang Musa yang sedang berkata-kata dengan umatnya.
"Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertakwalah kepadaNya saja
jika kamu benar-benar orang muslim".
Bahkan lebih jauh lagi, dalam ayat lain, disebutkan sesungguhnya seluruh
alam ini "berislam" kepada Tuhan. Membaca ayat-ayat tersebut, bisa
disimpulkan kata Islam sebetulnya sangat general-mencakup seluruh agama yang
Berketuhanan Yang Maha Esa (tauhid).
Dari sinilah sebetulnya, kalau umat beragama dunia mau berlapang hati dan
mau memahami Islam dalam konteks yang esensial, tak akan ditemukan setitik
pandangan eksklusivisme dalam Islam yang bisa menimbulkan kecurigaan pada
umat-umat lain.
Dari verikasi kata Islam dalam Alqur'an inilah, kita perlu membedah kembali
makna ayat yang sering dijadikan propaganda kalangan tertentu demi
kepentingan politiknya dengan mengatasnamakan Islam.

Dari perspektif inilah, kita mereinterpretasi kalimat dalam Alqur'an: "
Innaddina 'indallahi'il Islam. Sesungguhnya agama di sisi Tuhan adalah
Islam. Kalimat seperti ini, lazimnya diterjemahkan seperti ini: sesungguhnya
agama di sisi Tuhan adalah ketundukan dan kepasrahan terhadap Tuhan
(al-Islam).
Bila demikian halnya, ketundukan dan kepasrahan terhadap Tuhan adalah
pedoman ajaran untuk semua agama. Ini artinya, ayat tersebut sangat
universal dan bisa menjamin toleransi yang amat luas bagi umat beragama. Itu
pula sebabnya, mengapa Allah menyatakan bahwa Islam adalah rahmat bagi alam
semesta.
Kenapa rahmat? Karena Islam mampu mengayomi dan mengakomodasi semua ajaran
agama, asal secara prinsip beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Secara gamblang dalam surah Albaqarah ayat 62, Allah menyatakan:
Sesungguhnya orang-orang yang beriman, baik orang Yahudi, Nashrani, dan
orang Syabi'in (agama selain Islam, Kristen, dan Yahudi)-siapa saja yang
benar-benar beriman kepada Allah dan beramal saleh, mereka akan menerima
pahala dari Tuhan mereka dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka.
Ayat inilah yang di zaman Nabi Muhammad dan awal keislaman menjadi pedoman
kaum salaf. Dengan dasar ayat-ayat Qur'an tersebut, kemudian Islam menyebar
dengan cepat ke seantero dunia-termasuk Eropa yang saat itu masih dikuasai
orang-orang Romawi.
Sejarawan George Bernard Shaw misalnya mencatat: banyak orang di Eropa saat
itu menyambut kdatangan Islam dan mendukung tentara Islam ketimbang tentara
Romawi yang nota bene merupakan tentara negaranya. Kenapa? Tulis Shaw: Islam
datang untuk menegakkan perdamaian dan keadilan. Itulah yang ditunggu umat
Nashrani saat itu yang berada dalam cengkerman fasis dan totaliter Kerajaan
Romawi.
Sikap Islam yang sangat peduli dengan penegakan kemanusiaan dan keadilan
berdasarkan prinsip-prinsip persamaan di hadapan Tuhan inilah yang telah
membesarkan Islam di masa kejayaannya
Islam dan Qur'an saat itu benar-benar menjadi petunjuk umat manusia yang
ingin membina persaudaraan antarumat beragama. Dan Alqur'an menyatakan bahwa
Tuhan menciptakan manusia dengan berjenis kelamin laki-laki dan perempuan,
beretnis dan berbangsa-bangsa, semata-mata untuk menguji kualitas siapa yang
paling bertakwa.
Dan yang paling mulia di sisi Tuhan adalah orang yang paling bertakwa di
antara mereka (QS 49:13). Ini artinya, kata taqwa-sebuah ketundukan pada
Allah yang terefleksikan dalam penegakan keadilan, kemanusian, persaman hak,
dan persaudaraan-menjadi ukuran keberimanan seseorang di sisi Tuhan.



Memperingati Nuzulul Qur'an
Alqur'an, Perdamaian, dan Persaudaraan Umat Beragama

Oleh Nurmahmudi Isma'il

Ketika isu terorisme internasional terarah pada kaum muslimin, tampaknya
kita perlu kembali mengaji Alqur'an secara jernih. Benarkah Alqur'an-seperti
dikatakan sejumlah pengamat Barat-ikut memprovokasi terorisme? Jika tidak,
kenapa umat Islam-lagi-lagi menurut sejumlah pengamat Barat-banyak
mendalangi terorisme? Barangkali, masalah ini perlu mendapat klarifikasi
umat Islam sendiri-khususnya yang berkaitan dengan sumber ajaran pokok
Islam, yaitu Alqur'an.
Tentu saja, semua orang tahu bahwa pandangan Barat terhadap Islam yang
dituduh memprovokasi terorisme sangat menyimpang. Pandangan tersebut
sebetulnya stereotip Barat yang disetir kalangan-kalangan tertentu yang
anti-Islam. Faktanya, terorisme tidak identik sama sekali dengan Islam.
Aksi terorisme terbanyak justru terjadi di daratan benua Amerika, baik Utara
maupun Selatan.
Sejumlah pengamat Barat yang kritis seperti Prof. Noam Chomsky dari MIT
menyatakan istilah terorisme itu sendiri muncul di Barat. Dan kenapa muncul
di Barat. Karena perilaku terorisme memang berasal dari Barat-bukan dari
Timur, apalagi Islam.
Namun, karena politik internasional milenium ketiga sudah teragendakan untuk
mengutuk terorisme yang kebetulan, konon-pelaku utama terorisme dunia yang
diawali peristiwa sangat fantastis, penghancuran gedung WTC New York, 11
September 2001 dengan menabrakkan dua pesawat penumpang Boeing 747-adalah
orang Islam, tertuduh utama terorisme adalah umat Islam.
Tuduhan terhadap umat Islam sebagai teroris itu makin kuat lagi setelah
peledakan bom di Legian, Bali, 12 Oktober 2002 dengan tertuduh Amrozi, Imam
Samudra, dan kawan-kawan, yang lagi-lagi, berasal dari kaum muslimin. Kedua
fakta tak terbantah tersebut-di samping fakta-fakta lain-menjadikan Islam di
mata internasional, khususnya media massa Barat akrab dan mendukung
terorisme. Barangkali, inilah bias terbesar sepanjang zaman yang kini
tertimpakan pada umat Islam.
Melihat fakta inilah, banyak kalangan mulai mempertanyakan, kenapa "Islam"
akrab dengan terorisme. Jika benar demikian, "keakraban" itu niscaya erat
kaitannya dengan sumber pedoman umat Islam, yaitu Alqur'an. Dari sinilah
kita perlu mengambil pijakan untuk menunjukkan bahwa terorisme sangat jauh
denga Islam, bahkan bertentangan secara diametral dengan ajaran-ajaran Alqur
'an.
Pertama-tama, untuk mengetahui apa itu agama Islam, orang seharusnya
mengetahui dulu akar kata Islam dan turunannya (salam, muslim, salim, dan
lain-lain) yang semuanya mengandung makna: kedamaian, keselamatan,
ketundukan, kepasrahan, keharmonisan, dan kesuaian dengan hukum-hukum alam.
Dilihat dari kata Islam dan turunannya itulah, tak pelak lagi Islam
sebetulnya merupakan "kata generik" untuk menunjukkan sifat-sifat mulia
manusia yang suka damai, hidup sejalan dengan hukum alam, harmoni, dan
tunduk pada peraturan Tuhan.
Lawan dari kata Islam adalah kafir, yang menunjukkan sifat-sifat manusia
yang sombong, iri hati, merasa paling benar, dan tidak taat kepada Allah.
Dengan melihat kata Islam yang generik itu, rasanya sulit sekali orang
menemukan terminologi kekerasan dalam Islam, apalagi terorisme.
Apa yang menarik dari kata Islam dan Al-Islam dalam Qur'an? Kalau kita
telusuri lebih jauh, kata Islam dalam Qur'an sifatnya sangat umum, tidak
hanya dipakai untuk menyebut nama "umat Muhammad"-tapi juga umat Musa
(Yahudi) dan umat Kristen (Nashrani).
Nabi Ya'kub, misalnya, sebelum meninggal bertanya kepada anak-anaknya, apa
yang akan kamu sembah sepeninggalku (QS2:133)? Anak-anaknya menjawab: Kami
akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Isma'il, dan
Ishak, yaitu Tuhan Yang Maha Esa dan kami semua adalah muslimun (tunduk dan
patuh pada Tuhan).
Dalam ayat-ayat lain juga disebutkan, kaum hawariyyun (murid-murid dan
sahabat Isa) adalah muslim (QS3:52). Begitu pula Musa-Rasul orang
Yahudi-menyatakan dirinya sebagai seorang muslim. Dalam surah Yunus ayat 84
dikisahkan tentang Musa yang sedang berkata-kata dengan umatnya.
"Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertakwalah kepadaNya saja
jika kamu benar-benar orang muslim".
Bahkan lebih jauh lagi, dalam ayat lain, disebutkan sesungguhnya seluruh
alam ini "berislam" kepada Tuhan. Membaca ayat-ayat tersebut, bisa
disimpulkan kata Islam sebetulnya sangat general-mencakup seluruh agama yang
Berketuhanan Yang Maha Esa (tauhid).
Dari sinilah sebetulnya, kalau umat beragama dunia mau berlapang hati dan
mau memahami Islam dalam konteks yang esensial, tak akan ditemukan setitik
pandangan eksklusivisme dalam Islam yang bisa menimbulkan kecurigaan pada
umat-umat lain.
Dari verikasi kata Islam dalam Alqur'an inilah, kita perlu membedah kembali
makna ayat yang sering dijadikan propaganda kalangan tertentu demi
kepentingan politiknya dengan mengatasnamakan Islam.

Dari perspektif inilah, kita mereinterpretasi kalimat dalam Alqur'an: "
Innaddina 'indallahi'il Islam. Sesungguhnya agama di sisi Tuhan adalah
Islam. Kalimat seperti ini, lazimnya diterjemahkan seperti ini: sesungguhnya
agama di sisi Tuhan adalah ketundukan dan kepasrahan terhadap Tuhan
(al-Islam).
Bila demikian halnya, ketundukan dan kepasrahan terhadap Tuhan adalah
pedoman ajaran untuk semua agama. Ini artinya, ayat tersebut sangat
universal dan bisa menjamin toleransi yang amat luas bagi umat beragama. Itu
pula sebabnya, mengapa Allah menyatakan bahwa Islam adalah rahmat bagi alam
semesta.
Kenapa rahmat? Karena Islam mampu mengayomi dan mengakomodasi semua ajaran
agama, asal secara prinsip beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Secara gamblang dalam surah Albaqarah ayat 62, Allah menyatakan:
Sesungguhnya orang-orang yang beriman, baik orang Yahudi, Nashrani, dan
orang Syabi'in (agama selain Islam, Kristen, dan Yahudi)-siapa saja yang
benar-benar beriman kepada Allah dan beramal saleh, mereka akan menerima
pahala dari Tuhan mereka dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka.
Ayat inilah yang di zaman Nabi Muhammad dan awal keislaman menjadi pedoman
kaum salaf. Dengan dasar ayat-ayat Qur'an tersebut, kemudian Islam menyebar
dengan cepat ke seantero dunia-termasuk Eropa yang saat itu masih dikuasai
orang-orang Romawi.
Sejarawan George Bernard Shaw misalnya mencatat: banyak orang di Eropa saat
itu menyambut kdatangan Islam dan mendukung tentara Islam ketimbang tentara
Romawi yang nota bene merupakan tentara negaranya. Kenapa? Tulis Shaw: Islam
datang untuk menegakkan perdamaian dan keadilan. Itulah yang ditunggu umat
Nashrani saat itu yang berada dalam cengkerman fasis dan totaliter Kerajaan
Romawi.
Sikap Islam yang sangat peduli dengan penegakan kemanusiaan dan keadilan
berdasarkan prinsip-prinsip persamaan di hadapan Tuhan inilah yang telah
membesarkan Islam di masa kejayaannya.
Islam dan Qur'an saat itu benar-benar menjadi petunjuk umat manusia yang
ingin membina persaudaraan antarumat beragama. Dan Alqur'an menyatakan bahwa
Tuhan menciptakan manusia dengan berjenis kelamin laki-laki dan perempuan,
beretnis dan berbangsa-bangsa, semata-mata untuk menguji kualitas siapa yang
paling bertakwa.
Dan yang paling mulia di sisi Tuhan adalah orang yang paling bertakwa di
antara mereka (QS 49:13). Ini artinya, kata taqwa-sebuah ketundukan pada
Allah yang terefleksikan dalam penegakan keadilan, kemanusian, persaman hak,
dan persaudaraan-menjadi ukuran keberimanan seseorang di sisi Tuhan.
Dari perspekif tersebut, Islam sebetulnya jauh dengan makna terorisme,
anarkisme, dan perbuatan kras lain. Islam adalah kedamaian, keselamatan, dan
persaudaraan.
Dan harap dicatat: kata yang menjadi pusat-titik tengah dalam Al-qur'an yang
tertera pada surah Al-Kahfi adalah kata "Walyatalattaf" yang artinya
kelembutan. Allah itu Maha Lembut (Latif).

Penulis adalah mantan Menteri Kehutanan dan Presiden Pertama Partai
Keadilan..




----- Original Message ----- 
From: "Muhammad Arfian" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Monday, October 25, 2004 4:32 AM
Subject: Re: [EMAIL PROTECTED] Kebebasan Memilih Informasi Bagian dari Iman


> Assalaamu'alaykum wa Rahmatullaahi wa Barakatuhu
>
>
> Dilihat dari konteksnya, sebetulnya Al-Baqarah 62 ini menunjuk kepada
> orang-orang yang ketika Islam belum tiba mereka tetap berpegang kepada
> ajaran nabinya masing-masing tanpa mengubah keimanan mereka kepada Allaah
> SWT  sebagai satu-satunya yang patut disembah (menjaga kemurnian ajaran
> Nabinya). Mereka ini juga yang ketika bertemu Rasulullaah SAW kemudian
> beriman kepada Allaah dan Rasul-Nya tersebut, yang artinya masuk Islam.
Bagi
> orang-orang yang termasuk Yahudi dan Nasrani tetapi mereka menganggap Nabi
> Isa dan Nabi Uzair sebagai anak Allaah dan menganggapnya sebagai tuhan,
> tentu saja bukan termasuk yang ditunjuk oleh ayat ini, karena artinya
> walaupun beriman kepada Allaah tetapi mereka mempersekutukannya dengan
> manusia sebagai sesuatu yang disembah.
>
> ____________________________________________________


____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke