Pariaman Pintu Gerbang Minangkabau Oleh Redaksi, Sabtu, 23-Oktober-2004, 05:16:43 45 klik
Oleh Suryadi, Mahasiswa Universitas Leiden Sepanjang sejarahnya Minangkabau telah menyaksikan saling berpengaruhnya antara darek dan rantau. Dalam konteks ini, dataran rendah sempit di pantai barat memainkan dua peran penting yakni, menyediakan pelabuhan-pelabuhan tempat pelemparan komoditi dagang yang berasal dari pedalaman Minangkabau dan tempat masuknya barang-barang dan gagasan-gagasan dari dunia luar ke pedalaman Minangkabau. Sistem matrilineal tampaknya tidak begitu dipatuhi di rantau, meskipun ketidakpatuhan itu mungkin hanya berlaku dikalangan pedagang saja, terutama di entrepot-entrepot, bagaimana pun sistem itu tampaknya masih tetap diamalkan oleh masyarakat di desa-desa persawahan di belakang pantai. Ini jelas berkaitan yang berbeda antara kedua kelompok masyarakat ini dengan tanah. Semula, munculnya dinasti raja-raja kecil di desa-desa pantai memang atas persetujuan darek, sesuai dengan pepatah Minangkabau, "Luhak bapanghulu rantau barajo". Dulu semua raja di rantau berada di bawah garis otoritas Raja Alam Minangkabau yang berkedudukan di Pagaruyung. Tapi, lama kelamaan ikatan politik dan genealogi masyarakat dengan darek makin melemah. Raja-raja kecil di desa-desa pantai kini membentuk pemerintahan sendiri dan biasanya dibantu oleh seorang pemuncak dan beberapa orang penghulu. Mereka tidak lagi menggantungkan hegemoninya kepada Raja Alam Minangkabau. Sejumlah desa pantai lainnya diperintah oleh penguasa yang bergelar orang kaya. Timbul pertanyaan bagi kita, bagaimana kehidupan beragama pantai di Rantau Pariaman yang penduduknya heterogen dan beragam dari segi budayanya? Ternyata toleransi budaya dan agama antara berbagai kelompok masyarakat cukup luwes di entropet ii. Sebagai bukti, ketika Syekh Jamil Alchalidi, ulama besar di Pariaman wafat tahun 1929, ternyata orang Cina pun ramai-ramai ikut melayat jenazahnya di Masjid Batu Pariaman. Ketika masyarakat darek kebanyakan sudah memakai pakaian gaya Arab-wanita bercadar, pria bersorban, berjubah putih panjang dan memelihara jenggot, karena di paksa oleh kaum Paderi, orang Pariaman yang sudah lebih dahulu daripada orang darek memeluk Islam justru masih berpakaian menurut adat mereka. Sudah sejak beberapa abad sebelumnya Pariaman telah menjadi pintu gerbang Minangkabau ke dan dari dunia luar. Mungkin karena itulah perbedaan-perbedaan merupakan sesuatu yang biasa dalam kehidupan sehari-hari masyarakat kota pantai ini. Walau bagaimanapun, situasi kehidupan beragama di Rantau Pariaman sedikit banyak tentu ikut berubah seiring dengan semakin meluasnya dampak sosial budaya yang ditimbulkan oleh gerakan Paderi di darek. Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa situasi politik Rantau Pariaman pada paroh abad ke-19 mulai mengalami gesekan-gesekan. Di satu sisi kehidupan beragama yang toleran tampaknya mulai mendapat goncangan akibat hembusan-hembusan ide-ide radikal kaum Paderi dari arek. Di sisi lain, penetrasi kekuasaan Belanda ke dalam kehidupan masyarakat pantai yang hari demi hari dirasakan semakin kuat juga menjadi pemicu untuk mencari sandaran spritual kepada agama. Bukankah sudah cukup banyak bukti yang menunjukkan bahwa ketika penjajah semakin represif, maka pengikut tarekat meningkat dan seiring dengan itu orang-orang skripturalis radikal yang mencari legitimasi dari ajaran agama untuk melakukan gerakan mesianistik memerangi penjajah juga semakin banyak. Tampaknya benih radikalisme ini juga mulai tumbuh di Rantau Pariaman pada paroh pertama abad ke-19, sebagai akibat dari semakin meluasnya pengaruh ide Paderi di satu sisi dan sebagai dampak dari kebijakan politik Belanda yang cendrung represif terhadap masyarakat di sisi lain. Meski Belanda melakukan konsolidasi politik dan militer di daerah ini yang antara lain dimaksudkan untuk membendung meluasnya ide Paderi ke pantai, tapi usaha itu tidak sepenuhnya berhasil. Sejumlah kecil ulama yang bersifat kritis kepada Ulakan mulai muncul di desa-desa pantai, diantaranya adalah Syekh Daud. Situasinya semakin tidak menguntungkan karena pamor Ulakan juga sedang mengalami pasang surut. Tambahan lagi, kekuasaan Belanda sudah terasa dimana-mana. (bersambung) ____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ------------------------------------------------------------ Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib ____________________________________________________

