Wa alaikum salam Wr.Wb.

Menarik sekali yang disampaikan adik Ridha ini. Wah. .jadi malu sekali saya.
Kok dik Ridha bisa mengutip macem-macem ya padahal umurnya beda belasan
tahun dari saya...

Kalau melihat pengalaman sendiri dan kondisi khusus di kantor saya, pada
umumnya apa yang dikatakan uni Rahima dan juga dik Ridha ini sesuai dengan
pengamatan saya.

Kantor saya (BPPT) punya contoh orang dari hampir semua negera maju. Tapi
banyak juga yang menyelesaikan S1nya di dalam negeri seperti saya. Mayoritas
kemudian melanjutkan S2 dan S3 nya di negara maju, dan ada 1-2 orang yang
melanjutkan di dalam negeri. Untuk S1 lokal, mayoritas adalah lulusan ITB.
Beberapa juga ada dari universitas negeri lainnya.Seingat saya, ada 1 orang
dari perguruan tinggi swasta.

 Saya lihat, kondisi di kantor cukup bisa memberikan gambaran kwalitas
maupun karakter orang berdasarkan asal sekolah nya, baik asal S1 maupun
pasca sarjana.  Semuanya jelas punya kelebihan dan kekurangan. Lulusan S1
luar negeri, kebanyakan otaknya memang luarbiasa encer. Saya harus akui
bahwa mereka memang umumnya brilian. Tetapi banyak di antara mereka yang
tidak siap menerima kenyataan setelah kembali ke Indonesia. Kemampuan
menyesuaikan diri dan kreativitasnya tidak terasah, sehingga banyak yang
frustasi, kabur nyari kerja ke swasta, dan tidak sedikit yang kembali ke
luar negeri.

Kwalitas keilmuan teman-teman yang S1 di dalam negeri, sepertinya memang
tidak kalah dari yang diluar, kecuali potensi dasarnya (karena persaingan
beasiswa S1 luar negeri memang susah sekali). Yang lulusan ITB dan perguruan
tinggi terkenal dalam negeri, juga terlihat lebih unggul dari sisi keiilmuan
daripada yang dari universitas menengah.
Teman-teman yang dari Eropa, khususnya Belanda, Perancis dan Jerman,
terlihat lebih kuat dasar keilmuannya. Sementara yang lulusan
Amrika/Australia terlihat lebih percaya diri, memiliki kepribadian terbuka
dan unggul dalam bidang kreativitas dan leadership. Lulusan jepang umumnya
lebih pendiam tapi punya ketekunan dalam bekerja.

Saya lihat, yang terlihat lebih bisa memberikan kontribusi adalah
teman-teman yang S1 di dalam negeri, dan melanjutkan di luar negeri.
Rata-rata mereka lebih siap untuk menyesuaikan diri ketimbang yang S1 di
luar negeri. Sepertinya, tidak satupun diantara kami yang tidak ingin
melanjutkan di luar negeri. Paling tidak, kalau dipilih dalam dan luar
(negara maju), semua akan memilih yang luar...he..he.he..

Bagi yang "Terpaksa" melanjutkan di dalam negeri (karena usia dan gagal
terus menerus memperoleh beasiswa), pada umumnya mereka mengeluh akan
tingginya biaya penelitian, dan kurangnya fasilitas. Ini yang mungkin bisa
saya nikmati di Jepang ini, walaupun untuk jepang sendiri, akan sangat
berbeda antara satu universitas dan universitas lain. Juga akan berbeda,
antara satu laboratorium dengan laboratorium yang lain.

Untuk lab yang kaya. Rasanya memang akan sangat nyaman sekali. Nggak heran
kalau kwalitas studinya akan lebih maju. Alasannya adalah:
1. Fasilitas perpustakaan yang sangat lengkap. Ada digital library dan
buku-buku yang bisa dicari lewat internet, dan bisa dipinjam juga lewat
internet, sekalipun buku tersebut ada di universitas lain. Terkadang saya
bisa minta dicopykan dan sekaligus dikirimkan ke tempat saya tanpa bayar.
2. Laboratorium yang lengkap. Agak mustahil untuk membayangkan kantor saya
atau universitas di Indonesia bisa punya peralatan penelitian yang saat ini
saya pergunakan di sini.
3. Ilmu yang terupdate. Para professor di negara-negara maju, sepertinya
bisa lebih mencurahkan hidup mereka untuk ilmu. Mereka punya anggaran, punya
lab dan punya mahasiswa. Mereka dengan mudah bisa menambah wawasan ilmunya,
dan hadir di banyak semonar dan konference. Bahkan matakuliah dengan judul
sama yang saya ikuti, setiap tahun menunya bisa berubah, disesuaikan dengan
temuan mereka saat ini.
4. Kesempatan untuk ikut seminar dan konference lokal maupun internasional.
Walaupun tidak semua lab punya uang banyak, tapi tidak sedikit yang mampu
membiayai perjalan mahasiswa untuk ikut seminar, konferensi ataupun
workshop.
5. Kegiatan keilmuan yang teratur dan terukur. Banyak kegiatan seperti
seminar rutin dan diskusi yang diselenggarakan di dalam lingkungan
laboratorium dan antara laboratorium sejenis.
6. Kemudahan akses data. Siapapun tau kalau di negeri kita, urusan data ini
luar biasa susah. Sudahlah jumlahnya tidak banyak, untuk dipakai juga
susaaah sekali mintanya. Di sini, tidak semua data bisa diakses, tapi
setelah sekian tahun biasanya data tersebut sudah bisa dmanfaatkan
universitas.
7. Kerjasama universitas, lembaga penelitian dan Industri. yang ini cukup
banyak.
8. Jadi lebih PD, punya pengalaman melihat sebuah keteraturan dan
keunggulan, dan lebih terbiasa menggunakan bahasa asing.

Allahu a'lam.


----- Original Message -----
From: "Ahmad Ridha" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, November 11, 2004 3:14 PM
Subject: Re: [EMAIL PROTECTED] Fenomena kuliah di dalam negeri


>
> Bismillahirrahmanirrahim,
>
> Assalaamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
>
> Kalau boleh saya nimbrung dalam pembahasan masalah kuliah ini. Saya
> pribadi tidak pernah ke luar negeri dan pendidikan yang saya alami
> tersebar dari Jakarta, Aceh, Padang, dan sekarang Bogor. Kesemuanya di
> sekolah negeri dan saya merasa pada saat bersekolah kualitasnya cukup
> baik. Namun memang saya berencana untuk melanjutkan studi ke luar negeri.
>
> Sebelumnya saya mohon maaf jika komentar saya ini kurang koheren karena
> memang banyak sekali masalah yang terlibat di sini.
>
> Dalam pembahasan yang berlangsung ada beberapa hal yang terlalu umum.
>
> Pertama adalah masalah ungkapan 'luar negeri'. Ungkapan ini terlalu luas
> karena begitu banyak ragam negeri di luar negeri kita ini. Dari yang
> saya pahami konotasi yang dimaksudkan di sini adalah negara-negara
> seperti Amerika Serikat, wilayah Eropa, Australia, dan negara-negara
> Asia yang seperti mereka (Singapura dan Jepang).
>
> Hal ini perlu diperjelas karena berbeda negara tentu memiliki lingkungan
> yang berbeda juga sehingga dapat memberikan pengaruh yang berbeda bagi
> mahasiswa. Tentunya relatif tidak mungkin seseorang berubah menjadi
> 'kapitalis' jika semata-mata ia pergi ke luar negeri. Perubahan tersebut
> tentulah pengaruh dari interaksi dengan lingkungan.
>
> Seringkali seorang dosen dikirim ke luar negeri tidak hanya untuk
> mendapatkan ilmu namun juga untuk mengembangkan wawasan. Saya pribadi di
> sini sangat didorong untuk melanjutkan studi di luar negeri (ilmu
> komputer) untuk melihat pengembangan ilmu di sana.
>
> Ketua Departemen saya tidak melihat adanya perbedaan signifikan antara
> lulusan luar negeri dengan lulusan dalam negeri dari segi keilmuan
> karena (menurut saya) kuatnya faktor-faktor lain seperti kemampuan
> individu masing-masing serta universitas yang dipilih. Bahkan dari
> pengalaman kami di sini, mahasiswa yang pendidikan sekundernya dari luar
> negeri justru kurang memuaskan prestasinya di sini.
>
> Hal-hal yang ingin dilihat di luar negeri di antaranya kebijakan
> pendidikan tinggi yang digunakan serta mekanisme pelaksanaannya di
> institusi pendidikan tinggi seperti manajemen akademik dan riset. Ya
> hitung-hitung sekolah sambil studi banding. Oleh karena itu akan lebih
> baik jika dosen yang sekolah di luar negeri bekerja sebagai
> teaching/research assistant sehingga bisa melihat inner working di sana.
>
> Bekaitan dengan masalah ini, saya ingin menyinggung kembali pesan Syaikh
> Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah mengenai bepergian ke
> negeri kafir. Beliau memberikan tiga syarat yang harus dipenuhi:
>
> 1. pemahaman ilmu agama yang kuat sehingga dapat menolak syubhat-syubhat
> yang dilontarkan
> 2. iman yang kuat sehingga dapat menolak godaan-godaan syahwat
> 3. adanya kebutuhan mendesak yang hanya dapat terpenuhi di negeri kafir
> mis. belajar sesuatu yang hanya ada di sana
>
> Perhatikan bahwa syarat-syarat di atas sangat berat dan bertujuan untuk
> mencegah pengaruh-pengaruh negatif yang mungkin timbul akibat
> berinteraksi dengan lingkungan di negeri kafir. Bisa saja pengaruh buruk
> yang diamati dari dosen-dosen lulusan luar negeri (baca: negeri kafir)
> bersumber dari tidak/kurang terpenuhinya syarat-syarat di atas.
>
> Satu hal yang perlu diperhatikan juga di sini mungkin sebagian orang
> menggunakan ungkapan 'Tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina' untuk
> menjustifikasi menuntut ilmu di negeri kafir. Perhatikan bahwa ungkapan
> itu bukanlah hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan dalam
> Silsilatul Ahaatiits adh-Dhaaifah wal-Maudhu'ah (No. 416) disebutkan
> bahwa riwayat ini batil.
>
> Oleh karena itu perlu adanya pemilahan negara tujuan dalam melanjutkan
> studi. Bukankah banyak negara-negara yang pendidikannya cukup baik namun
> lingkungannya cukup kondusif seperti katakanlah Malaysia. Saya pribadi
> berencana untuk melanjutkan studi ke Saudi Arabia karena saya merasa
> tidak memenuhi ketiga syarat tersebut.
>
> Beberapa hal yang perlu diatasi adalah:
> 1. kurangnya informasi mengenai studi di negeri-negeri muslim yang
> berkualitas.
>
> Oleh karena itu, perlu diminta kontribusi para alumni untuk berbagi
> pengalamannya sehingga masyarakat Indonesia tidak hanya mengejar studi
> di negeri kafir.
>
> 2. rendahnya kepercayaan masyarakat kita terhadap kualitas pendidikan di
> negeri-negeri muslim.
>
> Ini sangat terkait dengan masalah sebelumnya. Saat saya mengatakan bahwa
> saya ingin melanjutkan studi ke Saudi Arabia, seorang teman saya merasa
> aneh. Mengapa tidak ke Australia, Amerika, atau Eropa? Begitu pikirnya.
> Mungkin memang studi ke Saudi kurang bergengsi namun sepatutnya kita
> belajar kan bukan untuk bergaya. Saya merasa ilmu yang saya butuhkan
> dapat terpenuhi di sana sehingga tidak memenuhi syarat ke-3.
>
> Dengan demikian menurut saya tidak dapat digeneralisasi bahwa studi ke
> luar negeri barakibat buruk namun juga tidak dapat dikatakan bahwa studi
> ke luar negeri lebih baik. Untuk mengambil kesimpulan diperlukan
> penelitian yang lebih baik serta perlu memperhatikan banyak hal (negara
> tujuan, perguruan tinggi yang dimasuki, dll). Saya khawatir kesalahan
> kesimpulan akan menghasilkan kesalahan langkah ke depan.
>
> Jika dikaitkan dengan langkah yang diambil negeri-negeri lain. Dapat
> kita lihat Malaysia maju setelah pada tahun 70-an belajar ke kita atau
> mendatangkan guru-guru kita. Di sini dapat kita perhatikan, bahwa
> mengirimkan siswa ke luar negeri atau mendatangkan pengajar luar negeri
> dapat bermanfaat. Namun menurut saya, syarat-syarat yang dikemukakan
> Syaikh al-Utsaimin sangat relevan di sini untuk menekan mudharat yang
> dapat timbul. Para pengajar yang ingin didatangkan juga harus
> berkualitas. Jangan sampai seperti persepakbolaan Indonesia yang kurang
> mendapat manfaat dari para pemain asing berbeda dengan Jepang yang juga
> banyak mendatangkan pemain asing namun bisa maju.
>
> Sekian dulu, insya Allah saya lanjutkan.
>
> Allahu a'lam.
>
> --
> Ahmad Ridha ibn Zainal Arifin ibn Muhammad Hamim
> (l. 1400 H/1980 M)
>
> ____________________________________________________
>
> Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
> http://rantaunet.org/palanta-setting
> ------------------------------------------------------------
> Tata Tertib Palanta RantauNet:
> http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
> ____________________________________________________


____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke