Harry Roesli, seniman kondang dari Banduang, meninggal awal desember 
2004 karena serangan jantuang.
Mungkin tak banyak orang yg mengenal, bahwa sebenarnya pemusik Harry 
Roesli ( alm ) memiliki darah minang juga, ia adalah cucu dari Marah 
Roesli, pengarang pujangga baru yg menulis roman Siti Nurbaya. 
Marah Roesli menikah dg gadis sunda. 

Selain seniman musik, beliau juga banyak aktif dalam kegiatan 
sosial , tulisan2 nya di harian kompas penuh dg kritik sosial yg 
mengena, karena disampaikan dg cara humor namun tetap tajam, 
sebagaimana juga pendapat2 nya ketika menjadi juri AFI.

dari tulisan2 kolom nya di harian kompas yg menarik , ataupun 
komentar pedasnya, kita akan bisa melihat bakat2 kecerdasan 
linguistik ( kepenulisan, pidato dll )  , yg bisa jadi adalah turunan 
dari kakek nya yg pengarang pujangga baru. sebagai bandingan 
stereotipe karakter tsb tak biasa terlihat pada orang sunda.

kalau lewat rumah Harry roesli di jl supratman, kita akan sering 
melihat tiap hari, rumahnya ramai oleh berbagai kegiatan, mulai dari 
anak2 muda yg belajar musik, sampai kegiatan sosial.

Rumah tsb adalah juga tempat belajar musik gratis dari pengamen 
jalanan. ketika ada bencana banjir di bandung selatan, rumahnya juga 
adalah tempat mengumpulkan bantuan sosial ( baju bekas, makanan 
dll ) . Rumah tsb adalah juga sekretariat Bandung peduli , LSM yg 
banyak membantu anak jalanan dan orang miskin yg bertambah banyak 
sejak jaman krismon.

dg Aa Gym ,beberapa bulan yg lalu di Bandung, ia turut mengikrarkan 
suatu gerakan moral yg dikenal dg istilah Gema Nusa ( Gerakan 
Membangun Nurani Bangsa )

dan banyak aktivitas sosial lain nya di sekitar Bandung , yg tak 
banyak diketahui orang banyak, karena beliau memang tak suka 
publikasi , tapi setidaknya masyarakat Bandung, mengakui beliau 
sebagai seorang tokoh yg dihormati. Harian Pikiran Rakyat di 
bandung , menurunkan beberapa tulisan ttg kiprah beliau.

beliau tak pernah menyatakan dirinya masih keturunan minang , dan 
mungkin tak merasa perlu (ngapain juga sih,ngaku2 keturunan 
minang,apa perlu nya  ? ) , tapi dari berbagai aktifitas seni, 
tulisan maupun kegiatan sosial nya, kita bisa melihat sebuah 
keteladanan karakter positif dari orang minang ( karakter 
keminangan ) , karena kalau dilihat dari karakter orang sunda, juga 
tak seperti itu ( orang sunda cenderung statis , damai dan tak 
mencari konflik ), secara psikologis Harry lebih berkarakter Minang 
daripada Sunda , walaupun kalau dari omongan kita lebih mendengar 
dialek yg sunda dan tak terdengar ada dialek minang nya. 
tapi dari kritik sosial dan logikanya yg memberontak ( kreatifitas 
melawan kemapanan yg tiran ), kita bisa menangkap karakter minang.

di ingat2 rasanya banyak juga, keturunan rang minang ( dari 
pernikahan dg etnis lain ) , yg menjadi tokoh masyarakat atau orang2 
penting lain nya,  yg memang tak begitu ingin dikenal sbg rang minang 
( atau malah tak merasa perlu juga bangga sebagai keturunan orang 
minang ) , tapi dari pola pikir, aktifitas maupun sikapnya kita bisa 
melihat ada karakter khas minang yg terbawa , spt kegigihan , 
konsistensi, keberanian mengeluarkan pendapat, jiwa egaliter,jiwa 
kepedulian sosial dll , yg penting ia berusaha utk melakukan yg 
terbaik utk orang banyak , dimana pun ia berada , sesuai falsafah " 
dima tanah di pijak , di sinan langit dijunjung" yg sejalan juga  dg 
hadist Nabi, yg menyatakan bahwa   " Manusia yg terbaik ialah manusia 
yg berbuat kebaikan bagi orang banyak"

Saya jadi berpikir bahwa yg sebenarnya perlu dilestarikan adalah 
sikap keminangan yg positif , yg memberi sumbangan nyata utk 
masyarakat banyak dan kehidupan secara umum,  sesuai falsafah " Di ma 
tanah di pijak di sinan langit di junjuang" dalam bermasyarakat dan 
falsafah "Alam terkembang jadi guru" dalam mendapatkan pencerahan     
( proses pendidikan, long life education = ' Iqro ).

Itu semua rasanya lebih bermakna daripada mempertahankan/membangga 
bangakan/mengagung agungkan Minang sbg simbol belaka. ( orang minang 
terjebak dalam simbolisme Minang )

membangkit batang tarandam , nampaknya cenderung menjebak kita dalam 
mem bangkitkan kembali simbol2 miangn belaka , daripada mengembangkan 
visi dan sikap hidup positif yg tergali dari minang itu sendiri, utk 
kemaslahatan masyarakat banyak dan kehidupan pada umum nya.

sekian oleh oleh cerita dari banduang nan dingin berselimut kabut pagi

wassalam 

HM





____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke