Walaupun Harry Roesli punya darah Minang tapi dia gak pernah menyatakan
dirinya Orang Minang atau bangga menjadi orang Minang

----- Original Message -----
From: hdmessa <[EMAIL PROTECTED]>
To: Palanta RantauNet <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Monday, December 20, 2004 6:43 PM
Subject: [EMAIL PROTECTED] in memoriam Harry Roesli ( dan sikap keminangan )


>
> Harry Roesli, seniman kondang dari Banduang, meninggal awal desember
> 2004 karena serangan jantuang.
> Mungkin tak banyak orang yg mengenal, bahwa sebenarnya pemusik Harry
> Roesli ( alm ) memiliki darah minang juga, ia adalah cucu dari Marah
> Roesli, pengarang pujangga baru yg menulis roman Siti Nurbaya.
> Marah Roesli menikah dg gadis sunda.
>
> Selain seniman musik, beliau juga banyak aktif dalam kegiatan
> sosial , tulisan2 nya di harian kompas penuh dg kritik sosial yg
> mengena, karena disampaikan dg cara humor namun tetap tajam,
> sebagaimana juga pendapat2 nya ketika menjadi juri AFI.
>
> dari tulisan2 kolom nya di harian kompas yg menarik , ataupun
> komentar pedasnya, kita akan bisa melihat bakat2 kecerdasan
> linguistik ( kepenulisan, pidato dll )  , yg bisa jadi adalah turunan
> dari kakek nya yg pengarang pujangga baru. sebagai bandingan
> stereotipe karakter tsb tak biasa terlihat pada orang sunda.
>
> kalau lewat rumah Harry roesli di jl supratman, kita akan sering
> melihat tiap hari, rumahnya ramai oleh berbagai kegiatan, mulai dari
> anak2 muda yg belajar musik, sampai kegiatan sosial.
>
> Rumah tsb adalah juga tempat belajar musik gratis dari pengamen
> jalanan. ketika ada bencana banjir di bandung selatan, rumahnya juga
> adalah tempat mengumpulkan bantuan sosial ( baju bekas, makanan
> dll ) . Rumah tsb adalah juga sekretariat Bandung peduli , LSM yg
> banyak membantu anak jalanan dan orang miskin yg bertambah banyak
> sejak jaman krismon.
>
> dg Aa Gym ,beberapa bulan yg lalu di Bandung, ia turut mengikrarkan
> suatu gerakan moral yg dikenal dg istilah Gema Nusa ( Gerakan
> Membangun Nurani Bangsa )
>
> dan banyak aktivitas sosial lain nya di sekitar Bandung , yg tak
> banyak diketahui orang banyak, karena beliau memang tak suka
> publikasi , tapi setidaknya masyarakat Bandung, mengakui beliau
> sebagai seorang tokoh yg dihormati. Harian Pikiran Rakyat di
> bandung , menurunkan beberapa tulisan ttg kiprah beliau.
>
> beliau tak pernah menyatakan dirinya masih keturunan minang , dan
> mungkin tak merasa perlu (ngapain juga sih,ngaku2 keturunan
> minang,apa perlu nya  ? ) , tapi dari berbagai aktifitas seni,
> tulisan maupun kegiatan sosial nya, kita bisa melihat sebuah
> keteladanan karakter positif dari orang minang ( karakter
> keminangan ) , karena kalau dilihat dari karakter orang sunda, juga
> tak seperti itu ( orang sunda cenderung statis , damai dan tak
> mencari konflik ), secara psikologis Harry lebih berkarakter Minang
> daripada Sunda , walaupun kalau dari omongan kita lebih mendengar
> dialek yg sunda dan tak terdengar ada dialek minang nya.
> tapi dari kritik sosial dan logikanya yg memberontak ( kreatifitas
> melawan kemapanan yg tiran ), kita bisa menangkap karakter minang.
>
> di ingat2 rasanya banyak juga, keturunan rang minang ( dari
> pernikahan dg etnis lain ) , yg menjadi tokoh masyarakat atau orang2
> penting lain nya,  yg memang tak begitu ingin dikenal sbg rang minang
> ( atau malah tak merasa perlu juga bangga sebagai keturunan orang
> minang ) , tapi dari pola pikir, aktifitas maupun sikapnya kita bisa
> melihat ada karakter khas minang yg terbawa , spt kegigihan ,
> konsistensi, keberanian mengeluarkan pendapat, jiwa egaliter,jiwa
> kepedulian sosial dll , yg penting ia berusaha utk melakukan yg
> terbaik utk orang banyak , dimana pun ia berada , sesuai falsafah "
> dima tanah di pijak , di sinan langit dijunjung" yg sejalan juga  dg
> hadist Nabi, yg menyatakan bahwa   " Manusia yg terbaik ialah manusia
> yg berbuat kebaikan bagi orang banyak"
>
> Saya jadi berpikir bahwa yg sebenarnya perlu dilestarikan adalah
> sikap keminangan yg positif , yg memberi sumbangan nyata utk
> masyarakat banyak dan kehidupan secara umum,  sesuai falsafah " Di ma
> tanah di pijak di sinan langit di junjuang" dalam bermasyarakat dan
> falsafah "Alam terkembang jadi guru" dalam mendapatkan pencerahan
> ( proses pendidikan, long life education = ' Iqro ).
>
> Itu semua rasanya lebih bermakna daripada mempertahankan/membangga
> bangakan/mengagung agungkan Minang sbg simbol belaka. ( orang minang
> terjebak dalam simbolisme Minang )
>
> membangkit batang tarandam , nampaknya cenderung menjebak kita dalam
> mem bangkitkan kembali simbol2 miangn belaka , daripada mengembangkan
> visi dan sikap hidup positif yg tergali dari minang itu sendiri, utk
> kemaslahatan masyarakat banyak dan kehidupan pada umum nya.
>
> sekian oleh oleh cerita dari banduang nan dingin berselimut kabut pagi
>
> wassalam
>
> HM
>
>
>
>
>
> ____________________________________________________
>
> Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
> http://rantaunet.org/palanta-setting
> ------------------------------------------------------------
> Tata Tertib Palanta RantauNet:
> http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
> ____________________________________________________
>
>
>
> --
> No virus found in this incoming message.
> Checked by AVG Anti-Virus.
> Version: 7.0.296 / Virus Database: 265.6.2 - Release Date: 12/20/04
>



-- 
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Anti-Virus.
Version: 7.0.296 / Virus Database: 265.6.2 - Release Date: 12/20/04


____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke