ŧ���mm�����k�m w�r�hm�t����h� w����k�t�h

Seperti yang pernah ambo posting dulu-dulunyo, keberadaan Bidar Alam ko
ndak bisah disipisahkan dengan PDRI, tapi dek karano pemerintah (dari
dulu) tidak begitu mengekpos tentang PDRI ko, makonyo banyak yang tidak
tau daerah-daerah penting yang pernah di pakai untuk sebagai Pusat
Pemerintahan Sementara Republik ini.

Berikut ambo Fwd Artikel nan dari Republika Nantun.

Wassalam,
========

REPUBLIKA Selasa, 21 Desember 2004
http://www.republika.co.id/ASP/koran_detail.asp?id=181752&kat_id=19

PDRI: Mengapa Jarang Disebut?
Oleh: AHMAD SYAFII MAARIF

Selama enam bulan 21 hari (22 Desember 1948 s/d 13 Juli 1949), pusat 
pemerintahan Republik Indonesia dialihkan ke tangan Pemerintah Darurat 
Republik Indonesia (PDRI), pimpinan Sjafruddin Prawiranegara, yang
semula 
sebagai Menteri Kemakmuran dalam Kabinet Hatta. Seperti kita ketahui
bahwa 
pada 19 Desember 1948, Jogjakarta diduduki tentara Belanda,
Soekarno-Hatta 
menyerah, sebuah kejadian sejarah yang sangat menghina dan berbahaya
pada 
waktu itu. Bayangkan Soekarno-Hatta terpaksa mengibarkan bendera putih
tanda 
menyerah kepada Belanda di Istana Negara Jogjakarta pada tanggal di
atas. Tiga 
hari kemudian para tawanan itu diasingkan Belanda ke Bangka dan ke
Berastagi.

Tetapi, untungnya Kabinet Hatta masih sempat mengadakan sidang pada
tanggal 19 
itu dan memutuskan memberi mandat kepada Sjafruddin yang sejak November
1948 
ada di Sumatra Barat untuk membentuk pemerintah darurat. Sejak tanggal
itu 
kekuasaan pemerintahan telah berpindah ke tangan Sjafruddin sekalipun
kawat 
mandat baru diterimanya berbulan-bulan kemudian. Mandat serupa juga
dikirimkan 
kepada Dr Soedarsono, LN Palar, dan AA Maramis, yang sedang berada di
India 
agar mereka membentuk pemerintah pengasingan, sekiranya Sjaruddin gagal
dalam 
usahanya.

Demikianlah pada 22 Desember 1948, Sjafruddin bersama tokoh-tokoh yang
ada di 
Sumbar mengadakan rapat di Halaban dalam wilayah Kabupaten Lima Puluh
Kota 
untuk membentuk PDRI. Kelompok Sumatra ini melakukan semuanya ini lebih 
didasarkan pada intuisi politik, sebab mandat belum sampai ketika itu.
Kabinet 
Darurat ini terdiri dari Sjafruddin sebagai ketua, dibantu oleh T Moh
Hasan, 
Moh Rasjid, Lukman Hakim, Mananti Sitompul, Indratjahja, dan Mardjono 
Danubroto. Kemudian kabinet PDRI dilengkapi dengan pejabat-pejabat
penting 
lainnya: Letjen Soedirman (di Jawa), Kol AH Nasution (di Jawa), Kol
Hidajat, 
Kol Nazir. Kol Soejono, dan Umar Said sebagai Kepala Kepolisian Negara.
Bulan 
Maret 1949, setelah hubungan dengan Jawa semakin lancar, Kabinet PDRI 
disempurnakan lagi dengan memasukkan nama-nama besar, sementara ketuanya
tetap 
di tangan Sjafruddin yang terus bergerilya di hutan-hutan Sumatra Barat.

Selain Halaban, negeri-negeri seperti Sumpur Kudus, Silantai,
Tamparungo, Koto 
Tinggi, Bidar Alam, menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sejarah
PDRI. 
Bidar Alam (Solok Selatan) adalah negeri yang terlama ditempati PDRI.
Pemancar 
radio PDRI terdapat pula di Ranau (Sumsel), Tungkal (Riau), Bireun
Takengon, 
Kutaraja, Tangse (Aceh), Rao (Pasaman), Siborong-borong (Tapanuli).
Untuk Jawa 
kita mengenal pemancar Playan (Wonosari), Kulonprogo, dan di lereng
Gunung 
Lawu. Negara-negara sahabat yang sangat berjasa membantu Indonesia pada
masa 
genting itu ialah India dan Myanmar (dulu Burma). Dari Indialah,
terutama, 
kegiatan-kegiatan PDRI dipancarkan ke seluruh penjuru dunia.

Selama bergerilya, PDRI banyak sekali mendapat kesulitan, maklumlah
kondisi 
transportasi dan komunikasi amat sederhana dan senantiasa diincar
Belanda. 
Tetapi, yang agak menimbulkan gesekan internal dengan Kelompok Bangka
ialah 
Pernyataan Roem-Royen pada 7 April 1949. Mengapa yang melakukan
perundingan 
adalah Kelompok Bangka yang tidak punya kekuasaan secara legal formal,
bukan 
PDRI, pemerintah yang sah? Jenderal Soedirman juga mempertanyakan
masalah ini. 
Kemudian, PDRI dalam rapatnya di Sumpur Kudus pada 16 Mei 1949 resmi
menolak 
Pernyataan Roem-Royen itu, sekalipun kemudian mereka tidak membangkang,
demi 
menjaga keutuhan bangsa dan negara. Roem adalah kolega Sjafruddin dalam
Partai 
Masyumi, tetapi tertawan bersama Soekarno-Hatta dan lain-lain.

Basis kekuatan PDRI adalah menyatunya sipil dan militer dengan dukungan
penuh 
dari rakyat jelata. Dengan kata lain, di Sumatra tidak dikenal istilah 
persoalan sipil-militer, seperti yang terdapat di Jawa. Soedirman jelas
susah 
mengikuti cara-cara pemimpin sipil berdiplomasi menghadapi Belanda. Di 
Sumatra, keadaannya lain sama sekali. Militer di Sumatra tunduk
sepenuhnya 
kepada PDRI, karena pemerintah darurat ini adalah gabungan kekuatan
sipil dan 
militer.

Demikianlah setelah berlangsung sekian bulan PDRI memainkan peran 
kenegaraannya, akhirnya pada 13 Juli 1949, Sjafruddin menyerahkan
kembali 
mandatnya kepada Presiden Soekarno (yang sudah bebas) di Jogjakarta. 
Pertanyaan yang masih tersisa tetap saja: mengapa PDRI yang begitu
berjasa 
menyelamatkan eksistensi bangsa dan negara dalam kondisi yang serba
sulit 
seakan-akan telah terlupakan, khususnya di kalangan generasi muda?
Resonansi 
ini ingin mengingatkan kembali bahwa PDRI itu benar-benar ada dan
berfungsi 
secara sah dalam sejarah kontemporer Indonesia.



-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Tuesday, December 21, 2004 3:06 PM

Ass. Wr. Wb.,

Di Resonansi pada harian Republika edisi 21 Desember 2004 yang
disampaikan oleh Bapak Syafii Maarif bahwa "Bidar Alam" yang marupokan
bagian dari Solok Selatan alah terkenal dulunyo sebagai tempat
pemerintah PDRI terlama dalam sejarah bermukim disana.

Baa kiro-kiro bagi adidunsanak kasadonyo mungkin indak Bidar Alam ko
manjadi pambukak informasi mengenai Solok Selatan dimaso datang.

Wassalam,






____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke