Assalamulaikum WW

>-----Original Message-----
>From: [EMAIL PROTECTED]
>[mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of Rahima
>Sent: Sunday, January 02, 2005 4:11 PM
>
>"Biai", baru pertama sekali saya dengar.
>Tapi yang sering membuat saya bingung pertama
>sekali.Saya memanggil ibu kandung saya dengan
>panggilan "mamak, atau mak aja".

Biai adalah bahasa asli Bukittinggi, dipakai disekitar bukittinggi ditahun
50 dan 60 an. Mungkin kini telah termakan zaman. Jadi sudah dilunturkan
masyarakat.

>
>Kemudian ada adik dari ibu saya,yang lain ibunya,saya
>panggil juga dengan sebutan "mamak"(namanya Edi).
>
>Jadi, kami kan sekeluarga sering ngumpul begitu. Pas
>saya memanggil mamak saya(maksudnya tentu ibu
>saya),eh..kedua-duanya menoleh kesaya. Yang lebih
>repot lagi dikampung kamang hilir mamak saya
>banyak(paman maksudnya,entah paman dari mana,saya ngak
>jelas,pokonya banyak dikenalkan dengan panggilan
>mamak,ada mak Adang,mak etek,dsbnya,tapi semua pas
>dipanggil dengan sebutan "mak" saja.
>
>Ngak mungkin pula saya sebutkan nama mereka dibelakang
>panggilan mak itu,seperti mak Darul begitu.
>

Panggil memanggil pada prinsipnya adalah untuk memberi identifikasi, baru
untuk lebih mengakaraban pergaulan diperlukan panggilan spesifik supaya
menjadi sopan adanya. Saya kira ini adalah ilmu komunikasi. Kembali masalah
panggilan yang sama pada beberapa orang, maka kita menambah identifikasi
lain dalam memanggil. Dan ini biasa dan logis dalam berkomunikasi, termasuk
dalam adat Minang. Jika disana banyak Uda maka dapat ditambah namanya
dibelakang (kebiasaan di Minang bukan nama tapi Gala) misanyo: Uda Lembang,
Uda Miko, Uda Bandaro Putiah, Uda Bandaro Labiah dst. Begitu juga untuk
mamak dan mak, misalnya mak Ngah, mak Lembang, mak Datuak, mak Dang, mak
Etek juo untuak mak Minah, mak Inap, mak Ida, mak Nian dst.

Saya ingat ada dulu untuk mengidentikasi "mak"nya, karena disekitar banyak
sekali mak-mak dan semua orang panggil mak sama ibunya. Maka si anak kecil
itu ditempat ramai memanggil maknya dengan ditambah namanya dibelakang.
Sungguh pintar anak ini dalam mengidentikasi secara tepat. Ilmu
komunikasinya cum laude kali ye. Misal jika Ima panggil maknya ditempat
ramai tidak salah jika dipanggil "mak Ima"

>Dulu pertama sekali saya menikah,dan tentu masih asing
>saya dan suami saya.Karena kebiasaan sewaktu
>gadis,masih pacaran istilahnya kali.Saya biasa
>memanggil "Da Rahim".Kebiasaan itu terbawa sampai
>beberapa hari saya menikah.Sampai dirumah,di
>Siantar,ibu saya menegur saya.Bilang begini :
>
>" Ima...koq panggil suaminya Da Rahim begitu, ngak
>sopan itu..harusnya dipanggil uda saja tanpa
>penyebutan nama dibelakangnya ".
>

Saya rasa panggilan ini adalah identifikasi tsb. Kalau memanggil uda hanya
dia seoarng yang uda disitu, ya cukup panggil uda saja. Tapi kalau beberapa
uda tentu ditambahkan identifikasi lainnya, tambah namanya. Saya rasa ini
termasuk suami sekalipun. Tapi kalau sudah jelas berbicara berdua iya jangan
ditambah namanya lagi. Dan kalau hanya ada satu uda disitu juga nggak usah
ditambah identifikasinya. Seperti contoh diatas, kalau identifikasi kata
kedua sama maka ditambah identifikasi kata ketiga, seperti conctoh diatas:
Mak Bandaro Putiah dan mak Bandaro Labiah

>Yang sampai sekarang sering jadi pertanyaan saya, :"
>Apakah terhadap mamak-mamak saya yang lain,atau
>uda-uda saya yang lain baik itu pertalian darah atau
>bukan,saya panggil nama dibelakang nama beliau-beliau
>ini, seperti mak Syamsir Alam,ketika saya berhadapan
>kelak dengan beliau(temu muka),saya panggil mak
>Syamsir juga,..atau mak Darul sendiri.
>

Saya rasa bisa saja kalau disana ada beberapa mamak. Tapi kalau hanya ciek
ya nggak usah. Tapi untuk kedekatan malah ditambah nama jadi lebih akrab
jadinya.

>Itu sebabnya ketika kita ketemu saya banyak diam,itu
>dikarenakan saya bingung,saya mau panggil apa sama mak
>Darul,juga sama etek(urang rumah mak Darul),karena
>saya lihat muda sekali waktu itu,saya panggil aja
>uni.Walau dalam hati saya kala itu heran,koq satunya
>dipanggil mamak,sementara istri mak Darul saya panggil
>uni yah..? Ngak sepasang deh rasanya.
>

Saya rasa bila buat pertama, biasa kita menanyakan sebaiknya saya panggil
apa. Kadang si Minang Modern (katanya) tidak senang dipanggil, senangnya
dipanggil tante. Dasar kemoderenan.

>
> umur 40 tahun atau bahkan 30 tahun keatas bagi saya
>yah sudah tua donk mak darul,seperti saya kan sudah
>tua.Sudah diatas 35 tahun maret nantik saya sudah 36
>tahun.( duh..kalau dihitung umur ummat
>Rasulullah,sudah setengah penghidupan yang saya
>jalani,apa yang telah saya perbuat selama ini,rasanya
>ngak banyak berbuat baik, malah dosa aja yang
>bertimbun kali)
>

Mari kita bertanya kepada rumput yang bergoyang ........... janganlah
melihat kedepan terus, sekali-kali lihatlah kebelakang, kan gitu?
>
.........................................................
>
>Tapi pada umumnya (ngak semua tentunya).lelaki kalau
>sudah menikah kenapa sering kelihatan lebih tanpak
>muda,sebaliknya wanita kalau sudah menikah dan punya
>anak kelihatan tua?(beda dengan etek dirumah,urang
>rumah mak Darul, beruntung mak darul,istri masih
>kelihatan muda, diapakan itu mak Darul,dirawat ketat
>yah..saya kira karena hati tenang dan senang  kali,
>atau karena materil cukup atau memang karena sudah
>dari sononya).
>

Bukan karena harta, tapi karena dari sono, karena disayang olehNya. Malah
kami sering menjalani hidup ini dengan keprihatinan dan perjuangan berat.
Mungkin karena sduah sering menderita sehingga derita itu sudah biasa. Hidup
adalah untuk dijalani, bukan untuk memberatkan fikiran. Serahkan saja
padaNya, bisa tenang kan?


.............................................................
>
>
>Mungkin kebiasaan memperhatikan ini adalah kebiasaan
>saya mengajar,juga karena dulu sewaktu di Diniyyah
>kita memang mempelajari ilmu Phisikologi serta ilmu
>mendidik ini, ada mata pelajaran khusus selama 4 tahun
>untuk itu, bukan maksud yang jelek deh pokonya, malah
>sebaliknya ingin tahu saja karakter seseorang dilihat
>dari wajah dan sikapnya. Kalau saya lihat
>kepribadiannya saya gampang menyesuaikan diri
>dengannya.
>
>Kalau orangnya baik, biasanya saya dekati, kalau
>orangnya tak baik,ngak pernah saya benci, tapi saya
>lebih banyak diam kepadanya.
>
>Saya suka perhatikan wajah,kepribadian murid-murid
>saya,sehingga saya gampang memasukinya, atau bergaul
>dengannya, kalau dengan murid, saya cepat memasukkan
>pelajaran kepadanya dan mendekati semua murid tanpa
>terkecuali, karena saya ngak pernah membedakan
>murid-murid saya, yang lemah otaknya biasanya
>perhatian saya jauh lebih tinggi,karena yang dikatakan
>adil bukanlah pembagian sama rata,tetapi membaginya
>sesuai denganporsi masing-masing.Dan ngak sebaliknya
>saya lihat kebanyakan guru, murid yang pintar apalagi
>yang kaya,itu yang disanjung-sanjung dan ditampilkan
>terus, saya ngak mau lakukan itu pada murid-murid
>saya, kasihan yang lemah dan miskin akan menjadi
>minder, sehingga murid bagi saya bukan sekedar untuk
>diajar saja,tetapi dididik kepribadian mereka.

Saya sependapat dengan Rahima, setiap anak didik adalah mempunyai hak yang
sama. Saya sering berteriak dalam rapat alumni yang memberi beasiswa.
Biasanya yang dapat beasiswa adalah anak yang pintar, yang rapornya bagus,
kadang malah ada yang dapat sumbangan bertumpuk. Sedang simiskin, karena dia
nggak berprestasi malah nggak dapat. Pada hal mung ketidak berprestasiaannya
mungkin saja karena kurang waktu untuk belajar, karena harus membantu orang
tua. Dan pada waktu belajar kekurangan fasilitas, tidak punya buku, pakai
lampu yang watnya kecil atau malah pakai lampu togok. Saya lebih senang
menyediakan SL (loan), karena yang sangat membutuhkan yang akan mengambil.
Pinjaman kepada orang yang butuh akan lebih besar artinya daripada pemberian
kepada orang yang tidak membutuhkannya, kan?

>
>Maaf,.karena saya melihat ketimpangan pendidikan di
>mana saya tahu di Indonesia itu.Murid yang kaya,pintar
>dan cantik saja yang sering ditampilkan kalau ada
>acara-acara,sementara yang bodoh,miskin dan jelek,
>selalu dikebelakangi. Padahal kalau saja sejak dari
>kecil dari TK atau SD, sampai SMP-universitas, semua
>murid/siswa dibiasakan berani dan bergiliran ,saya
>yakin semua kebagian sama rata dalam pembagian acara
>apa saja,ngak harus dibedakan dan muridnya,atau
>siswanya itu ke itu saja yang ditampilkan,atau diutus
>kemana saja.
>

Betul yang umum lebih baik dari yang khusus, apa lagi terlimpah pada yang
khusus saja.

>
>Wah..jangan sampai begitu donk,bukankah seharusnya hak
>tetangga dekat yang lebih kita dahulukan? Ini perlunya
>sering ada pengajian atau pertemuan di daerah kita
>masing-masing.Dengan seringnya ada komunikasi akan
>menambah kasih sayang dan persatuan ummat. Buat apa
>kaya sendiri,senang sendiri, kalau tetangga kita
>menderita. Apa tenang tuh hidup, ngak banyak
>saudara,ngak banyak tetangga, ngak banyak teman?
>

Kok kurang nyambung ya?????????? Saya bilang kedekatan kita karena
komunikasi lancar. Kalau komunikasi terhambat, tetangga saja bisa lebih jauh
jadinya. Komiunikasi lancar kan banyak juga syaratnya, salah satunya kita
senang dengan berkomunikasi dengan orang tersebut. Komunikasi nyambung.
Saling tukuak tambah alias watawa saubil haq, watawa saubil sabr (salah
tulis nggak ya)

>>
>> >
>> >Wassalam.Rahima
>> >
>> >
>> Wassl. WW
>> Darul
>


____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke