Sabili Edisi 13 :

Provokator dari Negeri Kangguru

Oleh: Irfan S Awwas
Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin Indonesia

Dialog Internasional tentang Kerja Sama Antaragama (Dialogue on Interfaith
Co operation) yang berlangsung di Hotel Mustika Sheraton, Yogyakarta, telah
usai. Acara yang disponsori Menlu RI Hasan Wirayuda dan Menlu Australia
Alexander Downer, berhasil menyepakati komitmen perlunya memberdayakan
mayoritas umat beragama yang moderat melawan minoritas kecil penganut
kekerasan. Lalu dibentuklah Center for Cultural and Interfaith Cooperation
(Pusat Kerja-sama Budaya dan Agama) di Yogyakarta.

Dialog dihadiri delegasi 13 negara. Dari Indonesia, Australia, Jepang, Cina,
Korea, New Zealand, dan negara-negara ASEAN, kecuali Malaysia. Dalam
tulisannya Alexander Downer menyatakan, pertama, pentingnya mengusung peran
penting tokoh agama dalam mem-bangun kerukunan masyarakat di Asia Teng-gara.
Kedua, meneguhkan kemauan bersama menghadapi tantangan terorisme dan
radikalisme, yang membunuh manusia atas nama agama. Ketiga, agama-agama
besar agar memainkan peran kunci dalam mempererat hubungan antarumat
beragama dalam rangka pluralisme dan multikulturalisme dalam masyarakat
dunia modern.

Ambisi yang dinampakkan Alexander Downer untuk menciptakan perdamaian di
Asia Pasifik, harus diwaspadai, mengingat reputasi PM Australia John Howard.
Sebelum ini, Howard telah membuat kesal pemerintah negara-negara ASEAN,
karena menolak menandatangani pakta non-agresi (Treaty of Amity Cooperation,
TAC) pada KTT ASEAN di Vientane akhir November 2004 lalu. Penolakan ini,
seperti disampaikan PM Malaysia, Abdullah Ahmad Badawi, mengindikasikan
bahwa Australia akan seenaknya mengambil tindakan merugikan negara anggota
ASEAN karena merasa tak terikat dengan perjanjian tersebut. Pada 2002 lalu,
Howard menyatakan bahwa negaranya menerapkan preemptive. Sehingga
dikhawatirkan Australia bisa menyerang lebih dulu negara yang dianggap
mendukung kegiatan terorisme, terutama negara berpen-duduk mayoritas Muslim.
Ancaman dan jerat terorisme di Indonesia sangat memungkinkan kejahatan itu
terjadi. Lihat bunyi Pasal 13B UU Antiterorisme: Barangsiapa menjadi anggota
organisasi teroris, mengenakan pakaian, atau perlengkapan organisasi teror
di muka umum, meminta atau meminjam uang, dan/atau barang dari organisasi
teroris; hukumannya minimal 3 tahun, maksimal 15 tahun.
Penguasa-penguasa sekular sejauh ini senantiasa menjauhkan peran agama dalam
mengelola pemerintahan. Tapi ketika gagal membangun perdamaian dunia,
tokoh-tokoh agama diajak mencari solusi. Begitupun, ketika umat beragama
menjadikan agama sebagai guidance bagi solusi damai, rezim AS, Australia,
malah menjadikan agama sebagai isu sentral pemicu radikalisme.
Agama yang diwahyukan Allah SWT, sejatinya dimaksudkan mengatur kehidupan
manusia. Karena itu, jika ajaran dari Tuhan ditolak, kemudian melibatkan
tokoh-tokoh Islam moderat untuk bersedia diajak ambil bagian pada forum
dialog perdamaian, justru pada saat sebagian umat Islam dibantai di
mana-mana, patut dicurigai.

Bagaimana membedakan antara moderat dalam beragama, dan memanipulasi agama
supaya dianggap moderat? Siapa kelompok moderat dalam beragama, dan siapa
yang dilabeli garis keras atau teroris? Kita belum pernah mendengar ulasan
yang mengaitkan tindak radikal dan terorisme dengan kebiadab-an Israel
menyerang Palestina, arogansi AS membantai rakyat Afghanistan, menjajah
bangsa Irak dan membunuh ratusan ribu Muslim yang terdiri dari anak-anak,
wanita, dan orang tua. Label teroris juga tak dikena-kan atas pemerintahan
Xanana Gusmao yang melakukan pembersihan etnis Muslim dari negerinya. Juga
tak ada yang mempersoalkan pelanggaran HAM atas kejahatan kemanusiaan
tentara Thailand. Radikalisme dan terorisme pada dasarnya tak mendapat
tempat layak pada ajaran agama apapun. Seradikal apapun sebuah ajaran atau
doktrin, takkan menghasilkan apa-apa bila tak mendapat support dari
militerisme yang bernafsu pada kekuasaan. Faktor lainnya adalah
ketidak-adilan dalam berbagai hal.

Negara-negara yang berpeluang menjadi pemicu konflik global, nampaknya ingin
menunggangi tokoh-tokoh agama untuk menyelesaikan problem dunia modern
sebagai akibat ketidakpedulian mereka pada agama. Mereka menjadikan isu
agama sebagai kuda troya untuk membasmi gerakan yang ingin
mengaktualisasikan ajaran agamanya dalam kehidupan berbangsa-negara.
Adanya dikotomi antara Islam Radikal dengan Islam Moderat yang
inklusif-liberal, haruslah dipahami sebagai provokasi asing untuk memperalat
tokoh Islam. Bahwa, yang radikal itu salah dan jumlahnya minoritas, jadi
diabaikan saja, bahkan kalau perlu tak diakui ke-Islamannya. Dengan
demikian, ada alasan bagi mereka untuk menjalin kerja sama antar
agama-dengan bantuan finansial cukup menggiurkan-sebagai modal memerangi
radikalisme dan terorisme, yaitu memerangi mereka yang bertekad menerapkan
syariat Islam di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dikotomi Islam
Radikal dan Moderat yang inklusif-liberal, dimaksudkan supaya ketika mereka
memerangi para mujahid Islam yang bersemangat menerapkan syariat Islam,
niscaya mereka terhindar dari kesan sedang memerangi Islam, bahkan mungkin
mendapat sokongan dari tokoh Islam moderat.

Persoalannya, apakah pemerintah Australia dan Indonesia sedang menggalang
kerja sama untuk memperalat tokoh agama demi kepentingan kekuasaan, atau
para tokoh agama mencoba memanfaatkan penguasa untuk melaksanakan ajaran
agama melalui kekuasaan? Kita khawatir, jangan-jangan para penguasa dan
tokoh agama bersekongkol memperalat agama untuk melawan orang-orang yang
taat beragama, yang sebenarnya, tak ada kaitannya dengan ajakan perdamaian
maupun kerukunan antar umat beragama? Karena itu, alangkah bijaksana bila
pemerintahan SBY-Kalla mencoba memahami Islam yang sebenarnya, sebagai
solusi tunggal mengatasi problem sosial dan kenegaraan di Indonesia.
Penguasa yang bijaksana takkan terprovokasi dengan propaganda asing, apalagi
memanipulasi isu terorisme untuk memenjarakan aktivis dan ulama Islam.
---------------------------------------------------------------------
Joint dengan millist "pakguruonline" kirim form ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk mangunjungi situs ini klik url berikut :
http://groups.yahoo.com/group/pakguruonline/



____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke