Sabili edisi 13 : Thailand Mencari Kambing Hitam
Tak becus mengatasi konflik dalam negeri, PM Thailand Thaksin Sinawatra menuduh Indonesia dan Malaysia sebagai sumber inspirasi kekerasan di wilayah selatan. Entah apa yang bergemuruh di benak Thaksin. Dalam pidato mingguannya melalui radio, Sabtu (18/12), kepala pemerintahan Negeri Gajah Putih menyebut otak kekerasan di Thailand selatan diilhami oleh kelompok radikal di Indonesia. "Mereka memperoleh ide-ide radikal dengan belajar di Indonesia atau dari teman-teman mereka di Indonesia, lalu dilatih di Indonesia dan Malaysia," ujarnya. Memang bukan hanya Indonesia yang disasar. Tetangga terdekatnya Malaysia, telah lebih dulu kena tuding. Wilayah perbatasan Malaysia-Thailand dituduh sebagai sarang pelatihan kelompok militan. "Mereka dilatih di hutan, di sekolah-sekolah Islam di wilayah Kelantan," tegas Thaksin. Tuduhan itu, jelas saja, mengusik ketenangan negara tetangga. Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono menyatakan akan protes jika menyudutkan Indonesia, (20/12). Menurutnya, kelompok radikal tak hanya ada di Indonesia, tapi juga di negara Asia Tenggara lainnya. Karena itu, tambah Juwono, keberadaan warga Thailand dalam pelatihan kelompok militan di Indonesia harus dibuktikan baik secara hukum maupun lewat kerja sama intelijen. Kegusaran Juwono ini dipertegas oleh Menteri Koordinasi Politik, Hukum dan Keamanan Widodo AS, "Sangat disayangkan pernyataan tersebut, mengingat diperlukan bukti terlebih dahulu," ujarnya kepada pers di kantor kepresidenan, Senin (20/12). Malaysia bersuara tak kalah keras. Ketika tengah melawat ke Dubai, PM Malaysia Ahmad Badawi mengecam pernyataan Thaksin. "Malaysia bukanlah tempat yang dapat dipakai oleh kelompok apa pun untuk merencanakan serangan ke negara mana pun," ujar Badawi sebagaimana dikutip Sunday Star. Pak Lah, panggilan akrab pemimpin negeri jiran itu, juga mengaku kecewa dengan Thailand yang tidak menggunakan jalur diplomatik. Sikap Thailand yang memilih menggunakan jalur media massa, menurut Badawi, hanya akan menimbulkan sensasi dan tidak menguntungkan siapa pun. Tak jelas apa sebabnya, Thailand telah melanggar tata krama hubungan regional. Persahabatan negara-negara Asia Tenggara yang terjalin melalui ASEAN semestinya lebih dihormati, sehingga cara yang dipilih bisa lebih bijak. "Jika pemerintah Thailand punya informasi itu, seharusnya disampaikan secara rahasia melalui jalur resmi," pesan Menteri Pertahanan Malaysia Datuk Seri Najib Tun Razak. Cara termudah bagi pemerintah Bangkok adalah mencari kambing hitam. Dengan kata lain, membagi tanggung jawab persoalan dalam negeri dengan melibatkan pihak lain. Senada dengan apa yang diutarakan oleh sumber pejabat Malaysia. Menurutnya, tuduhan Thaksin hanyalah upaya untuk mengalihkan perhatian publik yang tengah menyoroti kebijakan pemerintah Thailand dalam menangani situasi di selatan. Tapi itu belum seberapa. Munculnya pernyataan yang tanpa bukti apalagi konfirmasi ini, mengutip PM Malaysia Abdullah Badawi, hanya akan menimbulkan sensasi. Yang tercipta kemudian adalah memupuk kesan dan stigmatisasi ancaman radikalisme dan ekstrimisme umat Islam di wilayah Asia Tenggara. Di wilayah ini, Indonesia dan Malaysia adalah dua negeri Muslim terbesar. Sangat pas untuk didudukkan di kursi tertuduh. Yang sangat mungkin terjadi kemudian, bukan hanya hubungan regional yang terancam. Tapi lebih dari itu, isu "radikalisme dan ekstrimisme Islam" akan menghambat keberlangsungan aktivitas dakwah Islam di wilayah ini. Stigmasasi terorisme dan ekstrimisme, seperti yang tengah berlangsung saat ini, seakan mendapat energi baru. Dan yang jadi korban, siapa lagi kalau bukan umat Islam. (M. Nurkholis Ridwan) --------------------------------------------------------------------- Joint dengan millist "pakguruonline" kirim form ke : [EMAIL PROTECTED] Untuk mangunjungi situs ini klik url berikut : http://groups.yahoo.com/group/pakguruonline/ ____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ------------------------------------------------------------ Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib ____________________________________________________

