Dari SUARA PEMBARUAN DAILY 1 Februari 2005 kito baco: Sumber: http://www.suarapembaruan.com/News/2005/02/01/index.html

----------


Setiap Saat Palu Terancam Gempa Hebat

KOTA Palu, ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah, tercatat sebagai daerah rawan gempa karena memiliki aktivitas tektonik tertinggi di Indonesia. Kepala Pusat Penelitian Kebumian dan Mitigasi Bencana Alam (PP MBA) pada Lembaga Penelitian Universitas Tadulako (Untad) Palu, Abdullah MT, mengatakan, di Kota Palu terdapat patahan kerak bumi (sesar) berdimensi cukup besar, dikenal dengan sesar Palu Koro.

Sesar itu memanjang mulai dari Selat Makassar sampai pantai utara Teluk Bone dengan panjang patahan sekitar 500 km. Di Kota Palu, patahan itu melintas dari Teluk Palu masuk ke wilayah daratan, memotong jantung kota, terus sampai ke Sungai Lariang di Lembah Pipikoro, Donggala (arah selatan Palu).

Abdullah menambahkan, ahli geologi dan geofisika yang mengenal karatekristik sesar Palu Koro, bersepakat, sesar yang merupakan pertemuan lempeng-lempeng tektonik di bawah perut bumi itu jenis sesar aktif. Sesar itu terus bergerak satu sama lain dan memiliki sifat pergeseran sinistral (pergeseran ke arah kanan) dengan kecepatan geser sekitar 14-17 mm per tahun.

Pergeseran pada lempeng-lempeng tektonik yang cukup aktif di sesar Palu Koro membuat tingkat kegempaan di wilayah itu juga dikategorikan cukup tinggi. Catatan seismograf pada Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Palu menyebutkan, hampir setiap menit Palu dan Donggala diguncang gempa. Hanya saja getarannya kecil-kecil, dan hanya bisa dicatat seismograf.

Akan tetapi pada waktu-waktu tertentu, kata Kepala BMG Palu Suko Prayitno Adi, getarannya bisa besar, bergantung pada gesekan energi yang dikeluarkan dari sesar tersebut. ''Dengan kondisi patahan Palu Koro yang cukup aktif, dapat dikatakan setiap saat Kota Palu rawan diguncang gempa hebat," ujar Suko, Jumat (28/1).

Energi dan Panas Bumi

Peristiwa gempa bumi dahsyat disebabkan meluapnya energi dan panas bumi yang bersumber dari aktivitas tektonik sesar Palu Koro terjadi berulang kali di wilayah itu.

Gempa tektonik sangat kuat terjadi pada 1 Desember 1927. Gempa yang berpusat di Teluk Palu itu menyebabkan ratusan rumah penduduk, kantor-kantor pemerintah dan bangunan sosial lain di Palu, Donggala, dan Biromaru, hancur dan porak-poranda.

Data BMG Palu menyebutkan, 14 orang meninggal serta 50 lainnya luka-luka dalam peristiwa itu. Juga terjadi gelombang pasang setinggi 15 meter di Teluk Palu. Tangga Dermaga Talise (di pantai Teluk Palu) amblas ditelan ombak dan dasar laut di sekitar dermaga turun hingga 12 meter. Gempa itu juga dirasakan sampai di bagian tengah Sulawesi yang jaraknya sekitar 230 km.

Sekitar 38 tahun setelah itu, gempa tektonik disertai badai tsunami paling besar melanda wilayah itu, tepatnya pada 14 Agustus 1968. Gempa berkekuatan 6,0 skala Richter (SR) yang berpusat di Teluk Tambu, Kecamatan Balaesang Donggala (100 km dari Kota Palu) itu mengakibatkan sekitar 200 orang tewas serta menenggelamkan hampir seluruh isi desa di pesisir pantai barat Donggala.

Gempa yang dikenal dengan Gempa Bumi Mapaga itu, menimbulkan tsunami dengan ketinggian air 8-10 meter. Sebelum terjadi tsunami, air laut di sekitarnya surut puluhan meter. Saat air laut surut, ikan-ikan pun bergeleparan di atas pasir.

Warga nelayan Tambu yang tak mengerti peristiwa itu tanda bahaya tsunami, justru berbondong-bondong ke pantai, memunguti ikan-ikan. Tetapi, pada saat itulah tiba-tiba gulungan air laut datang, melibas habis semua yang ada di pinggiran pantai, termasuk ratusan warga di situ. Para saksi mata menyebutkan, saat terjadi tsunami, pohon-pohon kelapa di pesisir pantai, hanya kelihatan pucuknya, karena tertutup air laut.

Panik

Sejumlah peristiwa gempa bumi dahsyat lainnya dalam siklus antara tahun 1904-2004, berturut-turut pernah melanda daerah itu. Contohnya, Gempa Sausu (1994), Gempa Tonggolobibi (1995), Gempa Donggala (1998) yang menimbulkan sejumlah kerusakan dan puluhan korban jiwa. Gempa Sausu yang berpusat di Sausu, Donggala, menelan korban sekitar 30 orang tewas, dan ribuan rumah penduduk rata tanah.

Peristiwa alam mahadahsyat itu tidak pernah hilang dari ingatan masyarakat. Apalagi, sebagian saksi peristiwa mengerikan itu masih hidup. Ditambah dengan seringnya melihat rekaman gambar dari siaran berita televisi tentang hebatnya dampak gempa bumi dan gelombang tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara, tak mengherankan warga Palu dan Donggala panik ketika gempa tektonik berkekuatan 6,2 SR melanda, Senin dini hari (24/1) pukul 04.10 Wita.

Hampir semua warga di wilayah berpenduduk sekitar 500.000 jiwa itu lari kocar-kacir menyelamatkan diri. Warga yang sedang tertidur lelap, berloncatan dari tempat tidur, langsung berhamburan keluar rumah.

Terdengar teriakan bersahut-sahutan, "Air, air! Cepat lari! Air laut naik!"

Teriakan itu bak halilintar menembus telinga warga. Tak peduli keadaan saat itu, yang penting bisa lolos dari maut.

Dalam sekejap, Senin subuh itu, ruas jalan raya ke daerah puncak di sekitar Palu dan Donggala, macet total. Ribuan kendaraan dan pejalan kaki yang sedang dilanda ketakutan dan ingin menyelamatkan diri, memenuhi jalan.

Bukan hanya warga sipil, tapi juga tampak keluarga TNI, Polri, dan pejabat sipil ikut lari ke bukit-bukit. Sebagian besar memilih mengungsi ke Pegunungan Gawalise, Ngata Baru, Bukit Jabal Nur, Sigi Biromaru, Bora, Palolo, dan Bandar Udara Mutiara Palu. Warga sama sekali tak menyadari, pusat gempa justru di tempat mengungsi itu. Warga baru sadar ketika sekitar pukul 05.30 Wita, laporan RRI Palu menyebutkan gempa tersebut tidak menyebabkan tsunami. Gempa itu berpusat di darat, di dataran tinggi di Desa Bora, Kecamatan Sigi Biromaru, Donggala, atau 16 km tenggara Palu.

Sontak informasi itu membuat warga yang sudah mengungsi ke Bora dan Palolo, kembali kocar-kacir, lari turun ke Palu. Ketua DPRD Sulteng H Murad Nasir, yang dilaporkan sempat menyelamatkan diri bersama keluarganya ke vila keluarga di Bora, langsung memboyong kembali keluarganya, dengan mobil berkecepatan tinggi, kembali ke Palu.

"Padahal bapak sudah mau mandi dan tenang-tenang di Bora. Namun, begitu mengetahui di lokasi itu pusat gempa, langsung saja angkat kaki dan pulang ke Palu," ujar salah seorang sopirnya.

Apa pun alasannya, dalam kondisi panik, tak ada yang bisa menyalahkan warga, siapa pun dia, untuk berusaha menyelamatkan diri dari maut yang sedang mengintai. Ketua DPRD Kota Palu, Rusdy Mastura, menilai positif warga Palu dan Donggala berusaha lari saat musibah datang. Apalagi, warga trauma dengan peristiwa yang menimpa Aceh dan Sumut. "Hanya saja, kecemasan dan kepanikan masyarakat saat itu terlalu berlebihan, sehingga situasi keamanan sangat tidak stabil. Isu di sana-sini mengalir lewat pesan SMS. Ada yang bilang air naik, gunung meletus dan sebagainya. Saya yang sudah mengetahui informasi dari BMG Palu, berusaha menenangkan warga agar tidak panik dan kembali ke rumah. Tetapi, tidak dihiraukan. Akhirnya kita tunggu saja sampai warga tenang dengan sendirinya," ujar Rusdy.

Menyusul kejadian itu, Pemprov Sulteng bekerja sama dengan Pemkab Donggala dan Pemkot Palu kini tengah merancang suatu konsep ansitipasi bencana alam, khususnya kepekaan terhadap kemungkinan terjadinya bencana. Peristiwa kocar-kacirnya warga saat terjadi gempa Senin itu, dianggap sebagai akibat tak adanya sistem informasi gempa yang memadai.

Warga kehilangan arah dan lari membabi-buta, padahal kondisi sebenarnya tidak mengkhawatirkan. "Konsep antisipasi dini atas bencana alam ini sedang disusun bersama Pemkab Donggala dan Pemkot Palu," ujar Gubernur Sulteng HA Ponulele, seusai pertemuan dengan DPRD Sulteng membahas masalah gempa bumi.

BMG Palu sendiri saat ini tengah memasang empat alat deteksi gempa yang khusus memantau dan mencatat secara cepat aktivitas patahan Palu Koro. Keempat alat canggih itu masing-masing dipasang di Desa Paneki Kecamatan Sigi Biromaru, Desa Sadaunta Kecamatan Kulawi, Desa Baluase Kecamatan Dolo, dan Desa Labuantoposo Kecamatan Sindue, Donggala.

"Pemasangan alat ini dimaksudkan untuk bisa mendeteksi secara cepat setiap aktivitas patahan Palu Koro yang gerakannya cukup aktif sekaligus hasil-hasil analisisnya," ujar Suko.

Selama ini, analisis data kejadian-kejadian gempa yang terjadi di Sulteng, masih dilakukan secara terpusat di Pusat Gempa Nasional (PGN) Jakarta. Tapi, dengan adanya keempat alat itu, BMG Palu sudah dapat menganalisis sendiri setiap pergerakan patahan Palu Koro.

PEMBARUAN/JEIS MONTESORI S


---------- Last modified: 1/2/05

Internal Virus Database is out-of-date.
Checked by AVG Anti-Virus.
Version: 7.0.300 / Virus Database: 265.6.10 - Release Date: 1/10/2005
____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke