--- Andrinof Chaniago <[EMAIL PROTECTED]:
Pengantar
Kemarin Sabtu 27 Februari 2005, telah terbit iklan satu halaman penuh 
di Harian Kompas dengan judul, "MENGAPA KAMI MENDUKUNG PENGURANGAN SUBSIDI
BBM?".
Banyak alasan untuk patut menyatakan penyesalan atas iklan tersebut. 
Antara lain, dari arahan isinya, dorongannya untuk melahirkan 
kebijakan publik yang tidak bijak, dan juga karena terdapatnya 
sekumpulan nama yang selama ini dikenal sebagai tokoh-tokoh bijak, 
intelektual, dan aktifis berpangaruh luas.

Mengiringi rasa penyelasan tersebut, pada hari kemarin juga kami telah 
mengeluarkan pernyataan
tertulis yang dibacakan di Cafi Venezia, Taman Ismail Marzuki, Sabtu, pukul
16.30 WIB. Berikut adalah pernytaan yang dibacakan kemarin.
 
Terima kasih,
Andrinof A. Chaniago

PERNYATAAN MENENTANG IKLAN PERNYATAAN 
"MENDUKUNG PENGURANGAN SUBSIDI BBM"

Kami setuju bahwa pemerataan subsidi adalah kebijakan yang tepat bagi 
masyarakat Indonesia
keseluruhan saat ini. Kami juga setuju bahwa harga yang harus dibayar oleh
masyarakat terhadap suatu barang atau jasa privat harus rasional dan
bersifat mendorong efisiensi dan produktifitas ekonomi. 
 
Namun hendaklah disadari bahwa untuk kondisi masyarakat Indonesia saat 
ini, kita tidak boleh membuat kebijakan publik yang dibuat berdasarkan 
perhitungan-perhitungan teknis matematis dan asumsi-asumsi rasional 
saja. Setiap barang dan jasa yang dikonsumsi secara massal, akan 
mengandung unsur kepentingan publik baik karena mengkonsumsinya secara 
langsung maupun karena efek berantai
(multiplier dari barang tersebut. 
 
Dampak dari kenaikan harga barang publik ataupun barang yang di 
dalamnya tergantung kepentingan publik, tidak bisa disederhanakan 
perhitungannya
dengan menggunakan metode matematika semata. Dari aspek
sosial-ekonomi, kondisi masyarakat Indonesia yang ditandai dengan 
jumlah penduduk yang sangat besar (lebih dari 220 juta jiwa) dengan 
pengelompokan sosial-ekonomi yang sangat kompleks  sehingga tidak 
bisa dikelompokkan secara sederhana menjadi tiga kelas sosial saja - , 
perlu diperhatikan dengan
cermat dalam menentukan sasaran-sasaran kebijakan publik. Sedangkan dari
aspek politik, pemerintah dan budaya, sudah lama juga terbukti bahwa lembaga
pemerintah, aktor-aktor dalam pemerintah dan di luar pemerintahan dan budaya
politik yang hidup di dalam birokrasi dan di komunitas bisnis dan politik,
tidak pernah siap menjalankan kebijakan-kebijakan publik yang menggunakan
asumsi-asumsi rasional tadi.
 
Kami memandang isi dari pernyataan sekelompok orang, yang terdiri dari 
aktifis LSM, profesional, pengamat ekonomi, politisi, pengusaha, dan 
pejabat di dalam pemerintahan, yang menyatakan MENDUKUNG PENGURANGAN 
SUBSIDI BBM sebagaimana dimuat sebesar satu halaman di Harian Kompas, 
Sabtu, 26 Februari 2005, telah mengabaikan sejumlah faktor penting 
dalam proses pembuatan kebijakan publik.

Analisis ekonomi yang dijadikan dasar bagi para pendukung pengurangan 
subsidi BBM itu mungkin benar di atas kertas atau benar menurut 
program komputer.
Tetapi, secara empiris di masa lalu, maupun kemungkinan di masa 
datang,  prakteknya belum tentu benar untuk kondisi di masyarakat 
Indonesia.
Alasannya, pertama, mengenai kemiskinan akan berkurang dengan adanya 
pengalihan subsidi itu belum
pernah teruji. Belum pernah ada evaluasi atas kebijakan
serupa tentang pencapaian sasaran penurunan angka kemiskinan. Analisis 
tersebut jelas mengabaikan faktor-faktor politik, sosial dan budaya 
yang nyata-nyata masih ada dan belum  berubah, seperti kapasitas 
pemerintahan dengan birokrasi pelaksana dan pengawasan yang lemah, 
mental korup dan
oppurtunis aparat dan agen masyarakat yang dilibatkan,
kompleksitas pengelompokan sosial yang berbeda dengan yang diasumsikan 
oleh analisis LPEM FE UI,
dan
sebagainya.

Kami melihat sebagian isi penting pernyataan di dalam iklan yang 
dibuat oleh para pendukung
pengurangan subsidi BBM tersebut bisa menyesatkan pembuatan kebijakan publik
yang masalahnya bersumber dari masalah manajemen fiskal yang salah satu
solusinya
ingin dipecahkan dengan cara menaikkan harga BBM.
Bahwa harga BBM dianggap tidak rasional tidaklah salah. Tetapi bahwa 
dengan menaikkan harga BBM sebesar 30% lalu meningkatkan subsidi 
kepada
kelompok yang disebut kelompok miskin oleh para pendukung pernyataan tadi
akan menjadikan jumlah mereka turun dari 16,25% menjadi 13,87%, adalah sama
dengan menyederhanakan persoalan sosial, politik dan ekonomi Indonesia.
 
Kebijakan dengan hitungan-hitungan seperti di atas tidak dijamin akan 
efektif, karena:
-Tidak memperhitungkan bagaimana kebijakan harus
dibuat dan diimplementasikan;
-Tidak memperhitungkan masyarakat yang berada dekat
garis kemiskinan, atau golongan masyakat selain
golongan yang berada di lapisan paling bawah;
-Tidak memperhitungkan  bahkan dengan nilai
ekonomis  sekalipun  biaya atau timbulnya gejolak, penyelewenagan, 
moral hazard, korupsi  yang masih sangat mungkin terjadi dalam 
situasi sekarang. Biaya tersebut tentu akan diambil dari modal yang 
seharusnya bisa dialokasikan untuk kepentingan
masyarakat;
 
Mengingat rekomendasi itu bisa menyesatkan pembuat kebijakan dan akan 
merugikan masyarakat, maka kami meminta kepada para pendukung 
pernyataan yang diiklankan tersebut agar mencabut dukungan mereka dan 
membiarkan proses pencerdasan bangsa berjalan
secara sehat, yakni tidak ditentukan oleh ketenaran, dana berlebih yang
dimiliki dan kedekatan dengan
pemerintah.
 
Kami juga menghimbau Pemerintah agar membuat kebijakan publik yang 
bertolak dari perhitungan
harga BBM yang disusun secara komprehensif. Kebijakan yang komprehensif
dimaksud adalah kebijakan yang
memperhitungkan dengan cermat dan detil sebab-sebab selisih antara 
harga BBM di Indonesia dan di luar negeri, berapa ukuran kenaikan 
harga BBM yang tidak akan menimbulkan masalah baru dalam masyarakat 
dengan pemetaan golongan-golongan masyarakat secara
tepat dan biaya-biaya yang akan timbul atas gejolak-gejolak sosial yang
muncul. Selain itu, pemerintah juga
harus menyadari dan  memperhitungkan kapasitas
kelembagaan birokrasi dan budaya kerja para birokrat ini yang nantinya akan
sangat mempengaruhi efektifitas
kebijakan yang dibuat.

Jakarta, 26 Februari 2005


Andrinof A. Chaniago, Pengajar Ekonomi Politik UI Amir Hussin Daulay, 
Gerakan Rakyat untuk Demokrasi Farid Gaban, Reform Institute Indra 
Jaya Piliang, CSIS/YHB Sri Budi Eko Wardhani, Pusat Kajian Ilmu 
Politik UI Agus Lenon, LaPASIP M.Thoriq, Jakarta Review Arwin Lubis, 
Gerakan Rakyat untuk Demokrasi Andy W Syahputra, GOWA Pontas Limbong, 
profesional Israr Iskandar, CIRUS




____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke