Assalamualaikum.Wr.Wb.

Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, sudah cukup
lama  hampir sebulan rasanya, baru sempat membalas
mail ini. Terkadang justru mail orang yang dekat,
sering lambat saya membalasnya ketimbang mail bagi
mereka yang baru kenal. Saya yakin dan berbaik sangka
bagi yang merasa dekat tentu ngak akan marah atau
tersinggung bila mail itu lama saya balas, karena
orang yang dekat lebih tahu siapa saya kondisi
kesibukan saya ketimbang yang baru kenal.

Saya komentari paragraph dibawah ini :

Saya tahu dari teman saya
bagaimana keluarga Rahima bahagianya, bagaimana Rahima
sabarnya, cerdasnya. Maaf, saya bukan memuji, tapi
saya
percaya sama teman saya. 

Memang, sebagian orang Minang masih begitu, masih
tertutup,
dan seyogiyanya dari situs ini mereka harus belajar
banyak.
Agak susah memang memberi pengertian kepada orang
lain.
Mengerti saja susah, apa lagi membuat orang lain
menbgerti
 
Terimakasih atas kepercayaan terhadap saya dan
keluarga saya. Iyah benar,.keluarga saya adalah
keluarga yang bahagia, karena bahagianya sampai dapat
gelar " Pasangan Ideal " selama tiga kali perlombaan
tiap tahun berturut-turut.

Menurut yang saya dengar dari kakak2 saya, mereka
mendengar sendiri dari ibu saya yang tinggal di Mesir
bersama kami selama 7 bulan lamanya, juga ponakan saya
yang tinggal di Mesir bersama kami selama 2 tahun,
mengatakan hal yang sama. "Keluarga Bahagia, dan
tenang", begitupun dengan pengakuan bundo Nismah
sewaktu ke Kairo. Jadi semua bukan dibuat-buat, tapi
memang begitu adanya. 

Mudah-mudahan begitu selamanya, karena kita tak tahu
masa yang akan datang, tapi kami selalu do the best
for our children and our country. Negara yang baik,
bila terdiri dari kumpulan-kumpulan keluarga yang
baik, terdiri dari kesatuan suami/istri dan anak-anak
yang damai dan bahagia.



Soal orang Minang masih tabu,.saya rasa, itu biasa
saja, karena saya juga punya suami Minang tulen, jadi
wataknya ngak begitu jauh beda, namun hal ini
sebenarnya sudah terjadi semenjak zaman Rasulullah dan
sahabat dulu. 

Ada para sahabat yang terbuka ada yang tertutup.
Yah,.itulah namanya manusia, ngak mungkin sama.
Listrik akan ada, bila pertemuan antara negative dan
positif. Perbedaan-perbedaan dimana saja pasti akan
kita temui. Hanya saja tinggal kitanya saja lagi
bagaimana cara menyikapi perbedaan itu.

Zaman Rasulullah,.ada seorang wanita yang berani
bertanya masalah keinginannya untuk punya anak. Namun
sang suami ngak mau atau boleh dikatakan "impotent".
Suatu hal yang sebenarnya malu untuk ditanyakan atau
menceritakan problema keluarganya bagi sebahagian
orang. Bagi sebahagian lagi merasa tidak begitu. Kita
harus pandai-pandai bersikap, jangan pukul statistik
rata saja semua manusia. Bagi yang bertanya, ia
beruntung tahu bersikap bagaimana menurut agama dalam
menghadapi problema semacam itu.

Ketika ia mengeluh pada Rasulullah SAW akan
keimpotenan suaminya . Rasulullah menjawab,.coba kamu
lakukan hubungan intim itu pada pagi hari, karena
biasanya pagi hari, bangun tidur (maaf) penis lelaki
itu tegak. Bahasa Arabnya dipakai kata-kata " Hatta
yataharrak Assyeikh..?".

Orang yang ngak tahu bahasa Arab dan kronologi
ceritanya, akan repot menduga, dan yang dimaksud
syeikh adalah orang yang sudah tua, padahal disini
dimaksudkan syeikh adalah  batang penis lelaki.

Ketika wanita itu menjawab : " Walaupun pagi,.ngak
bisa juga,.bagaimana ya Rasulullah,.aku ingin anak !".

Jawab Rasulullah SAW : " Bersabarlah dulu sampai Allah
membukakan jalan untukmu".

Dalam jawaban tersebut ada dua hal bisa diambil
hikmahnya,.bagi seorang wanita yang mendapatkan suami
yang impotent apa sikapnya,.apakah bisa minta cerai,
sedangkan minta cerai suatu hal yang dibenci
Allah,.sementara bukankah tujuan pernikahan itu salah
satunya adalah untuk mengembangkan keturunan..?

Nah,.siwanita tadi berani bertanya, agar segala sikap
perilakunya tidak jauh dari koridor agama. Sementara
ada wanita lain yang karena malu, ngak mau bertanya
dan melakukan saja sekehendak hatinya.

Hikmah lainnya, wanita bisa menunggu untuk bersabar
sampai apa yang sepantasnya ia lakukan bila menghadapi
problema semacam ini.

Suatu hal yang tabu bukan?.
Begitu juga permasalahan air mani , air madzi air
waadi yang keluar dari "sesuatu" lelaki dan wanita,
bagaimana hukumnya. Kalau hal ini tidak diketahui,
bisa-bisa salah kita dalam menjalankan agama kita.
Bagi orang yang malu bertanya, ia akan tahankan saja.
Padahal dalam permasalahan semacam ini sudah ada
jawabannya dizaman Rasulullah dan para sahabat. 

Sebagaimana pernah terjadi persangkaan para sahabat
mengenai masalah bekas kain air mani, apakah boleh
dibawa shalat atau tidak. Padahal air mani itu tidak
najis. Aisyah mengatakan, bahwa rasulullah pernah
shalat memakai kain yang ada bekas air mani beliau,
setelah dilap saja, ngak perlu dicuci habis.

Begitulah seterusnya dalam masalah-masalah yang
sedikit sensitive bagi sebahagian orang, sementara
bagi sebahagian yang lain, terutama biasanya bagi
orang yang tahu agama, menjelaskan permasalahan fiqih
semacam itu biasa saja.



Dan dalam kesabaran, bukan saya aja yang bersabar
dalam menghadapi liku-liku RT, namun suami juga sangat
sabar menghadapi kerikil-kerikil itu, beliau adalah
seorang suami  dan ayah yang menurut saya sangat baik,
patut dijadikan contoh tauladan figur seorang suami
yang sabar, penyayang, manja , kebapakan, seorang
pemimpin RT yang tegas,sulit saya dapatkan suami
seperti beliau, saya bersyukur Allah mempertemukan
saya dengannya, walau untuk mempersatukan cinta kami
tak sedikit alang merintang yang kami terima sebelum
merajut mahligai RT, tidak segampang yang dibayangkan.


Sulit memberi pengertian pada keluarga saya menikah
dengan seorang mahasiswa yang belum mempunyai
pekerjaan mapan, sehingga keluar dari mulut salah
seorang dari kakak saya : " Cinta bukan
segala-galanya, hidup perlu material, bukan cinta, apa
makan dengan batu bisa tanpa ada pekerjaan yang tetap?
Saya dengan tenang menjawab :

 " Asalkan jangan calon suami saya itu makan nasi aja,
sementara  saya disuruh makan batu, kalau sama-sama
makan batu kenapa,.apa salahnya,.tokh..manusia juga
diciptakan dari tanah, kembali ketanah dan makan
berasal dari tanah juga, kenapa sih harus takut, apa
materi juga penentu kebahagiaan hidup seseorang?".
Anehnya,.kenapa hidup susah, ngak ada duitpun perasaan
bahagia dan tenang saja perasaan saya dari dulu sampai
saat ini. Entahlah,.apa karena saya tak memandang
dunia ini tujuan hidup, atau karena memang saya ngak
begitu silau mata akan materi,.saya sendiri juga kagak
tahu kenapa?



Di dalam RT,.Allah sudah katakan : "Istri-istrimu
adalah pakaian kamu, dan kamu adalah pakaian mereka".

Kita harus sadar fungsi pakaian itu untuk apa,
begitulah fungsi pasangan buat diri kita.

Mendapatkan pakaian yang kita pilih sendiri jenis
kainnya, kita tenun , kita sulam dan rajut, kita
jahit, kita yang menentukan model pakaiannya, kemudian
kita pula yang memakainya, hal ini jauh lebih nikmat
dipakai dan dirasakan ketimbang memakai pakaian yang
sudah jadi.

Fungsi pakaian untuk menutupi tubuh dari sengatan
matahari, hujan, juga menutupi aurat kita, Allah
berfirman " Libaasuyyuwaariisauaatikum ", untuk
keindahan dan sebagainya. Begitulah fungsi pakaian
bagi pasangan suami istri itu. Karena itu
pergunakanlah pakaian itu sebaik-baiknya sesuai dengan
fungsinya.

Rasulullah bersabda : " Dinikahi wanita itu dengan
empat macam, dengan hartanya, keturunannya,
kecantikannya agamanya, maka pilihlah olehmu karena
agamanya, pasti engkau akan beruntung ". Itu jaminan
dari rasulullah SAW, bukan dari saya.

Bagaimana kita akan memilihkan seorang ibu bagi
anak-anak kita kelak, kalau sang ibu "ngak jelas
agamanya"? tentu sang anak tak pandai pula mengenal
agamanya.
Bagaimana kita memilih seorang ayah bagi anak-anak
kita, kalau sang suami tidak bisa dijadikan
panutan/contoh tauladan dan pemimpin dalam kehidupan
RT kita?. Bukankah Allah sudah berfirman : " lelaki
itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, dengan kelebihan
yang diberikan pada mereka, dan  karena nafkah yang
diberikan oleh mereka ".

Fungsi pakaian untuk menutup aurat kita. Pasangan juga
berfungsi untuk menutup aib kita.

Karena itu, sesuaikan dan letakkanlah segala sesuatu
itu pada tempatnya. Sebagaimana yang disinyalir dalam
ilmu mantiq dan ilmu bahasa : "Likulli maqaal makaan,
walikulli makan maqaal ".

Allah sudah memperingatkan kita jauh hari dengan
firmanNya : " Dan hendaknya takutlah kamu akan
meninggalkan keturunan yang lemah (lemah phisik dan
mental, lemah spiritual, rohani, agama, dan
meterialnya),.diulang/dipertegas lagi dalam ayat itu
juga,  dengan mengatakan,  takutlah kamu atas
kelemahan mereka,..maka bertakwalah kamu pada
Allah,.dan berkatalah akan perkataan yang benar
(jujur). 

Saya sambung dengan komentar yang lain lagi :

1. Setelah 20 hari gempa, ketemu satu mayat gadis, di
darat, (bukan di air, karena air danb lumpur yang
bergaram
membuat mayat itu diawetkan). Mayat tersebut sangat
utuh
untuk ukuran 20 hari, tidak berbau, jilbabnya masih
terpasang. Saat diperlihatkan kepada ibunya, sang ibu
tersenyum melihat jenazah anaknya. Ternyata anaknya
itu
(seorang gadis tadi) adalah "hafizah",penghafal Al
Qur'an.
Apakah jaminan Allah terhadap penghafal Al Qur'an?
Beri
saya dalil yang banyak.

Jelas jaminan Allah bagi siapa saja yang mempelajari
AlQuran, mengajarinya, menghafalnya,dan
mengamalkannya, serta tujuan mempelajari, mengajari,
dan menghafalnya adalah tujuan untuk ridha Allah
semata, tidak untuk tujuan duniawi, maka tiada lain
selain syorga. Ayat dan hadist-hadist bagi mereka yang
memelihara AlQuran ini cukup banyak. Salah satunya
disebutkan fadhilah, atau keutamaan begi mereka yang
menghafal AlQuran dan mengamalkannya.

Dari  kitab sunan Nasai, diriwayatkan dari Anas ra
berkata. Rasulullah SAW bersabda : " Sesungguhnya
Allah SWT, menjadi ahlinya manusia ". Dikatakan : "
Siapa mereka wahai Rasulullah?" beliau bersabda : "
Mereka adalah ahli Allah dan kekhususannya " ( Yang
dimaksudkan ahli disini Dr Mustafa Murad mengatakan
dalam bukunya " kaifa tahfadzul Quran= bagaimana cara
menghafal AlQuran " :

Mereka ahli penghafal AlQuran dan mengamalkannya,
wali-wali Allah dari manusia. Dan bukan dikatakan ahli
yang hanya sekedar menghafal saja, tanpa
mentadabburkannya juga mengamalkannya.( Imam
Qasthalani).

Sementara dalam penjelasan hadist sahih Muslim oleh
Imam Nawawi pada sebuah hadist yang cukup panjang
mengenai penghafal AlQuran ini. Dengan makna
keterangan hadist, dikatakan bahwa :

Orang yang menghafal AlQuran diumpamakan dengan safir
( Duta besarnya Allah untuk manusia lainnya,
sebagaimana para Malaikat dubesnya Allah untuk
menyampaikan wahyu kepada para Nabi dan Rasul). 

Mana lagi kedudukan yang paling tinggi, kalau tidak
kedudukan kita disamakan dengan  para Malaikat sebagai
dubesnya Allah?

Dalam hadistpun disebutkan, kalau memilih seseorang
menjadi Imam dalam shalat, maka hendaklah diutamakan
diantara mereka yang dipilih adalah yang penghafal
AlQuran, bukan sekedar ulama, atau ustadz saja. Disana
ada kaum cerdik pandai, ulama, dan ada juga penghafal
AlQuran, maka diutamakan menjadi Imam adalah yang
penghafal AlQuran. 

Abdurrauf Al Manawi dalam bukunya " Faidul Qadir"
8/114 mengatakan ttg sebuah hadist: 

"Barang siapa yang menghafal AlQuran, maka baginya
pahala kesenangan dari Allah ta'ala, berupa tidak
hilang akalnya sampai ia mati, yakni akalnya selalu
ada dan cukup, tidak dicampuri kotoran ". Namun hadist
ini punya kelemahan di sanad perawi bernama " Rasyid".
Sebahagian ulama mengatakan " Laabaksa bihi, ngak
apa-apa, biasa saja , sementara An Nasai mengatakan
matruk, alias ditinggalkan/ngak bisa dipakai perawi
yang bernama Rasyid ini. Allahua'lam


2. Beberap hari yang lalu, relawan PMI juga ketemu
satu
jenazah laki-laki tua, juga di darat, (di gurun
maksudnya).
Juga utuh, tidak bau, dan hitam di keningfnya semakin
jelas, sementara wajahnya putih bersih dengan
jenggotnya.
Ternyata beliau ini adalah seorang imam meunasah
(surau)
kecil di kampungnya. Apakah ada jaminan Allah terhadap
seorang iman Meunasah tersebut? Ajari saya dengan
dalil Al
Qur'an dan Hadis. Saya saat ini pegang Bulughul Maram
Al
Hasan.

Mengenai menjadi Imam di mesjid ini, ada hadist mauquf
dari Ali ra : Beliau mengatakan : " Kalaulah seseorang
 tahu betapa beratnya tanggung jawab menjadi imam itu,
pasti ngak akan ada yang mau jadi imam shalat".

Kalau kita tahu betapa berat tanggung jawab imam,
tentu apabila tanggung jawab tersebut dilaksanakan
dengan baik, maka pahalanyapun akan besar juga.
Bukankah begitu?

Jadi ambo ingin batanyo baliak ka nan ahli, dek dari
dulu ambo iyo 
maraso
bahaso mambaco terjemahan al Qur'an jauah lebiah baiak
bagi ambo nan 
indak
mangarati bahaso Arabko. Daripado bantuak keledai
mambaco, itulah 
pikiran
ambo. Apokoh ambo salah, kalau manuruik ustadz tadi,
dek itulah paralu
baraja bhs Arab. Dek utak lah modong kali, lai dicubo
baraja, sarik 
bana
masuakno, indak baraja dalam babarapo hari, lupo lo
baliak.

Maaf mak Darul, saya menjawab ini, bukan berarti saya
ahlinya, tapi karena kebetulan permasalahan yang mamak
tanyakan berkaitan dengan yang ditanyakan oleh salah
seorang netter via japri ttg penghafal AlQuran, dan
saya disamping kesibukan yang padat selalu kalau ada
waktu dicelah-celah keramaian dan kesibukan itu
menyempatkan diri untuk membaca, ketimbang bercerita
yang ngak karuan atau menunggu pengunjung/pembeli
datang. Saya sedang membaca buku mengenai adab-adab
orang yang membaca AlQuran karangan Imam Nawawi.

Saya jawab aja :

Allah berfirman : " Innaa anzalnaahu Quraanan
'Arabiyyan" ( Sesungguhnya kami menurunkan AlQuran itu
dalam bahasa Arab).

Jadi benar kecek ustadz mak Darul itu. Itu sebabnya
kita berusaha untuk mempelajari bahasa Arab itu,
karena ia adalah bahasa AlQuran.

Walaupun sarik bana mempelajarinya, jangan khawatir
mak darul, karena dalam hadist Rasulullah SAW ( shahih
Muslim, berkaitan dan bersambungan dengan hadist yang
saya sebutkan diatas sekali, mengenai penghafal
AlQuran dubesnya Allah) ada disebutkan bahwa : Bagi
mereka yang mempelajari/membaca AlQuran dengan
terbata-bata, maka bagi mereka pahala dua. Satu pahala
membacanya, kedua pahala terbata-bata, dengan usaha
dan upaya keras itu).

Lantas apakah mereka yang terbata-bata itu jauh lebih
banyak pahalanya, atau jauh lebih baik ketimbang
mereka yang fashih dan sudah mahir, serta mereka yang
sudah faham arti, kandungan isi AlQuran itu?

Imam Qadhi 'Iyad menjawab : " Bukan berarti pahala
yang terbata-bata lebih banyak dari yang sudah
mahir,.tidak,.bukan begitu maksudnya, tentu pahala
yang sudah mahir lebih afdhal lagi, karena sebelumnya
mereka telah banyak menghabiskan waktu, perhatian
dalam mentadabburi isi kandungan AlQuran tersebut,
sampai mereka kederajat dubesnya Allah".

Okay,.saya coba menjawab dengan keterbatasan dan
kekerdilan ilmu saya :

Bukankah dalam AlQuran banyak disebutkan : " Allah
mengangkat derajat orang yang beriman dan berilmu
beberapa derajat ".
Juga firmanNya : " Tidaklah sama orang yang mengetahui
dengan orang yang tak mengetahui "
" Tidak sama orang yang buta dengan orang yang
melihat, tidak sama orang yang duduk berdiam dirumah
dengan mereka yang pergi berjihad
fisabilillah..dst..banyak sekali ayat-ayat semacam
ini".

Kita analogikan saja : " Apakah sama sopir yang tahu
jalan dengan sopir yang tak tahu jalan dalam membawa
penumpangnya?", ataukah sama mereka yang berjalan
dikegelapan malam dengan mereka yang berjalan disiang
hari dalam melihat sesuatu yang kabur, atau
samar-samar?

Tapi jangan sampai apa yang saya sebutkan diatas
menambah lemah semangat bagi yang tidak tahu arti dari
AlQuran itu, atau yang tidak mahir dalam bahasa
Arab!..Jangan..jangan sampai seperti itu, justru
hendaknya kita berlomba-lomba dalam kebaikan, (
fastabiqulkhairaat),berusaha terus dan berusaha lagi,
bukankah dikatakan " Tuntutlah ilmu itu dari buaiyan
hingga keliang lahat " " Kata orang sono : "never old
and never late to study".

Dan sepanjang kita menuntut ilmu baik dari internet,
media massa, mesjid, ustadz2 dan sebagainya, kita bisa
dikategorikan dalam orang yang sedang menuntut ilmu,
dan naungan kepak sayap Malaikat bersama-sama orang
yang menuntut ilmu. Orang yang menuntut ilmu(tentu
yang dimaksud disini ilmu-ilmu agama), bila mati, maka
masuk dalam mati syahid. Apakah kita tidak ingin mati
syahid,.apakah kita tidak ingin jadi syafir(dubes)nya
Allah?


Dari Ibnu Mas'ud dari nabi SAW : " Bacalah AlQuran
itu, maka sesungguhnya Allah tidak akan mengadzab hati
orang yang selalu membaca AlQuran, dan perhatian
terhadapnya. Sesungguhnya AlQuran ini adalah hidangan
Allah ta'ala, maka barang siapa yang masuk dalamnya,
maka ia termasuk orang yang aman, dan barang siapa
yang mencintai AlQuran(dengan sering
membecanya,mempelajari dan mentadabburi serta
mengamalkan isi nya), beri kabar gembiralah bagi
mereka(akan syurga).(Hr. Ad Darimi).

"Sebaik-baik kamu adalah yang mempelajari AlQuran dan
mengajarkannya" (HR. Bukhari fi shahihihi).

 Rasulullah SAW bersabda : " Sesungguhnya bagi mereka
yang tidak ada sesuatupun ditenggorokannya dari
AlQuran, bagaikan rumah yang sudah roboh".(H.R. Abu
Daud, tirmidzi dan nasai, At Tirmidzi mengatakan
hadist ini hadist hasan shahih). 

Dan masih sangat banyak lagi dalil-dalil mengenai
keutamaan orang yang baca, hafal dan mentadabburi
AlQuran ini.





Ciek lai pertanyaan, apokoh memang nan al Qur'an nan
sabanano adolah 
nan
ditulih dalam bahaso Arab tu, atau inti sari dari
ajaran dari Allah SWT 
nan
dikanduang dek al Qur'an itu?

Sudah terjawab dalam firman Allah diatas, bahwa
AlQuran diturunkan dalam bahasa Arab. Namun didalam
kandungan isi AlQuran itu sendiri bermacam ragam. Ada
yang memang firman Allah untuk para nabi, rasul dan
manusia, mukmin, muslim, bani Israil dan sebagainya.

Ada yang perkataan nabi kepada kaumnya, ulama shalih
kepada anak-anaknya atau lainnya diabadikan didalam
AlQuran, namun tetap semua dalam kategori firman Allah
SWT. Ini menandakan betapa Allah menghargai manusia.

Allahu'alam bisshawaab.

Wassalam. Rahima(36thn kurang beberapa hr). Cairo 22
maret 05

Mbo tunggu, pencerahanno.

Wass. WW
St.P



                
__________________________________ 
Do you Yahoo!? 
Yahoo! Small Business - Try our new resources site!
http://smallbusiness.yahoo.com/resources/ 

____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke