Assalamualaikum.Wr.Wb.

Gejolak perasaanku begitu trenyuh, tatkala kulihat
ayahku berbaring, tertidur pulas dicelah-celah bantal
guling kepunyaan ibuku. Kupandangi wajahnya yang
begitu sayu dan letih, bekas guratan-guratan kepenatan
dan kelelahan kerja disiang hari.

Ayahku seorang pegawai biasa yang bergaji
normal-normal saja. Karir demi karir dijalaninya,
pergi pagi, pulang sore, bahkan sampai malam tanpa
mengenal lelah.

Ayahku yang hanya tammatan SMEA itu, meniti hidup
penuh dengan ketabahan, kesabaran dan keuletan. 

Tak jarang kulihat rambutnya kusut, keningnya
berkeringat penuh dengan butiran-butirandari bongkahan
air, matanya sayu, wajahnya kering bagai bebatuan yang
terkena sengit mentari, sepulang mencari nafkah demi
sesuap nasi, mengisi minyak kompor agar dapur kami
berasap.

Sering kutanya : " Ayah..kenapa ayah sering terlambat
pulang dari kerja? ".

Ayahku menjawab : " Nak,.ayah banyak pekerjaan, kalau
ayah tak kerja, bagaimana kita makan, bagaimana Shinta
sekolah, bagaimana adik-adik dan kakak-kakak
berpakaian sebagaimana teman-teman kalian berpakaian,
bagaimana adikmu yang kecil bisa bermain dengan
mainannya. Semua itu pakai duit, tak ada yang gratis
sekarang, air saja bayar, rumah saja bayar pajak,
masih untung nak, bernafas masih gratis, coba kalau
bernafas saja harus bayar lagi ?".

Pagi-pagi sekali, ayahku sudah bangun, sementara kami
masih terlelap dalam mimpi-mimpi dan bunga-bunganya
tidur, dipulau kasur yang tak bertepi, tak berbatas,
selain hanya menambah kenyeyakan mata saja.

Dan tak jarang ayahku membanguni kami agar segera
bangkit dari pulau empuk itu, mandi, berwudhuk dan
shalat, juga menyuruh kami membersihkan kasur, tak
jarang juga beliau melipat selimut-selimut kami,
karena selimut kami begitu tebalnya sehingga tak kuat
kami mengangkatnya, hanya tangan ayah yang kuat dan
tegar saja yang mampu melipat semua itu dengan begitu
rapinya.

Ayahku sering menjadi imam diantara kami, mengajari
kami tulis baca AlQuran, mendidik kami menjadi
anak-anak yang berakhlak baik, hidup dalam kemuliaan,
bersikap baik sesama manusia dan binatang, juga
ciptaan Allah lainnya, walaupun ayahku bukanlah
tammatan sekolah tinggi di Al Azhar Mesir sana, namun
ia bisa dengan fasih membaca AlQuran.

Kalau ayahku sedang sakit, biasanya ia sangat manja
dengan ibuku yang dengan sabar melayani ayah 
terbaring dikasur, menyediakan teh hangat, soup
sayuran, walau ngak pakai daging, atau ayam, maklumlah
hidup seorang pegawai biasa, sangat sulit untuk
membeli daging dan ayam yang mahal-mahal.

 Makanan kami seringnya tempe, tahu, ikan asin, ikan
teri kecil-kecil saja, namun tetap juga kami sehat,
karena ayah selalu melarang kami untuk makan yang siap
jadi(instant), atau makan dijalanan, karena ayahku
bilang kurang terjamin kesegaran dan khasiatnya.

Ayahku memang jarang, bahkan tidak suka makan diluar,
direstoran, kedai-kedai, sukanya makan dirumah,
masakan ibuku yang sederhana, tetapi segar. Kata ayah
masakan ibu jauh lebih nikmat dibandingkan makanan
direstoran Padang itu. Ayahku memang pemuji ulung lagi
menghargai hasil kerja ibuku.

Sebelum ayahku bekerja dikantoran, ia dulunya pernah
bekerja sebagai tukang angkat batu bangunan. Sungguh
menyedihkan, terkadang kaki ayah sampai luka-luka,
tangannya kasar akibat berteman dengan pekerjaan kasar
semacam itu. Badannya sedikit bungkuk akibat membawa
beban berat bebatuan dipunggung dan pundaknya.

Ada tawaran untuk berbisnis kain,.dan baju-bajuan.
Maka sempat jugalah ayahku menjadi pedagang kaki lima
di pinggiran jalan itu. 

 Sambil menjajakan dangangannya beliau berkata : "
harga murah..harga murah�siapa mau beli,.akan
beruntung..kain bagus,..baju bagus,.buatan
Indonesia,.kainnya lembut, tenunannya halus ,.hanya Rp
10.000 perlembar kain ".

Duh,..datang sipenglihat-lihat dari para ibu-ibu yang
rajin menawar dipasar,.sudah bongkar sana-sini,..tanya
harga keliling jembatan,.tawar menawar,.ngak juga
beli,.". Tinggallah ayahku menyusun kembali dan
melipat kain yang sudah digebrak gebruk oleh ibu tadi.
Namun ia tetap tabah dan sabar,.sambil berkata terus
tanpa kenal lelah, dimana simpanan suaranya sudah
mulai serak-serak kering.

Terkadang beliau pulang dengan tangan hampa, terkadang
membawa hasil yang lumayan. Begitulah hari demi hari
dilalui ayah, sampai datanglah tawaran untuk menjadi
pegawai biasa.

Karir ayahku dimulai dari kuli mengkopy-kopy ,
kemudian menanjak menjadi pegawai tetap yang lumayan
berkedudukan, sampai akhirnya ayahku memegang jabatan
kepala bagian disuatu instansi.

Namun begitupun ayahku tak pernah sombong, tak mau
korupsi.
 Kata ayahku : " Tak boleh setetes darah yang mengalir
ditubuh anak-anak ayah akibat hasil yang subhat dan
haram, tak akan berkah hidup dan ilmu anak-anak ayah
yang tumbuh dan berkembang dari hasil yang haram,
biarlah kita hidup sederhana, makan apa adanya,
asalkan kelak diakhirat sana kita bebas dari tanggung
jawab, pertanyaan : Darimana, kemana dikemanakan harta
itu kau dapat dan pergunakan", itulah yang selalu
disampaikan ayahku pada kami anak-anaknya.

Kini ayah sudah tua sekali, kulihat keriput
diwajahnya, namun masih tetap nampak bersih dan
bersinar. Beliau masih rajin shalat dan kemesjid,
membaca AlQuran, walau matanya sudah mulai kabur,
giginya sudah mulai gugur, rambutnya sudah beruban dan
banyak yang rontok, ayahku tetaplah ayahku yang dulu
masih giat bekerja, rajin beribadah, mendidik kami
anak-anaknya yang sudah dewasa dan berumahtangga,
menjaga cucu-cucunya yang terkadang lebih dari kami
memanjakan anak-anak kami.

Ayahku seorang lelaki yang tegar, sebagaimana ibuku
seorang ibu yang tangguh !.

Wassalam. Rahima. Kairo 23 Maret 05.

Inspirasi : Realita hidup dari berbagai kaum pria yang
sangat kukenal


                
__________________________________ 
Do you Yahoo!? 
Yahoo! Small Business - Try our new resources site!
http://smallbusiness.yahoo.com/resources/ 

____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke