SUARA PEMBARUAN DAILY --------------------------------------------------------------------------------
Di Tanah Rantau, Bahasa Padang pun Tak Lupa Orang Padang banyak yang menjadi pedagang kaki lima. LIMA belas tahun sudah Buyung (35) meninggalkan kampung halamannya di Pariaman, Padang, Sumatera Barat, demi mencari kehidupan yang layak di Jakarta. Selama itu, dia mencoba mengumpulkan rezeki dengan berdagang sate padang. Kakinya tak pernah lelah melangkah, berkeliling mencari pembeli sambil mendorong gerobak satenya. "Di Padang susah cari kerja. Di kampung paling cuma bisa kerja di sawah. Pernah sih saya mencoba berdagang baju di Padang, tapi hasilnya tidak mencukupi kebutuhan hidup. Makanya, saya nekat merantau ke Jakarta untuk mencoba mendapatkan penghasilan yang lebih besar lagi," kata Buyung ketika ditemui Pembaruan di bilangan Manggarai, Jakarta Selatan, baru-baru ini. Selama 15 tahun di rantau, pria berkumis tebal ini mengaku baru tiga kali pulang ke kampung halaman untuk menengok sang ibu yang mulai renta. Soalnya, biaya untuk pulang ke kampung cukup besar sehingga dia tidak bisa sering-sering pulang ke kampung. "Kalau pulang pun saya biasanya tidak lama-lama. Paling lama cuma dua minggu, soalnya kan harus dagang biar dapat uang lagi. Kalau di kampung biasanya uang cepat habis, karena harus dibagi-bagi dengan keluarga. Sebab kalau tidak diberikan, tidak enak, karena sanak saudara biasanya menganggap mereka yang di rantau banyak uang, soalnya punya pekerjaan. Apalagi kalau merantaunya sudah lama seperti saya," jelasnya. Hidup di rantau bukanlah hal yang mudah bagi Buyung. Apalagi harus hidup jauh dari orangtua dan keluarga. Tapi Ia beruntung, karena setelah lima tahun tinggal di Jakarta akhirnya Ia mendapatkan pasangan hidup. "Tinggal di kampung orang itu ada tidak enaknya karena harus hidup sendiri. Jadi senang-susah tanggung sendiri tidak ada yang bantu. Makanya saya tidak betah berlama-lama hidup sendiri, begitu pekerjaan saya sudah cukup lumayan, segera saya cari istri. Beruntung saya bisa ketemu dengan istri saya. Dia berasal dari Bukit Tinggi, dan kebetulan sedang main ke Jakarta menemui abangnya yang seprofesi dengan saya," tuturnya. Dari pekerjaannya sebagai tukang sate Padang, Buyung mengaku bisa mendapatkan penghasilan bersih sekitar Rp 30.000 - Rp 50.000 per hari. Uang tersebut dia gunakan untuk biaya hidupnya sekeluarga serta membayar sewa rumah di bilangan Tebet, Jakarta Selatan. "Sebenarnya, uang segitu sering tidak cukup untuk biaya hidup kami sekeluarga. Apalagi sejak punya anak, biaya hidupnya makin tinggi karena harus beli susu yang harganya lumayan mahal," jelasnya. Beruntung, kata Buyung, istrinya tidak hanya berpangku tangan di rumah. Setelah anak semata wayang mereka berusia dua tahun, istrinya pun membantu dengan membuka warung kecil-kecilan di rumah. "Penghasilan dari warung itu lumayan membantu, bahkan kini sedikit-sedikit kami mulai bisa menabung untuk biaya sekolah Andre kelak," katanya seraya menyebut nama anak laki-lakinya. Meski tinggal jauh dari kampung halaman, tapi Buyung mengaku, berusaha untuk selalu mengenalkan adat istiadat Minang kepada anaknya. Selain itu kadang-kadang Ia pun membiasakan berbicara dengan menggunakan Bahasa Padang kepada anaknya, agar sang anak mengerti bahasa daerah mereka. "Saat berbicara dengan istri pun saya selalu menggunakan Bahasa Padang supaya anak terbiasa mendengarnya. Sesekali, saya juga bicara dengan Bahasa Padang kepada anak, tapi biasanya cuma untuk kata-kata yang singkat. Soalnya, dia kan belum ngerti kalau diajak ngomong Padang. Nanti kalau dia tidak mengerti apa yang saya katakan dia akan tanya sama saya apa artinya. Apalagi sekarang dia sudah berusia enam tahun dan sudah kelas 1 SD. Jadi sudah bisa diajak berkomunikasi," katanya. Kini anaknya, kata dia, mulai bisa Bahasa Padang dengan cukup fasih. Walaupun belum memiliki perbendaharaan Bahasa Padang yang cukup banyak, tapi setidaknya Buyung mengaku bangga. Saat sang anak dibawa pulang kampung pada Lebaran tahun lalu, Ia dapat berbicara dengan neneknya dalam Bahasa Padang. "Cuma logatnya lucu dan terdengar kaku. Dia sih berusaha supaya terlihat bisa Bahasa Padang apalagi ketika bermain dengan anak-anak sebayanya. Lucunya lagi, logatnya yang aneh itu tetap terbawa ketika kami sudah kembali ke Jakarta, dan baru hilang setelah seminggu di Jakarta," imbuhnya seraya tersenyum. (Y-6) Tinggal di Jakarta, Tetap Jadi Datuk di Kampung Halaman Karatau madang di hulu, babuah babungo balun. Marantau bujang dahulu, di kampuang paguno balun. Secara garis besar, pepatah itu berisi petuah agar orang Minang selagi muda pergi merantau ke luar kampung. Selagi muda, mereka belum berguna bagi keluarga dan kampung halaman. Jadi, sebaiknya mereka merantau untuk mencari ilmu serta pekerjaan yang kelak dapat berguna sebagai bekal membangun keluarga dan kampung halaman. Tidak heran mengapa sejak dulu atau puluhan bahkan mungkin ratusan tahun yang lalu, masyarakat Minangkabau, Sumatera Barat, atau biasa disebut orang Minang atau orang Padang telah hidup dengan merantau ke negeri orang. Itulah mengapa mereka dikenal sebagai masyarakat perantau. Tradisi merantau itu telah diwarisi secara turun-temurun dari zaman nenek moyang mereka. "Kalau masih muda kan mereka belum ada gunanya di rumah atau kampung halaman. Jadi, mereka disuruh merantau untuk mencari ilmu dan bekal yang cukup. Kalau sudah punya ilmu serta penghasilan yang baik, barulah mereka disuruh pulang untuk membangun keluarga dan kampung halaman," jelas Ketua Umum Badan Koordinasi Kemasyarakatan dan Kebudayaan Alam Minangkabau (BK3AM), Drs H Syamsir Kadir MBA ketika ditemui Pembaruan, baru-baru ini. Bahkan menurut staf bagian Hubungan Antar Lembaga, Kantor Penghubung Provinsi Sumatera Barat di Jakarta Timur, Herman Tanjung, diprediksi jumlah orang Minang yang tinggal dan hidup di luar kampung halaman lebih banyak dari jumlah mereka yang menetap di Padang. Diperkirakan, jumlah masyarakat Minang yang tinggal di kampung halaman sekitar 4 juta jiwa sedangkan yang merantau sekitar 5 juta jiwa. "Para perantau Minang ini tersebar hampir di seluruh provinsi di Pulau Jawa, Sumatera Utara, Riau, dan Sumatera Selatan. Pokoknya, di seluruh wilayah Indonesia, bahkan sampai ke luar negeri, seperti Negeri Sembilan (Malaysia). Tapi yang paling banyak berada di Jakarta, diperkirakan hampir mencapai 2 juta jiwa," kata Herman. Meski demikian katanya, kebanyakan orang Minang perantau akan tetap mengaku sebagai orang Padang, meski telah hidup secara turun-menurun di tanah rantau. Tidak terkecuali mereka yang hidup merantau di Jakarta. Bahkan anak yang lahir di tempat perantauan pun akan tetap mengaku sebagai orang Minang. "Misalnya, kalau orang tuanya merantau ke Jakarta, kemudian anak-anaknya lahir di sini, kebanyakan mereka tetap mengaku sebagai orang Padang, bukan sebagai orang Jakarta," imbuhnya Menurut Herman, sebagian besar perantau Minang di Jakarta tetap punya ikatan emosional dan juga ikatan kekerabatan dengan daerah asalnya. Bahkan di antara kalangan elite perantau ini berperan pula sebagai datuk (penghulu), bagi masyarakat di kampung halamannya. "Dengan demikian, meski pun mereka sudah menjadi penduduk dan warga Jakarta, tetapi mereka tetap berfungsi sebagai pemimpin masyarakat (informal leader) bagi anak, kemenakan (keponakan) mereka yang berada di kampung," tuturnya. Sementara itu, menurut Syamsir, meski hidup di rantau tetapi ikatan sosial dan emosional masyarakat Minang sangat kuat, yang dimulai dari unit keluarga, dan terus berkembang menjadi ikatan sesuku, sekampung, dan nagari (desa). Karena kedekatan secara emosional itu, jangan heran kalau orang Padang yang merantau seperti di Jakarta, selalu didatangi oleh keponakan atau keluarga dari Padang. "Seperti saya, sejak menikah tahun 1971 rumah saya tidak pernah sepi dari keponakan yang ingin numpang tinggal, karena mereka harus melanjutkan studi atau mencari pekerjaan di Jakarta," katanya. Setelah mereka mapan, barulah mereka ke luar rumah dan diganti dengan kehadiran keponakan lainnya. "Mereka pun setelah mapan, juga akan ditumpangi oleh keluarga yang lain. Hal itu sudah biasa dalam kehidupan orang Minang, terutama yang di Jakarta," jelasnya. Pembaruan/Jurnasyanto Sukarno Perkumpulan Di samping itu, karena kedekatan emosional dengan daerahnya itu, kata Syamsir, orang Minang di Jakarta pun biasanya akan saling berkoordinasi dan berkumpul dengan masyarakat sesuku yang sama-sama merantau. Mereka berinteraksi dan saling bertukar pikiran dalam satu kelompok kesukuan, dari yang kecil, seperti arisan keluarga, sampai yang berskala nasional, seperti Gerakan Seribu (Gebu) Minang. Di Jakarta juga terdapat beberapa perkumpulan orang Minang lainnya, seperti Gerakan Sosial Orang Rantau (Gesor), Asosiasi Seniman Minang Indonesia (ASMI), Yayasan Rumah Gadang, BK3AM, Majelis Pembina Adat Alam Minangkabau (MPAAM), Lembaga Kesenian Alam Minangkabau (LKAM), Badan Koordinasi Ikatan Keluarga 50 kota (Bakor 50 Kota), Bakor Ikatan Keluarga (IKK) Agam, Bakor IKK Kota Padang, Bakor IKK Padang Panjang, Bakor IKK Padang Pariaman, Bakor IKK Pasaman, Bakor IKK Solok, dan lain-lain. Hubungan dengan sanak keluarga di kampung pun, kata Herman, tetap terjaga dengan baik. Selain melakukan kontak dengan sanak keluarganya di kampung, para perantau Minang ini juga mempunyai kebiasaan berkirim uang secara teratur untuk saudara-saudaranya yang tingal di kampung halaman. Berdasarkan data yang diperoleh dari Kantor Penghubung Sumbar, jumlah kiriman uang lewat wesel pos saja sejak beberapa tahun terakhir mencapai lebih dari Rp 40 miliar setahun. Bahkan, para perantau yang telah berhasil menjadi pengusaha atau pejabat tinggi seperti di Jakarta, punya kebiasaan pula menyumbangkan uang dalam jumlah besar untuk pembangunan daerah Sumbar. Menurut Syamsir, untuk mempertahankan hidupnya di Jakarta sekitar 60-70 persen para perantau Minang memilih membidangi usaha informal, seperti berdagang atau sopir. Sedangkan sisanya di bidang formal, seperti pegawai. Di Jakarta, keuletan orang Minang dalam berdagang sudah tidak diragukan lagi, terutama sebagai pedagang kaki lima. Banyak di antara mereka juga memilih membuka usaha rumah makan Padang. Hampir di seluruh wilayah di Jakarta mudah ditemui rumah makan Padang, dari mulai sekelas warteg maupun restoran berkelas, seperti rumah makan Sederhana, Salero Bundo, Natrabu, dan lain-lain. Merantau dan berhasil di negeri orang, tak membuat orang Padang lupa pada kampung halaman. Ikatan emosional yang kuat itulah menjadi salah satu keistimewaan orang Padang hingga kini, yang belum tentu dimiliki oleh etnis lain. PEMBARUAN/YUMELDASARI CHANIAGO Perantau Minang di Jakarta TRADISI merantau bagi orang Minang atau Orang Padang, Sumatera Barat, sudah berlangsung cukup lama. Namun, mereka tetap memiliki ikatan emosional dengan kampung halaman. Selain rutin pulang kampung, kiriman uang untuk keluarga dari perantauan juga tak tergolong kecil. Dari Kota Jakarta misalnya, orang Padang mengirim uang ke kampung halaman rata-rata Rp 40 miliar/tahun. Namun, upaya mempertahankan adat-istiadat serta ciri khas Islam yang dianut etnis ini, kian sulit dilakukan, khususnya bagi orang Padang yang sudah lahir di perantauan, seperti Jakarta. Mereka tak akan pernah mengaku sebagai orang Jakarta, tetapi tingkah-laku mereka belum bisa menyerupai orang Padang yang sebenarnya. O p i n i Jangan Hanya Kirim Uang DI Jakarta, terdapat dua kelompok perantau Minang. Pertama, mereka yang berasal dari Padang dan merantau ke Jakarta untuk bekerja atau melanjutkan studi. Kedua, orang Padang yang lahir dan dibesarkan di Jakarta karena orang tuanya merantau ke Jakarta. "Kelompok pertama biasanya datang ke Jakarta setelah menyelesaikan studinya di kampung, minimal sampai SMP atau SMA. Untuk kemudian bekerja di Jakarta atau melanjutkan di sini ke jenjang yang lebih tinggi lagi, seperti SMA atau kuliah," jelas Ketua Umum Badan Koordinasi Kemasyarakatan dan Kebudayaan Alam Minangkabau (BK3AM), Drs H Syamsir Kadir MBA, Ia mengatakan, umumnya orang-orang dari kelompok pertama rasa kesukuannya masih tinggi. Hal itu dapat terlihat dengan banyaknya di antara mereka yang menyatukan diri dalam kelompok yang terdiri atas orang-orang yang sekampung atau sesuku dengannya. Sedangkan pada kelompok kedua, yang rata-rata terdiri atas remaja dan anak-anak muda, rasa kesukuannya mulai berkurang. Hal itu dikarenakan adanya pengaruh yang kuat dari kebiasaan kehidupan Kota Jakarta yang modern dan plural. "Anak-anak muda itu lahir dan besar di Jakarta. Mereka sudah terbiasa dengan gaya hidup Kota Jakarta yang modern sehingga lambat laun rasa kesukuan mereka pun makin berkurang. Contohnya, kalau mereka diajak ke perkumpulan adat atau ke acara-acara kedaerahan, biasanya mereka akan menolak," tuturnya. Pengaruh gaya hidup kota Jakarta, kata dia, cukup meresahkan para orang tua. Terlebih lagi ketika nilai-nilai keagamaan pun mulai terkikis. Padahal, orang Minang terkenal sebagai pemeluk Agama Islam yang kuat. Hal itu tersirat dalam sebuah pepatah Minang yang mengatakan Adat basandi syara'. Syara' basandi Kitabullah. "Maksudnya, adat bersandikan hukum Islam yang bersendikan pada Alquran. Tapi dalam perkembangannya, kami melihat ada kecenderungan nilai-nilai keagamaan itu mulai berkurang pada anak-anak muda Minang di Jakarta. Misalnya, mereka mulai meninggalkan shalat lima waktu, mereka juga mulai enggan pergi ke masjid dan lebih suka ke tempat-tempat hiburan," tuturnya. Untuk itu, katanya, para orang tua kini berusaha keras untuk mengembalikan anak muda Minang agar kembali ke adat dan agama. Jadi, meski mereka tinggal dan besar di Jakarta tapi perilaku ke-Minang-an mereka tetap dipertahankan. "Yang membuat kami makin prihatin ketika anak-anak muda ini kembali ke kampung halaman, kebiasaan mereka yang buruk terkadang dapat mempengaruhi anak-anak muda mereka di kampung. Misalnya, kebiasaan mereka meninggalkan shalat lima waktu seringkali diikuti oleh adik-adik atau saudara mereka di kampung. Itu kan menyedihkan," jelasnya. Mandiri Masyarakat Minang, kata Syamsir, juga menganut sifat egaliter atau mandiri. Sehingga tidak banyak di antara mereka yang mau terikat dengan orang lain. Itulah mengapa banyak di antara para perantau Minang di Jakarta yang memilih bekerja atau berusaha sendiri, seperti berdagang atau menjadi sopir. Selain itu, kata dia, orang Minang juga dikenal dengan sistem sosial berdasarkan kekerabatan materineal (keturunan menurut garis ibu). Sistem ini melahirkan tatanan sosial dan sistem kepemilikan yang bersifat komunal dengan sistem pewarisan mengikuti garis keturunan ibu. Sistem materineal mengharuskan seluruh harta pusaka jatuh ke tangan para wanita. Sedangkan para lelaki hanya diberi hak untuk mengelola dan hasilnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan saudara wanita dan anak-anaknya (keponakan). "Sebab, harta pusaka itu kan milik adat tidak boleh diperjualbelikan. Kalau diberikan ke tangan lelaki, dikhawatirkan akan mereka jual untuk memenuhi kebutuhan hidup dia serta anak dan istrinya. Soalnya laki-laki di Padang kan tinggal dengan mertuanya. Kalau siang dia kerja di rumah ibunya mengurus harta pusaka keluarganya, untuk ibu dan saudara perempuan beserta anak-anaknya. Sedangkan anak-anak dia, yang ngurus pamannya atau saudara laki-laki istrinya," tutur Syamsir. Kondisi itu pun, jelas dia, membuat para lelaki Minang memutuskan untuk pergi merantau agar bisa mendapatkan penghasilan yang lebih baik. "Itulah mengapa banyak laki-laki yang merantau termasuk ke Jakarta," imbuhnya. Meski begitu, Ia menghimbau agar masyarakat perantau Minang di Jakarta tidak lupa untuk kembali pulang ke kampung halaman. Dan memberikan bantuan dalam pembangunan serta perkembangan kampung halamannya. "Janganlah merantau Cina, maksudnya kalau sudah merantau jadi lupa pulang. Tapi sesekali pulanglah dan bantu pembangunan kampung mungkin dengan menciptakan lapangan pekerjaan di sana. Jadi jangan hanya kirim uang saja, atau istilahnya berilah kail jangan hanya ikannya," tandasnya. (Y-6) ____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ------------------------------------------------------------ Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib ____________________________________________________

