http://www.mediaindo.co.id/cetak/berita.asp?id=2005040801075325
Pilkada Kabupaten Padang Pariaman Antara Lapau, Surau, dan Laga-laga
PETA politik di Padang Pariaman berbeda habitat dengan wilayah lain di Sumatra Barat. Bila di kabupaten lain, rata-rata partai politik yang mendapatkan kursi DPR berkisar 7-8, di Pariaman 12 partai kebagian kursi. Hal ini menandakan, pilihan politik setempat bukan tertuju kepada partai politik, namun lebih kepada orang. Pilihan politik tersebut sesuai dengan kultur Padang Pariaman yang berbasiskan budaya pesisir yang islami.
PADANG Pariaman adalah kabupaten seluas 1.328,79 km persegi di pesisir barat Sumatra Barat (Sumbar), persisnya membentang antara 0'11'-0'49' Lintang Selatan dan 98' 36'-100'28' Bujur Timur. Di Sumbar, Pariaman atau Piaman terkenal unik dibanding daerah lainnya.
Dari sisi budaya, Padang Pariaman bisa dikatakan sebagai daerah yang mewakili ciri khas budaya pesisir Sumbar. Layaknya orang pesisir di beberapa wilayah di Indonesia, orang Pariaman terkenal lebih terbuka, kritis, dan punya karakter lebih 'keras' dibanding daerah 'darat'.
Menurut tokoh Pariaman Dahnil Aswad, karena begitu kritisnya, rang (orang) Piaman bahkan terkenal dengan cumeeh (cemooh)-nya. ''Walau ada sisi negatifnya, namun untuk dunia politik ada positifnya, karena mereka akan kritis pada setiap calon kepala daerah yang nanti akan bertarung dalam pilkada,'' ujar Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sumbar tersebut.
Pada 27 Juni nanti, seiring pemilihan gubernur, Padang Pariaman memang akan menggelar pemilihan bupati. Dua koalisi partai sudah mendaftarkan calon kemarin (6/4) ke KPU Padang Pariaman.
Mereka yakni M Yusuf (pengusaha) dengan Isril Berd (guru besar Unand) sebagai calon bupati (cabup) dan calon wakil bupati (cawabup) dari gabungan Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) dan PNI Marhaenisme.
Kemudian, cabup dan cawabup dari PPP yang bergabung dengan Partai Demokrat, JJ Datuk Gadang (purnawirawan TNI) dan Herman Harun (mantan Kepala Dinas Pendidikan Agam). Partai-partai lain hingga kemarin (6/4) belum mendeklarasikan akan mencalonkan siapa.
Sejumlah nama yang masih mengapung, namun belum jelas akan naik dengan partai apa. Nama-nama tersebut yakni Ahmadin Algamar (pengusaha), Ali Arifin AM (Asisten I Pemkab Mentawai), Dasril (Ketua PKS Padang Pariaman), Davip Maldian (Ketua Yayasan Pendidikan Nusantara Indonesia), D Iskandar (purnawirawan TNI), dan Djamal Doa (mantan anggota DPR).
Juga, Iqbal Alan Abdullah (pengusaha), JJ Datuk Gadang (purnawirawan TNI), Martias Mahyudin (mantan Wabup Padang Pariaman), Muslim Kasim (mantan Bupati Padang Pariaman), Sidi Saidina Umar (pengusaha), Yobana Samial (notaris), Yulius Danil (Ketua DPRD Padang Pariaman), dan Osman Putra Negara.
Mereka akan bersaing agar menjadi calon dari partai-partai yang dapat kursi di DPRD Padang Pariaman. Tentunya, kecuali partai yang sudah punya calon. Komposisinya, DPRD Padang Pariaman yang memiliki total 35 kursi terdiri atas Partai Golkar 9 kursi, PAN 5, PPP 4, PKS 4, PBB 4, PDIP 3, Partai Demokrat 2, Partai Syarikat Indonesia (PSI) 1, Partai Bintang Reformasi (PBR) 1, PKPI 1, dan PNI Marhaenisme 1.
Melihat komposisi kursi di DPRD tersebut, Pariaman punya keunikan tersendiri. Jika di kabupaten/kota lain, termasuk DPRD Sumbar, partai yang mendapat kursi di DPRD hanya sekitar 7-8 partai saja, di Pariaman pembagian kursi terbagi ke 11 partai.
''Hal itu, karena masyarakat Pariaman tak terlalu mementingkan partai dalam memilih. Partai-partai kecil mendapat kursi, walau hanya satu, karena mencalonkan tokoh yang kuat di wilayah tertentu. Sehingga masyarakat setempat memilihnya, apa pun partainya,'' kata Danil Aswat.
Menurut dosen IAIN Imam Bonjol Padang Duski Samad, yang juga tokoh Pariaman, ikon budaya masyarakat Pariaman terdiri atas lapau (warung), surau, dan laga-laga (arena).
''Lapau tempat warga adu argumen dan berdiskusi tentang berbagai hal sambil minum kopi. Surau tempat ditanamkannya nilai-nilai agama. Sementara laga-laga, untuk menunjukkan aktivitas dengan berbagai kebolehan seni dan silat,'' kata doktor pemikiran Islam jebolan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah tersebut.
Bagaimana pergaulan seseorang di tengah masyarakat dalam salah satu ikon budaya tersebut, akan menentukan artinya dalam masyarakat. Dulu, ukurannya, jika tidak pernah ke lapau, bukan pula orang surau, atau tak punya kebolehan dalam laga-laga, ia takkan berarti.
Sekarang, lebih luas dari itu. Jika ia bermasyarakat, banyak berbuat untuk kerabat, nagari, dan daerah, ia akan didukung.
Hal lain yang menentukan, menurut Duski Samad, sejauh mana seorang calon didukung oleh para tuanku (ulama) Tarikat Syatari. ''Sekitar 50% warga Padang Pariaman memang menganut Tarikat Islam Syatari (tradisional rigid), sekitar 30% golongan tradisional moderat, dan 20% golongan modernis.''
Jika seorang calon sudah direkomendasikan ulama syatari, menurut Duski, ia hampir dipastikan menang. Karena warga Syatari akan patuh kepada calon yang direkomendasikan para ulama yang berpusat di Ulakan, Padang Pariaman, tersebut.
Peta politik
Mantan Bupati Muslim Kasim, menurut Duski Samad, dekat dengan para ulama di Ulakan, pusat tarikat Syarati. Sehingga, jika ia dicalonkan, posisinya diprediksi kuat untuk kembali memenangkan pemilihan. Namun, hingga kini, Muslim masih melakukan pendekatan dengan beberapa partai.
Berkaca pada hasil pemilu legislatif, sulit untuk mengarahkan seluruh ulama di Pariaman untuk mendukung satu calon. Karena, calon lainnya juga melakukan pendekatan serupa dengan Muslim. Pendekatan yang dilakukan Muslim selama beberapa tahun terakhir bisa jadi akan mentah karena pendekatan baru yang dilakukan M Yusuf dan JJ Datuk Gadang.
Calon-calon lain yang menguat untuk naik dari partai lain, seperti Iqbal Alan Abdullah, Martias Mahyudin, Sidi Saidina Umar, dan Yulius Danil tentunya telah mulai membuka jaringan ke arah itu. Yulius misalnya, jika Ketua DPRD Padang Pariaman itu jadi maju dari Partai Golkar, kansnya untuk menang pun besar.
Di luar instruksi ulama, hal lainnya yang menentukan pilihan warga adalah soal kekerabatan. Warga Padang Pariaman, dikenal punya kekerabatan yang kuat. Pemilih akan lebih dulu melirik jika ada kerabat terdekat yang menjadi calon dimulai dari tingkat keluarga, famili, kampung, nagari hingga ke kecamatan.
Setelah itu, menurut tokoh Pariaman, Rani Ismael, dukungan perantau juga berpengaruh pada pilihan warga.
Organisasi perantau Persatuan Keluarga Daerah Pariaman (PKDP) terkenal solid dan bisa mempengaruhi pilihan orang kampung. ''Jika kami pulang, orang kampung sering bertanya siapa yang akan dipilih,'' kata pengusaha tersebut.
Selain itu, sesuai karakter masyarakat Pariaman, mereka akan kritis menilai. Siapa yang dinilai punya track record paling baik dalam bermasyarakat selama ini, itu yang akan dipilih.
Dedikasi dan keteladanan para calon untuk memimpin Pariaman memang amat diperlukan. Pasalnya, menurut Duski, Pariaman masih tergolong daerah tertinggal.
''Income per kapita daerah masih rendah, usaha untuk menggratiskan pendidikan dan kesehatan selama ini tidak tepat, karena salah sasaran. Seharusnya ada subsidi silang,'' ujarnya.
Duski menilai, pemerintah Kabupaten selama ini belum serius mengelola potensi yang ada seperti pertanian dan perikanan. ''Potensi daerah tidak terpetakan dengan baik, sehingga pemerintah tidak tahu apa yang signifikan untuk dikembangkan,'' katanya.
Selain itu, beberapa kasus tanah muncul selama pemerintahan Muslim Kasim. Salah satunya, tentang masalah ganti rugi tanah warga Nagari Sungai Buluah, Kecamatan Batang Anai. Warga itu sempat beberapa kali demonstrasi ke kantor bupati, pada Oktober tahun lalu, karena tanah mereka seluas 10 hektare yang dibeli pemkab untuk perumahan PNS diganti pada pihak lain. Kasus ini masih menggantung hingga kini.
Hal lain, agaknya, yang perlu mendapat perhatian serius, tentang mitigasi bencana. Sebagian wilayah Padang Pariaman berada di pesisir barat Sumatra menyusuri garis pantai sepanjang 60,50 km.
Sehubungan dengan potensi bencana gempa dan tsunami di perairan Sumatra Barat, seperti yang dilangsir para pakar gempa, semestinya pemerintah sudah menyiapkan manajemen penanggulangan bencana. Pemerintah setempat, hingga kini belum melakukan sosialisasi kepada masyarakat di sepanjang pantai tersebut. (Hendra Makmur)
http://www.mediaindo.co.id/cetak/berita.asp?id=2005040801075326
Pilkada Kabupaten Padang Pariaman Antara Lapau, Surau, dan Laga-laga
PETA politik di Padang Pariaman berbeda habitat dengan wilayah lain di Sumatra Barat. Bila di kabupaten lain, rata-rata partai politik yang mendapatkan kursi DPR berkisar 7-8, di Pariaman 12 partai kebagian kursi. Hal ini menandakan, pilihan politik setempat bukan tertuju kepada partai politik, namun lebih kepada orang. Pilihan politik tersebut sesuai dengan kultur Padang Pariaman yang berbasiskan budaya pesisir yang islami.
PADANG Pariaman adalah kabupaten seluas 1.328,79 km persegi di pesisir barat Sumatra Barat (Sumbar), persisnya membentang antara 0'11'-0'49' Lintang Selatan dan 98' 36'-100'28' Bujur Timur. Di Sumbar, Pariaman atau Piaman terkenal unik dibanding daerah lainnya.
Dari sisi budaya, Padang Pariaman bisa dikatakan sebagai daerah yang mewakili ciri khas budaya pesisir Sumbar. Layaknya orang pesisir di beberapa wilayah di Indonesia, orang Pariaman terkenal lebih terbuka, kritis, dan punya karakter lebih 'keras' dibanding daerah 'darat'.
Menurut tokoh Pariaman Dahnil Aswad, karena begitu kritisnya, rang (orang) Piaman bahkan terkenal dengan cumeeh (cemooh)-nya. ''Walau ada sisi negatifnya, namun untuk dunia politik ada positifnya, karena mereka akan kritis pada setiap calon kepala daerah yang nanti akan bertarung dalam pilkada,'' ujar Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sumbar tersebut.
Pada 27 Juni nanti, seiring pemilihan gubernur, Padang Pariaman memang akan menggelar pemilihan bupati. Dua koalisi partai sudah mendaftarkan calon kemarin (6/4) ke KPU Padang Pariaman.
Mereka yakni M Yusuf (pengusaha) dengan Isril Berd (guru besar Unand) sebagai calon bupati (cabup) dan calon wakil bupati (cawabup) dari gabungan Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) dan PNI Marhaenisme.
Kemudian, cabup dan cawabup dari PPP yang bergabung dengan Partai Demokrat, JJ Datuk Gadang (purnawirawan TNI) dan Herman Harun (mantan Kepala Dinas Pendidikan Agam). Partai-partai lain hingga kemarin (6/4) belum mendeklarasikan akan mencalonkan siapa.
Sejumlah nama yang masih mengapung, namun belum jelas akan naik dengan partai apa. Nama-nama tersebut yakni Ahmadin Algamar (pengusaha), Ali Arifin AM (Asisten I Pemkab Mentawai), Dasril (Ketua PKS Padang Pariaman), Davip Maldian (Ketua Yayasan Pendidikan Nusantara Indonesia), D Iskandar (purnawirawan TNI), dan Djamal Doa (mantan anggota DPR).
Juga, Iqbal Alan Abdullah (pengusaha), JJ Datuk Gadang (purnawirawan TNI), Martias Mahyudin (mantan Wabup Padang Pariaman), Muslim Kasim (mantan Bupati Padang Pariaman), Sidi Saidina Umar (pengusaha), Yobana Samial (notaris), Yulius Danil (Ketua DPRD Padang Pariaman), dan Osman Putra Negara.
Mereka akan bersaing agar menjadi calon dari partai-partai yang dapat kursi di DPRD Padang Pariaman. Tentunya, kecuali partai yang sudah punya calon. Komposisinya, DPRD Padang Pariaman yang memiliki total 35 kursi terdiri atas Partai Golkar 9 kursi, PAN 5, PPP 4, PKS 4, PBB 4, PDIP 3, Partai Demokrat 2, Partai Syarikat Indonesia (PSI) 1, Partai Bintang Reformasi (PBR) 1, PKPI 1, dan PNI Marhaenisme 1.
Melihat komposisi kursi di DPRD tersebut, Pariaman punya keunikan tersendiri. Jika di kabupaten/kota lain, termasuk DPRD Sumbar, partai yang mendapat kursi di DPRD hanya sekitar 7-8 partai saja, di Pariaman pembagian kursi terbagi ke 11 partai.
''Hal itu, karena masyarakat Pariaman tak terlalu mementingkan partai dalam memilih. Partai-partai kecil mendapat kursi, walau hanya satu, karena mencalonkan tokoh yang kuat di wilayah tertentu. Sehingga masyarakat setempat memilihnya, apa pun partainya,'' kata Danil Aswat.
Menurut dosen IAIN Imam Bonjol Padang Duski Samad, yang juga tokoh Pariaman, ikon budaya masyarakat Pariaman terdiri atas lapau (warung), surau, dan laga-laga (arena).
''Lapau tempat warga adu argumen dan berdiskusi tentang berbagai hal sambil minum kopi. Surau tempat ditanamkannya nilai-nilai agama. Sementara laga-laga, untuk menunjukkan aktivitas dengan berbagai kebolehan seni dan silat,'' kata doktor pemikiran Islam jebolan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah tersebut.
Bagaimana pergaulan seseorang di tengah masyarakat dalam salah satu ikon budaya tersebut, akan menentukan artinya dalam masyarakat. Dulu, ukurannya, jika tidak pernah ke lapau, bukan pula orang surau, atau tak punya kebolehan dalam laga-laga, ia takkan berarti.
Sekarang, lebih luas dari itu. Jika ia bermasyarakat, banyak berbuat untuk kerabat, nagari, dan daerah, ia akan didukung.
Hal lain yang menentukan, menurut Duski Samad, sejauh mana seorang calon didukung oleh para tuanku (ulama) Tarikat Syatari. ''Sekitar 50% warga Padang Pariaman memang menganut Tarikat Islam Syatari (tradisional rigid), sekitar 30% golongan tradisional moderat, dan 20% golongan modernis.''
Jika seorang calon sudah direkomendasikan ulama syatari, menurut Duski, ia hampir dipastikan menang. Karena warga Syatari akan patuh kepada calon yang direkomendasikan para ulama yang berpusat di Ulakan, Padang Pariaman, tersebut.
Peta politik
Mantan Bupati Muslim Kasim, menurut Duski Samad, dekat dengan para ulama di Ulakan, pusat tarikat Syarati. Sehingga, jika ia dicalonkan, posisinya diprediksi kuat untuk kembali memenangkan pemilihan. Namun, hingga kini, Muslim masih melakukan pendekatan dengan beberapa partai.
Berkaca pada hasil pemilu legislatif, sulit untuk mengarahkan seluruh ulama di Pariaman untuk mendukung satu calon. Karena, calon lainnya juga melakukan pendekatan serupa dengan Muslim. Pendekatan yang dilakukan Muslim selama beberapa tahun terakhir bisa jadi akan mentah karena pendekatan baru yang dilakukan M Yusuf dan JJ Datuk Gadang.
Calon-calon lain yang menguat untuk naik dari partai lain, seperti Iqbal Alan Abdullah, Martias Mahyudin, Sidi Saidina Umar, dan Yulius Danil tentunya telah mulai membuka jaringan ke arah itu. Yulius misalnya, jika Ketua DPRD Padang Pariaman itu jadi maju dari Partai Golkar, kansnya untuk menang pun besar.
Di luar instruksi ulama, hal lainnya yang menentukan pilihan warga adalah soal kekerabatan. Warga Padang Pariaman, dikenal punya kekerabatan yang kuat. Pemilih akan lebih dulu melirik jika ada kerabat terdekat yang menjadi calon dimulai dari tingkat keluarga, famili, kampung, nagari hingga ke kecamatan.
Setelah itu, menurut tokoh Pariaman, Rani Ismael, dukungan perantau juga berpengaruh pada pilihan warga.
Organisasi perantau Persatuan Keluarga Daerah Pariaman (PKDP) terkenal solid dan bisa mempengaruhi pilihan orang kampung. ''Jika kami pulang, orang kampung sering bertanya siapa yang akan dipilih,'' kata pengusaha tersebut.
Selain itu, sesuai karakter masyarakat Pariaman, mereka akan kritis menilai. Siapa yang dinilai punya track record paling baik dalam bermasyarakat selama ini, itu yang akan dipilih.
Dedikasi dan keteladanan para calon untuk memimpin Pariaman memang amat diperlukan. Pasalnya, menurut Duski, Pariaman masih tergolong daerah tertinggal.
''Income per kapita daerah masih rendah, usaha untuk menggratiskan pendidikan dan kesehatan selama ini tidak tepat, karena salah sasaran. Seharusnya ada subsidi silang,'' ujarnya.
Duski menilai, pemerintah Kabupaten selama ini belum serius mengelola potensi yang ada seperti pertanian dan perikanan. ''Potensi daerah tidak terpetakan dengan baik, sehingga pemerintah tidak tahu apa yang signifikan untuk dikembangkan,'' katanya.
Selain itu, beberapa kasus tanah muncul selama pemerintahan Muslim Kasim. Salah satunya, tentang masalah ganti rugi tanah warga Nagari Sungai Buluah, Kecamatan Batang Anai. Warga itu sempat beberapa kali demonstrasi ke kantor bupati, pada Oktober tahun lalu, karena tanah mereka seluas 10 hektare yang dibeli pemkab untuk perumahan PNS diganti pada pihak lain. Kasus ini masih menggantung hingga kini.
Hal lain, agaknya, yang perlu mendapat perhatian serius, tentang mitigasi bencana. Sebagian wilayah Padang Pariaman berada di pesisir barat Sumatra menyusuri garis pantai sepanjang 60,50 km.
Sehubungan dengan potensi bencana gempa dan tsunami di perairan Sumatra Barat, seperti yang dilangsir para pakar gempa, semestinya pemerintah sudah menyiapkan manajemen penanggulangan bencana. Pemerintah setempat, hingga kini belum melakukan sosialisasi kepada masyarakat di sepanjang pantai tersebut. (Hendra Makmur)
Z Chaniago - Palai Rinuak - http://www.maninjau.com ====================================================================== Alam Takambang Jadi Guru ======================================================================
____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

