Assalamualaikum.Wr.Wb. Memang sebuah dilema pendidikan di Indonesia, kalau para cendikiawan yang dikirim atas beasiswa negara, atau juga biaya negara setempat, tetapi jalan menuju kesananya atas bantuan negara.
Yang lebih menjadi beban dan tanggung jawab lagi adalah apabila ia seorang dosen atau guru(seperti saya sendiri). Kita mahasiswa Al Azhar juga, kalau sudah magister, apalagi doktor, sering sekali mendapat tawaran mengajar di Malaysia, juga Brunai dengan gaji yang wow...masyaAllah deh.(tahu sendiri berapa gaji dosen di sana). Ada diantara mahasiswa yang terpengaruh, ada yang kagak. Alasannya bermacam, kan bisa bantu keluarga nantiknya kalau gaji besar. Saya pernah memberikan pandangan pada teman saya yang senasib dengan saya, agar jangan sampai ia betah dinegara setempat apapun alasannya, pulanglah kembali ke Indonesia, karena Indo butuh orang-orang pintar sepertinya. Dan saya akui, ia sangat pintar. Benar, gaji di Indo kecil sekali bila dibandingkan di LN yang memberikan fasilitas dan gaji tinggi, sementara kita di LN sudah terbiasa hidup "lebih enakan". Tapi dimana rasa tanggung jawab serta "hutang" kita pada negara Indonesia, yang terlebih penting adalah dengan Allah kelaknya. Ada yang bilang, yang pentingkan ilmu itu disumbangkan pada siapa saja, asal di sebarluaskan, siapa yang menerima terserah, mo Amrik kek, Jepang kek, German kek, malaysia kek,.dan kakek nenek sekalipun, terserah!. Saya jawab : " Lha,.saudara hutangkan bukan pada jepang, Amrik German, Malaysia, kakek nenek, saudara hutang pada negara Indonesia, masak saudara hutang ke Indonesia yang menerima pembayarannya negara lain..masuk akal ngak,.kita hutang pada si A yang menerima /menikmati bayaran hutang kita si B, yang enakan si B, tinggal kipas badan usap-usap duitnya? ". Okay,.kalau sadara katakan "lha,.wong kita dapat bea siswa dari negara setempat koq?" . Saya jawab : " Kamu bisa ngak ada didunia ini tanpa dilahirkan oleh ibumu?". Yang melahirkan kamu siapa, yang mengutus kamu ke LN siapa, instansi dari negara Indonesiakan?. Walau kamu setelah lahir dibiayai oleh orang lain, namun tetap yang melahirkan, apalagi kalau disusukan segala juga dibiayai oleh ibumu sampai SD, SMP, SMA dan bisa ke LN,.? Mana yang lebih berhak menerima hasilnya, Ibumukah..? atau yang biayai kamu itu, mana yang lebih berjasa yang melahirkan dengan susah payah, atau yang cuman ngebiayai berapa tahun saja..?. "Akh...susah deh kamu rahima,.kamu ngak bisa mengerti bagaimana susahnya duit di Indo, dan enaknya duit di LN!". Bagi saya, bukan masalah enak tak enak, tapi tanggung jawab dan hutang pada diri sendiri, negara. Urusan pada Allah akan diselesaikan, bila urusan dengan manusia, sudah selesai, begitulah mizan diakhirat kelak, tapi jarang diantara kita yang memahami akan hal ini. Jalan amannya adalah bayar dululah hutang-hutang kita itu, bukan dengan kurs ketika itu, tetapi kurs saat ini, karena dulu harga beras/emas tak juga sama dengan harga beras/emas sekarang. Kalau memang ngak mau ada masalah lain pas mau masuk syorga kelak(untung mau masuk syorga, yang gilanya sudah punya hutang, banyak dosa lagi, tambah lama dineraka). Jangan katung-katungkan diri tak jelas arahnya hanya karena masalah hutang ini. Hutang apapun bentuknya, hendaklah diselesaikan/dibayar selagi belum nyawa melayang, malaikat maut datang mencabut ruh dari jasad. Wallahua'lam bisshawab. Ini cuman buat motivasi dan menyadarkan diri saya saja agar pulkam kalau sudah berhasil, syukur-syukur ada yang terpanggil juga hatinya. Wassalam. Rahima ( seorang PNS, yang insyaAllah bertekad akan pulang ke Indo, mengabdi buat Indonesia, ngak peduli dengan tawaran gaji gede seabrekpun dari negara lain, atau negara setempat). --- JASMAN SAMSU <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Dari milis sabalah. Mak Ngah, indak ado makasuik > manyingguang Mamak do ! > ================================================ > > > Bila Cendekiawan Betah di Rumah Orang > [Laporan Utama, GATRA, Edisi 48 Beredar Jumat 10 > Oktober 2003] > > "Saya cuma minta fasilitas lab yang memadai dengan > akses internet > serta komitmen untuk membantu pengembangannya," kata > Dr. T. > SUDAH 14 tahun Dr. T, begitu ia mau disebut, > bermukim di California. > Bersama istri dan sepasang anak yang masih balita, > ia kini punya > gubernur baru, Arnold Schwarzenegger. Tapi, bukan > karena "sang > Terminator" itu bila Dr. T memilih menyembunyikan > jati dirinya. Dosen > pada jurusan teknik elektro di California State > University dan > konsultan pembuatan power supply untuk peralatan > militer itu "takut" > dikejar sebuah instansi pemerintah di Indonesia. > > Kisah "pengejaran" itu balik ke pertengahan 1988. > Setelah lulus dari > SMAN 13 Jakarta, ia beruntung diterima di > Universitas Indonesia dan > Sekolah Tinggi Akutansi Negara (STAN). Sebagai anak > pintar yang > bermodal cekak, anak tentara itu memilih STAN karena > alasan biaya. > "Anda tahu sendiri berapa gaji bintara TNI Angkatan > Laut," katanya. > > Namun, ada kesempatan lain yang tak kalah menarik > dari kantor Menteri > Riset dan Teknologi. Ia pun ikut tes bersama > 5.000-an siswa dari > seluruh Indonesia dan lulus seleksi tujuh tahap > bersama 200 siswa > lain. Sebelum terbang ke Amerika, ia ditatar dan > diberi nomor pegawai > sebuah instansi pemerintah. > > Singkat cerita, T lulus menjadi sarjana. Mestinya ia > segera pulang > kampung dan menjadi pegawai negeri. Tapi, ia > berhasil meraih beasiswa > dari universitas setempat dan mencapai gelar doktor. > Pulang? Nanti > dulu. Ia mencoba melamar kerja. Dr. T diterima di > beberapa perusahaan > dan dua universitas. Ia memilih jadi dosen di > California State > University. > > "Ibarat rumah, saya sudah masuk halaman, saya ingin > tahu isinya. > Sekarang saya sudah di dalam," katanya kepada Rury > Feriana dari GATRA. > Kini, Dr. T hidup lumayan. Gaji dosen universitas > negeri di Amerika > berbeda di tiap negara bagian. Di California, gaji > dasar dosen pemula > sebesar US$ 55.000-US$ 65.000 per tahun. Kalau dosen > senior atau guru > besar, bisa sampai US$ 85.000 per tahun. Dr. T tak > mau menyebut berapa > penghasilannya, tapi ia masih mendapat laboratorium > lengkap, akses > internet tanpa batas, asuransi kesehatan, mata, dan > gigi untuk > sekeluarga. > > Begitulah kehidupan ilmuwan kita yang memilih > tinggal di Amerika. > Namun, meski hidup berkecukupan, Dr. T harus > sembunyi-sembunyi. Sebab, > ya itu tadi, lari dari kewajiban. Toh, ia hanya satu > dari sekian ratus > cendekiawan kita yang hijrah ke luar negeri. > Brain-drain. > > Fenomena ini dikhawatirkan Ketua Lembaga Ilmu > Pengetahuan Indonesia > (LIPI), Prof. Umar Anggara Jenie. Menurut dia, di > LIPI ada 27 peneliti > yang "bertapa" di luar negeri. "Padahal, mereka > pergi ke luar negeri > dibiayai negara. Uangnya dari APBN," ujarnya kepada > Bernadetta > Febriana dari GATRA. LIPI, katanya, sudah memanggil > mereka pulang > lewat pihak keluarga. "Kita kehilangan kontak dengan > mereka," ia > menambahkan. > > Para peneliti yang kabur ternyata tak hanya di LIPI. > Penelusuran GATRA > di beberapa instansi pemerintah mendapatkan angka > lebih dari 100 > orang. Di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi > (BPPT), saat ini > tercatat ada 40 karyasiswa yang bermasalah. Menurut > Kepala Pusdiklat > BPPT, Untung Sumotarto, para penerima beasiswa itu > kini sedang > dikejar. > > Menurut aturan pemerintah, para penerima beasiswa > harus berbakti di > Indonesia minimal 2n+1. Artinya, kalau lama > pendidikan lima tahun, ia > mesti menebus dulu utangnya selama 11 tahun. Atau ia > harus mengganti > sebanyak dua kali dari nilai beasiswa yang > diterimanya. "Kini, 25 > orang sedang negosiasi sanksi, enam orang kami > serahkan ke kejaksaan > untuk dituntut, dan sembilan orang diserahkan ke > Dirjen Piutang dan > Lelang Negara," kata Untung. > > Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Prof. Dr. > Satryo Sumantri > Brodjonegoro, juga mengakui banyaknya para peneliti > dan dosen yang > hijrah ke mancanegara. Ia tak bisa menyebutkan > angkanya pasti. "Tenaga > kita tersebar di mana-mana. Setahu saya, paling > banyak ke Malaysia. > Ada 20 orang," katanya. > > Beberapa kampus mengalami hal serupa. Wakil Rektor > Institut Teknologi > Bandung (ITB) Bidang Sumber Daya Manusia, Dr. Ir. > Deny Juanda > Puradimaja, mengakui, dalam tiga tahun terakhir saja > ada 11 orang yang > kabur tak tentu rimbanya. ITB juga kehilangan 26 > dosen yang mundur dan > kini bekerja di luar negeri. "Mereka berangkat > dengan biaya sendiri > dan pergi baik-baik," kata doktor planologi dari > Universitas > Montpellier, Prancis, itu. Saat ini, Juanda > melanjutkan, masih ada 100 > orang yang sedang mengikuti program pascasarjana di > luar negeri. > "Sebanyak 24 orang di antara mereka kemungkinan > telah bekerja," > ujarnya kepada Mappajarungi dari GATRA. > > Pembantu Rektor Bidang Administrasi Universitas > Gadjah Mada (UGM), > Yogyakarta, Dr. Gudono mengatakan, selama 13 tahun > ini ada sekitar 50 > dosen dan peneliti UGM yang mengundurkan diri. > Memang tak ada catatan, > berapa dari mereka yang bekerja di luar negeri. > "Tapi, universitas > jelas rugi. Untuk mencetak doktor di luar negeri, > paling tidak butuh > Rp 1 milyar," kata Pembantu Rektor Bidang Kerja Sama > dan Pengembangan > Usaha, Dr. Agus Dwiyanto, kepada Sujoko dari GATRA. > Namun, ia > melanjutkan, UGM tak bisa apa-apa. "Keluar itu > keputusan pribadi. Mau > apa lagi, karena UGM tidak bisa menjamin masa depan > mereka," kata > Agus. > > Di universitas daerah, hengkangnya para dosen juga > terjadi. Pembantu > Rektor I Universitas Lampung Prof. Tirza Hanum > menyebutkan, dalam 10 > tahun terakhir, 10 dosen yang belajar ke luar negeri > tak pulang. > Sebagai pimpinan perguruan tinggi, Tirza merasa > punya tanggung jawab > agar mereka mau kembali. "Tapi, dalam hati saya > berkata, syukurlah > Anda berhasil memecahkan kesulitan sendiri," > katanya, pasrah, kepada > Sugiyanto dari GATRA. > > Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, beruntung > tak kehilangan > awaknya. "Saya bisa pastikan tak ada di Unair," kata > Rektor Unair, > Prof. Puruhito. Menurut dia, para dosen yang dikirim > ke luar negeri > selalu pulang. "Salary tidak terlalu menarik > dibandingkan dengan > kehormatan dosen," katanya kepada Mujib Rahman dari > GATRA. Selain itu, > === message truncated === __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com ____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ------------------------------------------------------------ Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib ____________________________________________________

