-----Original Message-----
From: nc [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Wednesday, May 11, 2005 8:43 AM
To: Subject:  Bush Dilempar Granat


http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=197234
<http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=197234&kat_id=248>
&kat_id=248
 
Rabu, 11 Mei 2005  8:19:00
Bush Dilempar Granat


Washington-RoL-- Sebuah benda yang diduga granat telah dilemparkan ke arah
panggung di mana Presiden AS George W. Bush sedang menyampaikan pidatonya di
Tiblisi, Georgia, Selasa.

Laporan-laporan dari negara bekas Uni Soviet itu menyebutkan seorang petugas
keamanan Georgia memungut dan membawa pergi granat tersebut, menurut seorang
anggota dinas rahasia AS.

Granat tersebut dilemparkan dalam jarak cukup dekat, berkisar 30 meter, dari
panggung di ibukota Georgia itu. Pihak berwenang setempat menyampaikan
insiden itu kepada para anggota dinas rahasia AS yang mengamankan Presiden
Bush.

Dinas rahasia AS kini sedang menyelidiki kasus tersebut. Insiden terjadi di
Lapangan Merdeka, Tiblisi, tempat berkumpulnya pendukung "Revolusi Bunga"
tahun 2003 yang menempatkan pemerintahan negara itu seperti pemerintahan
Barat.

Bush ketika itu berpidato di hadapan sekitar 150.000 warga Tiblisi.Bush
dalam pidatonya kembali menyatakan dukungan Washington bagi negara bekas
Soviet ini untuk memperoleh kembali kedaulatan atas dua wilayah separatis
pro-Moskow, selama langkah itu dilakukan pemerintah Tbilisi secara damai. 

Bush yang menjadi tamu Presiden Gerogia Mikhail Saakashvili melakukan
perjalanan selama 24 jam ke Georgia, setelah mengunjungi  Latvia, Belanda
dan Rusia. Di ibukota Rusia, Moskow, Bush bersama pemimpin Kremlin Vladimir
Putin dan 50 pemimpin dunia yang lain menghadiri peringatan ke-60 akhir
Perang Dunia II.   

Saakashvili, yang berkuasa lewat revolusi kekuatan rakyat, mengatakan
kembalinya Ossetia Selatan dan Abkhazia, wilayah yang dikuasai kelompok
anti-pemerintah, ke tangan pemerintah Tbilisi sangat penting bagi negaranya
untuk memulihkan kembali Georgia dari krisis ekonomi.

"Ini perselisihan yang harus diselesaikan pemerintah Georgia dan rakyat di
wilayah separartis itu. Amerika serikat tidak dapat memaksakan suatu
penyelesaian," ujar Bush.

Wilayah Kaukasus merupakan tempat berlangsungnya konflik lokal setelah
keruntuhan Uni Soviet. Georgia berbatasan dengan propinsi Rusia, Chechnya,
yang dilanda pergolakan politik, dan sekaligus merupakan rute bagi jalur
minyak dukungan AS yang menghubungkan ladang minyak Laut Kaspia dengan pasar
dunia.

Dalam pidatonya itu, Bush menghindari soal tuntutan Georgia yang
menginginkan Moskow lebih cepat menutup pangkalan militer era-Soviet yang
menurut Saakashvili sebagai penjajahan atas wilayah itu. 

Menurut Bush, ia telah membahas masalah itu dengan Putin, yang menjawab
bahwa pemerintahnya (Rusia) bekerja untuk memenuhi kewajiban Moskow
berdasarkan kesepakatan sebelumnya. "Saya pikir ini komitmen penting bagi
rakyat Georgia untuk mendengar hal itu," kata Bush.

Saakashvili mencerca pesta perayaan Perang Dunia II yang digelar Moskow
sebagai protes atas penolakan Rusia menyetujui penutupan pangkalan
militernya, yang menampung 3.000 tentara.

Bush merupakan presiden AS pertama yang melawat ke Georgia, negeri mayoritas
Kristen kuno di wilayah pegunungan Kaukasus.    Rakyat Georgia yang
berjumlah lima juta jiwa melihat Washington sebagai pelindung mereka dalam
menghadapi bekas negara penguasa, Rusia.  afp/reuters/ant/fif






_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke