Majalah Hidayatullah edisi Februari 2005 

 

Rubrik TSAQAFAH


Kekeliruan Para Orientalis

(Bagian terakhir dari dua tulisan)


Oleh Syamsuddin Arief


Edisi lalu:

Serangan orientalis terhadap Al-Qur`an telah berlangsung lama, dengan
berbagai macam metodenya. Namun ternyata penghormatan dan keyakinan
mayoritas umat Islam terhadap otentisitas Al-Qur`an tetap teguh sampai
sekarang


 
Al-Qur`an merupakan target utama serangan misionaris dan orientalis-Yahudi
dan Kristen--setelah gagal menghancurkan sirah dan sunnah Rasulullah
Shalallahu 'alaihi wa sallam. Sayangnya, serangan tersebut didasari oleh
asumsi yang keliru.

 

Pertama, mereka mengasumsikan bahwa Al-Qur`an adalah dokumen tertulis atau
teks, bukan "hafalan yang dibaca". Padahal, pada prinsipnya Al-Qur`an
bukanlah tulisan (rasm atau writing), tetapi bacaan (qira'ah atau
recitation) dalam arti ucapan dan sebutan. Baik proses turunnya (pewahyuan),
penyampaian, pengajaran, sampai periwayatannya dilakukan melalui lisan dan
hafalan, bukan tulisan. Dari dahulu, yang dimaksud dengan "membaca
Al-Qur`an" adalah membaca dari ingatan (qara'a 'an zhahri qalbin atau to
recite from memory).


Tulisan yang ada berfungsi sebagai penunjang semata-mata. Sebab pada awalnya
ayat-ayat Al-Qur`an dicatat di atas tulang, kayu, kertas, daun, berdasarkan
hafalan sang qari'/muqri'. Proses transmisi semacam ini--dengan isnad
(narasumber) secara mutawatir dari generasi ke generasi--terbukti berhasil
menjamin keutuhan dan keaslian Al-Qur`an hingga hari ini.

 

Ini sungguh berbeda dengan kasus Bibel. Tulisannya-fakta manuskrip dalam
bentuk papyrus, perkamen, dan sebagainya--memegang peran utama dan berfungsi
sebagai acuan dan landasan bagi Testamentum (perjanjian) alias Gospel.

 

Dengan asumsi keliru ini-menganggap Al-Qur`an semata-mata sebagai teks--
mereka lantas mau menerapkan metode-metode filologi yang lazim digunakan
dalam penelitian Bibel, seperti historical criticism, source criticism, form
criticism, dan textual criticism. Akibatnya, mereka menganggap Al-Qur`an
sebagai produk sejarah, hasil interaksi orang Arab abad ke-7 Masehi dan 8
dengan masyarakat sekeliling mereka.

 

Mereka mengatakan bahwa mushaf yang ada sekarang tidak lengkap dan berbeda
dengan aslinya (yang mereka sendiri tidak tahu pasti!).  Karena itu mereka
mau membuat edisi kritis, merestorasi teksnya, dan hendak membuat naskah
baru berdasarkan manuskrip-manuskrip yang ada.

 

Kedua, meskipun pada prinsipnya Al-Qur`an diterima dan diajarkan melalui
hafalan, namun juga dicatat melalui berbagai medium tulisan. Sampai
Rasulullah wafat, hampir seluruh catatan awal tersebut milik pribadi para
sahabat sehingga kualitas dan kuantitasnya berbeda satu sama lain. Ini
karena para sahabat menuliskan catatan tambahan sebagai keterangan atau
komentar (tafsir glosses) di pinggir atau di sela-sela ayat untuk keperluan
masing-masing.

 

Baru setelah menyusutnya jumlah penghafal Al-Qur`an karena gugur di medan
perang, usaha kodifikasi (jam') pun dilakukan oleh sebuah tim yang dibentuk
atas inisiatif Khalifah Abu Bakr Ash-Shiddiq Radhiyallahu 'anhu hingga
Al-Qur`an terkumpul dalam satu mushaf berdasarkan periwayatan langsung
(first-hand) dan mutawatir dari Nabi.

 

Setelah wafatnya Abu Bakr (13H/634M), mushaf tersebut disimpan oleh Khalifah
'Umar bin Khattab sampai wafat (23H/644M), lalu disimpan oleh Hafshah,
sebelum kemudian diserahkan kepada Khalifah 'Utsman bin Affan.

 

Pada masa inilah, atas desakan sejumlah sahabat, sebuah tim ahli dibentuk
dan diminta mendata kembali semua qira'at yang ada. Mereka juga ditugasi
meneliti dan menentukan nilai keshahihan periwayatannya untuk kemudian
melakukan standardisasi demi mencegah kekeliruan dan perselisihan. Hasilnya
dibukukan dalam beberapa mushaf standar yang masing-masing mengandung
qira'ah-qira'ah mutawatir yang disepakati keshahihan periwayatannya dari
Nabi. Jadi, sangat jelas fakta sejarah dan proses kodifikasinya.

 

Namun, para orientalis biasanya akan mulai dengan mempertanyakan fakta ini
dan menolak hasilnya. Mereka menganggap sejarah kodifikasi tersebut hanya
kisah fiktif dan mengatakan bahwa proses kodifikasi baru dilakukan pada abad
ke-9 M. Di sini kelihatan bahwa para orientalis tidak mengerti atau sengaja
tidak peduli bahwa Al-Qur`an tidak sama dengan Bibel. Al-Qur`an bukan lahir
dari manuskrip, tapi sebaliknya, manuskrip lahir dari Al-Qur`an.

 

Ketiga, salah faham tentang rasm dan qira'ah-qira'ah. Sebagaimana diketahui,
tulisan Arab atau khat mengalami perkembangan sepanjang sejarah. Pada kurun
awal Islam, Al-Qur`an ditulis gundul, tanpa tanda-baca sedikit pun. Sistem
vokalisasi baru diperkenalkan kemudian. Namun rasm 'Utsmani sama sekali
tidak menimbulkan masalah, mengingat kaum Muslimin saat itu belajar
Al-Qur`an langsung dari para sahabat  dengan cara menghafal, dan bukan dari
tulisan. Mereka tidak bergantung pada manuskrip atau tulisan.

 

Lucunya, orientalis semacam Arthur Jeffery dan Gerd R Joseph Puin
menyimpulkan sendiri bahwa teks gundul inilah sumber variant readings (ragam
pembacaan)--sebagaimana terjadi dalam kasus Bibel--serta keliru menyamakan
qira'ah dengan readings. Mereka tidak tahu bahwa kaidah yang berlaku pada
Al-Qur`an adalah tulisan mengacu pada bacaan yang diriwayatkan dari Nabi
(rasmu taab'iun li riwaayah), bukan sebaliknya.

 

Para orientalis itu juga salah faham mengenai rasm Al-Qur`an. Dalam bayangan
mereka, munculnya bermacam-macam qira'ah disebabkan oleh rasm yang sangat
sederhana itu, sehingga setiap pembaca bisa saja berimprovisasi dan membaca
sesuka hatinya. Padahal ragam qira'ah telah ada lebih dahulu sebelum adanya
rasm.

 

Mereka juga tidak mengerti bahwa rasm Al-Qur`an telah disepakati dan
didesain sedemikian rupa sehingga dapat mewakili dan menampung pelbagai
qira'ah yang diterima. Misalnya, dengan menyembunyikan (hadzf) "alif" pada
kata "m-l-k" (Al-Fatihah: 4) demi mengakomodasi qira'ah 'Ashim, al-Kisa'i,
Ya'qub, dan Khalaf-yang menggunakan "maaliki"atau panjang--sekaligus qira'ah
Abu 'Amr, Ibnu Katsir, Nafi', Abu Ja'far, dan Ibnu 'Amir--"maliki" atau
pendek.


Mungkin ada yang bertanya: Apakah semua qira'ah telah tertampung oleh rasm
Utsmani? Adakah qira'ah mutawatir yang tidak terwakili oleh rasm Utsmani?
Atau, apakah naskah-naskah yang dikirim oleh Khalifah 'Utsman ke berbagai
kota (Makkah, Basrah, Kufah, Damaskus) seragam rasm-nya dan sama dengan yang
ada di Madinah atau berbeda-beda, yakni sesuai dengan harf atau qira'ah yang
dominan di kota tersebut?

 

Yang masuk katagori ketiga cukup banyak. Menurut Prof Dr Sya'ban Muhammad
Ismail dari Universitas Al-Azhar, Kairo (Mesir), jumlah qira`ah yang ditulis
dengan rasm berbeda-beda dalam mashahi 'Utsman, tanpa pengulangan, mencapai
58 kata. 

 

Dari sini jelas, mushaf-mushaf yang dikirim oleh Khalifah 'Utsman ke
berbagai kota itu beragam rasm-nya, sesuai dengan bacaan sahabat yang diutus
untuk mengajarkannya. Namun demikian tetap saja bacaan tidak bergantung pada
teks. Dan memang, qira'ah sahabat (yang dikirim ke sebuah kota) atau
perawinya tidak otomatis sama dengan mushaf yang beredar di kota itu, tetapi
pada umumnya sama.

 

Boleh saja seorang imam atau perawi membacanya sesuai dengan riwayat dan
rasm yang ada di mushaf kota lain. Contohnya, Imam Hafsh di Kufah membaca
Surat Az-Zukhruf: 71 dengan bacaan "tasytahiihi al-anfus" (dengan dua ha),
seperti tertera dalam mushaf Madinah dan Syam. Padahal dalam mushaf Kufah
tertulis "tasytahi" (dengan satu ha). Ini dibolehkan mengingat salah satu
syarat diterimanya sebuah qira'ah adalah sesuai dengan salah satu rasm
mushaf 'Utsmani.

 

Sebaliknya, jika suatu qira'ah tidak tercatat dalam salah satu mushaf
Utsmani, qira'ah tersebut dianggap syadz' (janggal) dan tidak dapat
diterima. Itu karena bertentangan dengan rasm yang disepakati atau rasm yang
telah menampung dan mewakili semua qira'ah mutawatir.

 

Jika demikian halnya, maka improvisasi liar atau bacaan liberal seperti yang
direka-reka oleh para orientalis sudah pasti ditolak.* (tamat)

 

* Memperoleh gelar PhD dari ISTAC-IIUM Kualalumpur (Malaysia), sekarang
sedang menulis disertasi PhD kedua di Departemen Orientalistik Universitas
Frankfurt (Jerman)


_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke