Majalah Hidayatullah edisi Januari 2005

 

Rubrik TSAQAFAH

 

 

Serangan Orientalis terhadap Al-Qur`an (bagian pertama dari dua tulisan)

Oleh: Syamsuddin Arif*

 

 

Setahun lalu nama Christoph Luxenberg (nama samaran) menghebohkan dunia
Islam, menyusul publikasi bukunya Die syro-aramaeische Lesart des Koran: Ein
Beitrag zur Entschluesselung der Koransprache oleh Majalah Newsweek edisi 28
Juli 2003. Sejumlah jurnal meramaikan pembahasan buku yang menyatakan bahwa
Al-Qur`an berasal dari bahasa Syriac (Syro-Aramaik). Majalah Gatra
menampilkan masalah ini sebagai laporan utama pada edisi 4 Agustus 2003.

 

Setelah membuat heboh, namanya seolah-olah menghilang. Padahal, gerakan
Luxenberg terus berlangsung. Di Jerman, berbagai seminar dan diskusi sering
digelar untuk membahas bukunya. Ini menyusul kontroversi seputar motif dan
metodologinya. Apalagi pers Jerman memberikan liputan yang kurang seimbang,
bahkan terkesan sengaja mengeksploitasi berbagai pernyataan Luxenberg yang
provokatif dan tendensius. Misalnya Majalah Der Spiegel, yang enggan memuat
resensi seorang pakar Semitik karena isinya mengkritik tajam buku itu.

 

Awal tahun 2004 ini, Wissenschaftskolleg Berlin menghadirkan puluhan pakar
dari berbagai dunia, khusus untuk mengupas buku tersebut. Professor Hans
Daiber-yang memberikan seminar terbuka tentang karya itu selama satu
semester penuh di Departemen Orientalistik Universitas Frankfurt--mengungkap
sejumlah kelemahan buku itu secara metodologi dan filologi.

 

Kasus Luxenberg ini menarik untuk dicermati, mengingat objek sasarannya
adalah Al-Qur`an, yang sepanjang zaman tidak pernah sepi dari upaya untuk
meruntuhkannya. Tidak mengherankan, sebab di antara kitab-kitab suci,
Al-Qur`an merupakan satu-satunya yang dengan tegas menyatakan dirinya bersih
dari keraguan, dijamin keseluruhannya, dan tiada tandingannya. Lebih dari
itu, Al-Qur`an ibarat kompas pedoman arah dan penunjuk jalan, laksana obor
penerang dalam kegelapan.

 

Ummat Islam dari dulu sampai sekarang sepakat tentang keaslian, kebenaran
dan kemukjizatan Al-Qur'an sebagai Kalamullah. Ini rupanya membuat geram
sekaligus dengki kalangan non-Muslim, khususnya orientalis-misionaris Yahudi
dan Kristen. Karena itu, mereka ingin agar ummat ini melakukan apa yang juga
mereka lakukan, yaitu menggugat, mempersoalkan ataupun mengutak-atik
Al-Qur`an sebagaimana yang mereka lakukan terhadap Bibel.

 

Untuk memberi kesan seolah-olah objektif dan otoritatif,
orientalis-misionaris ini biasanya berkedok sebagai pakar bahasa, sejarah,
agama, dan kebudayaan Timur, baik yang jauh (Far Eastern, seperti Jepang,
Cina, dan India) maupun yang dekat (Near Estern, seperti Persia, Mesir, dan
Arab).

 

Lintas Sejarah Serangan Orientalis

Pada tahun 1927, Alphonse Mingana, pendeta Kristen asal Iraq dan guru besar
di Universitas Birmingham (Inggris) mengumumkan, "Sudah tiba saatnya
sekarang melakukan kritik teks terhadap Al-Qur`an sebagaimana telah kita
lakukan terhadap kitab suci Yahudi yang berbahasa Ibrani-Arami dan kitab
suci Kristen yang berbahasa Yunani."

 

Seruan itu dilatarbelakangi oleh kekecewaan orang Kristen dan Yahudi
terhadap kitab suci mereka dan disebabkan oleh kecemburuan terhadap ummat
Islam dan kitab suci Al-Qur`an. Perlu diketahui bahwa mayoritas cendekiawan
Kristen sudah lama meragukan otentisitas Bibel. Mereka terpaksa menerima
kenyataan pahit bahwa Bibel yang ada di tangan mereka sekarang ini terbukti
bukan asli alias "aspal" (asli tapi palsu). Terlalu banyak campur tangan
manusia di dalamnya sehingga sulit untuk membedakan mana yang benar-benar
wahyu dan mana yang bukan. Ini antara lain dikemukakan oleh orientalis Kurt
Aland dan Barbara Aland.

 

Karena hal di atas, R Bentley, Master of Trinity College, pada tahun 1720
menghimbau umat Kristen agar mencampakkan kitab suci mereka, yakni naskah
Perjanjian Baru versi Paus Clement 1592. Seruan tersebut dilanjutkan dengan
munculnya "edisi kritis" Perjanjian Baru hasil otak-atik Brooke Foss
Westcott (1825-1903) dan Fenton John Anthony Hort (1828-1892).

 

Tentu saja Mingana bukan yang pertama kali melontarkan ajakan melakukan
kritik terhadap Al-Qur`an, dan ia juga tidak sendirian. Jauh sebelum itu,
tepatnya pada 1834 di Leipzig (Jerman), seorang orientalis bernama Gustav
Fluegel menerbitkan "mushaf" hasil kajian filologinya. Naskah yang dinamakan
Corani Textus Arabicus tersebut sempat dipakai tadarrus oleh sebagian
aktivis kelompok Liberal di Indonesia.

 

Kemudian datang Theodor Noeldeke yang berusaha merekonstruksi sejarah
Al-Qur`an dalam karyanya, Geschichte des Qorans (1860). Upayanya ini
belakangan ditiru oleh sebagian kalangan Muslim sendiri yang mengaku
liberal.

 

Tahun 1937 muncul Arthur Jeffery yang ingin mendekonstruksi Al-Qur`an mushaf
Utsmani dan membuat mushaf baru. Orientalis asal Australia yang pernah
mengajar di Universitas Amerika Kairo (Mesir) dan menjadi guru besar di
Universitas Columbia (Amerika Serikat) ini, konon ingin merekonstruksi teks
Al-Qur`an berdasarkan kitab al-Mashahif karya Ibn Abi Dawud As-Sijistani
yang ia anggap mengandung bacaan-bacaan dalam mushaf tandingan (istilah dia:
rival codices). Jeffery bermaksud meneruskan usaha Gotthelf Bergstraesser
dan Otto Pretzl yang pernah berjibaku mengumpulkan foto lembaran-lembaran
(manuskrip) Al-Qur`an dengan tujuan membuat edisi kritis Al-Qur`an. Namun
upaya itu gagal karena semua arsipnya di Munich musnah saat Perang Dunia II.

 

Saking antusiasnya terhadap qira'at-qira'at pinggiran alias nyeleneh,
Bergstraesser merasa perlu mengedit karya Ibn Jinni dan Ibn Khalawayh. Bagi
para orientalis ini, isnad tidak penting dan, karena itu, riwayat yang syadz
(nyeleneh) bisa saja dianggap shahih, yang ahad dan gharib bisa saja menjadi
mutawatir dan masyhur, dan yang cacat disamakan dengan yang sempurna.

 

Metode di atas merupakan teknik dan strategi utama mereka untuk
menjungkirbalikkan kriteria dan nilai, menyepelekan yang fundamental dan
menonjolkan yang remeh. Maka yang mereka gembar-gemborkan adalah isu
nasikh-mansukh (tentang ayat yang dihapuskan atau digantikan perannya oleh
ayat yang turun belakangan), soal adanya surat tambahan versi kaum Syi'ah,
cerita Gharaniq, dan lain sebagainya. Ada pula yang sok mau merombak susunan
ayat dan surat Al-Qur`an secara kronologis, sok mau mengoreksi bahasa
Al-Qur`an, atau sok ingin mengubah redaksi ayat-ayat tertentu.

 

Kajian orientalis tidak sebatas mempersoalkan otentisitas Al-Qur`an. Isu
klasik yang selalu diangkat adalah soal pengaruh Yahudi, Kristen, Zoroaster,
dan sebagainya terhadap Islam dan isi kandungan Al-Qur`an. Ada yang
mati-matian berusaha mengungkapkan apa saja yang bisa dijadikan bukti bagi
"teori pinjaman dan pengaruh" tersebut, seperti dari literatur dan tradisi
Yahudi-Kristen (Abraham Geiger, Clair Tisdall, dan lain-lain), ada pula yang
membandingkannya dengan adat-istiadat jahiliyah, Romawi, dan lain
sebagainya. Biasanya mereka akan mengatakan bahwa cerita-cerita dalam
Al-Qur`an banyak yang keliru dan tidak sesuai dengan versi Bibel yang mereka
anggap lebih akurat. Hal ini antara lain dikatakan orientalis asal Inggris,
Reynold A Nicholson, yang banyak mengkaji karya-karya sufi.

 

Namun berbagai upaya itu muncul lalu hilang begitu saja. Penghormatan dan
keyakinan mayoritas ummat Islam terhadap otentisitas Al-Qur`an tetap saja
teguh. Meskipun ada saja di kalangan Muslim yang terpengaruh, dan bahkan
sebagian bersedia menjadi juru bicara kalangan orientalis penyerang
Al-Qur`an itu.* (bersambung)

 

* Memperoleh gelar PhD dari ISTAC-IIUM Kuala Lumpur, sekarang sedang menulis
disertasi PhD kedua di Departemen Orientalistik Universitas Frankfurt,
Jerman.


_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke