Assalamu'alaikum...
Nice to read...
Oh... Farhana...
Kisah seorang Muslimah yang tegar memegang ajaran Islam di tengah hiruk-pikuk
kebudayaan Barat
Kemegahan Masjid Nabawi telah tampak dari kejauhan. Setiap langkah yang
membawaku mendekati masjid, seolah menambah kerinduan akan junjungan kita,
Rasulullah Shallallahu �alaihi wa sallam.
Itu adalah sebagian dari rahmat mengunjungi tanah suci, yaitu memperoleh
kesempatan untuk merasakan kesyahduan berada di masjid warisan Nabi serta
menikmati perjumpaan dengan sesama Muslimah dari seluruh penjuru bumi. Kami
semua berada dalam satu kesamaan yang menggetarkan cinta dan rindu yang begitu
tulus terhadap Nabi Muhammad.
Saat itu aku tengah menanti giliran berdoa di Raudhah�tempat antara kamar Nabi
dengan mimbar di Masjid Nabawi. Di tempat ini, doa yang dipanjatkan insya Allah
sangat makbul. Pandangan mataku tertuju pada seorang Muslimah. Belakangan aku
tahu namanya Farhana, seorang gadis belia.
Sosok Farhana memang menarik perhatianku. Di tengah jamaah yang resah menunggu
dibukanya pintu Raudhah, ia kelihatan tenang saja. Matanya terus mencermati
kitab yang ada di depannya. Tampak sekali Farhana tengah membaca dengan khidmat
dan penuh ketenangan.
Aku yang beberapa saat kemudian bisa duduk di sebelahnya, tertarik untuk ikut
melongok kitab apa itu. Ternyata sebuah buku dengan tulisan huruf Arab gundul.
Apa yang tertangkap mataku membuatku semakin tertarik padanya. Ditilik dari
wajahnya, tidak ada rona Timur Tengah pada dirinya. Yang terlihat dengan jelas
adalah kecantikan khas wanita India atau Pakistan. Namun saat itu ia mengenakan
jubah hitam. Aku juga sempat lihat, ketika belum memasuki daerah khusus wanita,
ia mengenakan burdah yang rapat menutup wajah cantiknya itu.
Sekelebat ia menoleh ke arahku. Barangkali merasa dirinya diperhatikan. Aku
melempar senyum.
�Assalaamualaikum. Saya tidak bermaksud apa-apa. Tetapi saya tertarik melihat
Anda dan kitab yang Anda baca. Anda berasal darimana?� sapaku dalam bahasa
Inggris.
Jawabannya sungguh di luar perkiraan, �Wa�alaikum salaam. Saya berasal dari
London.�
Wow, pikiranku, tebakanku, salah semua. Kitab Arab gundul, jubah dan burdah
berwarna hitam, wajah India, tapi berasal dari London?
Aku semakin tertarik untuk mengenal lebih jauh sister Muslimahku yang satu ini.
Kami akhirnya terlibat perbincangan hangat.
Farhana keturunan India. Konon keluarganya sudah tinggal di London sejak
beberapa generasi lalu.
Ketika berusia sekitar 13 tahun, orangtuanya menyekolahkan Farhana di sebuah
boarding school (sekolah berasrama) khusus Muslimah di London. Di sekolah ini,
para gadis muda usia digembleng agar menjadi seorang ustadzah. Mereka
diharapkan dapat menjadi hafidzah Al-Qur�an serta menguasai berbagai kitab.
Sekolah ini memang menjadi tempat pengkaderan ustadzah yang kelak akan disebar
ke berbagai sekolah lain. Farhana sendiri dalam usia yang masih muda telah
menjadi ustadzah di Moslem School, London.
Pikiranku segera terganggu sebuah pertanyaan, bagaimana bisa dia yang seumur
hidupnya tinggal di kota London, salah satu pusat kebudayaan Barat, tetap bisa
kokoh memelihara aturan-aturan sebagai seorang Muslimah? Pikiran itu
kolantarkan pada Farhana.
Gadis cantik itu mengaku sebagai penganut mazhab Hanafi. Mazhab ini mengajarkan
bahwa wanita tidak boleh berpakaian yang menarik perhatian lawan jenis. Oleh
karena itu, Muslimah hendaknya memakai pakaian yang warnanya paling aman, yaitu
hitam atau gelap. Burdah selalu dipakai manakala mereka memasuki daerah yang
ada nonmuhrimnya. Ini semua diperlukan agar para Muslimah bisa senantiasa
kehormatannya terjaga, apalagi bagi mereka yang hidup menjadi minoritas di
sebuah komunitas.
Sebuah paparan yang inspiratif bagiku. Aku kembali mencecar dengan obrolan
lanjutan, �Farhana, saya tinggal di sebuah negeri dengan penduduk 90 persen
beragama Islam. Namun kadang kami tetap harus memperjuangkan hak meski hanya
untuk menggunakan jilbab sederhana ini.�
Aku lalu menjelaskan peraturan di zaman perkuliahan dulu, yang mengharuskan
foto di kartu mahasiswi memperlihatkan rambut dan telinga. �Bagaimana pula
dengan dirimu yang harus hidup sebagai minoritas di tengah pusat kebudayaan
Barat yang demikian bebas? Tidakkah kau merasa terganggu?� pertanyaanku polos.
Dia menggeleng mantap. �Alhamdulillah, kami tidak pernah merasa tertekan hidup
di London. Kami tinggal di sebuah kawasan Muslim yang sangat tegas menerapkan
aturan-aturan Islam. Bahkan kami mempunyai beberapa sekolah, lengkap dari play
group sampai tingkat pendidikan tinggi,� sambungnya.
�Farhana, aku tidak mengerti. Sedang aku yang hidup di kampung halamanku
sendiri, jauh di Timur, jauh dari pusat kebudayaan Barat, merasa sangat risau
dan resah dengan pengaruh Barat yang demikian membahana dalam kehidupan
keseharian kami. Setiap hari aku dikejar kekhawatiran, apakah anak remajaku
tidak sedang terpengaruh oleh gemerlapnya kehidupan bebas ala Barat, yang hidup
untuk mengejar kenikmatan? Sementara kau dapat hidup dengan kokoh memegang
ajaran Islam tepat di tengah-tengah jantung kebudayaan Barat. Oh, Farhana, aku
sungguh-sungguh kagum,� seruku spontan.
Ia segera menanggapi, �Kalau kau begitu resah dengan masa depan anakmu,
sebaiknya kirimkan putra-putrimu ke boarding school kami di London. Insya Allah
ia akan terpelihara dalam iman Islam yang kokoh. Dan tentunya aku bisa
berkesempatan mengajar anakmu nanti,� sambungnya sambil tersenyum.
Aku menggeleng-gelengkan kepala tak habis-habisnya. Sungguh kagum aku
dibuatnya. Komunitas Muslim dimana Farhana tinggal di London demikian
berhati-hati menjaga aqidahnya.
Ada salah satu cara yang ditempuh mereka guna memperteguh keyakinan agamanya.
Yaitu dengan tidak mau mengenal televisi. Perkembangan berita terkini cukup
diikuti lewat koran atau majalah atau internet yang sumbernya tepercaya. Mereka
tak mau membuang waktu dengan menonton acara televisi yang sebagian besar
justru melalaikan seorang Muslim dari ibadah dan kemurnian aqidah.
Mereka tidak membuat dan memajang foto, karena takut akan terjerumus pada
pemujaan dan berbangga diri atau pengkultusan terhadap tokoh-tokoh tertentu.
Alasannya, Nabi Muhammad pun tak boleh dipuja-puja dan dikultuskan
berlebih-lebihan, karena bagaimanapun beliau tetaplah seorang hamba Allah.
Kutatap matanya yang berbinar, sungguh cantik. Sempat terlintas dalam
pikiranku, tidakkah dia pernah merasa tergoda untuk memamerkan wajah cantiknya?
Tetapi jawabannya langsung kudapatkan dari kesyahduan tatap matanya saat
kembali menyimak kitab di hadapannya. Wajah itu memancarkan sinar kebahagiaan
dan ketenangan batin.
Oh, Farhana, kau sungguh beruntung. Tidak perlu ada keresahan sedemikian rupa
seperti yang dirasakan oleh wanita lain, yang banting tulang demi mendapatkan
kesempurnaan dalam penampilan fisik. Kau telah menemukan kebahagiaan yang
hakiki dengan melaksanakan ajaran Islam secara kaffah. Kau tak perlukan lagi
puja atau puji dari luar, karena Islam jalan selamat telah kaujalani secara
total dan memberimu kebahagiaan sebagai hamba Allah yang sejati.
Sejujurnya, aku merasa sangat malu. Aku dan komunitas di negeriku serasa tak
kuasa menghadapi gelombang pengaruh Barat yang menerjang pada seluruh sisi
kehidupan. Banyak kaum Muslimah yang merasa malu bila tak bergaya ala Barat.
Hilang sudah jubah dan dan kain panjang, berganti celana jeans dan pakaian
ketat. Tak lupa pula mewarnai rambut supaya lebih menyerupai para noni Barat
yang kosmopolit. Kami tenggelam dalam sudut pandang yang menekankan bahwa
penampilan adalah segala-galanya. Kami tenggelam dalam pemujaan fisik sehingga
rohani kami lupa untuk diisi dengan sempurna.
Ya Allah, Farhana yang lahir dan dibesarkan di kota kosmopolitan, justru tak
sedikit pun terpengaruh dengan gegap gempitanya dunia Barat. Ia begitu tegar
dan teguh dengan keyakinannya. Oh, Farhana.� (Amelia Naim, penulis dan trainer
manajemen/Hidayatullah)
Kisah seorang Muslimah yang tegar memegang ajaran Islam di tengah hiruk-pikuk
kebudayaan Barat
Kemegahan Masjid Nabawi telah tampak dari kejauhan. Setiap langkah yang
membawaku mendekati masjid, seolah menambah kerinduan akan junjungan kita,
Rasulullah Shallallahu �alaihi wa sallam.
Itu adalah sebagian dari rahmat mengunjungi tanah suci, yaitu memperoleh
kesempatan untuk merasakan kesyahduan berada di masjid warisan Nabi serta
menikmati perjumpaan dengan sesama Muslimah dari seluruh penjuru bumi. Kami
semua berada dalam satu kesamaan yang menggetarkan cinta dan rindu yang begitu
tulus terhadap Nabi Muhammad.
Saat itu aku tengah menanti giliran berdoa di Raudhah�tempat antara kamar Nabi
dengan mimbar di Masjid Nabawi. Di tempat ini, doa yang dipanjatkan insya Allah
sangat makbul. Pandangan mataku tertuju pada seorang Muslimah. Belakangan aku
tahu namanya Farhana, seorang gadis belia.
Sosok Farhana memang menarik perhatianku. Di tengah jamaah yang resah menunggu
dibukanya pintu Raudhah, ia kelihatan tenang saja. Matanya terus mencermati
kitab yang ada di depannya. Tampak sekali Farhana tengah membaca dengan khidmat
dan penuh ketenangan.
Aku yang beberapa saat kemudian bisa duduk di sebelahnya, tertarik untuk ikut
melongok kitab apa itu. Ternyata sebuah buku dengan tulisan huruf Arab gundul.
Apa yang tertangkap mataku membuatku semakin tertarik padanya. Ditilik dari
wajahnya, tidak ada rona Timur Tengah pada dirinya. Yang terlihat dengan jelas
adalah kecantikan khas wanita India atau Pakistan. Namun saat itu ia mengenakan
jubah hitam. Aku juga sempat lihat, ketika belum memasuki daerah khusus wanita,
ia mengenakan burdah yang rapat menutup wajah cantiknya itu.
Sekelebat ia menoleh ke arahku. Barangkali merasa dirinya diperhatikan. Aku
melempar senyum.
�Assalaamualaikum. Saya tidak bermaksud apa-apa. Tetapi saya tertarik melihat
Anda dan kitab yang Anda baca. Anda berasal darimana?� sapaku dalam bahasa
Inggris.
Jawabannya sungguh di luar perkiraan, �Wa�alaikum salaam. Saya berasal dari
London.�
Wow, pikiranku, tebakanku, salah semua. Kitab Arab gundul, jubah dan burdah
berwarna hitam, wajah India, tapi berasal dari London?
Aku semakin tertarik untuk mengenal lebih jauh sister Muslimahku yang satu ini.
Kami akhirnya terlibat perbincangan hangat.
Farhana keturunan India. Konon keluarganya sudah tinggal di London sejak
beberapa generasi lalu.
Ketika berusia sekitar 13 tahun, orangtuanya menyekolahkan Farhana di sebuah
boarding school (sekolah berasrama) khusus Muslimah di London. Di sekolah ini,
para gadis muda usia digembleng agar menjadi seorang ustadzah. Mereka
diharapkan dapat menjadi hafidzah Al-Qur�an serta menguasai berbagai kitab.
Sekolah ini memang menjadi tempat pengkaderan ustadzah yang kelak akan disebar
ke berbagai sekolah lain. Farhana sendiri dalam usia yang masih muda telah
menjadi ustadzah di Moslem School, London.
Pikiranku segera terganggu sebuah pertanyaan, bagaimana bisa dia yang seumur
hidupnya tinggal di kota London, salah satu pusat kebudayaan Barat, tetap bisa
kokoh memelihara aturan-aturan sebagai seorang Muslimah? Pikiran itu
kolantarkan pada Farhana.
Gadis cantik itu mengaku sebagai penganut mazhab Hanafi. Mazhab ini mengajarkan
bahwa wanita tidak boleh berpakaian yang menarik perhatian lawan jenis. Oleh
karena itu, Muslimah hendaknya memakai pakaian yang warnanya paling aman, yaitu
hitam atau gelap. Burdah selalu dipakai manakala mereka memasuki daerah yang
ada nonmuhrimnya. Ini semua diperlukan agar para Muslimah bisa senantiasa
kehormatannya terjaga, apalagi bagi mereka yang hidup menjadi minoritas di
sebuah komunitas.
Sebuah paparan yang inspiratif bagiku. Aku kembali mencecar dengan obrolan
lanjutan, �Farhana, saya tinggal di sebuah negeri dengan penduduk 90 persen
beragama Islam. Namun kadang kami tetap harus memperjuangkan hak meski hanya
untuk menggunakan jilbab sederhana ini.�
Aku lalu menjelaskan peraturan di zaman perkuliahan dulu, yang mengharuskan
foto di kartu mahasiswi memperlihatkan rambut dan telinga. �Bagaimana pula
dengan dirimu yang harus hidup sebagai minoritas di tengah pusat kebudayaan
Barat yang demikian bebas? Tidakkah kau merasa terganggu?� pertanyaanku polos.
Dia menggeleng mantap. �Alhamdulillah, kami tidak pernah merasa tertekan hidup
di London. Kami tinggal di sebuah kawasan Muslim yang sangat tegas menerapkan
aturan-aturan Islam. Bahkan kami mempunyai beberapa sekolah, lengkap dari play
group sampai tingkat pendidikan tinggi,� sambungnya.
�Farhana, aku tidak mengerti. Sedang aku yang hidup di kampung halamanku
sendiri, jauh di Timur, jauh dari pusat kebudayaan Barat, merasa sangat risau
dan resah dengan pengaruh Barat yang demikian membahana dalam kehidupan
keseharian kami. Setiap hari aku dikejar kekhawatiran, apakah anak remajaku
tidak sedang terpengaruh oleh gemerlapnya kehidupan bebas ala Barat, yang hidup
untuk mengejar kenikmatan? Sementara kau dapat hidup dengan kokoh memegang
ajaran Islam tepat di tengah-tengah jantung kebudayaan Barat. Oh, Farhana, aku
sungguh-sungguh kagum,� seruku spontan.
Ia segera menanggapi, �Kalau kau begitu resah dengan masa depan anakmu,
sebaiknya kirimkan putra-putrimu ke boarding school kami di London. Insya Allah
ia akan terpelihara dalam iman Islam yang kokoh. Dan tentunya aku bisa
berkesempatan mengajar anakmu nanti,� sambungnya sambil tersenyum.
Aku menggeleng-gelengkan kepala tak habis-habisnya. Sungguh kagum aku
dibuatnya. Komunitas Muslim dimana Farhana tinggal di London demikian
berhati-hati menjaga aqidahnya.
Ada salah satu cara yang ditempuh mereka guna memperteguh keyakinan agamanya.
Yaitu dengan tidak mau mengenal televisi. Perkembangan berita terkini cukup
diikuti lewat koran atau majalah atau internet yang sumbernya tepercaya. Mereka
tak mau membuang waktu dengan menonton acara televisi yang sebagian besar
justru melalaikan seorang Muslim dari ibadah dan kemurnian aqidah.
Mereka tidak membuat dan memajang foto, karena takut akan terjerumus pada
pemujaan dan berbangga diri atau pengkultusan terhadap tokoh-tokoh tertentu.
Alasannya, Nabi Muhammad pun tak boleh dipuja-puja dan dikultuskan
berlebih-lebihan, karena bagaimanapun beliau tetaplah seorang hamba Allah.
Kutatap matanya yang berbinar, sungguh cantik. Sempat terlintas dalam
pikiranku, tidakkah dia pernah merasa tergoda untuk memamerkan wajah cantiknya?
Tetapi jawabannya langsung kudapatkan dari kesyahduan tatap matanya saat
kembali menyimak kitab di hadapannya. Wajah itu memancarkan sinar kebahagiaan
dan ketenangan batin.
Oh, Farhana, kau sungguh beruntung. Tidak perlu ada keresahan sedemikian rupa
seperti yang dirasakan oleh wanita lain, yang banting tulang demi mendapatkan
kesempurnaan dalam penampilan fisik. Kau telah menemukan kebahagiaan yang
hakiki dengan melaksanakan ajaran Islam secara kaffah. Kau tak perlukan lagi
puja atau puji dari luar, karena Islam jalan selamat telah kaujalani secara
total dan memberimu kebahagiaan sebagai hamba Allah yang sejati.
Sejujurnya, aku merasa sangat malu. Aku dan komunitas di negeriku serasa tak
kuasa menghadapi gelombang pengaruh Barat yang menerjang pada seluruh sisi
kehidupan. Banyak kaum Muslimah yang merasa malu bila tak bergaya ala Barat.
Hilang sudah jubah dan dan kain panjang, berganti celana jeans dan pakaian
ketat. Tak lupa pula mewarnai rambut supaya lebih menyerupai para noni Barat
yang kosmopolit. Kami tenggelam dalam sudut pandang yang menekankan bahwa
penampilan adalah segala-galanya. Kami tenggelam dalam pemujaan fisik sehingga
rohani kami lupa untuk diisi dengan sempurna.
Ya Allah, Farhana yang lahir dan dibesarkan di kota kosmopolitan, justru tak
sedikit pun terpengaruh dengan gegap gempitanya dunia Barat. Ia begitu tegar
dan teguh dengan keyakinannya. Oh, Farhana.
� (Amelia Naim, penulis dan trainer manajemen/Hidayatullah)
www.hidayatullah.com
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail - Find what you need with new enhanced search. Learn more.
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________