Asssalamualaikum Wr Wb

Tarimokasih pak caritonyo. Sangat manyentuh dan baguno. Memang hiduik ko 
subananyo sangaik subanta bana. Samoga Allah mambaleh jaso apak karano sharing 
carito iko.

Wassalam

Ardi Muluk

 

Message: 5
Date: Sat, 21 May 2005 03:26:50 -0700 (PDT)
From: Muhammad Dafiq Saib 
Subject: [EMAIL PROTECTED] Menghitung Hari
To: [email protected]
Message-ID: <[EMAIL PROTECTED]>
Content-Type: text/plain; charset=us-ascii

Assalamu'alaikum wr.wb.,


MENGHITUNG HARI



Aku sedang menghitung hari. Menjelang hari yang ditunggu-tunggu. Dan karena 
sedang menjelang hari H yang ditulis dengan huruf besar ini, kami 
berkumpul-kumpul dirumah. Mamak rumah datang, ipar-ipar datang. Ramai di rumah. 
Ramai ciloteh, cerita, nostalgia, memori. Ramai hotar. Ke kiri dan ke kanan. 
Dan ditengah keceriaan itu kami buka album-album lama. Album foto-foto yang 
terkumpul sejak lebih tiga puluh tahun yang lalu. Diantaranya ada foto-foto 
ketika aku masih bujangan di Bandung. Masih muda mentah, masih gagah�� dan 
ganteng. Seandainya mau pantas benar untuk jadi bintang sinetron kala itu, 
seandainya waktu itu sudah ada sinetron-sinetronan. Lalu foto ketika kami 
menikah dua puluh enam tahun yang lalu. Ehem�. Kami tampan dan cantik ketika 
itu. Lalu foto-foto ketika anak pertama lahir, ketika bayi kecil itu berumur 
beberapa bulan sampai dia berumur beberapa tahun. Sampai ketika adiknya lahir 
pula hampir tiga tahun kemudian. Ketika kami berwisata ke Bali, ke Dieng, ke 
Jogya. Jangan
dihitung lagi ketika kami pulang kampuang, naik bendi. Berjalan-jalan ke kebun 
binatang, ke Atas Ngarai pergi ke tempat pical si Kai. Atau ketika kami 
menyaksikan perayaan khatam Quran di kampung. 



Foto-foto itu bercerita banyak sekali. Rekaman foto-foto itu, yang selama ini 
tersimpan rapi di rak, tidak pernah dilihat-lihat lagi sejak lama, sekarang 
kami buka, kami lihat. Aku menari-nari diatas kenangan demi kenangan itu. Semua 
kembali segar dalam otakku. Seolah-olah iyanya baru kemarin saja. Baru kemarin 
rasanya aku berkeliaran di Bandung. Baru kemarin rasanya aku berkenalan dengan 
calon istriku lalu menikahinya. Baru kemarin kami punya anak yang datang satu 
persatu. Lalu pindah ke Jakarta dari Kalimantan Timur ketika anak-anak sudah 
bersekolah semua. Lalu mengukur jalan-jalan macet Jakarta setiap pagi dan 
petang. Larut dalam hiruk pikuk Jakarta. Padahal semua itu adalah sebuah 
perjalanan panjang berbilang puluhan tahun.



Malu-malu aku berkaca sesudah itu. Sendiri. Aku lihat raut wajah yang sudah 
kentara sekali berumur. Rambut yang sudah banyak putihnya dan memang kubiarkan 
putih. Biar ingat. Biar jangan lupa bahwa aku sedang menghitung hari. �Wahai 
manusia, sesungguhnya engkau sedang bekerja keras menemui Rabb mu dan engkau 
pasti menemuiNya�.



Dan sekarang aku berada di penghujung pergantian generasi. Anak-anak yang 
kutimang-timang selama ini, yang kulihat pertumbuhannya dari sehari ke sehari. 
Mereka telah bertumbuh dewasa. Telah tiba giliran mereka untuk melanjutkan 
amanah kekhalifahan ini. Dan aku sedang menghitung hari.



Aku bersyukur atas nikmat Allah ini. Yang tak terperikan besar dan banyaknya. 
Allah Yang Maha Pemurah telah melimpahiku dengan nikmat yang sangat luar biasa. 
Nikmat usia, nikmat sehat, nikmat kehidupan, nikmat keturunan, dan yang 
terutama nikmat iman dan Islam.



Pada kemarin yang dekat, seorang anak muda datang menghadapku sesuai dengan 
permintaanku sesudah sebelumnya kedua orang tuanya juga datang melamar anak 
gadisku yang paling tua. Tidak banyak yang aku rundingkan dengan anak muda yang 
menyatakan bersungguh-sungguh menginginkan anakku untuk menjadi istrinya itu. 
Tahukah kamu ma�na dari pernikahan dan ma�na dari menjadi seorang suami, 
tanyaku kepadanya. Agak terbata-bata dia menjawab. Menjadi suami, kataku, 
adalah kamu mengambil alih tanggung jawab terhadap seorang wanita untuk urusan 
dunia sampai akhirat. Apakah kamu paham? tanyaku pula. Anak muda yang 
bersemangat itu mengangguk. Dan aku ingatkan kepadanya firman Allah SWT, �Wahai 
orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari ancaman api 
neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Padanya ada malaikat yang 
sangat tegas dan keras yang tidak mendurhakai Allah atas apa yang 
diperintahkanNya kepada mereka dan mereka selalu melakukan apa yang 
diperintahkan kepada
mereka.�



Dan kini aku sedang menghitung hari yang sangat cepat sekali berganti.

Wassalamu'alaikum wr.wb.,

Lembang Alam




---------------------------------
Discover Yahoo!
Use Yahoo! to plan a weekend, have fun online & more. Check it out!

------------------------------

_______________________________________________
palanta mailing list
[email protected]
http://minang.rantaunet.org/mailman/listinfo/palanta_minang.rantaunet.org


End of palanta Digest, Vol 1, Issue 75
**************************************





__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke