----- Original Message ----- From: "Rahima" <[EMAIL PROTECTED]> To: "boes" <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Saturday, May 28, 2005 11:03 PM Subject: Re: [EMAIL PROTECTED] hadist wasiat .(seri2)
> > > --- boes <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Rahima, > > (ada baiknya pembahasan ini tidak di kopikan ke > > Surau, karena awal > > pembicaraan ini berasal dari Rantau-Net atau Palanta > > saja, takut > > tergaduh orang di Surau) > > maaf mak boes, kalau saya copykan ke surau. maksud > syaa cuman hanya ingin agar warga surau juga bisa > memahami ttg agama, karena ada warga surau yang > mengatakan klu ia akan lebih faham ttg agama, melalaui > diskusi ketimbang artikel. niat saya cuman ingin > sharing aja. tp terimakasih untuk itu. > > Mengenai hadist tersebut, kata wasiat dalam alquran > coba deh mak Boes lihat surah an Nisa. bukan dipakai > kata ; ' yuuris '(warisan 0, tetapi "yuusi". (Wasiat). > > Dan dalam keterangan fathul baari oleh imam Ibnu Al > Hajr, cerita tersebut memang tentang pembagian warisan > yang saat itu orang bertanya2 akan suatu warisan, > dimana rasulullah tidak meninggalkan warisan harta, > makanya ditanya pada sahabat lain( dan maaf mak Boes, > saya salah tulis, redaksi ayat tersebut, bukan sahabat > bertanya pada Rasulullah, tetapi sahabat bertanya > pada sahabat lainnya(nama tercantum dalam hadist). > Namun isi tetap mengenai warisan(silahkan baca syarha, > atau penjelasan dari Ibnu hajar di Fathl baari, jadi > ini memang bukan perkataan rasulullah, tetapi > perkataan sahabat, merupakan Atsar, tetapi semua > rentetan perawinya shahih, rasulullah sudah meninggal > kala itu, makanya orang bertanya2 bagaimana dengan > warisan yang rasulullah tak melakukannya(yakni > rasulullah tak meninggalkan harta yg bisa dibagi2kan). > Jadi memang itu tentang warisan, dan dalam bahasa Arab > wasiat bisa berarti dua, wasiat juga warisan, tentu yg > saya maksud disana adalah warisan sesuai dengan sebab > turunnya hadist tersebut dan sesuai dgn keterangan > Imam Ibnu Hajar. Itu mak Boes. > > > > > > satahu ambo wasiat itu tidak sama dengan warisan. > > jadi manuruik ambo, tidak tepat kalau cara penulisan > > dengan spt : > > wasiat/warisan > > ini menurut pemahaman ambo dalam kaidah bahasa > > indonesia, tolong > > benarkan bila tersalah. ini dulu deh. > > > > dari hadits yg Rahima tuliskan ini dibandingkan > > dengan hadits > > yg ambo kutipkan dari bukunya, sacara redaksi ada > > perbedaan > > yg signifikan sehingga menimbulkan pengertian lain. > > mungkin buku yg ada di Rahima begitu namun yg ada di > > ambo > > begini. jadi tidak sama (ingat nyanyi broery: engkau > > begitu aku begini > > hahahah) > > lalu salahkah hadits yg ambo kutipkan itu? > > tidak hadist itu tepat, cuman saya saya lupa > menuliskan maksud saya seorang sahabat bertanya pada > sahabat rasulullah yang lainnya. > Cuman pengertian wasiat menurut saya memang warisan > dalam hadist itu, lihat deh AlQuran mak Boes " > Yuusikumullaahu fiiaulaadikum liddzakari mislu...dst) > > > > > terus terang saja, ambo tidak mengerti kok ada orang > > yg mengaku Islam > > tapi masih mengatakan: kalau nggak ada di Alquran, > > kemana mau berhukum? > > spt yg kemudian mengatakan,ke hadits seperti yg > > Rahima sampaikan. > > Mak Boes, ini benar hadist rasulullah kepada Muadz bin > Jabal(ahli fiqh), hadist shahih dan merupakan sumber > hukum bagi ulama fiqh dalam penetapan hukum dan untuk > berijtihad. Rasulullah bermaksud untuk memberikan > penjelasan pada manusia kelak bila beliau telah tiada > manusia berpegang rentetan urutannya bagaimana. > Pertama AlQuran dulu...dst sebagaimana yg saya > jelaskan. Hadist ini terkenal bagi ulama sekarang > dipakai untuk ijtihadi dalam memecahkan suatu > persoalan yang rumit terjadi sekarang/yad. > > > > (nabi di dalam Alquran mengatakan ketika ada orang > > bertanya soal hukum > > sesautu, jawab beliau: jangan kamu berhukum > > kepadaku, tetapi kepada ALLAH > > sajalah, dan ambo lupa ayatnya ini) > > Bisa jadi lihat dulu redaksi ayatnya mak Boes, ttg > apa? > dan bagaimana, karena saya tak ada baca ayat begitu. > Yg ada selalu beriringan. > > > > > Pertanyaan ambo soal itu, sudah mampukah orang tsb > > menganalisakan isi > > Alquran itu sehingga dengan entengnya mengatakan : > > kalau tidak ada di > > Alquran bla bla... > > Ini ucapan rasulullah mak Boes, bukan orang lain. > > > > Rahima kan tahu, Alquran itu adalah kitab tuntunan > > dari ALLAH yg lengkap dan > > tidak ada keraguannya. Itu saja sudah menandakan > > bagi saya 'semuanya' > > persoalan > > hidup manusia itu sudah termaktub didalamnya. > > tetapi dalam ayat-ayat Allah kan ada yang samar. mak > Boes lihatlah sekarang betapa banyaknya persoalan > ummat yg harus diselesaikan dgn Ijma. > > > > Alquran sudah sempurna dan tak perlu tambah�an lain > > (6:115; 29:51) > > Ini banyak kajiannya mak, benar AlQuran sudah lengkap, > ngak perlu ditambahi hurufnya, kalimatnya, tetapi > pengertiannya sangat banyak dan akan berkembang terus, > juga hukum itu akan berkembang. Itu sebbanya perlnya > ada hadist. > > > > pemahaman Alquran itu dibukakan ALLAH sedikit demi > > sedikit sesuai dgn > > kemampuan; kemajuan zaman. > > misalnya: di Alquran diterangkan tentang kehidupan > > di laut. > > suatu waktu seorang pelaut canada dipinjami Alquran > > oleh rekannya. > > kemudian si canadian bertanya: Nabi kamu itu > > hidupnya dimana? > > di jawab: di gurun pasir. > > lalu si canadian memeluk islam agama islam. lha kok > > ba itu? > > karena disadarinya bahwa 32 ayat tentang lautan dan > > 13 tentang daratan yg > > kalau di > > jumlahkan menjadi 45 ayat. > > 32 ayat tentang laut tadi adalah sama dengan 71.11% > > dari 45 > > 13 ayat tentang darat adalah sama dengan 28.22 % > > dari 45 > > Dari ilmu bumi di jelaskan bahwa bumi itu terdiri > > dari 71.11% lautan dan > > 28.22% daratan. > > suatu kebetulankah? tentu tidak! > > Ini yang saya katakan, pengertian dan ini namanya > tafsir, akan berkembang tersu sampai akhir zaman. > > > > > kalau ternyata orang terus bertanya lagi: lho di > > Alquran nggak ada kok > > peraturan lalu lintas; jualan > > kaki lima; makan diatas pokok karambie... > > yah sama saja ambo menerangkan ke orang yg > > mem-perbodoh�i dirinya, dan tak > > usah diladeni lah. > > > > soal hadits ini bagi ambo indak usah dipertentangkan > > benarlah, bak kata > > Angku Taufik Malin, indak ka salasai > > doh sampai kiamaik. Tetap ada yg pro dan kon. Sekuat > > itu yg kontra hadits > > dan sekuat dan senyaring > > itu juga orang yg pro. Jadi buat apalah awak bakareh > > paruik. > > menamakan orang yg tidak memakai hadits utk sumber > > hukum dalam beragama itu > > sbg > > inkarsunnah saya pikir tidak benar. > > mak Boes, bukan saya aja yang beranggapan begitu, > cukup banyak saya baca dari netter lainnya, bahkan ini > orang banyak saya tahu dr postingannya yg dicopykan ke > saya. Saya belum percaya, sebelum saya membuktikan > sendiri. Dan bagi saya sudah terbukti ucapannya yang > pertama, mengatakan cukup AlQuran saja. Tidak perlu yg > lain, dan dr berbagai postingannya. Dr ucapan > pertamanya dan postinganyalah maka saya berani > mengatakan karena benar ciri-ciri orang yang inkar > sunnah. Hanya percaya AlQuran saja, tidak hadist). > Bahkan AlQuranpun sering ditambahinya pengertian yang > tidak tepat, padahal menambahi pengertian ini harus > dengan dalil juga, ia tidak hanya pendapatnya saja, > hanya saja saya tidak mempersoalkan itu. > > > > justru mereka orang yg memegang sunnah, hanya > > menurut apa yg ambo pahami > > mereka mengatakan > > bahwa sunnah itu adalah referensinya ke ALLAH semata > > (sunnatullah) > > Mak Boes, ahli sunnah , juga hali fiqh dalam penetapan > hukum yg pertama sekali dipagang adalah AlQuran, > tetapi ada hukum dan penjelasan ayat yg mujmal, atau > ringkas yg tdk termaktub dalam AlQuran ulama > melihatnya dr hadist. > > > perkataan inkarsunnah marak ketika di tahun awal > > 80-an di tanah air timbul > > ber-macam� pengkajian > > tentang Alquran.dan dengan perkataan lain, inkar > > sunnah diartikan orang > > sesat. > > kalau saya mengartikan bukan sesat, karena sesat itu > adalah dhaalliin, tetapi ia orang yg tak percaya > dengan hadits, hanya AlQuran Tok, dan ini jelas > bertentangan dengan firman Allah dan ayat yg sdh > sering saya sebutkan sebelumnya. > > > > > > ko agak panjang setek Rahima yo. > > begini, orang beriman di suruh beriman kepada kepada > > ALLAH dan rasul-NYA > > serta Kitab > > yg DIA turunkan atas Rasul-NYA dan Kitab yg DIA > > turunkan dulunya...dst dst > > di 4:136 > > > > lalu sementara orang mengatakan, berimanlah pada > > kitab yg tidak ALLAH > > turunkan pada > > rasul-NYA. apa jawab ALLAH? > > 2:79 jawabnya...dimulai dgn: kecelakaanlah bagi > > orang� yg menulis Kitab > > dengan tangannya > > kemudian mengatakan:" Ini daripada ALLAH" agar > > mereka menukarnya dgn nilai > > sedikit dst dst. > > Ini kajian lain lagi mak Boes. > > > > > baiklah, tentu akan berpanjang lebar urusan ini dan > > biarlah kita jangan > > saling mengatakan > > si anu sesat atau dituduh salah alias inkarsunnah, > > biarlah ALLAH yg > > menghakimi. > > Saya hanya menghakimi sesuai dengan perkataannya > sendiri dan berbagai postingannya tentang hadist.Itu > saja mak Boes. > > > marilah kita berserah diri kepada-NYA semoga > > bertambah ilmu kita dan > > dimudahkan > > pikiran kita dalam mempelajari ilmu ALLAH yg tak > > berujung ini. > > Amin, tetapi saya akan tetap berjuang untuk > menyampaikan apa yang ada dalam AlQuran dan Hadist. > Itu saja, kalau ada yg salah, akan saya tegur. (klu > lagi mood dan kalau sudah keterlaluan). > > Wassalam. Rahima. > > > > > wassalam, > > boes > > > > > > ----- Original Message ----- > > From: "Rahima" <[EMAIL PROTECTED]> > > To: "boes" <[EMAIL PROTECTED]>; > > <[email protected]> > > Sent: Saturday, May 28, 2005 5:06 AM > > Subject: Re: [EMAIL PROTECTED] hadist wasiat .(seri2) > > > > > > > Mak Boes, perlu saya jelaskan dalam hadist yang > > mak > > > Boes sebutkan. > > > > > > > > > Ketika itu para sahabat bertanya-tanya mengenai > > > masalah wasiat/warisan. Sehingga bertanyalah salah > > > seorang sahabat. : Wahai Rasulullah SAW, adakah > > nabi > > > berwasiat(tentang pembagian warisan)? Jawab yang > > > lainnya, " Tidak ada ". kemudian bertanya sahabat > > > lagi, bagaimana kami melakukan sesuatu yang rasul > > > Allah tak melakukannya? Jawab sahabat tadi : > > "Beliau > > > menyuruh untuk mengambil wasiat dari kitab Allah > > > ".(H.R Bukhari, Ibnu Hibban dan lainnya) > > > > > > Ini cerita hadist tersebut mak Boes. Jadi bukan > > > maksudnya, kita hanya berpegang pada kitab Allah > > saja, > > > akan bertentangan dengan firman Allah dan hadist > > rasul > > > Allah sendiri tentang " Ta'ati Allah dan rasulNya, > > > juga aku tinggalkan pada kamu dua hal yang bila > > kamu > > > berpegang pada keduanya, kamu tidak akan sesat > > > selamanya". > > > > > > Jadi,."berwasiat" diatas tadi adalah mengenai > > harta > > > warisan, makanya harus diambil dari wasiat/warisan > > > dari kitab Allah. > > > > > > Dalam hal inipun dalam sebuah hadist dari Muadz > > bin > > > Jabal, beliau bertanya pada sahabat tersebut : " > > > Dengan apa kamu menghukum..? jawab sahabat dengan > > > Kitab Allah, kalau tidak ada di Kitab Allah dengan > > > apa..? Dengan sunnah rasul Allah, kalau tidak > > ada..? > > > baru dengan pendapatku ". > > > > > > Jadi jelas, kita manusia lihat dulu hukumnya > > apakah > > > ada didalam AlQuran, kalau ada pakai yang ada > > dalam > > > AlQuran, kalau tidak ada, pakai hadist Rasul > > Allah, > > > bila tak ada juga baru yang lainnya. > > > === message truncated === > > > > > __________________________________ > Do you Yahoo!? > Yahoo! Small Business - Try our new Resources site > http://smallbusiness.yahoo.com/resources/ > > _____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ------------------------------------------------------------ Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib ____________________________________________________

