Bismillahirrahmaanirrahiim,
Assalaamu 'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh,

Sebelumnya mohon maaf karena masalah ini pernah dikirimkan ke palanta sebelumnya. Namun melihat hadits "Tuntutlah ilmu ke negeri Cina" kembali didengung-dengungkan maka semoga ada manfaatnya disajikan lagi.

Berikut informasi yang saya peroleh dari terj. Silsilatul Ahaadits adh-Dhaaifah wal Maudhu'ah (I/No. 416) (a) serta buku Hadits-hadits Dla'if dan Maudlu' susunan Abdul Hakim bin Amir Abdat (I/No. 103) (b) yang intinya adalah hadits tersebut sangat lemah bahkan dikatakan batil. Mohon maaf jika terlalu 'teknis' namun saya sampaikan di sini agar dapat lebih jelas.

Sesungguhnya penentuan derajat hadits secara riwayat merupakan pengamalan perintah Allah subhanahu wa ta'ala (yang artinya):

"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." (QS. al-Hujuraat 49:6)

Apalagi untuk urusan agama yang tentulah tidak pada tempatnya diatur oleh berita-berita dari orang yang tidak terpercaya apalagi pendusta.

"Tuntutlah Ilmu walau ke negeri Cina"

Dalam (a) disebutkan:
----------
Riwayat ini batil. Ini diriwayatkan oleh Ibnu Adi II/207, Abu Naim dalam Akhbar Ashbahan II/106, al-Khatib dalam at-Tarikh IX/364 dan sebagainya, yang kesemuanya dengan sanan dari al-Hasan bin Athiyah, dari ABU ATIKAH THARIF BIN SALMAN, dari Anas bin Malik radhiallahu 'anhu. Kemudian semuanya menambahkan lafadz fa inna thalabal ilmi faridlatun 'ala kulli muslimin.
...
Kelemahan riwayat ini terletak pada Abu Atikah yang telah disepakati muhadditsin sebagai perawi sanad yang sangat dha'if. Bahkan oleh Imam Bukhari dinyatakan munkar riwayatnya. Begitu pula jawaban Imam Ahmad bin Hanbal ketika ditanya tentang Abu Atikah ini.
-----------
Imam al-Bukhari yang dikenal sebagai Amirul Mukminin dalam ilmu hadits termasuk yang paling berhati-hati dalam memberi komentar. Ungkapan 'Munkarul hadits' bagi beliau menunjukkan posisi yang sangat lemah.

Dalam (b) disebutkan:
------------
Berkata al-Imam Ibnul Jauzi di kitabnya al-Maudhu'aat (12/16), "Hadits ini tidak sah dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, ... adapun Abu Atikah, telah berkata Bukhari: Munkarul Hadits. dan telah berkata Ibnu Hibban: hadits ini batil tidak ada asalnya.
------------

Dalam (b) disebutkan:
------------
Telah berkata al-Baihaqy di kitabnya al-Madkhal (hal. 242) dan di kitabnya Syu'abul Iman (4/291 dan ini lafadznya), "Hadits ini matannya masyhur sedangkan isnadnya dla'if. Dan telah diriwayatkan dari beberapa jalan (sanad) yang semuanya dla'if."
------------

Sedangkan mengenai jalur periwayatan di Kitab al-'Ilm karya Ibnu 'Abdil-barr dijelaskan oleh seorang teman saya.
----------------
[Ana katakan] Kitab Al-'Ilm oleh Ibnu 'Abdil-barr, lebih dikenal dengan Jami' Bayanil-'Ilmi Wa Fadhlihi, halamannya kurang lebih tepat, berada di Juz Pertama.

Susunan sanadnya sbb :
Ibnu ‘Abdil-barr berkata - mengabarkan kepada kami Ahmad, katanya, mengabarkan kepada kami Maslamah, katanya, mengabarkan kepada kami Ya’qub ibnu Ishaq ibnu Ibrahim Al-‘Asqalaniy, katanya, mengabarkan kepada kami ‘Ubaid ibnu Muhammad Al-Firyabiy, di Baitul-Maqdis, katanya, mengabarkan kepada kami Sufyan ibnu ‘Uyainah, dari Az-Zuhriy, dari Anas ibnu Malik, katanya, Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tuntutlah ‘ilmu walau ke negeri Cina, karena sesungguhnya menuntut ‘ilmu wajib atas setiap Muslim.”

Hadits ini diisyaratkan Maudhu’ [palsu]. Karena terdapat seorang perawi pendusta bernama, Ya’qub ibnu Ishaq ibnu Yazid ibnu Hajar Al-‘Asqalaniy.
Awal salin :
Ibnu Hajar Al-‘Asqalaniy berkata [ketika menerangkan biografi Ya’qub ibnu Ishaq Al-‘Asqalaniy], dia adalah seorang pendusta. Dan telah meriwayatkan Ibnu ‘Abdil-barr, dalam Kitabil-‘ilm, menceritakan kepada kami Ahmad ibnu ‘Abdillah, menceritakan kepada kami Muslim ibnu Qasim, darinya [Ya’qub ibnu Ishaq], dan diriwayatkan dari selainnya [kepada Ya'qub], dari ‘Ubaidillah ibnu Muhammad Al-Firyabiy, dari Sufyan, dari Az-Zuhriy, dari Anas radhiyallahu ‘anhu, marfu’, “Tuntutlah ‘ilmu walau ke negeri Cina, karena sesungguhnya menuntut ‘ilmu wajib atas setiap Muslim.”
[Lisanul-Mizan no.1090 (6/304), oleh Ibnu Hajar Al-‘Asqalaniy]
----------------

--
Ahmad Ridha ibn Zainal Arifin ibn Muhammad Hamim
(l. 1980M/1400H)



_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke