Assalamu'alaykum wr.wb

Puisiko  dibuek  oleh  Abdurahman  Faiz  seorang  anak nan baru ba umu
kiro-kiro  9-10  tahun,  pemenang  lomba  menulis  surat  ke  presiden
(Megawati),  banyak  karya  puisi  nan  alah  dibueknyo,  bahkan  alah
dibukukan pulo dengan kata pengantar bapak Taufiq Ismail.

Nan  ambo  dibuek  kagum dek karano dalam usia muda alah mamiliki daya
serap  terhadap masalah-masalah sosial nan tajadi disakaliliangnyo dan
kemampuan mengexpressikan dalam rangkaian kata-kata.

Urang minang nan mampusakoi bahaso tinggi, bentuk puisi merupakan alat
komunikasi   yang   halus  dan  tajam,berpuisi  membutuhkan  kemampuan
artikulasi  rasa  hati,  kebanyakan tokoh intelektual dan ulama minang
mampu  mambuek puisi, dapek dikatakan pulo bangso nan menghargai puisi
sebagai bangso berlambang kabudayaan tinggi.



Wassalam
Arnoldison

------------------------

KISAH DARI NEGERI YANG MENGGIGIL

(untuk adinda: Khaerunisa)


Kesedihan adalah kumpulan layang-layang hitam
yang membayangi dan terus mengikuti
hinggap pada kata-kata
yang tak pernah sanggup kususun
juga untukmu, adik kecil


Belum lama kudengar berita pilu
yang membuat tangis seakan tak berarti
saat para bayi yang tinggal belulang
mati dikerumuni lalat karena busung lapar


: aku bertanya pada diri sendiri

benarkah ini terjadi di negeri kami?


Lalu kulihat di televisi
ada anak-anak kecil
memilih bunuh diri
hanya karena tak bisa bayar uang sekolah
karena tak mampu membeli mie instan
juga tak ada biaya rekreasi


Beliung pun menyerbu
dari berbagai penjuru
menancapi hati
mengiris sendi-sendi diri
sampai aku hampir tak sanggup berdiri


: sekali lagi aku bertanya pada diri sendiri
benarkah ini terjadi di negeri kami?


Lalu kudengar episodemu adik kecil
Pada suatu hari yang terik
      nadimu semakin lemah
tapi tak ada uang untuk ke dokter
atau membeli obat
sebab ayahmu hanya pemulung
kaupun tak tertolong


Ayah dan abangmu berjalan berkilo-kilo
tak makan, tak minum
sebab uang tinggal enam ribu saja
mereka tuju stasiun
sambil mendorong gerobak kumuh
kau tergolek di dalamnya
berselimut sarung rombengan
pias terpejam kaku


Airmata bercucuran
peluh terus bersimbahan
Ayah dan abangmu
akan mencari kuburan
tapi tak akan ada kafan untukmu
tak akan ada kendaraan pengangkut jenazah
hanya matahari mengikuti
memanggang luka yang semakin perih
tanpa seorang pun peduli


: aku pun bertanya sambil berteriak pada diri
benarkah ini terjadi di negeri kami?


Tolong bangunkan aku, adinda
biar kulihat senyummu
katakan ini hanya mimpi buruk
ini tak pernah terjadi di sini
sebab ini negeri kaya, negeri karya.
Ini negeri melimpah, gemerlap.
Ini negeri cinta


Ah, tapi seperti duka
aku pun sedang terjaga
sambil menyesali
mengapa kita tak berjumpa, Adinda
dan kau taruh sakit dan dukamu
pada pundak ini


Di angkasa layang-layang hitam
semakin membayangi
kulihat para koruptor
menarik ulur benangnya
sambil bercerita
tentang rencana naik haji mereka
untuk ketujuh kalinya


Aku putuskan untuk tak lagi bertanya
pada diri, pada ayah bunda, atau siapa pun
sementara airmata menggenangi hati dan mimpi.


: aku memang sedang berada di negeriku
yang semakin pucat dan menggigil


(Abdurahman Faiz,  7 Juni 2005)


_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke