Assalamu'alaikum wr wb.
Dunsanak Syahril, baa pulo mangko katasingguang priibadi dek ulasan Hj. Rahmiana ko?. Kan iyo nan dikecekan nyo tu. Kok ado 20 urang nan bantuak inyo ko di Sumbar, tapi mamacik kunci pamerintahan, dijamin bisa mambangkik batang tarandam.Insya Allah. Mudah mudah an ibuk ko masih mudo , alun baumua pansiun. Di Fakultas ma ibuk ko maaja kolah.
wassalam
Isna

[EMAIL PROTECTED] wrote:

Assalamualaikum Wr. Wb.,

Satalah mambaco ulasan Ibuk dibawah ko, tasingguang pribadi ambo dek
baliau, tapi sangek batarimo kasih awak ado urang awak yang hebat sarupo
baliau ko.

Sambia lalu maucapkan salamaik masuak baliak ka Palanta yang istimewa ko
untuak Rangkayo Rahima, moga2 batambah matang dan samparono pribadi dan
ilmunyo.

Wass, syb.



Kita dan Negara Lain
Oleh Hj Rahmiana Zein, PhD Oleh admin padek 1 Rabu, 15-Juni-2005, 10:33:37 8 klik

Negara Indonesia termasuk Sumatera Barat tertinggal dan mundur dalam
berbagai bidang karena tidak mau belajar dari pengalaman seiring
berjalannya waktu. Busung lapar atau gizi buruk kembali mendera,
meskipun kita pernah surplus pangan.

Polio kembali merebak, meskipun diklaim penyakit polio pernah hilang
dari Indonesia. Dalam bidang pendidikan dulu kita mengajar ke Malaysia,
sekarang ilmuan kita yang pergi belajar ke Malaysia.
Padahal dilihat dari umur Negara, antara Indonesia dan Malaysia tidak
jauh berbeda, tetapi mereka mau belajar secara cepat untuk mengatasi
ketertinggalan bangsanya dalam berbagai bidang ilmu dengan cara
meningkatkan alokasi anggaran untuk pendidikan. Pendidikan mendapat
prioritas tertinggi. Untuk ukuran Indonesia dalam bidang pendidikan
Sumatera Barat juga sudah mulai tertinggal, Nun jauh dipelosok Sibolga
sana, ada sekolah unggul yang cukup dikenal, sementara di Sumatera Barat
mana?.
Apalgi jika dibandingkan dengan Bali, yang pelajar SMUnya selalu ikut
olimpiade dan nilai rataan SPMBnya jauh di atas pelajar Sumatera Barat.
Sementara Sumatera Barat terlena dengan kejayaan masa lalu, kemudian
menomorduakan masalah pendidikan, lebih mendahulukan penampilan luar,
meskipun dalamnya tak lagi terurus, gedung-gedung dibangun dengan megah,
jika perlu dengan merombak yang lama meskipun masih sangat layak pakai,
taman-taman diganti, meskipun yang lama masih layak hidup, tetapi jika
dilihat kedalam, isi bangunan tak ada fasilitas apapun, kamar mandipun
tak berair.
Dari prespektif budaya, mayoritas penduduk kita adalah pemeluk agam
Islam, agama yang di dalamnya terkandung ajaran-ajaran yang sempurna di
dalam menjalani kehidupan di dunia dan akhirat, tetapi tidak kunjung
sadar dan mengaplikasikan atau menggunakan ajaran ini secara benar di
dalam kehidupan. Banyak hal dalam budaya kehidupan mereka sehari-hari
tidak mencerminkan perilaku seorang muslim. Citra bangsa yang korup dan
tak tahu malu telah melekat dan mengikis citra seorang muslim yang
beretika dan menjunjung tinggi kejujuran.
Jika kita melihat ke luar, bangsa Jepang misalnya yang notabene dalam
pendidikan formalnya tidak terdapat kurikulum pelajaran agama mulai dari
tingkat taman kanak-kanak sampai ke perguruan tinggi, justru
memanfaatkan ajaran Islam yang susungguhnya, santun, jujur, bekerja
keras dan rajin serta mau belajar dari kesalahan masa lalu dan tidak
pernah meninggalkan akar budaya. Pengalaman tinggal selama 8 tahun di
Negeri sakura tersebut memberi pelajaran banyak hal pada saya, bagaimana
cara orang Jepang mengejar ketertinggalannya dibandingkan bangsa lain
dengan cara memegang teguh akar budaya mereka, bekerja keras, santun dan
jujur.
Saya mempunyai 3 pengalaman yang sangat berbekas hingga kini. Pertama
adalah ketika 2 orang putra saya yang belajar dari jam 8 pagi hingga jam
5 sore di sekolah, harus melaksanakan shalat zuhur dan ashar, meskipun
orang Jepang bukan orang yang memeluk Islam, tetapi kepedulian dan rasa
hormat pada kepercayaan ataupun agama bangsa lain mereka perlihatkan
dengan memberikan tempat khusus untuk shalat. Kedua dalam masalah
kejujuran, ketika saya ketinggalan dompet tangan dalam perjalanan dari
Nagoya ke Toyota, dengan kereta api, karena dompet yang di dalamnya
terdapat sejumlah uang tertinggal di stasiun sebelumnya. Ketika kembali,
seorang nenek menyarankan agar pergi ke kantor polisi dekat stasiun.
Setelah disebutkan ciri dompet dan isinya, polisi mengembalikan dalam
keadaan untuh.
Pengalaman ketiga dalam hal kerja keras, saya lihat setiap hari
mahasiswa, dosen dan Profesor bekerja keras di laboratorium. Semuanya
bekerja keras dan sepertinya diburu waktu. Ketika hal ini ditanyakan
pada profesor pembimbing saya ia menjawab Bangsa kami pernah kelaparan,
ketika kami kalah perang, kami pernah makan ubi hanya sekali sehari
ketika pangan tak cukup, meskipun sekarang kami sudah punya uang, kami
sudah cukup pangan, tapi hal ini tak membuat kami bermalas-malasan. Jika
kami lalai, maka satu saat kami akan kembali seperti dulu, kembali
miskin dan menjadi bangsa yang kalah, sungguh menyakitkan kata mereka,
ujarnya.
Saya menilai mereka adalah bangsa yang mau belajar dan selalu belajar,
dan sebenarnya ini sesuai ajaran Al-Quran dalam surat Al-Ashr (ayat
1-3), Demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali
orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, dan nasihat-menasihati
supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasehati supaya menetapi
kesabaran
Pepatah Sedikit bicara banyak bekerja, harus mulai ditanamkan kembali,
bukan banyak bicara tapi sedikit kerja atau tak ada kerjaan sama sekali.
Bagi mereka yang tidak terbiasa dengan kerja keras mungkin akan
mengatakan KUPER alias kurang pergaulan serta sombong dan tidak mau
bergaul. Ini juga mestinya menjadi perhatian wanita karir yang juga
berstatus rangkap sebagai ibu rumah tangga dan sebagai pekerja, untuk
bis amembagi waktu antara kerja dan keluarga.
Silaturrahim sangat perlu, tetapi akan sangat bagus jika diikuti sifat
suka bekerja keras dan jujur. Di dalam surat Al-Insyirah (Kelapangan)
Allah berfirman yang artinya, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada
kemudahan. Akan selalu ada titik terang di tengah kegelapan, seperti
kata pepatah, There is always silver linning behind the cloud. Jika kita
renungkan, semuanya ini akan dapat kita lakukan asal hati nurani kita
punya kemauan dan keinginan untuk selalu berbuat baik sesuai dengan
ajaran Al-Quran dan Sunnah Nabi. Insyah Allah.
Semoga harapan yang terpendam dapat dibangkitkan kembali oleh pemimpin
Sumatera Barat ke depan. Untuk itu mari kita bersama-sama bekerja keras
seayun selangkah menyumbangkan pikiran-pikiran membangun pola hidup
bangsa yang maju, berbudaya dan menjalankan ajaran agama secara benar.
Pemimpin harus bisa membawa rakyatnya merubah pandangan negatif bangsa
luar terhadap bangsa kita. Oleh karena itu jangan salah dalam memilih
pemimpin 27 Juni ini. Mari sama-sama kita mencermati track-record
pasangan calon pemimpin (Gubernur dan Wakil Gubernur) atau bupati/wakil
bupati dan walikota/wakil walikota. Bukan hanya track record pengalaman
dalam memimpin, tetapi juga ada tidaknya cacat dalam priode kepemimpinan
yang telah mereka lalui. Mudah-mudahan harapan rakyat untuk melihat
Sumatera Barat menjadi daerah yang maju, terpandang, aman, sejahtera dan
berbudaya akan menjadi kenyataan. Amin Prof Dr Hj Rahmiana Zein, Guru Besar Universitas Andalas

_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________






_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke