Perjalanan di Sahara
Assalamualaikum.Wr.Wb. Mulanya niat tour ibu-ibu Dharma Wanita KBRI Kairo banyak pilihan. Pertama ke Spanyol, China, Umrah, Turkey dllnya. Diambil kesepakatan ke Turkey. Manusia merencanakan Allah jua yang menentukan. Karena suatu dan lain hal, maka perjalanan ke Turkey di cancel dengan kerugian yang cukup besar. Travel tidak mau mengembalikan setengah duit yang dibayar, setengahnya lagi dikembalikan tapi itupun bersyarat harus dipakai dengan tour ke tempat lain juga. Akhirnya daripada hilang duit, diambil saja tour yang ada di Mesir. Jatuh pilihan ke Bahariya, Padang Sahara. Wah,.saya mendengar Padang Sahara sudah puyeng duluan kepala, mikirin betapa panasnya disana, mana sikecil ngak mungkin dibawa lagi. Namun ketua dan ibu-ibu yang lain tidak setuju bila saya tidak ikut. Karena ada dua ibu yang sangat diharapkan keikutsertaannya dalam meramaikan suasana tour salah satunya adalah saya. Kenapa..? Karena bisa membuat orang tertawa penuh canda, dan suasana ngak sepi tapi ramai, sekaligus ingat pesan-pesan Allah. Yah,.akhirnya dengan bujukan dan rayuan ketua dan ibu-ibu yang lain, setelah tentunya dorongan suami juga, akhirnya saya memutuskan untuk ikut serta juga. Malam sebelum berangkatpun hati saya masih malas. Tapi suami yang dengan sabar dan teguhnya, turut mendorong saya agar teguh untuk ikut serta, beliau sengaja jahitkan saya tiga stel celana panjang sekaligus dalam jangka waktu satu hari(subhanallah, hebat banget ini suami saya pikir, saya dibelikan baju khusus di Padang Sahara, juga dijahitkan celana panjang khusus yang adem /sejuk disana), mana sebelum berangkat sejampun beliau yang mempersiapkan sarapan pagi saya. Dimana saya sendiri hati masih malas meninggalkan sikecil, juga ngebayangi padang pasir, panas luar biasa itu. Yah,..tepat pukul 10 pagi hari jum�at tanggal 10 Juni 2005, kami berangkat dengan bis. Saya menangis didalam bis, ngak kuat ninggalin sikecil, juga anak-anak saya yang lainnya, mana pasti kangen dengan suami yang selama ini tempat saya bergantung didunia ini, tempat saya bermanja. Pukul 4 sore, kami nyampai ditujuan. Disepanjang jalan yang jarak antara Kairo- Bahariya tersebut sekitar 350 km lebih, yang ada hanyalah padang sahara disepanjang jalan, tak ada satu rumahpun, tak ada pohon, kecuali rumput kering yang kecil dan tumbuhnya lucu lagi, kayak ikat sapu lidi, kecil2 dan sekumpulan, kering, tapi tetap aja masih hidup, subhanallah. Saya dan sebahagian besar teman-teman yang lain menduga hotel yang disediakan pada kami adalah hotel yang ber AC meskipun dipadang sahara, bayangan kami hotelnya sebagaimana hotel yang ada di down town. Ternyata pas bis nyampai, dikatakan itu hotelnya. Saya bilang, : � Kita sudah sampai nih,..mana hotelnya ? �. Ada teman yang nyeletuk : � Itu tuh..ima hotelnya �. Saya jawab lagi, � Ini hotel..? lha..ini sama saja dengan saya masuk pesantren, sungguh dari luar persis hotel tersebut bentuk pesantren Purba yang ada di SUMUT itu, bentuk mushroom, cendawan itu lho. Semua pada ketawa,.mikirin yah ngak papa bentuknya jelek tapi dalamnya ada AC nya. Koper kita diangkat oleh petugas hotel sampai dikamar masing-masing. Saya sekamar dengan satu orang teman saya yang umurnya sekitar 6-8 tahun diatas saya. Sampai dikamar, bukan main panasnya. Saya Tanya pada pelayan, ngak ada AC..? Kipas anginpun tak ada, gimana tidur malam nantik nih, sungguh panasnya luar biasa, persis kayak di Arafah deh bagi yang pernah haji, udaranya sekitar itu tanpa AC sama sekali. Ac hanya ada satu kamar saja, khusus buat ibu dubes, itupun katanya ngak jalan. Saya nyampai langsung ngebel suami. Tanya suami gimana hotelnya? Saya jawab,..yah..lumayan,.sebahagian kamar bahkan ngak ada air, ngak ada kipas angin, kalau dikamar saya masih lancar airnya, walau warnanya merah, kipas angin bisa diminta pada petugas, saya bilang pada suami. Ok,.ngak papa jalani aja dengan sabar. Setiap saat komunikasi saya dengan suami berjalan lancar. Kecuali satu hari dimana sinyal ngak ada ditempat kami berkhemah, dimana dulunya tempat itu lautan luas, sekarang tinggal padang pasir dengan batu karangnya. Ngak sampai sejam nyampai dihotel, kita makan siang dengan makanan yang ala kadarnya, masakan Mesir. Kemudian kita langsung berangkat ke tempat peninggalan sejarah bangsa Romawi dulu ketika menguasai Mesir. Kuburan para rajanya, candi dan sebagainya. Disepanjang jalan ada juga rumah-rumah bentuk kuburan, orang sepi, ada kedai kecil satu dua tiga kedai.Kita berangkat dengan empat mobil JIP. Satu Jip isinya 5-6 orang. Nasib bagi yang berbadan kecil tempatnya adalah didepan dekat sopir, karena ruang belakang diisi dengan barang-barang satu ruang belakang lagi diisi oleh tiga orang, sementara dekat sopir harus ada dua orang yang berbadan kecil. Sudah pasti saya kena yang berbadan kecil duduk dekat sopir(gantian dengan teman satu lagi). Sungguh ngak perlu saya sampaikan, pasti semua sudah dapat rasakan bagaimana duduk dekat sopir yang tahu sendiri kalau orang Mesir itu malas mandi, apalagi ganti baju, dipanas terik mentari dengan sekali-kali angin bertiup apa yang tercium..? Ampun deh,..tapi saya masih bisa menahan karena bawa tissue basah yang wangi itu. Teman saya yang dibelakang ataupun yang satu lagi didepan bersama saya sampai hampir muntah karena bau tersebut. Yah..lagi-lagi nasib,.harus tabah juga dihadapi. Sebuah perjalanan yang membuat debaran jantung. Empotan jantung kita dibuatnya, sang sopir dengan gesit, lincah dan kencangnya memainkan stir tanpa memandang sahutan kita agar slowly dikit. Berulang kali kita menyampaikan agar slowly dalam menyetir, tak juga diindahkan. Ini kalau jalan dipadang pasir yang tingkat kedalaman pasirnya lumayan dalam juga, mana harus melewati batu karang disepanjang jalan, berbelok-belok, kayak orang main mobilan sajalah. Juga kita melewati gunung sahara yang terbuat jelas dari batu, ngak ada pohon bukit atau gunungnya, curam, kedalamannya sekitar 8-15 m, disepanjang bukit tersebut kelokannya, persis deh kayak perjalanan dari Sumbar ke Sumatera, melewati jalan Sibolga, kelokan dan curam, masih bending di Indo ada pohonnya, ini batu keras sama sekali, tanpa pohon satu batangpun. Bagaimana tak jantungan hati ketika mobil mereng kayak mau jatuh saja dipinggiran bukit yang curam itu. Duh�ampun deh ngebayangi itu lagi. Sampai malam kita berjalan seputar itu saja, kemudian kembali lagi kehotel. Untuk melanjutkan perjalanan keesokan harinya. Bersambung� Wassalam. Rahima __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com _____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ------------------------------------------------------------ Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib ____________________________________________________

