Assalamualaikum

Saya baru mendarat kembali di Banda Aceh, di airport militer yang digunakan khusus sebagai pangkalan heli dan Twin Otter United Nation Humanitarian Air Service (UNHAS), setelah melakukan perjalanan udara dengan UN Heli ke Meulaboh, dilanjutkan dengan perjalanan darat ke Nagan Raya, lalu kembali lagi ke Meulaboh, dan terbang dengan UN Heli ke Calang, dari sini langsung kembali ke Banda Aceh. UNHAS inilah yang menjembatani perhubungan di seluruh wilayah bencana: NAD-SUMUT (termasuk Nias). In behalf of USAID, saya dapat mengakses daerah-daerah sulit dengan Heli dan Twin gratis dari UN. Baru 11 hari saya di Aceh, tapi sudah melakukan 7 kali penerbangan dengan menggunakan 3 jenis heli yang berbeda dan 1 Twin milik UN. Teman-teman lain stay di kota Banda Aceh. Jadwal perjalanan yang padat dan agenda pertemuan yang tidak peduli waktu dan cuaca dengan pimpinan daerah dan NGOs saya lakukan guna merumuskan strategi TA (bantek) untuk pantai barat (west coast) Aceh dan satu wilayah sejuk Aceh Besar.

Ada beberapa cerita menarik yang ingin saya tuturkan:

(1) Dua Kali Sembahyang Jum'at Di Masjid YAMP Calang.

Salah satu Masjid yang terbilang besar di Calang adalah Masjid YAMP-yang disain tipikal-nya pernah dikerjakan oleh para arsitek ENCONA. Masjid ini 'under construction' tapi sudah menjelang pulih setelah dilanda tsunami.

Yang menarik bagi saya adalah mengenai tema khutbah Jum'at yang dua kali berturut-turut saya ikuti. Khatib jum'at 10 juni dan Jum'at 17 Juni 2005 adalah orang yang berbeda, tapi keduanya menguraikan tema yang identik, yaitu: "Sebab-Sebab Terjadinya Bencana". Inti pesan yang disampaikan pun bermuara pada kesimpulan yang sama, bahwa Tuhan tidak pernah dan tidak akan pernah menganiaya hamba-hambanya, tapi manusialah yang menganiaya dirinya sendiri. Ayat yang dipetik antara lain QS Al A'raf ayat 195-196.

Saya tertegun dengan pengalaman ini, pertama; introspeksi diri yang terus-menerus dilakukan oleh orang Aceh (mengingat saya mengadiri Shalat Jum'at di Aceh 6 bulan pasca Tsunami), kedua; keberanian melakukan kritik diri itu sendiri. Sungguh mengagumkan....

(2) Kontribusi Yang Terfokus dari NGO Asing

Kehadiran NGO asing merupakan warna tersendiri dalam upaya-upaya recovery pasca Tsunami. Yang menarik dari mereka ialah apa yang saya istilahkan sendiri: "Kontribusi Yang Terfokus". Hal ini salah satunya diperlihatkan oleh ESTONIA RELIEF TEAM. NGO negeri kecil ini hanya memfokuskan kontribusinya pada penyediaan akomodasi dan logistik bagi para kontributor yang bekerja untuk pemulihan pasca Tsunami. Tapi kontribusi "kecil" ini mereka lakukan tidak setengah-setengah. Mereka sangat well-equiped.

Akomodasi yang mereka sediakan 'hanya' tenda tapi bukan sembarang tenda. Mereka menamakan tenda besar yang disekat sekat menjadi kamar-kamar ukuran kecil 2 x 1.5 m2 tersebut sebagai hotel. Memang, dan pelayanannya tidak kalah dengan hotel-hotel bintang di ‘dunia luar’. Yang menarik disini adalah adanya ketertiban dan keteraturan dalam kekacauan situasi.

Para wakil negara donor atau NGO untuk Tsunami tidak boleh sembarang masuk tenda, tapi harus check-in terlebih dahulu dan harus jelas kapan mau check-out. Waktu makan ditentukan, dan tentu saja terdapat sejumlah aturan yang harus ditaati. Hotel Estonia, itulah nama tenda tersebut. Dilengkapi AC-Listrik-tempat tidur, bantal dan selimut. Kebersihan selalu dijaga. Dan resto tenda yang menjadi satu kesatuan dengan tenda tersebut selalu memperlihatkan expire date pada makanan yang disajikan. Fasilitas air bersih dan sanitasinya cukup baik. Generator set-nya selalu di periksa setiap hari...Wireless internet yang disediakan NGO "Air Putih" membuat siapa saja bisa mengakses calang-Hot Spot di tenda-tenda. Hotel Estonia berlokasi satu area dengan UN Based Camp.

Calang di siang hari mirip dengan Kamboja di tahun 1980-an dengan tentara-tentara bersenapan laras panjang, dan di malam hari seperti ada pasar malam kecil di tengah hutan. Itulah UN Base Camp

(3) Aceh Yang Berubah

Pak Darwin masih ingat dengan Proyek Reklamasi Teluk Pusong ENCONA di Lhok Seumawe dulu. Untuk proyek itulah kali pertama saya ke Aceh, 1990. Belum ada Jumbo Jet yang bisa mendarat di Bandara Blang Bintang---sekarang Bandara Sultan Iskandar Muda. Tahun 1990 Aceh lebih banyak diakses lewat darat dari Medan. Setelah mendarat di Bandara Polonia, perjalanan dilanjutkan dengan taksi ke Lhok Seumawe selama 8 Jam.

Aceh kini berubah, setidaknya di mata saya.

Dulu situasi sangat mencekam...lewat waktu Isya jarang orang yang berani keluar rumah...tapi sekarang tidak lagi

Saya lanjutkan nanti pak Darwin, tks

Sambas


_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke