Dalam teori korupsi GONE, ada Greede, Opportunity, Need, dan Expose.
korupsi berawal dari greede, sikap yang tamak, rakus dan sejenisnya.
Akibat keinginan untuk memiliki barang yang lebih, penghasilan yang 
lebih,
ingin cepat kaya, ini yang sering kali menjadi orang lupa. Akibatnya, 
untuk
mendapat hal tersebut dilakukan jalan pintas , sehingga korup.  

sebagian etnis minang dianggap memiliki karakter materialistik , dan 
ada yg tamak/rakus ( greede ) , tapi disamping itu mereka masih punya 
rasa harga diri yg tinggi , konsisten pada sikap ,jadi kalau pun 
terlibat korupsi juga, ia akan lebih "halus" main nya , karena bagi 
mereka harga diri dan konsistensi sikap harus tetap dijunjung , 
karena sikap serakah dg cara jalan pintas yg cenderung kasar , 
dianggap tidak elegan , merendahkan harga diri /konsistensi nya

jadi membahas korupsi pada urang minang, adalah melihat equilibrum ( 
kesetimbangan ) antara sikap materialis / tamak dg sikap menjaga 
harga diri /konsistensi , pada seorang manusia minang , karakter mana 
yg lebih dominan , itu lah yg menyebabkan ia jadi koruptor atau 
seorang yg idealis ?

dari pengalaman ambo di berbagai instansi pemerintah, cenderung urang 
awak nan jadi pejabat di suatu tampek, agak barek utk korup di 
banding urang batak/jawa/sunda misalnya.

tapi kalau maliek ka dunia bisnis , urang awak nan berbisnis tapakso 
ikuik "bamain" korupsi yo relasi bisnis nyo 
( biasonyo pada proyek pemerintahan ), sebab kalau indak inyo indak 
ka dapek bagian 

secara psikologis, urang minang adalah sangat rasional dan konsisten 
dalam bersikap ;
konsistensi bersikap , berhubungan pula dg karakter yg sangat 
menjunjung tinggi harga diri  
( konon harga diri adalah milik orang minang yg paling mahal , lebih 
mahal dari harta hasil korupsi sekalipun  )

karena konsistensi sikapnya , ia cenderung idealis menolak korupsi , 
hal tsb terlihat bila etnis minang dibandingkan dg etnis jawa atau 
batak misalnya. 
Bisa juga ia menghindari korupsi, karena hal tsb akan menjatuhkan 
harga diri nya.

dari sisi pola pikir orang minang cenderung pragmatis dan kreatif ( 
panjang akal ) bila kreativitasnya terlalu berlebihan dianggap licik .

Selain kerakusan , penyebab korupsi yg lain adalah sikap curang ( 
cheating / fraud ) , sebagian orang minang sering dianggap memiliki 
karakter licik /galia , tapi karena harga diri yg tinggi itu pula lah 
orang minang menghindari kelakuan curang yg bisa menjatuhkan 
integritas/harga dirinya

selain dalam masalah materi (korupsi ) sikap curang /licik , bisa 
timbul juga ketika berhubungan dg padusi , yah ini lah yg menimbulkan 
perilaku "selingkuh" (korupsi hati), kalau masalah iko, urang2 gaek 
di banduang dulu memang , ada pengalaman yg kurang baik thd pemuda 
rang awak

jadi kesimpulan sementaranyo, ada dualisme / paradoks pada orang 
minang dalam menyikapi korupsi.

(atau bisa jadi memang batua juo, pandapek salah saurang ahli , bahwa 
etnis minang memang sudah penuh dg paradox sejak dulu kala )

wassalam

HM
--- In [EMAIL PROTECTED], Arnoldison <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
>     Ambo ka batanyo di palanta ko, adokah tulisan atau nan bisa
>     menjabarkan hubungan antaro korupsi dan budaya minang.
> 
>     Apokah berhubungan negatif atau positif, jalehnyo apokah budaya
>     minang tu memberantas korupsi atau malah menyuburkan korupsi
> 
>     Saumpamo dikatokan alam takambang dijadikan guru, apokah bararti
>     kalau disekitar kito urang korupsi, apokah awak soto juo ikuik
>     korupsi.
> 
>     Atau dikatokan juo dimano bumi dipijak disitu langik di junjung,
>     apokah memang budaya minang mengajarkan sikap pragmatisme.
> 
>     tarimo kasih
> 




_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke