MAKNGAH POROWAIKAN POSTIANG DI BAWAHKO UNTUAK DIMAKLUMI.
Salam,
--MakNgah
mudah-mudahan indak tajadi di kampuang kito
----- Original Message -----
From: <mailto:[EMAIL PROTECTED]>HRY-Heriyanra
To: <mailto:[EMAIL PROTECTED]>[EMAIL PROTECTED] ;
<mailto:[EMAIL PROTECTED]>[EMAIL PROTECTED]
Sent: Tuesday, June 21, 2005 9:08 AM
Subject: [INFO - AktUNAND] FW:[Republika Online] Etika Orang Minang
Semakin Merosot?
To: <[EMAIL PROTECTED]>
From: "hedmonyusfid" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Tue, 21 Jun 2005 09:29:48 +0700
Subject: [SPAM] [BiaroNet] Fw: [INFO - AktUNAND] FW:[Republika Online]
Etika Orang Minang Semakin Merosot?
mudah-mudahan indak tajadi di kampuang kito
----- Original Message -----
From: <mailto:[EMAIL PROTECTED]>HRY-Heriyanra
To: <mailto:[EMAIL PROTECTED]>[EMAIL PROTECTED] ;
<mailto:[EMAIL PROTECTED]>[EMAIL PROTECTED]
Sent: Tuesday, June 21, 2005 9:08 AM
Subject: [INFO - AktUNAND] FW:[Republika Online] Etika Orang Minang
Semakin Merosot?
<<http://www.republika.co.id/images/header/logorol.gif>http://www.republika.co.id/images/header/logorol.gif>
21 Juni 2005
Etika Orang Minang Semakin Merosot?
Ahmad Syafii Maarif
Sesungguhnya kuranglah elok rasanya mengkritik sikap keseharian suku
sendiri. Bukankah itu bagaikan menepuk air di dulang, akan tepercik ke muka
sendiri?
Tetapi, masalahnya adalah kenyataan semakin banyaknya keluhan perantau
Minang yang pulang kampung. Mereka merasakan ada sesuatu yang kurang beres
dalam kultur Minang kontemporer, terutama yang berkaitan dengan etika dan
tatakrama terhadap tamu.
Seorang dirjen asal Minang pernah mengeluh kepada saya betapa berubahnya
masyarakat Minang sekarang; tidak memedulikan tamu, padahal tamu itu datang
untuk memberikan bantuan. Ini tidak berarti bahwa tamu itu ingin
diperlakukan seperti raja. Tidak! Yang mereka ingin lihat adalah sikap wajar
dari masyarakat terhadap kedatangannya.
Kewajaran inilah yang semakin punah dari ranah itu. Mengapa demikian? Tentu
perlu penelitian yang komprehensif tentang faktor-faktor penyebab
kekurangramahan ini.
Keluhan yang mirip saya terima beberapa hari yang lalu dari seorang petugas
PWM Sumatra Barat ketika mengantarkan barang cetakan ke sebuah PDM di suatu
kota. Bertanyalah ia kepada polisi tentang alamat yang sedang dicari. Yang
didapatkan adalah sikap acuh tak acuh dari aparat negara itu, padahal alamat
itu benar-benar diperlukannya.
Tidak saja polisi, rakyat biasa pun punya sikap serupa. Tidak terlihat sikap
ingin membantu orang yang memerlukan. Tentu tidak semua demikian. Ada saja
yang ramah, tetapi merosotnya etika dan tatakrama sudah semakin dirasakan di
lingkungan masyarakat yang punya semboyan ''adat basandi syara', syara'
basandi Kitabullah.''
Di mana adat, di mana syara', jika hubungan antarmanusia sudah gersang dan
tandus? Nilai-nilai budaya berupa keramahan dan sifat suka menolong sudah
semakin hilang dan jauh dari sikap umumnya orang Minang. Bukankah adat dan
syara' mengajarkan hormat terhadap tamu? Maka, tidaklah mengherankan bila
kita menyaksikan kenyataan tentang semakin panjang saja daftar perantau yang
tidak betah tinggal agak lama di kampung, padahal ia sangat mencintai tanah
kelahirannya. Dan, tidak sedikit di antara mereka yang telah menyisihkan
sebagian rezekinya, demi kampung.
Adat ''pulang basamo'' masyarakat Sulit Air misalnya adalah di antara contoh
yang menonjol mengenai kecintaan perantau terhadap kampungnya, sekalipun
sebagian mereka lahir di perantauan. Tetapi, Minang sekarang sudah seperti
sri-gunung; jauh terlihat rancak (cantik), dekat penuh borok. Masyarakat
sudah larut dalam pragmatisme-materialistik.
''Adat basandi syara', syara' basandi Kitabullah'' semakin mengawang jauh
tinggi di langit, tidak lagi membumi. Ini realitas pahit yang dikeluhkan
oleh banyak perantau Minang kepada saya. Bukan karena apa-apa, tetapi
semata-mata untuk menunjukkan keprihatinan mereka yang dalam terhadap
suasana kampung halamannya yang kehilangan rasa persahabatan yang tulus.
Apakah masjid tidak lagi berfungsi? Masih, tetapi khutbah dan penerangan
agama sudah semakin tidak efektif. Agama tidak fungsional dalam menuntun
kelakuan umat. Tentu gejala semacam tidak hanya di Minang, tetapi hampir
merata di seluruh Tanah Air, bahkan di berbagai pojok dunia Muslim yang
sedang jatuh, kehilangan wibawa.
Oleh sebab itu, Minang sebagai bagian dari masyarakat Muslim universal,
secepatnya harus bersedia berkaca diri, melihat kekurangan dan kelemahan
yang ada, kemudian bulatkan tekad untuk berubah, menuju pencerahan peradaban
lahir-batin. Masa depan ranah ini tidak boleh dikorbankan oleh kecenderungan
pragmatisme-materialistik, demi raihan kepentingan-kepentingan duniawi
jangka pendek.
Korupsi berjamaah di kalangan sementara politisi, jangan diulang lagi pada
masa-masa yang akan datang. Ingat senantiasa bahwa Minang adalah wilayah
mayoritas Muslim yang tidak boleh larut dalam arus deras sejarah yang serba
memukau tetapi menghancurkan nilai-nilai tertinggi dan terdalam yang kita
anut selama ini.
Petatah-petitih di kalangan pemuka adat yang padat makna, tidak boleh hanya
singgah sebagai perhiasan tutur, tetapi perlu penghayatan yang
sungguh-sungguh. Kembali ke surau bermakna kembali kepada akar kultur kita
yang Islami, tidak semata-mata untuk belajar mengaji.
Waktu sudah sangat tinggi bagi si Minang untuk berbenah diri, atau terus
meluncur menjadi manusia tunamartabat. Perantau akan terus meratap bila
perbaikan kualitas hidup secara sungguh-sungguh tidak dimulai sekarang juga,
tanpa menunggu dan menanti lagi.
Berita ini dikirim melalui Republika Online
<http://www.republika.co.id>http://www.republika.co.id
Berita bisa dilihat di :
<http://www.republika.co.id/Cetak_detail.asp?id=202369>http://www.republika.co.id/Cetak_detail.asp?id=202369
<http://www.republika.co.id/Cetak_detail.asp?id=202369&kat_id=19>
<<http://www.republika.co.id/images/header/logorol.gif>http://www.republika.co.id/images/header/logorol.gif>
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Anti-Virus.
Version: 7.0.323 / Virus Database: 267.7.8/22 - Release Date: 6/17/2005
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________