Waalaikumsalam.Wr.Wb.

Al Ukhti Suhana.

Tidak usah jauh-jauh, Rasulullah SAW didik oleh
seorang ibu ( Siti Aminah), tanpa ayahnya. 
Imam Syafi'i ditinggal meninggal oleh ayahnya ketika
beliau masih umur 2 thn, begitupun Imam Ahmad yang
hanya dididik oleh seorang ibu saja. Mereka menjadi
ulama shalihin dan ma'ruf alias mashur, dan banyak
lagi contoh seperti ini seseorang yang didik oleh
hanya ibu yang shalihah.

Tetapi ini bukan berarti kehadiran seorang ayah tidak
diperlukan, sangat diperlukan sekali.

Kita lihat lagi contoh Hitler yang didik oleh ayahnya
yang juga kalau saya tidak salah seorang yang juga
kejam, maka jadilah Hitler semacam itu.

Ini menandakan bahwa kehadiran ibu yang lembut, penuh
kasih sayang dan shalihah lebih diutamakan, dan lebih
membawa keberhasilan. Dan jangan ini dijadikan alasan
agar sang istri merasa sombong bisa hidup tanpa suami.
Merasa sombong bisa hidup tanpa suami saja sudah
menandakan perempuan itu semacam apa, saya kira bisa
dijawab masing-masing kita.

Seperti yang pernah saya kemukakan dimilist-milist,
bahwa peranan istri jauh lebih mendominasi akan
pendidikan anak. 

Figur seorang ayah sangatlah perlu sekali. Misalkan
ayah yang suka main dengan wanita-wanita
lain(maksudnya pacaran sana-sini, ), akan mempengaruhi
jiwa dan mental anak tersebut. Atau seorang ayah yang
tidak perhatian pada anak-anaknya akan berpengaruh
pada pendidikan anak, seorang ayah yang suka berjdi,
mabok-mabokan dan lain-lain lagi.

 Jadi kedua-duanya memegang peranan penting sekali.
banyak orang yang melalaikan tugas ayah dalam mendidik
anak-anak ini. Ini salah besar, karena bukan itu
tujuan pernikahan sebagaimana dicantumkan Allah dalam
surat Ar Ruum.

Kalau sang ayah meninggal, itu bukan kita yang mau,
tapi kehendak Allah SWT. Tapi kalau bercerai, inilah
yang repotnya. Semoga tidak terjadi pada kita, karena
meskipun cerai itu halal, tetapi sesuatu yang halal
sekalipun, tapi sangat dibenci oleh Allah SWT. Kecuali
kalau memang terpaksa sekali, ingat kisah nabi Ibrahim
dan anaknya yang beliau menyuruh menceraikan istri
yang satu karena tidak baik, dan menyuruh memegang
istri yang baik(shalihah).

Wassalam. Rahima.



--- suhana032003 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Wa'alaikum salam wr.wb.
> 
> kepada ibunda Rahima yg baik..:)aku mau
> tanya..apakah untuk membentuk 
> pribadi anak yg shalihah, hanya cukup dengan didikan
> seorang ibu yg 
> shalihah aja? ini berhubungan dengan seorang anak yg
> tidak lagi 
> mempunyai figur seorang ayah yg menjadi panutannya,
> dikarenakan sang 
> ayah meninggal atau bercerai?
> eemm..ternyata berdasarkan dari sejarahpun banyak
> dibuktikan, bahwa 
> figur seorang ibulah yg sesungguhnya sangat berperan
> dalam membentuk 
> karakter seorang anak. seperti istri seorang Nabi
> Nuh yg mempunyai 
> istri pembangkang yg akhirnya melahirkan seorang
> anak pembangkang 
> juga, dan ternyata aisyah, istri seorang firaun yg
> mendurhakai Allah 
> pun, ternyata sanggup mendidik seorang Musa menjadi
> pribadi yg 
> diharapkan oleh Allah. jadi..apakah sebetulnya figur
> seorang ayah 
> tidak terlalu perlu, kalau memang figur seorang ibu
> yg baik dan benar 
> sudah dipenuhi.?bagaimana menurut ibunda
> rahima..?ini menyangkut 
> seorang anak yg tidak menemukan figur ayah dalam
> kehidupan yg 
> sesungguhnya (meninggal or bercerai)
> 
> salam
> hana



__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke