Assalamualaikum.Wr.Wb.

Bagaimana sifat seorang ayah yang berhasil…??

Sebelum kita bercerita bagaimana ciri khas seorang
ayah yang berhasil, ada baiknya kita kaji ulang
kembali bagaimana pernikahan yang digambarkan oleh
Allah dalam surah ArRuum 21 itu, hal ini karena cukup
antusiasnya para netters di milist keluarga islam,
juga di japri akhir-akhir ini, mengajukan berbagai
pertanyaan/tanggapan  yang berkaitan dengan masalah
nikah, cerai, dan khulu’. Namun tentu secara ringkas
saja, kita hanya membahas satu ayat surah Ar Rum.

“ Wamin aayaatihii an KHALAQA lakum MIN ANFUSIKUM
AZWAAZAN LITASKUNUU ilaihaa, wa JA’ALA bainakum
MAWADDATAN wa rahmatan, innaafiidzaalikaa
laayaatilliqawmiiyatafaqqaruun “.       

 Bunyi artinya begini : 

“ Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya, ialah yang
menciptakan untuk kamu istri-istri dari jenis kamu
sendiri, supaya kamu cenderung dan tentram bersamanya,
dan dijadikannya diantara kamu kasih sayang,
sesungguhnya yang demikian itu terdapat tanda-tanda
bagi kaum yang berfikir “.

Sengaja saya memperbesar huruf yang ditebalkan diatas,
karena inilah yang akan saya jelaskan akan mukjizat
kata yang disampaikan oleh Allah SWT.

Perlu kita ketahui, bahwa kata kata “ khalaqa “ dan “
ja’ala “, berartikan sama-sama “ menciptakan, atau
menjadikan “.

Tetapi mengapa pada ayat diatas tatkala Allah
mengatakan menciptakan/menjadikan manusia, memakai
kata “ Khalaqa”, sedangkan ayat selanjutnya pada ayat
diatas juga, tatkala mengatakan “menjadikan diantara
kamu “, memakai kata “ Ja’ala “, bukankah kedua arti
diatas sama-sama berartikan “menjadikan..?”.

Coba kita lihat, betapa telitinya Allah dalam
memasangkan kata perkata sesuai dengan maknanya yang
terkandung.
Didalam AlQuran, pemakaian kata diatas berbeda untuk
setiap maknanya, setiap kata “khalaqa” , maka disana
semata-mata Allah saja yang menciptakannya, tanpa ada
campur tangan makhluk lain, sementara bila kata
“ja’ala”, maka ada campur tangan makhluk lain
didalamnya(silahkan diteliti dua kata tersebut dalam
ayat-ayat Allah dan renungkan kedalaman isinya).

Pada kata pertama dalam ayat diatas, Allah mengatakan
menciptakan manusia. Jadi benar-benar Allah yang
menciptakan manusia itu tanpa ada campur tangan
makhluk lainnya, sementara pada kata kedua dipakai
kata “ ja’ala”.Dan menjadikan diantara kamu cinta dan
kasih sayang.

Ini bermaknakan, bahwa dalam menciptakan atau
menjadikan pernikahan itu menjadi sebuah cinta dan
kasih sayang, bukan hanya Allah saja yang
menentukannya, tapi atas usaha kedua belah pihak,
suami dan istri. Allah memang sudah menjanjikan pada
kita dengan adanya pernikahan, maka terciptalah
ketenangan, kasih sayang dan cinta, namun semua itu
tidak akan mungkin tercapai tanpa usaha kedua belah
pihak, tidak akan tercapai tujuan pernikahan untuk
menuju ketenangan jiwa cinta dan kasih sayang, tanpa
usaha dari kedua belah pihak. Itulah sebabnya Allah
memakai kata “ Ja’ala, bukan khalaqa”, subhanallah !
Ini pertama, mukjizat kata dalam AlQuran.

Kedua : “ dalam ayat diatas Allah mengatakan : “ dan
dari tanda-tanda kekuasaannya Allah menciptakan “ DARI
JENIS KAMU SENDIRI “. Lha,..kenapa Allah mengatakan
menciptakan kita manusia dari jenis kita sendiri,
bukankah kita tercipta dari turab(tanah), setetes air
mani.

Maknanya sangat dalam sekali, karena ini diberikan
tepat dalam nasehat pernikahan. Ayat ini bermaknakan
makna majazi, atau kiasan, bukan kita tercipta dari
manusia juga, bukan..bukan itu maksudnya. Tetapi ayat
ini mengandung makna bahwa “ Pasangan-pasangan kita,
istri kita yang telah kita nikahi itu, pada hakikatnya
kita mempergauli istri kita sebagaimana mepergauli
diri kita sendiri” MIN ANFUSIKUM”.

Jadi..maknanya, pergaulilah para istri kamu
sebagaimana kamu mempergauli dirimu sendiri, cintailah
pasangan kita sebagaimana mencintai diri kita sendiri.
Bila kita mencintai pasangan kita, pada hakikatnya
kita mencintai diri kita sendiri, begitupun
sebaliknya, bila kita menyakiti pasangan kita, berarti
kita menyakiti diri kita sendiri. Subhanallah, makna
yang cukup dalam, namun jarang diantara kita
memahaminya secara teliti akan kandungan kata yang
tersirat dalam AlQuran yang banyak memiliki
mutiara-mutiara.

Ketiga : Sekarang kita lihat kata “ AZWAAJAN “.
Lha,.koq Allah memakai kata-kata Azwaajan (para
istri-istri kamu). Bukankah jama’, atau plural dari
kata zaujatan(istri) adalah “ Jauzaatun “., bukan
azwaajan “, Azwaajan ini adalah jamak dari
zaujun(suami) : Allah menciptakan kamu wahai para
suami akan istri-istri dari diri kamu sendiri “.
Kenapa disaat mengatakan para istri Allah memakai kata
Azwaajan, bukan zaujaatun?.

Ini menandakan bahwa dalam hal suami istri , ada
saling keterkaitan antara sesama pasangan, dan Allah
memang menciptakan didunia ini secara
berpasang-pasangan. Ada siang-ada malam, ada jelek,
ada buruk, ada malas ada rajin, ada lelaki ada
perempuan dsbgnya. Dan seringnya didalam AlQuran kata
“zaujun”, inipun berartikan “istri” juga. Coba lihat
surah AlBaqarah ayat 35 : “ “ Waqulnaa yaa Aadamuskun
anta wazaujukaljannata ..” Dipakai kata WAZAUJUKA “,
bukan WAZAUJATUKA”, bukankah Zaujun= suami,
zaujatu=istri? Koq pada ayat diatas dipakai kata
zaujun juga sementara artinya istri..?, ini menandakan
bahwa seringnya dalam AlQuran memakai kata istri
dengan zaujun, salah sat maknanya, agar sang istri
mengerti benar posisinya atas suaminya bagaimana. Juga
adanya keterkaitan pasangan satu sama lain, yaitu
sama-sama.

Bukankah Allah sudah berfirman : “ Arrijaalu
qawwaamuuna ‘alannisaa”? ( lelaki itu adalah pemimpin
kaum wanita. Jadi bagaimanapun tingginya pangkat,
jabatan, titel dan sekolah kamu wahai kaum istri,
tetaplah yang menjadi pemimpin RT itu adalah para
suami. 

Namun ini bukan berarti seorang suami harus bertindak
semena-mena, karena dalam ayat lain disebutkan
bagaimana mempergauli istri dengan ma’ruf “ “
Wa’asyiruuhunnaa bilma’ruuf “. Kenapa Allah memakai
kata ma’ruuf, bukan billainin(dengan lembut), atau “
bikhairin(dengan baik), atau baliighan(
qawlannbaliighan, perkataan yang cerdas dalam
penyampaian), tetapi Allah memakai kata ma’ruuf?

Dalam bahasa Arab, kata “ma’ruf”ini jauh lebih dalam
maknanya ketimbang “khairun”. Kata ma’ruf ini jauh
lebih baik dan lebih sempurna, baik ma’ruf dalam
perbuatan, perkataan, tingkah laku dan kerdipan mata
segala-galanya, baik dalam mempergaulinya ketika
berhubungan intim, ketika meminta tolong, ketika
memberi nafkah , ketika mengajari dan menasehatinya
dan lain-lainnya. Berat bukan tugas seorang suami
terhadap sang istri? Jadi jangan cepat sedih dan
gulana dulu wahai kaum istri, karena yang dipilih
untuk pemimpin dalam RT adalah suami? Jangan..Allah
memberi kelebihan lain bagi kita kaum istri, yang mana
tidak diberikan pada kaum suami. Kita disuruh patuh
pada suami, dan suami  disuruh mempergauli istri
dengan ma’ruf.

Dalam hadist disebutkan : “ Masing-masing kamu
pemimpin, dan setiap pemimpin ditanya akan yang
dipimpinnya, dan perempuan adalah pemimpin dalam
urusan dalam negeri RT nya “, maka jagalah anak-anak
kita, harta suami kita dan sebagainya, karena tugas
kitalah yang mengatur dalam belanja sehari-hari,
aturlah biaya belanja yang telah diserahkan oleh suami
kita dengan baik, jangan difoya-foyakan,
pandai-pandailah memanage keuangan. Seorang wanita
yang tidak pandai mengatur belanja RTk, mka akan
hancurlah RT tersebut, akan cepat jatuh miskin, syukur
jatuh miskin, kalau jatuh tapai yang lembek itu
bagaimana, yah..penyet , atau remuk kayak kerupuk
donk..?

Keempat : “ Litaskunuu ilaihaa “. Agar kamu mendapat
ketenangan bersamanya. Kata Litaskunuu berasal dari
akar kata “ sakana”, yang artinya tempat tinggal,
atautempat berdiam. Namun arti diatas lebih condong
kepada ketenangan dalam hal sexual. Kenapa demikian?
Karena pada ayat selanjutnya disebutkan Waddah dan
rahmah cinta dan kasih sayang. Jadi dalam hal ini
diharapkan para suami sebelum menikah sulit untuk
melampiaskan nafsunya entah kemana, maka istrilah
satu-satunya jalan pemecahannya. 

Kelima : Kata mwaddah, sering diartikan orang “rasa
cinta”. Kalau kita tilik, atau kita tinjau makna
sebenarnya kata mawaddah itu jauh lebih dalam lagi
dari cinta. Mawaddah itu bisa berartikan suatu
keluasan, lapangan yang luas. Kenapa Allah memakai
kata mawaddah ini..?

Allah mengajak para pasangan masing-masing agar
masing-masing pasangan selalu berlapang dada. Positive
thinking terhadap pasangan, terimalah segala kelebihan
dan kekurangan pasangan kita.

Dalam melabuhi lautan luas, maka kapal akan menghadapi
gelombang. Dalam hal ini perlulah kiranya
masing-masing pasangan memakai rumus sejati yaitu : “
‘Asaa antakrahuu syaian, wayaj’alallaahu fiihi khairan
katsiira, wa’asaa antuhibbu syaian, wayaj’alallaahu
fiihi sarran katsiira “, Bisa jadi apa-apa yang kamu
bencii itu, Allah menjadikan padanya segudang
kebaikan, dan bisa jadi apa yang kamu cintai  ini,
Allah menjadikan dari dalam dirinya kejahatan yang
banyak “.

Dalam literature Atsarpun, yang bagi ulama sudah
dikatakan hadist, karena periwayatannya yang shahih,
bahwa “ Cintailah kekasihmu sedang-sedang saja, bisa
jadi kelak ia menjadi musuhmu kelak, dan benciilah
musuhmu seadanya, bisa jadi ia menjadi kekasihmu suatu
saat kelak “.

Terakhir Allah menutup ayatnya dengan kata “
Liyatafakkarun “, agar kamu berfikir dan merenungi.
Alam setiap ayat apapun pasti Allah menutupnya dengan
kata yang sesuai dengan ayat yang disebutkan. Ketika
mewajibkan puasa, maka ditutup dengan “agar kamu
bertaqwa “, maka dalam ayat pernikahan ini ditutup
dengan kata “ Agar kamu berfikir, merenungi betapa
maknanya cukup tinggi yang perlu untuk direnungi
bersama-sama, karena RT adalah salah satu cara
menggapai syurga. 

Seseorang bisa masuk neraka, dan bisa masuk syurga
karena ini. Renungilah wahai kita semua, tidak gampang
dalam membina mahligai rumahtangga yang damai, tentram
dan bahagia itu. Sebelum berumahtangga, maka lihat
dulu niat kita apa, apakah hanya semata-mata untuk
urusan biologis saja, atau untuk kesenangan duniawi
saja,.? Tidak,.niatkanlah untuk mencapai kebahagiaan
dunia dan akhirat. Pilihlah pasangan yang
sebaik-baiknya. Itu sangat penting. Lihatlah agamanya,
sebagaimana pada ulasan kita yang pertama sekali dalam
topik pembicaraan kita mengenai menjadi ayah yang
baik.

Kemudian dalamilah wahai semua pasangan, untuk
mencapai kebahagiaan , cinta dan sayang itu, adalah
usaha kedua belah pihak, bukan hanya sepihak saja.

Fahamilah hak-hak dan kewajiban masing-masing pasangan
yang sudah ditetapkan oleh agama kita islam yang
mulia. Semua tuntunan rincian ini banyak tercantum
dalam hadist rasulullah SAW.

Inilah dulu yang dapat kita bicarakan masalah satu
ayat surah Arrum diatas. Kita lihat hanya baru satu
ayat saja dalam AlQuran yang kita kupas, sudah
sedemikian luas dan dalam maknanya, baik ditilik dari
katanya( dan kita  baru hanya membahas dari mukjizat
kata saja), padahal dalam AlQuran ada mukjizah
balaghahnya, perumpamaannya, mukjizat susunannya dan
sebagainya,bagaimana bila kita mengupas dan mendalami
sekian ribu firman-firman Allah SWT dengan baik.

Wajarlah Allah berfirman dari tanda-tanda orang yang
beriman adalah : “  Apabila disebut nama Allah
bergetarlah hatinya, dan apabila dibacakan pada mereka
ayat-ayat Allah, bertambah keimanannya “ ( Q.S Al
Anfal ).

Mari kita lihat lagi ciri khas ayah yang baik…
Bersambung,.insyaAllah ta’ala

Wassalam. Kairo 23 Juni 2005, Rahima (36thn)




__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke