Assalamu'alaikum wr.wb.,
Ambo tayang ulangkan, kok ado nan ka mamaraluan. Maaf agak barek saketek,
94kB.
Wassalamu'alaikum wr.wb.,
Lembang Alam
Assalamu'alaikum wr.wb.,
Alhamdulillaah, wa syukurillaah, wa laa haulaa walaa quwwataa illaa billaah.
Betapa indahnya nikmat iman. Iman kepada Allah azza wa jalla. Allah yang
menciptakan langit dan segala isinya, yang menciptakan bumi beserta segala
isinya pula. Karena hanya dengan beriman kepada Allah itu saja orang-orang
yang beriman dimungkinkan untuk mengimani pula apa-apa yang diperintahkan
Allah untuk mengimaninya. Orang-orang yang beriman itu mengimani eberadaan
akhirat, tempat setiap manusia nanti akan mempertanggungjawabkan di
pengadilan Allah Subhanahu Wa Ta'ala setiap amal perbuatan mereka selama
mereka berpetualang di muka bumi Allah ini. Mereka beriman dengan akhirat
itu dan yakin seyakin-yakinnya bahwa mereka tidak mungkin menghindar
daripadanya. Disana mereka akan mendapat ganjaran yang seadil-adilnya dari
Allah Yang Maha Adil.
Betapa indahnya nikmat iman. Betapa indahnya mengimani ke Maha Kuasaan
Allah, mengimani keberadaan para malaikat yang tunduk patuh kepada Allah
Subhanahu Wa Ta'ala saja. Ada di antara para malaikat itu yang ditugaskan
untuk mengawasi gerak-gerik setiap manusia. Mencatat setiap tingkah laku,
perbuatan, baik maupun buruknya. Betapa indahnya mengimani kebenaran
kitab-kitab yang diturunkan oleh Allah untuk menjadi 'hudan', petunjuk, bagi
manusia (yang mau). Begitu pula keimanan kepada utusan-utusan Allah yang
diutus Nya dengan haq (kebenaran).
Allah Subhanahu Wa Ta'ala tidak memberikan nikmat iman itu kepada setiap
manusia. Fa alhamahaa fujuuraha wa taqwaahaa. (Maka Dia mengilhamkan
(menunjukkan kepada jiwa itu) kefasikan dan ketakwaan). Barangsiapa yang
ditunjukiNya tiada siapapun akan dapat menyesatkan (orang itu), dan
barangsiapa dibiarkanNya sesat tiada siapapun akan dapat menunjukinya.
Bahkan Allah ingatkan kepada nabi Muhammad SAW sebagimana firmanNya di dalam
al Quran surah al Baqarah ayat 272; 'Bukanlah kewajibanmu memaksakan mereka
mendapat petunjuk, tetapi Allah lah yang menunjuki siapa saja yang
dikehendakiNya.'
Betapa indahnya nikmat iman dan sungguh sangat pantas dan bahkan wajib kita
syukuri. Karena tidak kepada semua umat manusia diberikan oleh Allah
Subhanahu Wa Ta'ala iman itu. Karena tidak dapat kita (orang-orang yang
beriman) bayangkan, betapa akan celakanya kita kalau kita justru dibiarkan
Allah berada dalam kefasikan. Senantiasa berada dalam keragu-raguan.
Senantiasa merasa kian senteng kemari bedo. Terlunta-lunta dalam kesesatan
dan bahkan tidak tahu bahwa sedang tersesat. Betapa akan celakanya kita,
tanpa iman, lalu hanyut dalam alur fikiran kita yang padahal akal kita itu
sangat cetek dan dangkal. Bagaimana mungkin kita sanggup memikirkan ilmu
kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang maha luas dengan otak kita yang
secuil dan serba terbatas itu.
Betapa indahnya iman. Seyogianyalah kita senantiasa memohon kepada Allah
Subhanahu Wa Ta'ala agar kiranya Dia memelihara hati kita untuk selalu
berada dalam keimanan. Agar kiranya Dia tidak membiarkan kita tersesat
setelah kita beriman. Rabbanaa laa tuziqquluubana ba'da itz hadaitanaa wa
hablana milladunka rahmah. Innaka antal wahhaab.
(2)
Betapa indah dan nikmatnya iman. Coba bayangkan kalau kita berada pada
posisi yang dibiarkan saja tersesat oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Dibiarkan saja terjerumus kedalam kefasikan olehNya. Bukankah banyak kita
lihat orang yang kok ya tidak beriman. Yang kok ya kafir. Yang kok ya
durhaka kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Dan Allah biarkan. Apakah itu
seorang putera Nuh a.s. yang meskipun ayahnya seorang nabi Allah. Apakah
itu istri Luth a.s. yang meskipun suaminya nabi Allah. Kurang apa dakwah
lepada mereka? Lihatlah Samiriy yang baru saja selamat dari kejaran tentara
Firaun. Yang baru saja melihat mu'jizat nabi Musa membelah laut Merah untuk
menyeberanginya dengan selamat. Lalu serta merta kembali mendurhaka.
Menciptakan patung sapi untuk disembah. Kalau memang sudah bakat dari
sananya untuk ingkar, Allah biarkan orang-orang seperti itu ingkar. Allah
biarkan orang-orang seperti itu mabuk dengan kekafiran dalam kefasikannya.
Ini jadi i'tibar kepada kita bahwa iman itu harus 'dimodali' oleh setiap
mereka yang ingin terkategori beriman. Dan lalu iman itu harus senantiasa
dipupuk dan dipelihara. Harus dimintakan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala
bantuan kekuatan agar kita mampu mempertahankan keimanan itu. Diantara
propaganda bodoh orang Nashara mengatakan bahwa orang Islam itu bahkan
tidak yakin dengan agamanya karena setiap saat minta petunjuk ke arah jalan
yang lurus. Kata mereka, berarti orang-orang Islam itu tidak kunjung dapat
juga arah yang lurus itu dan selalu saja nyinyir meminta. Mereka tidak tahu
betapa hebatnya usaha dan tipu daya syetan untuk senantiasa membelokkan arah
keimanan setiap manusia-manusia yang beriman. Maka sabda nabi ada orang
yang pagi beriman sorenya kafir. Sore beriman paginya berubah menjadi kafir.
Jadi jangan terlalu cepat pede, terlalu cepat takabur, terlalu cepat
mengklaim bahwa 'saya adalah orang beriman dan iman saya sudah teruji'.
Belum tentu. Oleh karena itu, ingatlah! 'Hai orang-orang yang beriman!
Mantapkanlah iman kepada Allah, kepada RasulNya, kitab (al Quran) dan kitab
yang diturunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah,
malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya dan hari akhirat, maka
sesungguhnya telah jauh sekali sesatnya.' (Al Quran 4:136).
Dan tidak bisa kita menjamin bahwa merek suatu kaum adalah jaminan
keimanannya. Tidak bisa kita mengatakan bahwa setiap Arab pasti orang yang
beriman. Setiap orang Minang pasti orang yang beriman. Setiap anggota famili
kita pasti orang yang beriman. Belum tentu. Kita wajib berusaha keras untuk
menjaga keteguhan iman kita sendiri-sendiri, menjaga keteguhan iman anggota
keluarga kita, kemudian anak kemenakan kita, kemudian orang sekampung kita.
Dengan saling mengingatkan. Dengan saling mendoakan. Setelah itu terpulang
kepada Allah. Kalau ada anak kemenakan kita yang 'mantiko langek', yang
mencari-cari pembenaran untuk keingkarannya, yang berani berkafir-kafir
ria, yang berani memperolok-olokkan ayat-ayat Allah, agama Allah, mari kita
harus coba mengingatkan. Tapi hasil dari usaha kita itu tergantung kepada
Allah jua.
Kalau Allah sudah tetapkan 'dia' atau 'mereka' sebagai golongan yang akan
dimasukkan Allah kedalam nerakaNya, maka kita tidak akan dapat menolong
mereka.
Mudah-mudahan Allah Subhanahu Wa Ta'ala senantiasa menunjuki kita ke jalan
yang lurus. Ke jalan orang-orang yang (telah) diberiNya nikmat. Bukan ke
jalan orang-orang yang dimurkaiNya. Dan bukan ke jalan orang-orang yang
sesat. Amiin.
(3)
Dengan keimanan yang lurus, masalah hidup ini insya Allah bisa
disederhanakan. Waktu sakit kita beriman, waktu susah kita beriman,
Waktu dapat musibah kita beriman, waktu dapat cobaan kita beriman. Begitu
juga waktu kita diberi kemudahan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala, kita tetap
beriman. Nah apa untungnya? Bagaiman urusan bisa jadi sederhana? Kalau hanya
dengan beriman saja?
Orang yang beriman cepat dan mudah membaca fenomena kehidupan. Ketika sakit,
pertama dia berikhtiar mencari kesembuhan, sesudah itu dia bersabar
menanggungkan rasa sakit tadi, kemudian diserahkan urusannya kepada Allah,
dia berdoa kepada Allah, memohon kepada Allah. Tidak ada keluh kesah, tidak
ada syak wasangka, tidak ada mencari-cari kambing hitam untuk diumpat dan
disalah-salahkan. Bukankah dengan demikian urusannya jadi sederhana? Kalau
dia mengumpat, kalau dia menyesal-nyesali, kalau dia berkeluh kesah,
bukankah semua itu tidak akan membantu penyembuhan sakit tadi?
Begitu juga waktu dia ditimpa kesusahan, mendapatkan musibah atau mendapat
cobaan dan ujian dalam bentuk apa saja. Coba kita bandingkan orang yang
beriman, yang bertawakkal kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, yang bersabar
dengan ujian atau musibah itu di satu sisi terhadap orang yang berkeluh
kesah di sisi lain. Ada seorang anggota keluarga harus pergi dalam
perjalanan penting di tengah hujan lebat. Urusan itu sedemikian penting
sehingga dia tetap berangkat juga. Salah satu anggota keluarganya
melarangnya pergi, tapi karena penting itu tadi dia berangkat juga. Terjadi
musibah, dia mengalami kecelakaan. Pada saat musibah itu terjadi sudah
berlaku takdir Allah kepadanya. Anggota keluarga yang beriman menerima
musibah itu dengan sabar. Anggota keluarga yang kurang imannya atau tidak
beriman, mengeluarkan penyesalannya. "Lah den tagah ang pai, awaang pai juo,
tumah iko nan tajadi, indak tau ang muluik den masin." Lalu apa faedahnya
kepada musibah yang sudah berlaku? Tidak ada.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala senantiasa akan menguji hamba-hambaNya. Dengan
musibah, dengan kesusahan, dengan kekurangan atau bahkan dengan harta yang
berlebih, dengan kekayaan. Nanti akan terlihat siapa di antara mereka yang
beriman kepada ketetapan Allah, yang bersyukur dengan nikmat Allah atau
bahkan sebaliknya yang ingkar dan kufur terhadap nikmat-nikmat itu.
Allah ingatkan kita dengan akan terjadinya ujian-ujian itu. 'Dan
sesungguhnya Kami akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan,
kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan beri kabar gembiralah
orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah
mereka berkata; 'kami datang dari Allah dan kami kembali kepadaNya.' Mereka
(yang seperti ini) yang memperoleh berkah dan rahmat dari Rabb mereka dan
mereka inilah yang mendapat petunjuk.' (Al Quran 2:155-157).
Betapa indahnya nikmat iman. Dengan keimanan kita pandai bersyukur, kita
pandai menyikapi apapun yang terjadi ke atas diri kita. Dengan keimanan kita
segera sadar bahwa kita ini makhluk Allah yang lemah, kecil, yang tidak
berdaya apa-apa kalau bukan dengan pertolongan Allah. Kalau kita kaya, kita
tidak berubah jadi takabur dan sombong merasa bahwa kekayaan itu hasil jerih
payah kita semata. Kalau kita pintar kita sadar bahwa kepintaran itu adalah
pemberian Allah jua, sehingga tidak menjadikan kita sombong untuk
Menantang ilmu atau kekuasaan Allah.
Nikmat iman seperti itu hanya mungkin dirasakan kalau di dalam hati
kita ada bibit keimanan. Karena banyak saja orang yang sombong, yang
takabur, yang merasa hebat lalu berani menyangkal kekuasaan Allah. Ada orang
yang seperti itu. Kita memohon kepada Allah, mudah-mudahan kita terhindar
dari kesombongan seperti ini.
(4)
Dengan keimanan kita percaya dan yakin seyakin-yakinnya tentang keberadaan
hari akhirat. Dengan keimanan kita berharap bahwa Allah Subhanahu Wa
Ta'alaakan memberikan kepada kita pertolonganNya pada hari berbangkit itu
nanti. Dengan keimanan kita berharap kita akan dihindarkan Allah dari
siksaanNya pada waktu itu nanti. Kita beriman, percaya, yakin dengan
keberadaan surga dan neraka Allah. Kita takut untuk dimasukkanNya ke dalam
nerakaNya yang bernyala-nyala itu. Yang di dalamnya ada siksa yang pedih.
Perlu kita bayangkan bentuk siksaan itu agar timbul di hati kita keyakinan
yang lebih lagi dan ketakutan yang lebih lagi. Agar kita berusaha dengan
sepenuh hati menghindar daripadanya.
- Dan golongan kiri. Siapakah golongan kiri itu?
- (Mereka ) dalam angin yang amat panas dan air yang mendidih
- Dalam naungan asap yang hitam
- Yang tidak dingin tidak melegakan
- Sesungguhnya mereka sebelum ini bermewah-mewah
- Dan mereka terus menerus melakukan dosa-dosa besar
- Dan mereka mengatakan ; "Apakah kami, apabila telah mati dan telah
menjadi tulang belulang akan dibangkitkan kembali?
- Dan bapak-bapak kami yang terdahulu?"
- Katakanlah, "Sesungguhnya orang-orang yang terdahulu dan
orang-orang kemudian
- Benar-benar akan dikumpulkan di waktu tertentu pada hari yang
dimaklumi
- Kemudian kamu, hai orang-orang yang sesat lagi mendustakan
- Akan memakan buah pohon zaqqum
- Dan kamu memenuhi perutmu dengan buah zaqqum itu
- Kemudian kamu meminum air yang sangat panas
- Maka kamu minum seperti minumnya unta yang sangat kehausan
- Demikianlah hidangan untuk mereka pada hari pembalasan."
Al Quran 56: 41-56
Hanya dengan mata iman kita dapat membayangkan kepedihan dan
Kesengsaraan yang digambarkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang akan
dirasakan lepada mereka-mereka yang durhaka kepada Allah. Mereka yang tidak
beriman mungkin akan menertawakannya sebagai dongengan kosong. Tapi mereka
yang beriman yakin seyakin-yakinnya akan janji Allah, dengan ancaman Allah
itu dan akan berusaha menghindar daripadanya. Orang-orang kafir,
orang-orang yang tidak percaya, yang sekarang santai-santai saja, yang
cuek-cuek saja, boleh kita bayangkan betapa nestapanya mereka itu nanti
berhadapan dengan kenyataan yang pasti akan terjadi itu.
Betapa nikmatnya iman. Karena hanya dengan iman kita mungkin berusaha
menghindar dari azab Allah. Karena hanya dengan iman kita senantiasa memohon
kepada Allah agar Allah mengampuni dosa-dosa kita. Agar Allah senantiasa
membimbing kita ke jalan yang di ridhaiNya. Agar kelak kita terhindar dari
siksaanNya yang sangat dahsyat.
Hanya dengan iman kita mepercayai dengan seyakin-yakinnya bahwa siksaan itu
akan dirasakan dalam waktu yang sangat lama bahkan kekal selamanya. Padahal
perjalanan waktu di akhirat itu, menurut keterangan Allah, sehari disana
semisal seribu tahun kehidupan di dunia. Artinya seandainya seseorang
disiksa selama satu hari saja, masya Allah, itu sama dengan derita seribu
tahun waktu dunia ini. Pernahkah kita merasakan pedihnya sakit? Entah ketika
kaki kita terantuk? Berapa lama kemudian sakit itu dengan kekuasaan Allah
hilang dan tidak terasa lagi. Tapi disana. Sakit itu akan dirasakan terus
menerus tiada hentinya. Dalam waktu yang lama sekali.
Qad aflahal mu'minuun.
(5)
Di Majalah Hidayatullah edisi bulan September 2004 ada artikel berjudul
'Penjara Bukan Akhir Segalanya' menceritakan betapa ulama-ulama ternama yang
pernah dipenjarakan berkarya lebih gemilang dalam penjara. Ada nama Sayyid
Quthb yang menulis tafsir Fii Zhilalil Quran, Ibnu Taimiyah yang
mengungkapkan, "Bila mereka mengusirku, itulah rihlahku. Bila mereka
memenjarakanku, itulah khalwatku. Dan bila mereka membunuhku, itulah jalan
syahadahku". Ada Ibnu Al-Haitsam seorang ilmuwan Mesir abad kesepuluh yang
pernah dipenjarakan penguasa Mesir dan menemukan teori-teori optik selama di
penjara. Dalam negeri kita ada Buya Hamka yang menulis Tafsir Al Azhar
selama berada dalam tahanan Soekarno, Muhammad Natsir yang menulis Kapita
Selekta Dakwah selama menjadi tahanan politik Soekarno.
Mudah untuk difahami, nilai imanlah yang menjadikan beliau-beliau itu
berprestasi ketika kepada beliau ditimpakan musibah, ketika beliau mengalami
pengekangan, pengucilan terhadap fisik beliau oleh fihak penguasa.
Beliau-beliau ini justru semakin 'bersinar' ketika fisiknya dipasung. Inilah
contoh pengaruh cahaya iman.
Dengan nilai keimanan orang tidak berkeluh kesah ketika ditimpa musibah biar
betapa dahsyatnya musibah itu. Ikhtiar tetap diupayakan. Perlawanan bila
perlu tetap dijalankan. Dan yang lebih utama doa kepada Allah Subhanahu Wa
Ta' ala senantiasa dipanjatkan, kiranya Dia Yang Maha Pengasih senantiasa
mencurahkan rahmat dan pertolonganNya.
Iman menjadikan orang-orang beriman tidak pernah patah hati, tidak pernah
pesimis, tidak hanyut dibawa perasaan duka ataupun gembira
berlebihan. Mereka senantiasa ingat dan sadar, ada Allah tempat memohon,
tempat berlindung, tempat meminta pertolongan. Dan memang mereka senantiasa
memerlukan pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Mereka berbeda dengan
orang-orang yang membelakangi Allah. Yang kafir kepada Allah. Yang
senantiasa melanggar perintah-perintah Allah. Orang-orang ini senantiasa
melupakan Allah, dan Allah menjadikan mereka lupa diri. Menjadikan mereka
fasik. Menjadikan mereka semakin bodoh tapi semakin tidak tahu kebodohan
diri mereka.
Maka Allah mengingatkan kepada orang-orang yang beriman agar jangan sampai
melupakan Allah lalu Allah menjadikan mereka lupa diri seperti firman Allah
di dalam al Quran;
Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang yang lupa kepada Allah, lalu
Allah menjadikan mereka lupa kepada dirinya sendiri. Mereka (yang seperti)
itu adalah orang-orang yang fasik. (Al Quran 59:20).
Dan ganjaran bagi orang yang beriman tidaklah akan sama dengan ganjaran
terhadap orang-orang yang ingkar. Orang-orang yang beriman kepada Allah,
yang mendapatkan keridhaan Allah, Allah janjikan terhadap mereka surga
Allah. Sementara orang-orang yang kafir, yang senantiasa mendurhakai Allah
mereka akan dimasukkan kedalam neraka jahannam. Dan tidaklah sama diantara
kedua golongan itu, seperti firman Allah dalam lanjutan ayat di atas.
Tidaklah sama penghuni neraka dengan penghuni surga. Penghuni surga itulah
orang-orang yang beruntung.
Mudah-mudahan Allah menambah keimanan kita dan memelihara kita untuk
senantiasa dalam keadaan beriman kepadaNya. Amiin.
(6)
Kenapa manusia ingkar kepada Allah? Kenapa manusia ingkar kepada nabi
Muhammad?
Yang ingkar kepada Allah, contohnya seperti bani Israel dijaman nabi
Musa, dikarenakan akal mereka yang pendek. Mereka meminta kepada nabi Musa
agar kepada mereka diperlihatkan wujud Allah, barulah mereka mau percaya
kepadaNya.
"Ya Musa, kami tidak akan percaya denganmu sebelum kami lihat Allah dengan
jelas." (Al Quran 2:55)
Ini bukan karena ketakaburan saja, tapi lebih dikarenakan kebodohan
yang bersangatan. Allah adalah Yang Maha Agung. Yang, 'lam yakullahuu
kufuwan ahad'. Tidak barangsuatu apapun yang setara denganNya. Kalau masih
bisa kalian lihat, masih bisa kalian ukur besarnya, kalian bandingkan
wujudnya dengan yang kalian bayangkan, niscaya itu bukanlah Allah Yang Maha
Tunggal, Yang Maha Perkasa. Niscaya tuhan seperti itu adalah benda, adalah
ciptaan, entah ciptaan kalian sendiri, entah ciptaan angan-angan kalian.
Allah Yang Maha Agung tidak dapat kalian rekayasa bentukNya, tidak dapat
kalian rekayasa kekuatanNya, tidak dapat kalian rekayasa kekayaanNya. Karena
semua sifat-sifat ke Maha Perkasaan, ke Maha Kuasaan, ke Maha Sucian Allah
tidak akan tercapai oleh akal kalian untuk membayangkannya, tidak akan
terjangkau oleh panca indera kalian untuk mendeteksinya.
Kalian akan dapat merasakan kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala dari alam
raya yang diciptakanNya ini, kalau kalian mau beriman. Perhatikanlah langit
dengan segala isinya. Perhatikanlah bumi dengan segala isinya pula. Atau
perhatikanlah apa-apa yang kalian makan. 'Falyanzhuril insaanu ilaa
tha'aamihi. Annaa shababnal maa a shabbaa. Tsumma syaqaqnal ardhaa syaqqaa.
Fa anbatnaa fiihaa habbaa.' (Maka hendaklah manusia itu memperhatikan
makanannya. Sesungguhnya Kami telah mencurahkan air hujan. Kemudian Kami
renggangkan bumi dengan cukup. Lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di muka bumi
itu.) (al Quran 80: 24-27). Cobalah bantah kalau sanggup!
Makanan yang kalian makan, rezeki yang kalian peroleh, kehidupan yang kalian
nikmati, darimana kalian dapat? Dari hasil jerih payah kalian saja, tanpa
pertolongan Allah? Sehebat itukah kalian? Kalaulah iya sehebat itu kalian,
sanggupkah kalian hidup tanpa masalah di muka bumi Allah ini? Tidak
pernahkah kalian merasakan sakit? Merasakan sulit? Atau merasakan perubahan
menjadi tua, menjadi lemah sampai akhirnya tidak berdaya? Cobalah jawab!
Kenapa pula ada manusia mengingkari kerasulan Muhammad SAW? Kenapa mereka
dustakan kenabiannya? Kenapa mereka cari-cari kelemahannya sesuai dengan
kebutuhan hawa nafsu mereka?
Yang mendustakan nabi Muhammad SAW mula-mula adalah orang-orang Quraisy,
kaum famili beliau sendiri. Mereka mengingkari ajaran tauhid yang dibawa
nabi. Mereka mengingkari ajaran yang mengatakan bahwa manusia itu semua sama
di hadapan Allah Sang Maha Pencipta. Yang membedakan mereka hanyalah nilai
taqwa mereka masing-masing kepada Allah. Ini adalah sesuatu yang baru bagi
tatanan kehidupan kaum Quraisy dan mereka tidak siap menerimanya. Mereka
percaya dengan Allah, tapi pada saat bersamaan mereka juga mempercayai Latta
dan Uzza. Dan mereka tidak dapat membayangkan bahwa kedudukan mereka sebagai
bangsawan Quraisy disetarakan dengan kedudukan budak belian. Buat mereka ini
jelas-jelas tidak masuk akal dan tidak boleh diterima. Jadi harus diperangi.
Muhammad dan ajarannya harus dilawan, dan itulah yang mereka lakukan.
Golongan berikutnya yang mendustakan kerasulan Muhammad SAW adalah kaum
Yahudi. Padahal ketika itu mereka sedang menunggu kedatangan nabi akhir
zaman. Mereka mengenali ciri-ciri nabi akhir zaman itu dari kitab suci
mereka. Dan mereka berharap bahwa nabi itu akan hadir dari kalangan mereka,
kalangan bani Israel. Mereka kecewa ketika mengetahui bahwa nabi itu
terlahir dari kalangan Arab. Timbul rasa iri, timbul dengki, timbul nafsu
benci. Lalu mereka menolaknya, tidak mengakuinya, mendustakannya dan ikut
memeranginya. Karena hawa nafsu mereka.
Lalu golongan Nashrani. Yang ketika itu berkuasa di Imperium Romawi. Sebuah
kerajaan besar yang membentang sangat luas dari Eropah sampai ke Asia Barat.
Raja-raja mereka adalah penganut agama Nashrani (Kristen). Berbeda dengan
Najasi, raja yang juga beragama Nashrani dari kerajaan Habasyah yang
menerima kerasulan Muhammad SAW, Heraqlius yang sebenarnya sempat
menunjukkan minat dan ketertarikan hatinya terhadap pesan Islam, akhirnya
mengalah kepada bujukan pembesar-pembesar dan pemuka-pemuka agama Nashrani
untuk tidak menerima tawaran dari nabi orang Arab, golongan yang selama ini
dipandang dengan sebelah mata itu. Akhirnya kesombongan juga yang membatasi
mereka dari menerima kebenaran agama Islam. Meski akhirnya sejarah
menunjukkan bahwa rakyat di daerah kekuasaan Romawi Timur itu sedikit demi
sedikit beralih memeluk agama Islam, pemuka-pemuka agama Kristen tetap
menganggap ajakan dan dakwah nabi Muhammad SAW tidak pantas diikuti dan
mereka berusaha menebar fitnah untuk memusuhi agama Islam yang dibawa oleh
nabi Muhammad SAW.
Meskipun kaum musyrikin Quraisy, kaum Yahudi di tanah Arab, dan kerajaan
Romawi Timur yang beragama Nashrani dalam waktu singkat dapat dikalahkan
oleh kekuatan Islam, namun faham syirik, agama Yahudi yang membenci
kerasulan Muhammad SAW serta agama Nashrani yang menebar fitnah tentang
Islam tetap berkelanjutan sampai sekarang ini.
(7)
Kenapa pula manusia ingkar kepada kitabullah (al Quran)? Kenapa pula manusia
ingkar kepada hari pembalasan?
Bagi orang-orang yang beriman, begitu membuka lembaran pertama al Quran,
membaca ayat-ayat awal surah al Baqarah, mudah bagi mereka untuk langsung
percaya, langsung yakin, bahwa ini adalah wahyu Allah. 'Kitab ini, tidak ada
keragu-raguan padanya, menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa.' Isi
al Quran itu adalah himbauan untuk mengabdi kepada Allah Yang Maha Satu,
untuk mematuhi perintah-perintahNya, menjauhi larangan-laranganNya. Isi al
Quran berisi bimbingan, petunjuk, peringatan dalam mengharungi kehidupan di
bumi Allah ini, serta mempersiapkan diri untuk menghadapi hari
pertanggungajawaban di pengadilan Allah kelak. Di dalamnya juga ada
peringatan dan resiko, serta ancaman bagi mereka-mereka yang durhaka kepada
Allah. Kesemuanya, baik petunjuk maupun ancaman itu bersifat tegas dan
nyata. Karena dianya adalah 'hudan linnaasi wabayyinaati minal hudaa wal
furqaan'. (Menjadi petunjuk bagi manusia, dengan penjelasan
petunjuk-petunjuk itu dan menjadi pemisah (antara yang hak dan yang
bathil)).
Dan al Quran mengajarkan apa-apa yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan
manusia untuk mendekatkan diri mereka mentauhidkan Allah Subhanahu Wa
Ta'ala. Dan mengajarkan apa yang menjadi kewajiban kepada mereka, apa-apa
yang menjadi larangan kepada mereka.
Bagi orang-orang yang tidak beriman, atau bagi orang-orang yang mendurhakai
ketetapan dan peraturan Allah, justru hal-hal itu yang menjadikan mereka
semakin ingkar. Mereka mendurhakai baik sebagian maupun secara keseluruhan
peraturan-peraturan atau ketetapan-ketetapan Allah tersebut. Waktu dibacakan
kepada mereka isi dan kandungan al Quran, mereka menolaknya atau bahkan
memperolok-olokkannya. Mereka mengatakan bahwa ayat-ayat itu hanyalah
dongengan orang-orang dahulu kala. Atau mereka mengatakan bahwa kondisi
penerapan ketentuan seperti yang ada di dalam al Quran itu sudah kuno dan
tidak perlu lagi diterapkan. Sudah tidak sesuai lagi dengan jaman sekarang.
Melanggar HAM dan sebagainya.
Sikap seperti itu sudah disinyalir Allah. Memang begitu orang-orang yang
tidak beriman. Memang begitu orang-orang yang mendustakan (agama) Allah.
Dari dahulu kala sampai sekarang bahkan sampai hari kiamat nanti. Itu yang
dikatakan umat nabi Nuh. Itu yang dikatakan Firaun. Itu yang dikatakan
orang-orang kafir Quraisy. Itu juga yang dikatakan orang-orang kafir
sekarang. Simaklah firman Allah dalam surah al Baqarah ayat 26;
"Allah tidak malu memberikan perumpamaan seperti nyamuk dan yang lebih kecil
dari itu. Adapun orang-orang yang beriman mengetahui bahwa kebenaran
(seperti) itu dari Rabb mereka. Adapun orang-orang kafir berkata,"Apa
pulakah maksud Allah dengan perumpamaan seperti itu?" Banyak orang-orang
yang dibiarkan sesat oleh Allah dengan perumpamaan seperti itu, dan banyak
pula yang ditunjukiNya. Dan yang sesat karenanya adalah orang-orang yang
fasik."
Banyak orang yang seperti itu. Yang jika kita bicarakan peraturan-peraturan
Allah, keterangan-keterangan agama Allah, mereka cenderung menolak,
mengingkarinya atau bahkan mengolok-oloknya. Ini kuno. Ini sudah tidak
jamannya lagi. Ini terlalu kejam tidak mengenal HAM. "Apabila dibacakan
kepadanya ayat-ayat Kami, dia berkata, "Itu adalah dongeng orang-orang
dahulu." (Al Quran 83: 13).
Dan mereka tidak percaya dengan hari kiamat. Tidak percaya bahwa mereka akan
dihidupkan lagi dan dikumpulkan di pengadilan Allah. Mereka kesulitan
membayangkan bahwa setelah mereka mati, dikuburkan, tubuh mereka hancur
dimakan ulat lalu mereka akan dihidupkan lagi. Menurut mereka ini tidak
ilmiah. Tidak bisa dibuktikan secara ilmiah. Mana ada orang yang sudah mati
lalu hidup lagi, kata mereka. Begitu kata mereka dahulu di jaman nabi Nuh,
begitu juga di jaman nabi-nabi sesudahnya yang selalu mereka olok-olokkan.
Begitu juga kata mereka sekarang. Padahal mereka juga tidak mampu
membuktikan keilmiahan mereka. Cobalah buktikan dengan ilmiah saja tanpa
campur tangan Allah bagaimana caranya mereka dulu hidup di dalam rahim ibu
mereka sampai mereka terlahir ke dunia. Bagaimana caranya mereka berubah
dari terkapar tak berdaya ketika baru lahir, lalu pandai merangkak, lalu
pandai berdiri dan bertumbuh besar, lalu menjadi tua, lalu kemudian mati.
Siapa yang merubah keadaan mereka itu? Siapa yang menjadikan apa-apa yang
mereka makan?
Kalau saja mereka mau berfikir jernih, pastilah sangat mudah bagi mereka
memahami betapa mudahnya bagi Allah untuk membangkitkan mereka kembali nanti
di hari akhirat, seperti mudahnya bagi Allah menciptakan mereka kali yang
pertama. Kalau saja mereka mau berfikir, betapa kehadiran mereka di dunia
ini bukanlah hanya untuk sekedar melampiaskan nafsu mereka saja, bahwa
mereka akan mempertanggungjawabkan setiap apa yang mereka perbuat itu nanti
di hadapan Allah, barangkali mereka masih punya harapan untuk menjadi hamba
Allah yang beriman.
Betapa nikmatnya iman, yang mengajarkan kepada kita kemampuan membedakan
yang hak dan yang bathil. Yang mengajarkan kepada kita tentang kehidupan
sesudah kematian serta pengadilan Allah yang pasti akan kita jalani nanti di
hari kiamat.
Mudah-mudahan Allah senantiasa memelihara kita dalam keadaan beriman
kepadaNya. Amiin.
(8)
Bagaimana mengasah iman kepada malaikat-malaikat Allah? Makhluk Allah yang
mulia yang ada di antaranya yang ditugasi Allah untuk mengurus manusia? Ada
yang bertugas mengantarkan rezeki untuk manusia. Ada yang mengawasi dan
mencatat setiap tindak tanduk manusia yang paling sederhana sekalipun. Yang
ikut berzikir di majelis orang-orang yang beriman. Ada yang diutus Allah
untuk membawa wahyu kepada para nabi Allah. Ada yang diutus Allah untuk
menghukum umat yang sudah keterlaluan durhakanya kepada Allah semisal umat
nabi Luth a.s. Ada yang ditugaskan Allah untuk menolong peperangan
orang-orang yang beriman dalam menghadapi kekuatan orang-orang kafir. Jumlah
para malaikat itu hanya Allah Subhanahu Wa Ta'ala saja yang tahu.
Bagaimana mengimani para malaikat itu yang tidak terlihat wujudnya kepada
manusia biasa?
Bagi orang yang beriman kepada Allah, dan mereka beriman lepada rasul-rasul
yang membawa wahyu Allah (kitabullah), untuk mengimani malaikat tidaklah
sulit. Waktu mereka diperintahkan untuk mengimani para malaikat itu,
merekapun beriman kepadanya, biarpun mereka tidak melihatnya. Mata hati
mereka dapat merasakan kehadiran para malaikat itu. Mereka percaya bahwa
perbuatan-perbuatan mereka semuanya diawasi malaikat Raqib dan 'Atid yang
setiap saat mengawal mereka dan menuliskan segala amalan mereka. Mereka malu
untuk berbuat kemungkaran, karena malaikat-malaikat itu pasti menyaksikan
dan mencatatnya.
Kebalikannya, bagi orang-orang yang nilai keimanannya rendah atau bahkan
tidak beriman samasekali, mereka tidak merasakan kehadiran malaikat disisi
mereka. Mereka merasa asing dengan keberadaannya. Atau bahkan mereka tidak
mempercayai adanya malaikat-malaikat itu. Oleh karena itu, tidak ada sesuatu
apapun yang menghalangi mereka untuk berbuat dosa dan kejahatan. Untuk
merusak dimuka bumi Allah. Untuk berlaku zhalim, untuk berbohong, untuk
memfitnah, untuk menyakiti makhluk-makhluk Allah dengan semena-mena.
Sebagian dari manusia malahan lebih percaya kepada makhluk ghaib lain yaitu
jin. Ada yang menjalin hubungan dengan jin-jin itu. Ada yang terlanjur
memujanya, mengabdi kepadanya untuk memuaskan hawa nafsu keduniaan mereka.
Dan orang-orang yang seperti itu adalah mereka yang syirik, yang
memperserikatkan Allah.
Allah berfirman dalam surah Jin, surah 72 ayat 4 -10;
· Dan sesungguhnya orang yang bodoh di antara kami mengatakan
perkataan yang melampaui batas terhadap Allah.
· Dan sesungguhnya kami mengira bahwa manusia dan jin itu tidak akan
mengucapkan perkataan yang bohong terhadap Allah
· Dan sesungguhnya beberapa orang pria di antara manusia meminta
perlindungan kepada beberapa orang pria dari jin, maka mereka menjadikan jin
bertambah sombong
· Dan sesungguhnya mereka menyangka sebagaimana kamu menyangka bahwa
Allah tidak akan mengutus seorang juapun.
· Dan sesungguhnya kami telah mencoba mencari rahasia ruang angkasa,
maka kami dapati disana penuh dengan penjaga-penjaga yang kuat dan
panah-panah api
· Dan sesungguhnya kami dapat menduduki beberapa tempat di ruang
angkasa itu untuk mendengar (tentang al Quran, tetapi tidak berhasil). Maka
siapa yang hendak mendengar sekarang, tentu ia akan menjumpai panah api yang
mengintai.
· Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui, apakah keburukan yang
dikehendaki bagi orang-orang yang ada di muka bumi, ataukah Rabb mereka
menghendaki kebaikan.
Jin adalah makhluk ciptaan Allah yang tidak dapat dilihat oleh umumnya
manusia. Sebagaimana manusia, jin diciptakan Allah untuk mengabdi kepadaNya.
"Dan tidaklah Aku jadikan jin dan manusia itu kecuali untuk mengabdi
kepadaKu," firman Allah. Karena wujudnya yang tidak terlihat dengan nyata
kepada manusia, namun keberadaannya bisa terindikasi oleh bukti-bukti
kehadirannya, banyaklah manusia yang terkecoh. Ada manusia yang minta
pertolongan kepadanya, minta perlindungan kepadanya, selanjutnya bahkan
menjadi pemuja serta penyembahnya lalu diperalat oleh jin untuk disesatkan.
Dengan keimananlah orang-orang yang beriman mampu membedakan antara
makhluk-makhluk Allah yang ghaib itu, para malaikat dan para jin. Mereka
meyakini keberadaan makhluk-makhluk Allah tersebut. Mereka mampu menempatkan
keimanan mereka terhadap makhluk Allah itu pada posisinya masing-masing
dalam kerangka iman mereka kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Keimanan mereka
kepada keberadaan makhluk Allah yang ghaib itu tidak menjadikan mereka
mempersekutukannya dengan Allah Yang Maha Tunggal.
(9)
Nabi Muhammad Salallahu 'alaihi wassalam bersabda tentang (rukun) iman yaitu
beriman kepada Allah, dan kepada malaikat-malaikatNya, dan kepada
kitab-kitabNya, dan kepada rasul-rasulNya, dan kepada hari akhirat, dan
kepada qadar yang baik maupun yang buruk.
Kita mengenalnya dengan enam rukun iman di dalam agama Islam.
Apakah yang dimaksud dengan qadar, yang baik maupun yang buruk? Qadar, atau
kita tulis saja takdir, adalah ketentuan-ketentuan Allah yang sudah berlaku.
Yang sudah terjadi dan tidak dapat dirubah lagi. Seorang Munir yang
meninggal di atas pesawat dalam perjalanan ke negeri Belanda adalah takdir
Allah. Bom yang meledak di Kuningan kemarin itu adalah takdir. Begitu juga
kerusakan di negeri Iraq yang saat ini menderita karena dihancurkan oleh
penjajah Amerika adalah takdir. Bercokolnya Suharto selama 32 tahun
memerintah negara kita ini adalah takdir. Sebaliknya, terhindarnya banyak
orang dari kebinasaan ketika bom meledak seperti di Kuningan itu juga
merupakan takdir. Ada orang yang selamat dari musibah besar yang melanda
adalah takdir. Begitupun, terbebasnya Indonesia dari penjajahan Belanda
menjadi sebuah negeri yang berdaulat juga merupakan takdir ketetapan Allah.
Bila takdir yang berlaku itu berupa kerugian, atau kerusakan, atau
kemalangan kita biasa menyebutnya musibah. Itulah yang termasuk kedalam
golongan qadar atau takdir yang buruk. Kalau kejadiannya berupa kebaikan,
terhindar dari mala petaka, keberhasilan usaha, kita menyebutnya nikmat atau
keberuntungan dan itulah yang disebut sebagai takdir yang baik.
Manusia boleh berikhtiar untuk memperoleh suatu hasil, berusaha untuk meraih
keberuntungan. Begitu pula manusia boleh berikhtiar untuk terhindar dari
kemalangan, terhindar dari kerugian, terhindar dari hal-hal yang tidak
diinginkan. Akan tetapi adakalanya ikhtiar, usaha, kerja keras itu tidak
membawa hasil seperti yang diharapkan, karena Allah menetapkan 'takdir' yang
lain sekehendakNya. Orang-orang yang beriman menyikapi takdir yang terjadi
itu secara proporsional. Dikala mendapat keberuntungan dia bersyukur karena
sadar bahwa keberuntungannya itu adalah takdir dan anugerah Allah Subhanahu
Wa Ta'ala. Dia syukuri nikmat atau keberuntungan itu dan dia sadari bahwa
tanpa pertolongan Allah tidak mungkin dia mendapatkannya. Sebaliknya, dikala
mendapat ujian berupa musibah, kehilangan sesuatu yang disayanginya, dicobai
dengan penyakit, atau dicobai dengan kecelakaan dan sebagainya, dia segera
berserah diri kepada Allah. Dia kembalikan segala urusan itu kepada Allah.
Tidak ada umpatan, tidak ada penyesalan, tidak ada ratapan serta hujatan
kepada Allah seolah-olah Allah telah berlaku tidak adil kepadanya. Yang ada
hanya pasrah dan kesabaran. 'Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun,'
itulah yang keluar dari lubuk sanubarinya.
Bukankah lebih beruntung orang-orang yang mampu menyikapi segala sesuatu
yang dia terima itu dengan senantiasa bersandar kepada Allah? Bersyukur
kepada Allah ketika mendapat kebajikan, dan bertawakkal kepada Allah waktu
dicobai dengan musibah? Berbeda dengan orang-orang yang tidak beriman.
Ketika memperoleh keberuntungan, muncul sombong dan takaburnya. Merasa bahwa
dia hebat. Dengan kehebatannyalah dia memperoleh keberhasilan itu.
Kebalikannya ketika dia gagal, ketika mendapat musibah, kalang kabut dia
mencari kambing hitam. Dia mengumpat kesana kemari, panjang pendek. Dia
sesali kenapa tadi mesti begini, tidak begitu saja. Kenapa tadi dikerjakan
dengan cara itu, tidak dengan cara ini. Padahal, ketika takdir itu sudah
berlaku, tidak ada yang dapat merubahnya lagi. Tidak dapat kita merubah
keadaan dan kerusakan yang terjadi di Kuningan seperti sebelum bom meledak.
Apakah terjadinya musibah, kerusakan, kehancuran di muka bumi Allah itu
seizin Allah juga? Apakah Allah membiarkan saja hambanya berbuat kerusakan
di muka bumi? Benar, terjadinya kerusakan, kehancuran, malapetaka yang
disebabkan oleh tangan-tangan manusia itu terjadi dengan seizin Allah jua.
Sepengetahuan Allah jua, melalui sunatullah. Kalau dibakar dengan api,
terbakar. Kalau hutan dihancurkan, lalu tidak ada lagi yang menahan air,
maka akibatnya mudah terjadi banjir. Semua itu dengan ketentuan Allah.
'Maa ashaaba min mushiibatin illaa bi itznillaah' ( Setiap musibah yang
menimpa seseorang adalah dengan izin Allah (sesuai dengan sunnahNya) (al
Quran 64:11)).
Bagi orang yang beriman, ini mengajarnya untuk mawas diri, untuk
berhati-hati, untuk berikhtiar agar terhindar dari malapetaka. Namun,
seandainya petaka itu datang juga, dia bersabar dan berlindung kepada Allah
semata.
(10)
Saya mengenal seorang orang tua yang sering datang mengunjungi anak dan
menantunya di kompleks tempat saya tinggal. Beliau sendiri tinggal di Pekan
Baru. Kami biasanya bertemu di mesjid pada waktu-waktu shalat berjamaah.
Beliau selalu berbahasa Minang dengan saya, dengan logat Minang dari Pekan
Baru, namun asli sekali keminangannya. Pada suatu kesempatan saya bertanya,
"Di maa bana kampuang apak?"
Beliau menjawab, "ambo lahia di Bengkalis."
"Kalau kampuang asa? Mukasuik ambo urang tuo apak dima kampuang baliau?''
Dengan tersenyum orang tua itu menjawab.
"Urang gaek ambo nan padusi urang Bangkalih, apak ambo barasa dari
Tarutuang."
"Ooo sarupo itu." jawab saya agak kagum. Berarti beliau pandai berbahasa
Minang ini dari pergaulan dengan orang Minang di Pekan Baru sana.
Masih saya sambung pertanyaan tadi.
"Kalau dari Tarutuang, orang tuo nan laki-laki, tantu pakai marga tu?"
"O iyo," jawab beliau dan menyebutkan marganya.
Saya mengangguk-angguk faham. Tapi mungkin dengan muka penuh tanda tanya.
Orang tua itu akhirnya bercerita.
"Ayah saya itu waktu masih kanak-kanak dibawa pamannya merantau ke
Bengkalis. Disana beliau tinggal di lingkungan orang-orang Minang dan orang
Melayu. Karena pergaulan dengan orang-orang Melayu itu beliaupun ikut
menjadi Melayu. Ikut mengaji, ikut ke mesjid, ikut sembahyang. Padahal
pamannya itu beragama Kristen, tapi mungkin karena masih di awal-awal orang
Batak memeluk agama Kristen, jadi tidaklah fanatik benar. Sampailah ayah
saya itu menginjak dewasa, akhirnya menikah dengan ibu saya yang orang asli
disana. Kamipun (saya bersaudara) lahir dan dibesarkan disana.
Selama berpuluh tahun ayah saya tidak pernah pulang ke kampungnya. Sampai
ketika saya sudah berumur delapan tahunan, beliau mengajak kami sekeluarga
pulang ke Tarutung melihat negeri asal beliau itu. Berangkatlah kami, dan di
pasar Tarutung, dengan bertanya-tanya, masih ada kusir bendi yang ingat
dengan orang tua beliau dan mengantarkan kami ke kampung asal beliau itu.
Pertemuan dengan keluarga beliau itu tentu saja sangat membahagiakan beliau.
Tapi bagi kami, ibu dan saya beserta saudara-saudara saya, tinggal disana
tiga empat hari bagaikan bertahun-tahun rasanya. Kenapa demikian? Karena
masyarakat disana berbeda sekali dengan kami. Kandiak basalemak di bawah
rumah. Kalau mandakek kandiak tu ka awak abih tagagau awak katakuik-an.
Salamo ampia saminggu kami disinan, babalian pinggan cawan baru katampaik
kami makan. Walaupun orang-orang kampung itu juga mengerti, kami orang-orang
Islam, dek awak indak sabaun jo urang, di kampuang urang tantu indak
manyanangkan."
*****
Bapak tua kawan saya berdiskusi itu menikmati iman Islamnya. Betapa akan
menyedihkannya, kata beliau, seandainya ayah kami bukan orang Muslim. Dan
perasaan seperti itu muncul setelah menemukan kenyataan bahwa akar beliau
adalah dari kalangan orang-orang bukan Islam, terlebih-lebih setelah
mengunjungi dan melihat bagaimana tata cara kehidupan mereka yang sangat
berbeda dengan tata cara kita orang-orang yang beragama Islam.
Siapakah yang menggerakkan hati ayah dari bapak tua itu untuk ikut ke negeri
orang-orang yang beragama Islam? Siapakah yang menggerakkan hati beliau
untuk ikut-ikutan (pada mulanya) menjadi Islam? Allah Subhanahu Wa Ta'ala
lah yang telah menggerakkan semua itu menjadi kenyataan.
"Man yahdillah falaa mudhillalah wa man yudhlilhu falaa haadiyalah"
(Barangsiapa yang ditunjuki Allah niscaya tiada siapapun dapat
menyesatkannya, dan barangsiapa (dibiarkanNya) sesat tidak siapapun dapat
menunjukinya.)
Dan kebalikannya, ada orang yang terlahir dilingkungan Islam, terbiasa
mendengarkan 'hal-hal' agama Islam, terbiasa mendengar ayat-ayat al Quran
maupun hadits-hadits nabi. Tapi cenderung saja hatinya kepada kemungkaran,
kepada kekafiran, kepada pembangkangan terhadap ketentuan-ketentuan agama
Islam. Cenderung saja hatinya kepada tidak mempercayai (kekuasaan) Allah
Subhanahu Wa Ta'ala. Bahkan berani dia mendeklarasikan dirinya sebagai
seorang yang tidak percaya kepada Tuhan, atheis dan sebagainya. Ketika di
hatinya timbul bibit-bibit seperti itu, Allah biarkan dia hanyut dalam
kefasikannya, dalam kesesatannya. Dan tidak seorangpun yang akan dapat
menunjukinya kalau bukan timbul dari dirinya sendiri keinginan untuk
bertaubat kepada Allah. Untuk memperbaiki dirinya di hadapan kekuasaan
Allah.
Iman adalah yang seindah-indahnya nikmat. Berbahagialah orang-orang yang
beriman. Mudah-mudahan Allah senantiasa melembutkan hati kita untuk tetap
berada dalam keimanan. Amiin.
Wassalamu'alaikum wr.wb.
Lembang Alam
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________