--- Ardiwan Zubir <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> 
> 
> -----Original Message-----
> From: Ardiwan Zubir 
> Sent: Sunday, July 03, 2005 1:38 AM
> To: Ardiwan Zubir
> Subject: RE: [surau] Islam Hanif, Sebaiknya Ganti
> Nama Dulu.
> 
> Saya kutip sedikit penggalan artikel kiriman Mamak
> Darwin Bahar
> Kesimpulan tersebut diperoleh Robert setelah sekitar
> tiga tahun bersama
> sejumlah Pendeta Advent membolak balik kedua kitab
> suci itu di lembaga
> Penelitian Al-Kitab dan Al-Quran 'Last Events' yang
> didirikannya, di
> mana akhirnya mereka menemukan kaitan antara Kedar
> dan Nebayot dalam
> Yesaya 6-7, yang dalam pandangan Kristen merupakan
> keturunan Nabi
> Ibrahim dari garis Ismail yang menganut Islam,
> dengan QS 16 : 123
> ("Kemudian Kami wahyukan kepadamu, ikutilah agama
> Ibrahim secara
> hanif"). Dari sini lah ia kemudian mengusung nama
> Islam hanif, yang
> artinya Islam yang lurus.
> 
> diatas,dengan penekanan terjemahan QS16 ayat
> 123.Membuka kembali surat
> 16 ayat 123 tsb ternyata terjemahan versi Pendeta
> Robert sangat berbeda
> dengan terjemahan Al-Qur'an terbitan department
> agama,yang
> menterjemahkan sbb :
> 
> Kemudian kami wahyukan kepadamu ( Muhammad ) : "
> Ikutilah agama Ibrahim
> seorang yang hanif".Dan bukanlah dia termasuk
> orang-orang yang
> mempersekututkan Tuhan.
> 
> Terjemahan versi pendeta Robert tsb menekankan
> supaya mengikuti agama
> Ibrahim secara Hanif,sedang terjemahan dari
> Departemen agama menekankan
> kepada orangnya dalam hal ini adalah Ibrahim seorang
> yang Hanif,pandapek
> Uni Rahima yang labiah mangarati kaidah bahaso Arab
> tantu sangaik
> mambantu awak untuak labiah mamahami kedua versi
> terjemahan tsb..

Waalaikumsalam.Wr.Wb.

Hmm,.kenapa harus sulit-sulit dalam menterjemah. Kita
lihat saja apa i'rab

 (apalah bahasa Indonesianya i'rab ini, yang jelas
maksudnya seperti bahasa Indonesia begini lho,."Ali
Pergi kepasar dengan bersepeda" Ali= Subject, pergi
prediket(kt kerja )...dengan bersepeda ket keadaan.
begitulah yang dimaksud i'rab dalam bahasa Arab saya
sulit menterjemahkannya ke Indonesia, mmaf cuman bisa
ngasih pengertiannya saja)

Nah,.dalam menterjemah AlQuranpun, kita melihat
i'rabnya(kedudukan kali yah)kata itu dalam kalimat.Apa
kedudukannya,..sebagai subjekkah..? prediketkah,.isim,
khabar, atau hal,.atau apa saja banyak i'rab dalam
bahasa Arab.

Dari i'rab tersebutlah kita bisa menterjemahkan kata
sesuai dengan kalimah yang dimaksud, kalau i'rabnya
saja salah, so pasti terjemahannya kacau balau, alias
salah juga, dan bisa salah besar.

Dalam surah Al Imran 123 kata "haniifa" pada kalimat "
Ittabi' millata ibraahiimaa haniifa ". Kedudukan
haniifa pada kalimat diatas adalah sebagai "haal" dari
Ibrahim.

Jadi terjemahan yang tepat adalah : " Ikutilah oleh
kamu (wahai nabi Muhammad), akan nabi Ibrahim yang
keadaan Ibrahim itu sendiri sebagai seorang yang
hanif(lurus). Jadi salah besar donk kalau
diterjemahkan Islam yang hanif..? Darimana datang
terjemahan atau pengertian seperti itu.?. Bukan Islam
yang hanif dimaksudkan diatas, tetapi Ibrahimnya yang
dalam keadaan hanif(seorang yang lurus). 

Kelihatan bukan, kalau orang yang tahu benar bahasa
Arab, akan menterjemahkan bahasa Arab sesuai dengan
bahasa Arab itu sendiri. Tetapi orang tak tahu bahasa
Arab dengan benar, hanya menterjemah saja dari buku
entah buku apa, so pasti bisa salah atuh..?. Ngak
salah para ulama menetapkan UU syarat jadi ahli tafsir
itu harus bisa, bukan sekedar bisa, tetapi pandai
dalam bahasa Arab, istilah tajamnya ahli dalam bahasa
Arab.Karena orang Arab juga bisa ngomong bahasa Arab,
tetapi belum tentu dalam nahu, qawaidnya mereka mampu
dengan baik, ngak semua orang Arab pandai dalam tata
bahasa Arab ini juga.

Untuk memperjelas terjemahan Q.S Al Nahl 123, silahkan
lihat lagi surah Al Imran 67.

" Maakaana Ibraahiima, yahuudiyan, walaa nasraaniyan,
walaakin kaana haniifan Musliman, wamaa kaana minal
musrikiin ".

Maa= maa naafiyah= menidakkan 
Kaana= Fi'il maadhi naaqish( kt kerja masa lampau yang
mana kaana ini adalah isim naqish, kurang, maksudnya
kaana ini kalimat yang kurang pengertiannya apabila
tidak ditambahi oleh kalimat yang lain,.contoh..kaana=
"adalah". Apa itu maksud " adalah ", ngak ada yang
fahamkan,..? itu sebabnya ia dikatakan naaqish, maka
perlu ada tambahan kalimat,." Kaanaa ibraahiima
yahuudiyan, atau kaana muhammadun dst..adalah Ibrahim,
Muhammad.

Ibraahiimu= isim dari kaana diatas. 
Setiap ada isim, tentu ada khabaranya dalam sebuah
kalimah seperti contoh ayah diatas. Apa
khabarnya(keadaannya), bagaimana keadaan nabi Ibrahim
tersebut?

Khabarnya : " Yahudiyan ". 
Jadi bukanlah nabi Ibrahim itu seorang yang dalam
keadaan beragama Yahudi, 

walaa( dan tidak pula,) ataf= sambungan= dan dalam
bahasa kita Indonesia.

walaa= dan tidak pula.

Nasraaniyan = Seorang Nasrani.

Jadi nabi Ibrahim, bukanlah seorang yang dalam keadaan
beragama yahudi, juga tidak beragama nasrani.

kalau begitu bagaimana keadaan gama beliau..?

Walakin = Mukahffafah Muhmalah( sesuatu yang ringan),
ini teman-temannya isim Inna wakhawaatuha(ngak perlu
dijelaskan, krn panjang pula nantik pembahasannya)

Kaana + sama dengan diatas Isim naaqis

Setiap ada kaana, harus dicari mana isimnya, mana
khabarnya.

isim kaana = dhamir (tersembunyi), takdirnya Huwa= dia
Ibrahim tadi,(lihat bahasa Arab, ngak perlu
menyebutkan sesuatu yang sudah disebutkan sebelumnya.
nabi Ibrahim sudah disebutkan sebelumnya, maka tak
perlu lagi diulangi, karena sudah jelas, siapa yang
dimaksud, cukup dengan dhamir (kata ganti) saja, baik
dhamir secara jelas, ataupun tersembunyi. Dalam ayat
diatas dhamirnya tersembunyi, tetapi bagi yang
mengerti bahasa Arab, sudah tahu sekali siapa kata
ganti itu, so pasti Ibrahim, siapa lagi..? karena yang
disebutkan pada ayat sebelumnya adalah mengenai
masalah Ibrahim. So pasti Ibrahimkan..? (lihat bahasa
Arab, indah dan tidak mubazir kata).

Lantas apa khabarnya, bagaimana keadaan Ibrahim
tersebut..? 

Khabarnya haniifan dan Musliman. Seorang yang dalam
keadaan lurus, juga seorang yang Islam ( Muslim).

Darimana pula Siapa itu, orang Barat itu,
menterjemahkan Islam yang lurus ( Islam haniifan).
Ngak ada disana kata na'at dan man'ut ( sifat dan yang
disifatkan), tetapi yang ada disana adalah isim dan
khabarnya.

Haniifan = Khabar pertama dari isim kaana.
Musliman = Khabar kedua dari isim kaana.

Semoga bisa jelas, walau saya bisa mengerti bagi yang
awam sekali agak bingung dalam grammar bahasa Arab
ini. Tapi saya sudah berusaha menjelaskannya semudah
mungkin agar bisa difahami.

Demikian, Allahu'alam

Wassalam. Rahima



> Dari pemahaman bahasa saya kedua versi ini sangat
> jauh berbeda
> pengertiannya.Surat 16 ayat 123 diatas bisa direfer
> ke surat Al-Baqarah
> ayat 130-141,yang lebih memperjelas bahwa Islam
> itulah agama yang telah
> dipilih oleh Allah dan diwasiatkan oleh Nabi Ibrahim
> sampai ke anak
> cucunya termasuk umat Nabi Muhammad SAW,tanpa ada
> embel-embel Islam
> Hanif,seperti versi pendeta Robert tsb.Diayat 140
> surat Al-Baqarah yang
> terjemahannya adalah sebagai berikut : Ataukah kamu
> ( hai orang-orang
> Yahudi dan Nasrani ) yang mengatakan bahwa
> Ibrahim,Isma'il,Ishaq,Ya'qub
> dan anak cucunya adalah penganut agama Yahudi atau
> Nasrani ?,katakanlah
> : "Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah
> Allah,dan siapakah yang
> lebih zalim daripada orang yang menyembunyikan
> syahadah dari Allah yang
> ada padanya?".Dan Allah sekali-kali tiada lengah
> dari apa yang kamu
> kerjakan.
> Jadi ambo sangaik satuju jo pandapek dunsanak awak
> Azhari untuak indak
> capek-capek basanang hati terhadap pengakuan pendeta
> Robert tantang
> kebenaran Islam,talabiah sampai manambah nambah
> namonyo jo Islam Hanif
> segala.sedangkan bersyahadat nan marupokan bukti
> dari pengakuan terhadap
> kebenaran itu sendiri tidak dijalankan,istilah
> Melayunya : Tak sama
> cakap dengan buat.
> 
> Wassalam
> Ardiwan
>  
> -----Original Message-----
> From: [EMAIL PROTECTED]
> [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of
> Azhari
> Sent: Friday, July 01, 2005 9:05 AM
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Subject: RE: [surau] Islam Hanif, Sebaiknya Ganti
> Nama Dulu.
> 
> Meskipun mereka mengaku Muhammad saw sebagai
> Rasulullah dan al-Quran
> sebagai Wahyu Allah swt, belum cukup meyakinkan
> Robert mengakui
> kebenaran Islam sebelum dia benar-benar bersyahadat
> dihadapan kaum
> muslimin. Kadang-kadang kita euphoria dengan
> pengakuan kaum kafir atas
> kebenaran Islam, tetapi bisa jadi ini sebagai metode
> mereka untuk
> mengobok-obok Islam. Bagaimanapun kita layak
> berprasangka kepada kaum
> kafir, mereka bisa saja bermanis mulut tetapi yg
> tersembunyi dihati
> mereka kita tidak tahu. Sesuai firman Allah swt:
>  
> Sungguh, telah nyata kebencian pada mulut-mulut
> mereka, dan apa yang
> tersembunyi didalam dada-dada mereka adalah lebih
> besar lagi. Kami telah
> menjelaskan ayat-ayat Kami kepada kalian jika kalian
> memang orang-orang
> yang berakal (Ali Imran 118).
>  
> Kita bisa silau dengan cara toleransi mereka dan
> itulah agama mereka,
> toleransi merambas hal-hal yg bersifat aqidah. Saya
> mempunyai seorang
> sahabat Ustadz asli Irian yang berda'wah dipedalaman
> Irian. Beliau
> bercerita; seorang Irian masuk kristen atau tidak
> sama saja, tidak ada
> bedanya. Masih berkoteka, tidak mandi, menyusui babi
> seperti menyusui
> anaknya, tinggal digubuk-gubuk kumuh, masih
> animisme, dll. Tetapi ketika
> mereka masuk Islam, mereka menjadi bersih, mandi,
> shalat, dibuang semua
> hal animisme karena dalam Islam tidak ada toleransi
> dalam hal aqidah.
>  
> Jangan-jangan dengan pengakuan mereka atas kebenaran
> Islam, kerasulan
> Muhammad, kewahyuan Al-Quran, lantas kita mengakui
> juga kebenaran
> kristen (kristen hanifkah namanya?), mengakui
> ketuhanan Isa. Nah... khan
> kacau jadinya, ketika kita mengakui ada Tuhan lain
> selain Allah swt maka
> inilah dosa syirik yang tidak ada ampunannya dan
> kekal dalam neraka.
>  
> Lebih baik kita membersih diri dari segala hal tipu
> daya kaum kuffar,
> cukup katakan:
>  
> Katakanlah: Hai ahli kitab, marilah (berpegang)
> kepada suatu kalimat
> (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami
> dan kamu, bahwa
> tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita
> persekutukan Dia dengan
> sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan
> sebagian yang lain
> sebagai tuhan selain Allah (Ali Imran 64).
>  
> Salam,
> azh
>  
>  
> -----Original Message-----
> From: Darwin Bahar [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
> Sent: Friday, July 01, 2005 7:48 AM
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Subject: [surau] Islam Hanif, Sebaiknya Ganti Nama
> Dulu.
>  
> Ketika menanggapi postingan seorang netter penganut
> Katolik yang 
> simpatik mengenai azan, saya mengutip pendapat Dr
> Nurcholis Majid (Cak 
> Nur), bahwa semakin dekat ke pusat lingkaran---pada
> tataran esetoris 
> semua agama--semakin kecil perbedaan. Cak Nur memang
> salah seorang 
> pemikir Islam yang giat dan konsisten mempromosikan
> adanya titik temu 
> semua agama, tanpa menafikan perbedaan-perbedaan
> yang ada pada 
> agama-agama tersebut yang menyebabkan dirinya sering
> menerima hujatan 
> dari kelompok literal/radikal. Bahkan konon ada yang
> menghalalkan
> darahnya.
>  
> Saya tidak tahu bagaimana perasaan Cak Nur ketika
> membaca Rubrik Agama 
> Majalah TEMPO pekan ini (Edisi 27 Juni-3 Juli 2005):
> "Gereja yang Nyaris
> 
=== message truncated ===



                
____________________________________________________ 
Yahoo! Sports 
Rekindle the Rivalries. Sign up for Fantasy Football 
http://football.fantasysports.yahoo.com

_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke