Berkisah Aku Tentang Maninjau Berkisah aku tentang Maninjau Maninjau itu negeri khayangan Kalau ke ranah minang, rugi tak ke Maninjau Bapak bangsa berujar tentang kesemuanya Coba saja tengok alamnya nan elok, ramah, lagi bersahabat Menantang kukuhnya singgalang-tandikek dengan kelembutannya Meriapkan sunset nan megah dari liku kelok ampek-ampek Sejurus menuju pintu nan mengalirkan terang Lalu berpindah ke tempat di mana Hamka biasanya merenung Di mana banyak rambut pirang mengayuh kereta angin Pada subuh nan menampakkan sun rise dari Kotomalintang Menurun dan menyusur ke pusar batang Antokan
Berkisah aku tentang Maninjau Dari puncak kawah sampai ke dasar lembah Menengoklah kepada atap-atap bersejarah Pandangi surau, mesjid dan rumah residen kuno nan antik Di dalamnya banyak tapak yang menjanjikan surga Karena dingin menusuk tak perah hiraukan panggilan-Nya Berkisah lagi tentang Maninjau Aku melompat ke tengah parak dekat pancoran air Membasahi sebatang tubuh berdosa dalam dekap rimbanya Menjelang pagi merangkak ke tepi telaga besar Kemudian singgah di mesjid raya Bayur Di mana riaknya mengukuhkan niat bernagari Silat kampung pun tak luput dipelajari Kata persembahan mulai dari sini Kamu tertipu kawan, di sini surau kami belumlah roboh Betul aku berkisah tentang Maninjau Di tengah para pencari pensi Rinuak dimakan tanpa basa basi Ikan di sana sini Menjalarkan kenikmatan waktu ke waktu Berkumpullah para lambeari, mari bermalam dan balangge Ke tengah hutan mencari topangan kanopi besar Mengintip ombaknya di sela tajuk rapat Itulah ulayat kami, pusaka tinggi tak terbeli Berkisah aku tentang Maninjau Tandanya aku berkisah risalah parak Yang menyedia air dan menyangga rintisan Di mana karamba dan jala akrab berteman Yang memberi hidup dan sekolah mereka Aku berkisah tentang Maninjau Lelaki perempuan berbagi peran Menjaga tali bandar persawahan Berjulo-julo meraih kebersamaan Menyelamat alam dari kemurkaan amarah Lalu mencabik perbedaan yang timpang Tiada wajah di sini selain wajah kaum penyelamat Yang melumat keceriaan dan kesedihan anak-anaknya Di sini pusat perniagaan saban hari Tengoklah sudut-sudut kehancuran Saat tubo belerang menerjang kencang Aku pun mati, ikan mati, anak nagari tiada pun berdaya Sengketa terluka kian lama kian memuncak Siapa dalang? Siapa pemenang? Akupun tak tahu Yang pasti Berkisah aku tentang Maninjau Dari: Obrolan Lapau, Obrolan Rakyat: Sebuah Potret Pergulatan Kembali ke Nagari Diah Raharjo, dkk Cetakan I, Bogor: Studi Kendil 2004 _____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ------------------------------------------------------------ Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib ____________________________________________________

