selepas bukittinggi sampai di padang lua, 
berbelok lah jalan ke arah balingka terus menuju ke matua ,
menempuh jalan berkelok, melewati lembah indah 
bersimpanglah jalan di pasa matua (kampuang nyo uda Hasbi )
ke kiri ke maninjau (zet chaniago ), ke kanan ke lawang

babelok lah ambo ka arah lawang taruih ka palembayan-koto alam
menyusuri pebukitan di sebalik danau maninjau.
di dusun alahan anggang naik lah ke atas bukit gadang
sampai di atas terhamparlah pemandangan alam ciptaan Allah yg maha 
Indah..
duduk termenung , penuh haru

dengan merenungi setetes embun pagi di puncak lawang , 
kita akan bisa memahami danau maninjau yg luas terhampar

di kiri terbentang lah danau maninjau terhampar luas , 
di kanan , gunung pasaman tegak menjulang,
dari kejauhan terlihat pula ombak laut di pantai tiku

( hiking pulang kampuang, manyilau rumah inyiak jaman sisuak, 
menyusuri jalur mak ngah Sjamsir , jaman PRRI dulu )

wassalam 

HM

note : 
kalau main ke sekitar bandung , melihat danau2 spt situ ciburuy, situ 
patenggang dan situ cileunca, 
entah kenapa ingatan ini pergi ke memori lama ttg danau maninjau dan 
singkarak yg jauh lebih indah...

entah kenapa negeri yg begitu indah tsb, ditinggalkan merantau oleh 
orang2nya , pergi ke tempat2 yg sumpek spt jakarta ini...

sekedar ilustrasi berikut lagu sunda ttg danau ciburuy yg sebenarnya 
tak ada apa2 dibanding maninjau, tapi sangat dikenal karena lagu 
berikut :

" situ ciburuy laukna hese dipancing

duh eta saha nu ngalangkung unggal enjing .
nyeredet hate ningali sorot socana"

( Siapa kah itu gadis manis yg tiap pagi lewat ,  
      berdetak hati melihat sorot matanya  )  

--- In [EMAIL PROTECTED], "Erwin" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Berkisah Aku Tentang Maninjau
> 
> Berkisah aku tentang Maninjau
> Maninjau itu negeri khayangan
> Kalau ke ranah minang, rugi tak ke Maninjau
> Bapak bangsa berujar tentang kesemuanya
> Coba saja tengok alamnya nan elok, ramah, lagi bersahabat
> Menantang kukuhnya singgalang-tandikek dengan kelembutannya
> Meriapkan sunset nan megah dari liku kelok ampek-ampek
> Sejurus menuju pintu nan mengalirkan terang
> Lalu berpindah ke tempat di mana Hamka biasanya merenung
> Di mana banyak rambut pirang mengayuh kereta angin
> Pada subuh nan menampakkan sun rise dari Kotomalintang
> Menurun dan menyusur ke pusar batang Antokan
> 
> Berkisah aku tentang Maninjau
> Dari puncak kawah sampai ke dasar lembah
> Menengoklah kepada atap-atap bersejarah
> Pandangi surau, mesjid dan rumah residen kuno nan antik
> Di dalamnya banyak tapak yang menjanjikan surga
> Karena dingin menusuk tak perah hiraukan panggilan-Nya
> 
> Berkisah lagi tentang Maninjau
> Aku melompat ke tengah parak dekat pancoran air
> Membasahi sebatang tubuh berdosa dalam dekap rimbanya
> Menjelang pagi merangkak ke tepi telaga besar
> Kemudian singgah di mesjid raya Bayur
> Di mana riaknya mengukuhkan niat bernagari
> Silat kampung pun tak luput dipelajari
> Kata persembahan mulai dari sini
> Kamu tertipu kawan, di sini surau kami belumlah roboh
> 
> Betul aku berkisah tentang Maninjau
> Di tengah para pencari pensi
> Rinuak dimakan tanpa basa basi
> Ikan di sana sini
> Menjalarkan kenikmatan waktu ke waktu
> Berkumpullah para lambeari, mari bermalam dan balangge
> Ke tengah hutan mencari topangan kanopi besar
> Mengintip ombaknya di sela tajuk rapat
> Itulah ulayat kami, pusaka tinggi tak terbeli
> 
> Berkisah aku tentang Maninjau
> Tandanya aku berkisah risalah parak
> Yang menyedia air dan menyangga rintisan
> Di mana karamba dan jala akrab berteman
> Yang memberi hidup dan sekolah mereka
> 
> Aku berkisah tentang Maninjau
> Lelaki perempuan berbagi peran
> Menjaga tali bandar persawahan
> Berjulo-julo meraih kebersamaan
> Menyelamat alam dari kemurkaan amarah
> Lalu mencabik perbedaan yang timpang
> Tiada wajah di sini selain wajah kaum penyelamat
> Yang melumat keceriaan dan kesedihan anak-anaknya
> Di sini pusat perniagaan saban hari
> 
> Tengoklah sudut-sudut kehancuran
> Saat tubo belerang menerjang kencang
> Aku pun mati, ikan mati, anak nagari tiada pun berdaya
> Sengketa terluka kian lama kian memuncak
> Siapa dalang? Siapa pemenang? Akupun tak tahu
> Yang pasti
> Berkisah aku tentang Maninjau
> 
> Dari:
> Obrolan Lapau, Obrolan Rakyat: 
> Sebuah Potret Pergulatan Kembali ke Nagari 
> Diah Raharjo, dkk
> Cetakan I, Bogor: Studi Kendil 2004
> 




Website http://www.rantaunet.org
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke