Maaf saya copy pastekan, dengan tujuan menambah
wawasan saja, biar  diskusi nyambung dan jelas dimana
letak perbedaannya.

Dan ternyata memang berbeda pengertian riba bagi saya
dan mak Darul. Mak darul tidak mengatakan riba kalau
pinjam duit dengan pmbayaran lebih bila itu dipakai
untuk dagang, sementara untuk pribadi(kuliyah anak),
baru riba.

Saya tetap katakan riba, apakah itu keperluan dagang
atau kuliyah anak, kalau sudah hutang dibayar lebih
dari hutang asalnya (Rp 100 juta dibayar 150 juta),
bagi saya tetap haram karena riba hukumnya.

Allahua'lam

Wassalam. Rahima.

Saya rasa apa yang saya sampaikan sebelum ini mengenai
riba sudah jelas, seseorang hutang dengan membayar
tambahan atas hutang tersebut riba. Baik untuk
kepentingan pribadi atau dagang, karena Allah tak
mengecualikan hal ini.Suka ataupun tidak suka, juga
tak ada pengecualian Allah dalam hal ini. tetapi bila
hutang dibayar berlebih namanya riba.

Soal nilai nominal, silahkan baca postingan saya
mengenai bagaimana seseorang hutang dengan dollar,
maka bayarnyapun dengan dollar juga, dan ketika beli
tanah, maka patokan harga adalah patokan emas.

Dan sudah jelas perbedaan apa yang dikatakan mak darul
atas jawaban saudara Iwang mengenai meminjam rp 100
juta dibayar dengan 150 juta, kalau untuk keperluan
dagang bagi mak darl tidaklah riba. Dan bagi saya itu
riba, karena tidak ada ketemtuan dan pengecualian
Allah dalam hal pinjam meminjam ini apakah untuk
pribadi atau dagang, dan tak ada pengecualian riba
apakah untuk dagang atau kuliyah anak. Yang haram itu
tetap haram, halal tetap halal, riba yah tetap riba,
bila sang peminjam harus membayar lebih.

Sekarang terpulang kepada pribadi masing-masing apakah
kita mengikuti dengan logika atau dengan firman Allah
yang tanpa ada pengecualiannya masalah riba
ini.Disinilah letak ujian keimanan seseorang baik
dalam menderita, atau situasi senang sekalipun.

Wassalam. Rahima

Wassalam. Rahima.


--- "Yasmi, Yurdi" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Saya juga tambah bingung yg mana yg riba yg mana yg
> bukan, penjelasan
> Pak Darul sudah sangat jelas bahwa kita ngak melihat
> nilai nominal yg
> tertulis pada uang tapi pada nilai real-nya. Jadi
> 200 perak hari ini
> mungkin nilai realnya sama dgn 300 perak dimasa yg
> akan datang (i.e. 2
> th ke depan). 
> Tersu ttg hutang negara berkembang dikait-kaitkan
> dgn riba oleh Ibu
> Rahima sebagai penyebab kehancuran ekonomi negara
> dunia ketiga. Saya
> rasa permasalahannya ngak sesimple itu... Bukankah
> permasalahannya lebih
> struktural?
> Salam,
> Yurdi


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Website http://www.rantaunet.org
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke